Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“If there’s one thing the news media loves more than spreading bullshit, it’s a good unsolved mystery.”

 

hunt-for-the-wilderpeople_poster_goldposter_com_3

 

Tentu saja pada malam pertama ia diturunkan oleh Petugas Child Services di depan rumah kayu pasangan Bella dan Hec yang terletak di perbukitan New Zealand, Ricky Baker segera kabur. Namun bukan semata demo di dalam perut dan panekuk yang lezat buatan Bibi Bella lah yang membuat dirinya kembali. Perasaan diinginkan. Kata-kata Bibi Bella soal kenapa kuda harus ditunggangi, “Tidak bisakah kita biarkan mereka merumput dan be happy?” menyiratkan bahwa Ricky juga akan mendapat perlakuan yang sama; jaminan kebebasan.

Di rumah itu untuk pertama kalinya Ricky mendapat hadiah ulangtahun. Tapi dunia selalu mengganti pertanyaan jika kita sudah mendapatkan satu jawaban. Suatu kejadian malang menimpa, Ricky tidak lagi bisa tinggal di sana. Paula, petugas dari Child Services akan segera datang menjemput, siap untuk menitipkan Ricky ke rumah foster lain. Persis seperti barang sewaan. Hanya saja dia selalu ‘dijual’ dengan sederet peringatan soal betapa buruknya kelakuan yang bisa ataupun diduga bisa ia lakukan. Ricky Baker memutuskan untuk beneran kabur ke hutan belantara. But not before he was accidentally membakar gudang milik Hec. Menambah prasangka buruk saat Paula menemukan arang-arangnya. Pencarian manusia skala nasional pun segera dilakukan. Belukar disisir demi menemukan Ricky si anak yatim piatu berandalan yang diculik oleh Hec, si orang bukit yang stress dan punya catatan kriminal.

Hahaha beginilah cara dunia memandang orang-orang kecil seperti Ricky ataupun Hec. Yang buruk-buruk doang yang diingat. Tak sedikitpun kelebihan Ricky si ‘real bad egg’ disebutkan oleh Paula, yang melambangkan figur authority di sini. Ricky adalah masalah yang harus diselesaikan, aksi Paula bukan demi Ricky. Demi slogan yang harus ia jamin. Dan mudah saja bagi Paula untuk membesarkan masalah ini, karena kalo ada yang lebih disukai oleh media-media berita dari menyebarkan omongkosong, maka itu adalah misteri yang belum terpecahkan. Film ini menyinggung soal pandangan menuduh orang dewasa melawan pandangan simpel anak kecil. Soal praduga orang atas melawan realita orang bawah.

 

Kenyataannya memang tidak ada yang diculik. Tidak ada yang dilecehkan. Tidak ada yang terluka, well kecuali babi-babi hutan, burung-burung, kelinci, dan rusa yang kena tembus peluru dari senapan berburu milik Ricky. Cerita yang asli acapkali tidak spektakuler bagi media, demikianlah yang terjadi di sini. Hec bersama Ricky, tadinya ia menjemput anak tambun itu ke hutan, tapi terjadi beberapa kejadian tidak beruntung lain, sehingga mereka enggak bisa langsung pulang dan harus hidup di hutan untuk sementara waktu.

Lucunya, mereka tersesat di hutan bukan merasa terisolasi, ingin pulang. Mereka tersesat untuk mencari rumah yang baru.

Lucunya, mereka tersesat di hutan bukan merasa terisolasi, ingin pulang. Mereka tersesat untuk mencari rumah yang baru.

 

Jadi, kita dapat cerita tentang unlikely partnership dadakan antara remaja 12 tahun yang hip dan modern, yang gede dengerin musik rap sampai-sampai dia memberi nama anjingnya Tupac, dengan seorang pria tua penggerutu, tidak bisa membaca, yang sudah ngalamin banyak banget peristiwa naas dalam hidupnya. Ada banyak hal di dalam premis seperti ini yang bisa bikin cerita jatuh ke lubang klise dan penuh sentimental drama, namun Hunt for the Wilderpeople dengan mudah berjingkat, membuktikan kalo cerita yang sudah sering kita dengar pun akan tetap menarik jika diolah dengan sebaik mungkin.

Sutradara merangkap penulis Taika Waititi sudah paham betul bagaimana meracik karakter komedi yang sangat membumi. Di sini dia mengadaptasi novel Wild Pork and Watercress karya Barry Crump. Waititi tahu persis untuk tidak mengandalkan kepada sisi emosional dalam menghidupkan cerita; drama tidak bisa dibuat-buat. Kesan real dan hubungan antarkarakterlah titik tumpunya. Ricky dengan walkman yang dia buat sendiri dari ranting-dan-daun berjoget-joget diiringi musik dari dalam kepalanya, tidak kelihatan seperti idiot. Kita bisa merasakan gembiranya. Perlu diingat, itu adalah kali pertama Ricky merasa bebas bergerak semau dia di alam bebas. He just our everyday imaginative kid, dan mungkin sisi kreatif yang hilang dari diri kita. Di tangan Waititi juga Hec tidak serta merta orang pedalaman yang cuek dan kasar. Ada kedalaman di dalam dirinya.

Seperti What We Do in the Shadows, karya Waititi tahun lalu, this is a VERY QUIRKY COMEDY, terasa off-beat (that’s where the charm is!), sekaligus juga sangat menggugah pikiran dan menyentuh hati. A perfectly timed comedy yang diceritakan dengan menawan. Banyak dihiasi oleh kejadian-kejadian kecil, gelagat-gelagat refleks manusia, yang tergambarkan dengan kocak di sini. Tak jarang, jadi fondasi emosi buat cerita. Sampai sekarangpun, mataku masih berair oleh gelak tawa jika mengingat tendangan kesel Paula kepada Andi, rekan polisinya yang suka ngasal. Kejadian-kejadian yang lebih gede, di lain pihak, kerap memberi kita emosi tak-terduga.

Majestical!

Majestical!

 

Sam Neill memainkan perannya dengan amazing. Tidak muluk jika kita bilang ini adalah penampilan terbaiknya sejak Jurassic Park (1993). Hec adalah pria yang kaku, keras oleh alam, dan sekarang berdiri dihadapannya, seorang anak kota yang bisanya cuma ngerangkai haiku (puisi Jepang, kayak pantun, yang tersusun atas 5-7-5 suku kata). Hec harus berpikir gimana cara dia menjaga anak tersebut di dalam belantara sekaligus enggak menjadi gila karena betapa berbedanya mereka. Mereka berdua tidak saling mengerti. Strange relationships yang terbentuk antara keduanya pun menjadi sangat kuat as Ricky terus maksa memanggil “Paman” kepada Hec. Kita bisa lihat jelas realization dari peran Sam Neill saat dia menyadari deep inside, dirinya dan Ricky tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama tak ubahnya binatang tersesat yang mendapat perlindungan dari Bella. Bagaimana dia yang selama ini tidak pernah menyangka akan dianggap sebagai sosok ayah oleh orang lain. Reaksi Hec saat mendengar namanya ada di dalam salah satu bait haiku Ricky sungguh tak ter-ternilai.
And the kid’s performances juga bukan sembarang permainan akting. Julian Dennison, juga bintang baru yang terpilih lewat casting; Tioreore Ngatai-Melbourne, both did so well menerima arahan dalam memainkan peran yang sangat off-beat dengan natural.

 

Aku enggak bisa menggambarkan dengan tepat betapa menyenangkannya nonton Hunt for the Wilderpeople buatku. Berkat how well it was directed, how thoughtful it was written, pesona penampilan off-beat dari para pemainnya, mereka semua punya chemistry. Musik soundtracknya juga jempolan. But really, kita semua tahu itu maksudnya apa; EDITING FILM YANG PERFECT BANGET!
As the film progressed aku semakin merasa attached kepada tokoh-tokohnya. Ketertarikan kita kepada Ricky terasa jujur. Kita bahkan peduli kepada kenapa si Paula petugas Child Services (kita bisa lihat Rachel House was just so into this manhunt) begitu ngotot untuk mencari anak yang she’s not really cared about. Dan humor yang dimainkan ke dalam cerita mereka sungguh-sungguh excellent.

Aku suka mereka membagi cerita ke dalam beberapa chapter sehingga film ini kayak sebuah dongeng anak-anak. Dan hal tersebut membantu kita, sebagai katakanlah sebuah tempat untuk pegangan, karena pacing film yang relatif lambat. Menjelang akhir, kita toh akan dikejutkan oleh sekuens action yang datang tak disangka. Di resolusi akhir yang mengikutinya, ada satu karakter yang mengambil keputusan yang totally terasa di luar penokohannya. Kayak, enggak mungkin orang tersebut tiba-tiba bisa bertindak demikian. This action ignites another layer of drama, tapi terlihat sedikit maksa buatku.

 

 

Meskipun ini bukan satu-satunya film tentang anak kecil dan orang gaek yang beredar di luar sana, susah untuk merelasikan film ini dengan film-film yang lain. Sama tapi terasa begitu berbeda. Bersama Everybody Wants Some!! Dan The Nice Guys, film ini adalah komedi terbaik yang kulihat di tahun 2016 sejauh ini. This is an exceptionally charming movie.
Penuh oleh karakter-karakter yang menawan. Yang ditopang oleh penampilan off-beat yang memberikan kesan real dan dialog cerdas nan jenaka, at a right-precise amount. Dibuat dengan sangat thoughtful, it is so heartfelt namun enggak cengeng sama sekali. Aku sangat tersedot ke dalam cerita petualangan mereka. Aku ingin ikut tersesat bersama.
The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for HUNT FOR THE WILDERPEOPLE.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements