Tags

, , , , , , , , , , ,

“Don’t try so hard to be something you’re not.”

 

warkopdkirebornpart1-poster

 

Percaya atau enggak, this is happening! Enggak peduli betapa banyak yang menyangsikan, yang memohon agar warisan itu jangan diutak-atik, trio komedi legendaris ini beneran dihidupin kembali. Langsung di bawah panduan Indro Warkop himself! Film Dono, kita biasa menyebutnya, selalu jadi semacam tontonan guilty pleasure buatku. Aku paling suka Setan Kredit, of course. Aku selalu guling-guling ngeliat adegan berantem sama pocong-pocong itu. Warkop DKI tidak perlu diperkenalkan lagi. Dari grup lawak di radio Prambors hingga ke tayangan komedi sedikit-nakal yang menghibur orangtua kita setiap lebaran di 80-90an, sampai sekarangpun – setelah kepergian dua personelnya; Kasino dan Dono – televisi masih suka nyiarin. Mereka dengan timelessnya menghibur. Meski saking seringnya kita sampai hafal adegan dan dialognya, tapi tetep lucu. Warkop DKI akan selalu punya tempat tak-tergantikan di hati pecinta film tanah air.

 

Jadi, kenapa film ini dibuat?

Jawaban yang terlintas duluan tentu saja adalah uang. It’s business. Dan percayalah, they re gonna make a lot of cash out of this movie. Film ini dengan tepat dan erat menggenggam ruh karya-karya Warkop terdahulu, dan meniupkannya ke jaman modern. Kita tentu sudah familiar dengan gaya komedinya, jadi kita tahu harus mengharapkan apa. Dan, kalo kamu-kamu pergi ke bioskop nonton Warkop DKI Reborn dengan pemahaman demikian, like, you’re know in your heart you’re going to see the stupid Warkop that everybody loves, maka kalian akan sangat terhibur oleh film ini. Warkop DKI Reborn is EXACTLY KAYAK FILM-FILM LAMANYA. Cheesy, film yang komedinya hilariously over-the-top, yang sangat jelek namun kita suka setiap menitnya.

Beneran, I mean it, as a compliment. Film komedi yang sangat konyol tak-masuk akal, dan film ini tahu persis siapa dirinya. THIS MOVIE ENJOYS AND FUN AT BEING THAT MINDLESS STUPID COMEDY. Tidak pernah sekalipun film ini mencoba untuk menjadi sesuatu yang serius; oh ada orang mati, oh ada kasus begal, film ini menangani sesuatu yang harusnya serius dengan tetap konyol. Kayak sewaktu Kasino menilang mobil seorang bapak, eh tau-tau dari dalam mobil kecil tersebut keluar orang sekampung. Perawakannya pada ajaib pula. Aku tertawa. Penonton di studio pada tertawa. Kalian harus kenal Warkop dulu sebelum mutusin buat nonton film ini.

Kalo celetukan nyindir politik Kasino, blo’onnya Dono, akal bulusnya Indro, musik Pink Panther, ataupun cewek-cewek seksi terdengar seperti membuang-buang waktu bagimu, well, don’t go see this movie.

 

Mengambil cerita Chips (1982) dari arsip lamanya sebagai dasar cerita, tiga ‘hero’ kita adalah petugas penjaga ketertiban di ibukota. Tentu saja kita dilihatin betapa ngasalnya Dono, Kasino, Indro dalam melaksanakan tugas mereka. Sampai akhirnya mereka disuruh oleh bos untuk menangani soal begal yang merajalela di jalanan. Bukannya beres, their antics malah membawa mereka ke masalah yang lebih runyam. Mereka berakhir dengan hutang 8 milyar, dan mereka harus mencari cara untuk mendapatkan jumlah tersebut dengan cepat.

Kita enggak pernah sukseeesss!

Kita enggak pernah sukseeesss!

 

Film-film lama di gudang ditambah dengan adanya Indro dan pelaku-pelaku stand-up comedy, membuat film ini konfiden sekali dengan material yang dimilikinya. Jokes dan anekdot-anekdot lama digabung lucu sehingga relevan dengan kondisi masyarakat sekarang. Judul-judul film mereka diintegrasikan ke dalam dialog dan jadi bahan lucuan. Banyak juga beat-beat cerita, plot-plot point, yang didaur ulang dan dipakai ke dalam film ini. It is so fun buat kita menebak adegan mana merupakan saduran dari film Warkop yang mana.

This leaves us soal masalah directing. Anggy Umbara yang duduk di kursi sutradara dan sebagai salah satu penulis naskah sudah terkenal dengan arahannya yang bombastis. Kalo aku bilang, ekuivalen lah sama Michael Bay. Anggy mendorong film ini menjadi lebih kocak dan konyol. Dijadikannya running joke soal tokoh-tokoh dalam Warkop DKI Reborn kerap mendobrak the fourth wall. Seperti yang dilakukan Deadpool, jika kalian enggak ngerti ‘mendobrak the fourth wall’ itu maksudnya gimana; Ada tokoh yang ngomong ke kamera, atau simply nyeletuk, soal mereka acknowledging sedang ada di dalam sebuah film. Misalnya saat Indro ngambil baton sambil bilang “penting buat kontinuiti” atau Kasino yang girang koper mereka ringan karena hanya properti syuting. Indeed, dalam film ini Anggy looks like having so much fun. Ada banyak sekuens impossible-action yang direkam mostly well. Kita liat ada mobil jamping! Yea ada sekuens-sekuens yang penggunaan efek-efek komputernya really push it. Kayak menarik lepas kulit wajah pasangan kakek-nenek dan memasangnya kembali, dengan terbalik!

Please, aku mau menekankan bahwa ini adalah film yang bego. Ini bukan film yang bagus, not even close to lumayan. Seperti perut buncit Dono yang keliatan banget ganjelannya, film ini dibuat untuk tidak dianggap serius sama sekali. Dan aku senang sekali to actually menyaksikannya dengan sadar akan hal tersebut. Realisasi terhadap hal itulah yang bikin kita bisa menikmati film ini.

 

 

Bagaimana dengan yang meranin trio personel Warkopnya?

Well, pertama-pertama aku senang karena mereka memilih untuk ngecast aktor alih-alih komedian. Karena itu berarti mereka realized dan punya persiapan yang bener mengenai tantangan yang akan dihadapi. It’s not easy to fill in somebody shoes. Terlebih jika somebody nya itu adalah legenda yang punya persona melekat di kalangan penggemar. Revealing Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro secara berturut sebagai Dono, Kasino, dan Indro mengundang keraguan banyak pihak. Termasuk aku.

Menonton ini aku agak was-was. Namun dengan cepat jadi sedikit lega karena mereka bertiga actually terdengar seperti Dono, Kasino, Indro. At least they got the characteristics right. Mereka punya Indro Warkop untuk menangani masalah itu. Dan jadinya memang Abimana mirip Dono, Vino mirip ama Kasino. Tinggal kemampuan aktornya berakting aja. Tora, dinilai paling lemah karena jatohnya kayak Tora-yang-meranin-Indro. Namun untukku, itu adalah hal yang bagus. Tora Sudiro sukses bermain sebagai Indro baru, injecting (mungkin sedikit terlalu banyak) dirinya ke dalam persona tokoh Indro. Dia tidak comes off sebagai orang yang berusaha menjadi Indro yang berakting sebagai Indro, you know what I mean? Dia Indro versi Tora. Dan tokoh Indro dalam film ini adalah yang paling seger, karena dia ditulis punya kebiasaan baru yang sangat lucu; ngobrol sama his future self, yang diperankan oleh Indro Warkop beneran. Ini ngingetin aku sama adegan jaman dulu yang isinya Indro semua di kereta ahahaha

Tom Hardy sukses meranin Mad Max bukan karena dia dimirip-miripin sama perawakan Mel Gibson. Masing-masing Joker menarik karena masing-masing pemerannya diberikan kesempatan untuk memberikan sesuatu terhadap karakter mereka. Kevin Nash dan Scott Hall di mid 90an pindah company ke WCW, meninggalkan karakter yang mereka mainkan di WWE. Karena karakter mereka itu sangat populer, WWE memasang pegulat lain untuk memerankan Diesel dan Razor Ramon. Namun fans tidak mau menerima enggak peduli betapa miripnya pemain pengganti tersebut, karena they just don’t resonate the persona.

Apa yang ingin aku katakan adalah; Akting adalah soal memainkan peran, bukan semata mirip-miripan. Dono dan Kasino mirip but they don’t give much impression karena tidak ada persona. Aku mau lihat Dono versi Abimana. Aku mau lihat Kasino versi Vino. I mean, apa gunanya perut Abimana digendutin? Apa sebegitu krusial Vino musti berwarna suara sama ama Kasino ‘menyuarakan’ tokoh Kasinonya?

I was actually cringe during the Nyanyian Kode

I was actually cringe during the Nyanyian Kode

 

Apa gunanya membuat remake, atau reboot, atau reborn, atau apapun istilahnya jika versi yang baru tidak bisa mengungguli versi lama.
Dibandingkan dengan film Warkop DKI jaman dulu, maka Warkop DKI Reborn ini masih kalah. Karena Warkop DKI Reborn LEBIH TERASA SEBAGAI PURE BARANG DAGANGAN KETIMBANG SEBUAH FILM. I was trying to figure out the structure, dan got lost, dan menjelang akhir aku baru sadar kalo judulnya Jangkrik Boss! Part 1. Tidakkah kalian sadar betapa menggelikannya itu terdengar? Meski sama mindless nya, meski plotnya bayang-bayang transparan banget (actually ada beberapa yang pake plot), paling enggak film-film Warkop dulu konklusif. It has beginning, middle, end. Warkop DKI Reborn tampak tak-bertanggung jawab ninggalin kita di tengah. Mereka tak repot membungkus ceritanya, itu juga kalo ada cerita. Ada perbedaan antara akhirin cerita dengan cliffhanger sama ninggalin cerita tanpa resolusi. Resolusi yang membungkus plot harus ada, liat aja di setiap episode Star Wars. Bigger picturenya masih lanjut tapi tiap episode diakhiri dengan konklusif. Kita tidak menemukan ini di Warkop DKI Reborn, karenanya dia tidak benar-benar terasa sebagai sebuah film.

Seperti Indro Botak yang suka jerumusin Indro, Warkop baru ini would give some dangerous idea kalo ketemu sama film-film jadulnya.

 

 

 

This is such a great throwback kepada komedi legendaris yang udah nemenin kita tumbuh dewasa. Komedi mindless yang sadar dan bangga akan hal tersebut. Itu adalah titik terkuat dari tayangan ini. Kita akan tertawa menontonnya, banyak adegan-adegan yang super konyol dengan lelucon-lelucon lama yang diolah segar dan kena buat kondisi sehari-hari. Ada satu sindiran yang aku suka yaitu ketika malaikat Indro berubah menjadi pake jas setelah dibilangin suka ngasih janji-janji palsu. We will have a great time watching this, tapi begitu disuruh milih mau nonton film Warkop yang mana, film ini akan jarang sekali berada di posisi teratas jawaban kita.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 stars for WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1, karena dia tahu siapa dirinya, ia tidak berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya that is hilariously over-the-top and funny.

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Ayo main-main ke kategori ‘Merchandise’ atau ‘Homepage’ kami untuk kaos-kaos keren yang terinpirasi dari film-film terkenal.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge

Advertisements