Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Nobody is without sin. You have to try to make amends if you can.”

 

blood-father_poster_goldposter_com_5

 

Om Mel Gibson ke mana ajaaaaa???

 

Oke memang rada kurang bijak menilai film – yang merupakan kolaborasi kerja sekelompok orang – berdasarkan satu pemain ataupun satu filmmaker saja, apalagi menyinggung-nyinggung soal masalah pribadi mereka. Tapi PENAMPILAN MEL GIBSON DI SINI ON-POINT BANGET. Penampilan comeback yang tak pelak membelalakkan mata-mata industri ini yang masih menyipitkan pandang karena komentar kontroversial yang diucapkan oleh Gibson sepuluh tahun yang lalu. Beneran. Penampilannya di sini actually adalah salah penampilan TERBAIK yang pernah aku saksikan di sepanjang tahun 2016. Mel Gibson sangat karismatis. Dan dia definitely menjual perannya; beberapa bilang dengan very personal, Gibson memainkan karakternya dalam film ini dengan sangat fantastis.

Berperan sebagai John Link, kata ‘mantan’ melekat erat pada dirinya. Seorang mantan pecandu alhokol. An ex-con. Juga bekas seorang ayah. Pria yang berjuang melawan his personal demons. Dia telah melalui banyak dering emosional dan prahara fisik. Link yang sekarang adalah pria yang berusaha membersihkan sisa-sisa hidupnya; tanpa mabok, tiada lagi kekerasan, meski masih terbayang putrinya yang hilang beberapa tahun yang lalu. Kemudian mendadak, sang putri remaja (Erin Moriarty berusaha menyeimbangkan penampilan ‘ayah’nya) muncul di depan pintu trailer garismiring tattoo parlor Link. Putri yang lama hilang, yang tidak sempat benar-benar ia kenal, just showing up membawa serta semua masalah dan beban-beban berbahaya. Berbahaya, like, “Pa, tolong aku lagi dikejar-kejar geng yang mau membunuhku, menembak mayatku, dan mungkin melakukan berbagai macam hal yang tak diinginkan lainnya sebelum mereka melakukan poin yang pertama…

….please SAVE me!!”

….please SAVE me!!”

 

Kita sudah pernah melihat premis seperti ini; Ayah yang berusaha mati-matian menyelamatkan putrinya. Bapak yang melindungi putrinya yang ingin diambil oleh orang-orang jahat. Apa yang mengangkat film ini menjadi setingkat di atas film-film setipe, even satu level lebih compelling di atas filmnya Liam Neeson, adalah HUBUNGAN ANTARA AYAH DAN ANAK YANG TERGAMBARKAN. Pada awalnya terasa sangat kasar. Ini bukan sekadar ayah-tahu-yang-terbaik-buat-putrinya. Bukan pula argumen biasa soal anak-dengan-orangtua-yang-menelantarkan. Yang kita punya di sini adalah seorang ayah yang mendapati anak gadisnya dalam dunia yang baru saja ia tinggalkan. Dia tahu aturan main di dalam dunia tersebut seperti apa, dan dia sadar betul putrinya sudah bagian dari sana. Cerita Blood Father actually more riveting karena ini adalah tidak lagi soal mencegah, ini adalah tentang mengobati. Dan Mel Gibson benar-benar telihat gede di sini, secara peran maupun secara-penampakan.

Link melihat Lydia sebagai seorang yang berada dalam keadaan yang really messed up. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia bertemu makhluk yang lebih ‘rusak’ as a person daripada dirinya sendiri. Dan the broken person tersebut adalah putri kandungnya yang sudah lama menghilang. Bayangkan betapa pilunya? Meski tidak lewat kata-kata manis – interaksi antara Link dan Lydia penuh sumpah serapahdan antisopan santun – usaha mati-matian Link yang ingin menjadi ayah that he never was before ditangkap dengan sangat baik oleh film ini sehingga kerap terasa heartbreaking.

 

Ada kesan buas dalam karakter Link yang sangat intense dan so hard-edge yang menguar nyata lewat akting Gibson. Demi putrinya, Link serta merta terjun balik melakukan apa-apa yang dulu ia tinggalkan, tanpa persiapan apa-apa. Link enggak punya senjata. Most of the time, Link menggunakan otaknya untuk mencari jalan keluar, dia sangat resourceful sehingga menegangkan untuk ditonton. Tak jarang dia ‘ngamuk sejadi-jadinya’ and goes full-on Mad Max kepada penjahat-penjahat itu. Range characternya dimainkan dengan fantastis, terasa sangat genuine, tokoh ini juga kebagian dialog ringan dan lucu dengan sponsornya yang bernama Kirby, diperankan oleh William H. Macy, yang mencoba untuk menjauhkan Link dari minuman beralkohol.

Naif untuk mengatakan aktor totally aren’t characters yang mereka mainkan.

Terkadang terlalu naif untuk mengatakan aktor totally aren’t characters yang mereka mainkan.

 

Blood Father dimulai dengan sangat kuat. Actually dibuka dengan satir; Remaja bisa beli peluru namun mendapat delikan sewot dan ditanyai ID ketika coba membeli rokok. The initial setup dihajar melalui pacing yang relatif cepet. Adegan-adegan aksinya seru dan enggak membingungkan untuk diikuti. Ada kejar-kejaran di jalan, tentu saja. And that beautiful, nostalgic sight of Gibson holding a shotgun… Lumayan sadis, penuh efek praktikal sehingga thrill yang disampaikan rasanya organic banget. Terasa sekali memang nuansa FILM KELAS DUA. Yea, kelihatan film ini dibuat dengan biaya yang enggak banyak. Namun itu sama sekali tidak menjadi sandungan. Malah jadi aspek yang mendukung sekali, koheren dengan tokoh Link yang memanfaatkan apapun yang bisa diperolehnya.

Memang, drawbacknya adalah film ini tidak bisa terus menerus menyuguhkan aksi-aksi. Alih-alih sebuah action drama, Blood Father lebih terasa seperti FILM DRAMA YANG PUNYA ADEGAN ACTION. Tapi memang, seperti yang berkali-kali kutekankan dalam ulasan, kita tidak perlu melihat wall-to-wall actions untuk bisa menikmati sebuah film. Karakter-karakter lah yang sebenarnya membuat sebuah cerita bisa bekerja, dan film Blood Father punya tokoh-tokoh yang menjamin cerita tetap berjalan dengan menarik dengan kedalaman dan relationship mereka.

 

Konfrontasi di babak ketiga adalah saat di mana semuanya meledak. It was fun dan seru. Namun sebelum sampai ke sana, excitement film ini terasa menghilang. The low point dari film ini adalah saat Link dan Lydia mengunjungi teman lama Link, seseorang yang sudah seperti ‘bapak’ baginya, tapi kini tidak lagi karena si teman ini semacam yang buruk dari yang terburuk dari umat manusia. Ada sekitar sepuluh atau limabelas menit di babak kedua ini yang terasa enggak perlu lantaran tidak benar-benar memberikan kita pengetahuan lebih dalem soal tokohnya. Drama yang ada serta merta jadi terlalu preachy.

Bukan hanya peluru-peluru dari pistol yang ditembakkan, defensively, dalam film ini. There are also ones that fired within words. Membidik sosial yang sudah menjadi terlalu nyaman sehingga gagal untuk melihat masalah yang ada di belakangnya. Semuanya dibisnisin, dijadikan tren. On top of that, film ini kelihatan punya agenda dan misi defensif sendiri. It is indeed a redemption story.

 

 

 

Drama dengan elemen aksi yang bukan hanya menonjok, tapi juga menyentuh ke dalem. Membahas relasi antara ayah dan putrinya, berawal dengan so rough namun they will caught us off-guard. Disuguhkan dengan selingan aksi-aksi yang very fun, dihidupkan oleh performances yang excellent. Sungguh sebuah comeback yang gede buat Mel Gibson. Never leave again…?
Please?
The Palace of Wisdom gives 6.5 ot of 10 gold stars for BLOOD FATHER.

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements