Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Being human is given, but keeping humanity is a choice.”

 

train-to-busan_poster_goldposter_com_1-jpg0o_0l_800w_80q

 

Apa bagusnya hidup di antara manusia yang pada mau menang sendiri, di lingkungan yang berlomba antara makan atau dimakan? Well, enakan jadi zombie, at least mereka makan bareng-bareng.
Kurang lebih itulah yang dikatakan oleh Train to Busan lewat subplot nenek-nenek, salah seorang penumpangnya yang memilih menjadi zombie demi menjaga kemanusiaannya.

 

Secara tematis, Train to Busan memang film yang kuat. Bukan hanya sekedar tentang pesta pora zombie di dalam kereta api. DRAMA FILM INI DITULIS DENGAN PENUH PERHITUNGAN. Tadinya, film ini kubiarkan fly below my radar. Aku enggak ngikutin korea-korea, dan walau people have been urging me to watch this, aku hanya sekedar angkat bahu, “yea nanti aku tonton”. Barulah setelah my sister told me kalo menurutnya film ini lebih bagus daripada Shaun of the Dead, aku jadi penasaran untuk segera menonton.

We follow seorang bapak yang ‘terpaksa’ ngikutin keinginan ulangtahun putri kecilnya untuk ke Busan, menemui istrinya. Clearly keluarga mereka udah pisah dan si putri sangat sedih dan terpukul karenanya. Dua anak beranak ini berangkat naik kereta api, tanpa menyadari a massive zombie outbreak sedang melanda Korea Selatan. And one of the infected has actually on board the train with no one noticing.

 in toi-leett, in toileeettt, zoombie—zombie—zombie, eey, ey, ey~~

in toi-leett, in toileeettt, zoombie—zombie—zombie, eey, ey, ey~~

 

Meski konteksnya bencana nasional, this was a HIGHLY EFFECTIVE CONFINED-SPACE THRILLER. Sensasi terperangkap berhasil digenerate dengan sangat baik. Ngeri, tegang, emosi, dan serunya numplek jadi satu. Suspens dan drama sambung menyambung kayak gerbong yang enggak putus-putus. Sebelum kereta berangkat, kita briefly diperlihatkan siapa saja penumpang cerita horor ini. Ada rombongan remaja sekolahan, ada kakak-beradik nenek-nenek, ada pria eksekutif, ada si bongsor bareng istrinya yang hamil, ada gelandangan, ada pegawai-pegawai kereta api, lengkap deh, everyday crowd yang biasa kita jumpai di stasiun. Aku suka gimana film ini dengan excellent mengisolasi karakter-karakter yang mereka punya tersebut setiap saat. Suddenly para karakter – yang tadinya tidak saling kenal, tadinya saling cuek, saling sinis malah – have to paired up, berganti-ganti, again and again! Dari unlikely pairings tersebutlah relasi antarpenumpang terdevelop dengan baik. Kita lihat mereka bekerja sama, some of their tactics actually kreatif. Menggunakan terbatasnya tempat dan satu peraturan unik film ini; para zombie buta total di dalam gelap, to their advantages.

Speaking about the zombies, para mayat hidup di film ini, well, bagian menariknya adalah orang-orang enggak harus mati dulu setelah digigit untuk tertular menjadi zombie. Cuma butuh kena gigit dan voila.. beberapa menit kemudian mereka akan mengejar daging manusia segar. So tidak tepat buat kita mengatakan mereka ini mayat hidup. Zombie-zombie di film ini ganas, mampu berlari dengan badan yang patah-patah, berdarah-darah, namun mereka enggak terliat begitu menjijikan. Sepertinya di Korea semua hal harus kinclong, even monsters haha.. Earlier scene nunjukin kalo wabah zombie di negara ini berawal karena sort of kebocoran nuklir. Satu lagi yang menarik adalah kita lihat binatang juga terjangkit dan jadi zombie, yang mana berarti tingkat kesulitan untuk survive di luar sana menjadi incredibly hard, nowhere’s safe.

rusa itu bisa saja merupakan zombie pertama di Korea Selatan.

rusa itu bisa jadi merupakan zombie pertama di Korea Selatan.

 

Tadinya aku ragu they would overdo the drama. Soalnya sepuluh menit pertama aja kita udah disuguhin sama adegan mobil direm mendadak, dua kali! Tapi ternyata dramanya enggak lebay-lebay amat kok. Airmata akan selalu ada jika kita melihat orang terdekat kita digerogoti hidup-hidup dan later giliran kepala bermata putih miliknyalah yang kita getok sekeras mungkin pake tongkat baseball. Paling enggak, cerita karakter-karakternya tidak dipaksakan. Kita dikasih liat masing-masing penumpang, we learn about them as the story moves on. And it’s just amazing how they write each of them off. SETIAP ADEGAN MATI MEMILIKI ARTI. Ada kontribusinya untuk drama, untuk kemajuan narasi.
Wajar dalam film zombie, the most likeable character will die, apalagi di genre drama kayak gini. Kita sudah mengharapkan itu, malah. Its just the right thing to do. Dan film ini did great job at building such characters.

Aku enggak ngikutin showbiz Korea, jadi aku enggak tahu kiprah para aktornya. Buatku, mereka di sini adalah pemain yang sama sekali baru. Ini adalah ulasan aku sebagai penggemar film zombie. Dan aku menemukan bahwa plot tokoh utamanya worked out really nicely. Tadinya dia selfish banget. Secara performance, Yoo Gong mainin Seok Woo lumayan annoying. Di awal-awal dia tidak begitu compelling sebagai tokoh yang harus kita dukung. Apalagi anaknya yang selalu bermuram durja. Tapi si anak alami banget di adegan-adegan terakhir, I guess yang Soo-an lakukan di momen-momen penghabisan adalah alasan utama dia dicast dalam film ini hahaha.. I mean, her crying act was really good. Anyway, balik ke plot tokoh utama; Si Bapakbapak Eksekutif, could be Seok Woo’s future. But in the end the movie beautifully turns that jerk into our protagonist former-self. Yeah, monster yang terburuk, lawan paling mematikan tak jarang adalah manusia itu sendiri.

Seberapa jauh orang akan melakukan sesuatu demi kepentingan diri dan golongannya? Dalam pandangan Seok Woo, justifikasinya adalah dia melakukan pengorbanan demi anaknya. Pengusaha terlihat egois parah, liat saja si Bapak Eksekutif yang dibenci semua orang, namun mereka melakukannya karena punya keluarga. Punya sesuatu yang menjadi tanggungjawab as they will do anything to provide the best, even if sesuatu itu adalah kemanusiaan dirinya. Dengan begitu, apakah tidak memiliki apa-apa adalah jawaban terbaik? Apakah benar di jaman modern sekarang jadi gelandangan dipandang lebih mulia? Train to Busan bicara kritis soal kelas sosial dan humanity.

 

Namun terkadang film ini ASKING TOO MUCH FOR US TO SUSPEND OUR DISBELIEF. Maksudku, there’s no way seorang hamil bisa outrun horde of zombies kemudian naik ke kereta yang sedang berjalan. Lah waktu turun pas keretanya berhenti aja dia kesusahan.. Menonton film ini persis kayak naik kereta api. Begitu aku sudah nyaman dan mulai enjoy the ride, ia berhenti; masuk ke stasiun ‘kebegoan’. Selalu ada momen saat aku mempertanyakan poin-poin majunya narasi film ini. Kayak, kenapa mereka resort to ngancurin pintu alih-alih berusaha menghalau bareng para zombie yang mau menerobos pintu yang satunya? I mean, kalo pintu gerbong dihancurin, apa yang bakal menghalangi mereka dari serbuan zombie di belakang? Itu kayak memilih antara menutup pintu yang di baliknya ada manusia dengan pintu yang di baliknya ada zombie tulen. Dan jika kamu terpaksa dihadapkan pada kejadian seperti demikian, tolong pastikan kalian tidak memilih untuk berada di antara kedua pintu tersebut. Atau, jika putri kecil kalian menghilang, maka apakah tempat pertama kalian mencarinya adalah toilet cowok? Serius, dengan kapasitas seperti itu akan sulit untuk aku mempercayai kata-kata random taksiran ‘hero’ kita soal “zombie gak bisa buka pintu kereta”.

 

 

Entertaining, sungguh seger melihat survival zombie tanpa pake senjata api. Walaupun memang film ini tidak benar-benar memberikan sesuatu yang spesial untuk genre zombie. Performances were fairly well-played. Arahannya memang menonjolkan drama, namun dalam kapasitas masih enjoyable. Suasana berdebar terperangkap dan dikejar-dikejar juga terasa kental sekali, memacu kita untuk enggak betah duduk diem. Tapi aku akan bisa lebih menyukai film ini kalo elemen-elemen poin ceritanya dipikirkan seserius mereka mikirin segi dramanya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for TRAIN TO BUSAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements