Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Being a family means you are a part of something very wonderful.”

 

petes-dragon-poster-2

 

‘Keajaiban itu ada jika kita tahu di mana harus mencari’, begitulah bunyi kalimat penutup film ini. Sebuah ungkapan yang sering kita dengar. It brings us hope, it gives us something to look for sehingga kita bisa lebih mengapresiasi hidup.
Film Pete’s Dragon sendiri adalah epitome dari pernyataan tersebut. Kita, sebagai penonton bioskop, sering mengeluhkan kualitas film-film yang tayang. Box Offices yang sebenarnya nowhere near tontonan yang bagus dan tidak ngajarin apa-apa. Namun sebenarnya, film-film berbobot bukannya tidak ada yang bikin. Tahun ini aja kita dapat sedikitnya dua film keluarga yang seperti Pete’s Dragon. Seperti penduduk kota yang kehilangan dan tidak pernah lagi melihat sosok si naga hijau, kita juga simply overlooked film-film yang bermutu. Kita tidak mencari dengan benar. Lihat saja keadaan film Pete’s Dragon di bioskop sekarang ini; Miris melihat orangtua membawa anak-anak mereka ngantri nonton mindless-comedy, sementara di hari yang sama ada beautiful, heartwarming fantasy family drama hanya ditonton oleh orang-orang jomblo kayak aku -,-

Kita sudah melihat gimana Disney membuat versi baru dari dongeng lama mereka. Cinderella (2015) dan The Jungle Book (2016) yang memang sudah dikenal luas diolah kembali menjadi cerita yang engaging sekaligus tetap indah. Pete’s Dragon juga diangkat dari stok lama gudang cerita Disney. Aslinya adalah film musikal tentang seorang anak yatim piatu yang kabur dan berteman dengan naga kartun yang kerap membantunya meloloskan diri dari kejaran keluarga asuh yang treated him very badly. Film keluaran tahun 1977 itu meski sukses juga, namun kurang banyak diketahui orang. Jadi akan menarik sekali melihat gimana mereka mengolah cerita yang kurang terkenal menjadi sebuah tontonan yang sama sekali fresh dan menarik buat anak-anak dan keluarga mereka di masa kini.

Seorang anak balita kehilangan keluarganya secara tragis, dan dia menghabiskan the next six year dari hidupnya dengan tinggal di hutan. Dibesarkan oleh seekor naga mitos, yang ia beri nama Elliot. Keadaan berubah menjadi dramatis saat ‘rumah’ Pete dan Elliot dijambangi oleh beberapa penebang hutan. Pete sendiri akhirnya ditemukan oleh Grace, seorang penjaga hutan. Tidak mengetahui soal keberadaan Elliot, Grace membawa Pete ke kota untuk maksud yang baik; Memberinya keluarga yang layak. Ini membuat Elliot harus keluar dari hutan dan terbang ke civilitation untuk mencari Pete. Yang mengakibatkan keberadaan dirinya terekspos.

You can’t see magic even if its stared you right in the face. You have to feel it.

You can’t see magic even if it stared you right in the face. You have to feel it.

 

Dari segi cerita, Pete’s Dragon memang bukan yang terbaik. Bukan pula yang paling unik. Tapi bukan berarti ini drama keluarga yang membosankan. Pete’s Dragon adalah suguhan yang sangat cantik, story yang WONDERFULLY TOLD, dan semakin manis berkat penampilan akting para pemerannya. Dunianya dibangun dengan sangat meyakinkan. Terasa besar, fantastis, dan really on-point.

Sebagai fantasi untuk hiburan keluarga, film ini akan sangat disukai oleh anak-anak. Interaksi antara Pete dengan Elliot disuguhkan dengan playful dan imajinatif. Musiknya juga riang, malah ada satu bait lagu tentang naga yang bernada asik kayak lagu-lagu film jadulnya. Ceritanya mudah dicerna dengan karakter-karakter yang enggak dirancang untuk membodoh-bodohi penonton cilik. Pete tumbuh menjadi pribadi yang nice dan gentle meski dibesarkan oleh naga di alam liar, seperti Elliot itu jualah film ini bertindak. Menjadi ROLE MODEL YANG BAGUS UNTUK ANAK KECIL lewat pesan-pesannya soal betapa keluarga adalah keajaiban terindah.

 

Kita tidak bisa memilih siapa keluarga kita. Tokoh-tokoh dalam film ini, lebih daripada menginginkan keluarga. Mereka sudah punya itu. Grace punya ayahnya, yang cerita-ceritanya mulai tidak lagi Grace percaya. Pete punya Elliot, meski Grace menawarkan rumah baru kepadanya. Bahkan Elliot punya saudara sesama naga yang harus ia cari. Namun tidak semudah itu bagi mereka untuk meninggalkan satu sama lain. Karena di dalam hati mereka sesungguhnya mereka semua takut kehilangan satu hal, that is the magic feeling of being called a family.

 

Keluarga akan sangat terhibur menyaksikan film ini. Buatku juga ini adalah film yang pretty good. I like it, I enjoy watching it. Aku tertawa beberapa kali. Meski begitu, aku merasa film magical ini tidak berhasil mencapai tingkat greatness seperti yang benar-benar aku percaya bisa diraih olehnya. Selidik punya selidik, Masalah utama terletak pada tokoh utama. Film ini terasa BERJUANG KERAS UNTUK NETAPIN SATU PROTAGONIS SEJATINYA. Begini, sebuah film punya satu tokoh utama yang kita ikuti ceritanya dengan beberapa karakter major yang melengkapi dengan saga mereka masing-masing. Nah, Pete’s Dragon ini struggle berat, dirinya has a tough time untuk mengidentifikasi siapa satu tokoh yang harus dipegang sebagai main plot. Ada banyak sudut pandang tokoh yang diperkenalkan dalam film ini, dan mereka semua diflesh out dengan sama rata banyak dan bagusnya.

Tidak ada yang salah dengan performa Oakes Flegley yang indeed bermain baik sebagai Pete. Hanya saja sebagai tokoh ‘hero’ dia tidak terasa begitu meyakinkan. Sebagai perbandingan; It’s just he was no near as compelling as Mowgli di The Jungle Book. Tidak banyak yang terjadi di dalam dirinya, tidak banyak apa-apa dari diri Pete di luar batas dia sedih atas apa yang terjadi kepada keluarganya, yang dulu dan yang sekarang.
Lalu kita punya Grace, penjaga hutan yang menemukan Pete. Sebagai tokoh, Grace is such a strong persona, dia melakukan pilihan-pilihan penting di dalam cerita. Bryce Dallas Howard punya presence yang sangat menenangkan. Like, aku jadi ingin juga lari ke dekapannya dan have her saying “you are the bravest boy that I’ve ever met” ke telingaku saat aku lagi galau. Serius, penampilannya di sini adalah yang teratas.
Kemudian ada juga ayah si Grace, yang diperankan oleh Robert Redfort, menarasikan mitos tentang naga. Dia juga pernah bertemu dengan Elliot, he keeps telling people about that said creature sampai-sampai dia dianggap kurang waras oleh penduduk kota kecil mereka. And we also have Karl Urban yang menjadi seseorang yang tau akan keberadaan sang naga dan memutuskan untuk memburunya.

astaganaga!

Astaganaga!

 

But of course, menilik dari judulnya kita bisa mengasumsikan tokoh utama film ini adalah si Elliot itu sendiri, sebagai naganya Pete. Sekali lagi kita diperkenalkan sama makhluk ajaib kreasi menawan dari efek komputer. Tidak seimpresif ataupun serealistis binatang-binatang di The Jungle Book yang udah kayak foto sih, perwujudan naga di sini terlihat merefleksikan simbol tertentu. Naga Milhaven ini berbulu, padahal ia reptil. So it’s either magic atau itu adalah jenis naga yang belum ditemukan oleh Newt Scamander dalam buku Fantastic Beast and Where to Find Them. Elliot ini senang bermain-main. Dia mengejar ekornya sendiri. Dia juga suka main petak umpet lewat kekuatan khususnya, menjadi tak-kasat mata. In a way, Elliot persis kayak anjing peliharaan yang setia. But maybe it was the other way around; Pete lah yang merupakan piaran dari Elliot? CGI bekerja dengan efektif, ekspresinya bercerita banyak. Kita tahu Elliot adalah makhluk yang berperasaan dan punya kesadaran sendiri. He (or she) was so adorable sehingga aku yakin tidak ada seorang pun yang tidak terbit keinginan untuk bisa terbang bareng saat menontonnya.

 

Jumping around sudut pandang karakter-karakter penting ini sungguh sebuah distraksi jika kita tidak yakin di mana intinya. Secara pribadi, aku lebih senang untuk menganggap Elliot sebagai poros utama. But it still weird. Tak heran filmnya terasa lebih panjang dari sebenarnya. Resolusi di akhir sangat cantik sih, it has that paid off feels. Hanya saja, seperti ketika kita membacakan dongeng buat anak-anak; mereka akan tertidur sebelum cerita habis. Dan kita akan mendapati diri kita sendiri membaca sampai habis karena kita secretly menjadi penasaran dan tertarik olehnya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for PETE’S DRAGON.

 

 

 
That’s all we have for now

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements