Tags

, , , , , , , , , , , ,

“To learn who rules over you, simply find out who you are not allowed to criticize.”

 

magnificent-seven-poster-2016

 

The Magnificent Seven adalah cerita yang amat timeless, putih melawan hitam yang tak lekang oleh waktu. Kenapa? Yaaah, terang saja begitu soalnya kisah seperti ini terus menerus diceritakan. Sudah ada begitu banyak film koboi yang punya aura yang sama dengan film ini. Malahan, The Magnificent Seven sendiri adalah sebuah film remake dari sebuah film remake. You know, originalnya adalah The Seven Samurai (1954) karya si filmmaker master Akira Kurosawa, yang kemudian diceritakan ulang dengan versi koboi oleh The Magnificent Seven tahun 1960.

It is something we have seen before. Satu kota kecil yang berada di bawah kaki seorang penguasa tambang dan tanah yang kaya raya. Sekaligus juga sangat keji. Penduduk kota yang nekad bertanya – jangankan protes, angkat tangan dikit aja – langsung diterabas oleh anak-anak buahnya. Hukum practically ada di dalam saku celana Tuan Besar ini. Bantuan justru datang dari tujuh orang, sama sekali asing bagi kota tersebut, yang berhasil dikumpulkan oleh salah satu warga. Koboi, Indian, buronan, they band together untuk mengalahkan tirani orang-orang jahat, mengembalikan kedamaian di kota kecil yang tak berdaya itu.

Hanya dalam film kita terlihat keren jalan berjejer kayak gitu.

Hanya dalam film kita terlihat keren jalan berjejer kayak gitu.

 

Sampai di sini, mungkin kalian akan bertanya-tanya. Jika ceritanya tidak istimewa, jika ada banyak film sejenis di luar sana, maka apakah The Magnificent Seven ini tidak sebaiknya dikasih judul The Unmagnificent Seven?

Well, sekarang kuberitahu kenapa film ini sungguh membuatku terkejut. Aku terpesona betapa menarik dan mengasyikkan film ini ternyata. Yes, this is a standard pop-corn action movie. Menonton film ini kita tidak perlu khawatir soal drama-drama berat. It’s not even preach so hard soal penguasa melawan penduduk ‘jajahan’nya. Tembak-tembakan, karakter yang sangat beragam sehingga berasa kayak warna pelangi, The Magnificent Seven adalah FILM HIBURAN TEMBAK-LANGSUNG. Dan begitu kita sadar memang film ini diarahkan seperti itu, dalam artian film ini tidak pernah mencoba untuk menjadi sesuatu di luar klise-klise film koboi, sesungguhnya ada banyak fun yang bisa kita nikmati darinya.

Sebagai seorang sutradara, Antoine Fuqua dikenal sebagai pembuat film yang extremely versatile. Bukan masalah baginya menangani berbagai macam genre. Dia bisa direct drama yang keras. Dia bisa bikin action yang seru. Atau bahkan dia mampu membuat drama tinju yang sangat fantastis. Dan sekarang CV orang ini pun semakin bertambah panjang as dia membuktikan dia sanggup mengtackle film koboi yang sangat menghibur. I had a total blast with this movie, dan tidak pernah diserang rasa bosan dari awal sampai asap pada layar bioskop menghilang.

I mean, ARAHAN ANOTINE FUQUA SANGAT KUAT. The action, the setting, semuanya terdeliver dengan baik lewat wide shots yang cantik. Meski berisi adegan-adegan klasik koboi yang sudah kita ‘curiga’ bakal ada, tapi oleh arahan dan pengambilan gambarnya, film ini tetap terasa refreshingly berkesan. Kayak adegan stand-off sebelum duel; adegan para karakter tatap-tatapan untuk waktu yang sangat lama, tangan pada pistol di pinggang, mengelus-ngelus gagangnya, menunggu waktu… Adegan stand-off terbaik dalam dunia film koboi masih tetap dipegang oleh The Good, the Bad, and the Ugly (1966), namun adegan yang dibangun oleh film Antoine Fuqua ini terasa sangat riveting.
Yang paling bikin aku napas adalah shot epic pasukan berkuda menjelang tembak-tembakan final. Ngomong-ngomong soal adegan adu tembak, film ini punya dua adegan tembak-tembakan. Di tengah film dan tentu saja di penghabisan. Keduanya berhasil dipersembahkan dengan sangat impresif dan penuh keseruan. Pertempurannya tergambar lumayan sadis, bahkan buat rating film ini (di Indonesia jadi 17+, aslinya PG13). Meski kita memang enggak dilihatin langsung. Darahnya enggak visible, like, muncrat-muncrat, namun kesannya tetap sangat brutal. It definitely pulls no punches.

cue Bugs Bunny’s music

cue Bugs Bunny’s music

 

Dibintangi oleh banyak orang-orang keren yang performancesnya are so good. Denzel Washington leads this casts, literally. Aku rasa aku enggak perlu ngomong banyak soal kemampuan Denzel. He’s just in total command of his craft. He’s so compelling. Kita tidak akan bisa mengalihkan pandang dari Chisolm, tokoh yang ia perankan.
Yang paling aku suka, dari segi penokohan, adalah Goodnight Robicheaux yang diperankan oleh Ethan Hawke. Goody adalah tokoh yang paling conflicted. Dia punya dorongan kuat untuk menolong orang-orang lemah di sana. Di lain pihak, disiratkan dia punya masalalu dengan tokohnya Denzel, masa lalu yang terus membayangi aksinya. Karenanya, Goody terlihat kurang yakin atas kemampuan diri sendiri. Dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi karena kemampuannya. Inilah yang membuat tokoh ini terasa kuat dan berlapis.
Soal menghibur, jelas Chris Pratt masih mendominasi. Perannya, Josh Faraday, adalah seorang penembak yang extremely likeable. Dia bisa melakukan trik sulap kartu. Dia intim dengan dua pistolnya. He’s really good hanya saja humor Pratt sometimes kedengaran terlalu modern untuk periode cerita film ini.

Hubungan antartokoh dijalin dengan baik, kadang terlalu vokal mengingatkan kita kenapa mereka mau berada di posisi mereka sekarang. Mereka bergabung dengan rather easy. Tidak ada dialog-dialog cerdas yang berat di sini, selalu mereka kayak sedang having fun. Ini actually adalah cara film ini memancing drama, mencoba build up karakter-karakter tertentu sehingga kita merasa kehilangan saat beberapa dari mereka harus di-write off.
Di antara mereka semua, tokoh yang paling aku inginkan untuk selamat adalah Jack Horne. He’s like the very unassuming person tapi bakal gampang meledak dan mengejarmu dan menguliti kepalamu. Vincent D’Onofrio berhasil berat membuat karakter ini lovable dengan gaya khasnya; over-the-top. Pernah nonton Full Metal Jacket? Pernah nonton Men in Black? This guy owns over-the-top! Jack Horne is so hilariously awesome dengan suaranya yang bernada tinggi.

Sebelum ini, kita semua menyangka Bapakbapak Eksekutif di Train to Busan adalah manusia paling busuk di dunia. Tetapi gelar tersebut dengan mudah direbut oleh penjahat utama film ini, Bart Bogue. Dia membunuhi orang tak berdaya. Dia mencuri dari mereka. Dia berusaha berlindung di balik nurani orang. Peter Sarsgaard terlihat sangat licik dan kejam dan keji memerankan tokoh ini. Sama sekali tidak ada kualitas baik orang ini, a total one-dimensional heel. Penguasa yang nginjak orang lain demi keuntungannya sendiri.

Pria dalam musyawarah desa ditembak mati begitu ia mempertanyakan wewenang Bogue. Film ini memang tidak sesubtle dunia nyata. So, when you are being shoot down mempertanyakan keadilan atau kebenaran, kalian akan tau siapa yang trying to menguasai kalian.
Kalah jadi abu, menang jadi arang. Melakukan such ‘perlawanan’ mungkin akan membuat kita terlihat jelek. Seperti Chisolm dan enam rekannya, mereka membunuh orang-orang. Namun dalam politik, negara, dan kekuasaan; penduduk yang baik hanyalah penduduk yang tidak berpikir. Begitu juga dalam film; sebagai penonton, kita bebas mengritik apapun yang sudah kita saksikan.

 

 

 

Sedikit mengecewakan memang film ini tidak seserius kakeknya yang samurai. Bahkan kalah jauh dibandingkan Django Unchained. Tidak dalam kapasitas dialog dan intensitas yang sama. Akan tetapi, film ini memiliki potensi gede untuk menghidupkan kembali genre koboi atau western. Hanya saja, tidak banyak hal baru yang bisa dilakukan di wilayah ini. Antoine Fuqua saw this, he knows that the chance is to make a film so entertaining and tons of fun. Dan tembakannya itu memang tepat sasaran. Dengan jajaran aktor luar biasa, arahan yang kuat, film ini menjelma menjadi aksi petualangan, aksi tembak-menembak yang mengasyikkan sangat. Film ini sebagus apa yang bisa diinginkannya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE MAGNIFICENT SEVEN.

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements