Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Arts are the very human way of making life more bearable.”

 

sing-street-poster

 

Salah satu perasaan paling menyenangkan sedunia, salah satu momen paling penting dalam hidup adalah saat menemukan orang yang memiliki kesukaan yang sama dengan kita, the ones who share our obsessions. You know, yang effortlessly saling mengerti, yang bisa jadi lawan bicara berjam-jam soal suatu ide. People who you want to ‘make an art’ with.

 

Masa remaja Connor diisinya dengan dengerin musik, yang awalnya disebabkan lantaran Connor (sukar dipercaya kalo ini adalah debut film dari Ferdia Walsh-Peelo, saking compellingnya!) ingin meredam suara berantem kedua orangtuanya. Hidup pada jaman Duran-Duran (aaa Lupus bangeett!) mulai memperkenalkan konsep musik video, Connor sebenarnya enggak tahu apa-apa soal musik selain sebagai pelarian. Permainannya pas-pasan, dia bahkan enggak familiar dengan aliran musik, pengetahuannya sebatas yang hanya ia dengar dari omongan abangnya, Brendan (peran Jack Reynor ini sedikit mengingatkan kepada kehangatan uniknya tokoh Jack Black di School of Rock). Karena masalah ekonomi, Connor dipindahsekolahkan ke public school yang menjunjung erat nilai-nilai Katolik. Di sekolah yang semua muridnya cowok tersebut, sepatu warna coklat Connor enggak boleh dipake; harus hitam! Life is such a prison bagi Connor. Awalnya, Connor is sort of just being there. Dia enggak melakukan apa-apa terhadap hidupnya. He’s just go with it; Ayah ibu berantem->bikin jadi lagu, bully datang->I’ll just take the punch.

Momen pertama kita mulai merasakan ‘api’ di dalam diri Connor adalah ketika dia memberanikan diri mendekati cewek yang selalu berdiri di door steps rumah seberang sekolah mereka. Connor ngajak kenalan, dan turns out si cewek kece adalah seorang model. Apa akal Connor agar bisa kenal lebih akrab dan dapetin nomer Raphina (aura misterius yang natural dari Lucy Boynton) yang setahun lebih tua itu? Connor bilang dia lagi mencari model untuk video clip band mereka. The problem is, there was no band!

Bikin musik itu ternyata sama dengan bikin film. Adalah sebuah proses yang required us untuk menemukan orang-orang yang sevisi. Proses yang enggak gampang, tapi sangat menyenangkan. Apalagi begitu sudah ketemu yang bener-bener ‘klik!”. Mau tahu apa lagi yang sama seperti demikian? Mencari jodoh.

 

Lewat film ini, beberapa di antara kita mungkin akan bernostalgia, beberapa akan pengen jadi anak band, beberapa akan reflecting so hard dan ujungnya baper. Maksudku, film ini sukses bekerja dengan baik dalam beberapa tingkatan. PUNYA BANYAK ELEMEN CERITA, yang kesemuanya dikonstruksi very tight, diceritakan dengan well-thought dan highly coherent. Sebagai period piece, Kota Dublin di Irlandia pada tengah 80an terhidupkan dengan baik. Kita lihat anak-anak muda di sana, Connor dan temen-temennya, follows tren musik yang terus berkembang. Mereka juga terinspirasi dari film. Amerika sebagai kiblat, dan London adalah tempat yang ingin mereka tuju. Bahkan Synge Street, sekolah mereka, worked greatly sebagai simbol penjara, sebagai tempat penting yang menempa kreasi dan pemasok bahan bakar pribadi Connor. Setting waktu dan tempat ini actually terintegrasi sempurna ke dalam cerita.

Drive It Like You Stole It is my favorite!

Drive It Like You Stole It is my favorite!

 

Penggemar musik jelas akan terhibur. Selain memberikan referensi beberapa pemusik yang udah jadi ikon, film ini juga membuat kita berdendang dengan lagu-lagu original yang asik punya. This is a fun, easy listened to, musical film. Menulis sebuah lagu, mendiskusikan nada-nadanya, mencari – aku enggak tahu istilahnya dalam musik – ‘lead’ atau ‘hook’ yang jadi appeal buat lagu itu, kemudian membuat video klip, ngumpulin properti, mereka adegan; rangkaian proses memproduksi musik yang mungkin enggak semua kita tahu tersebut tergambarkan luar biasa menyenangkan oleh film ini. Dan perjalanan musik band mereka sungguh asik untuk disimak. Menyebut diri sebagai aliran futurist, anak-anak Sing Street berevolusi dari Duran-Duran yang funky ke The Cure untuk kemudian akhirnya found their own beat. Dari yang tadinya untuk mengimpress Raphina, Connor realized musik adalah senjata terkuatnya untuk mengekspresikan diri.

Ini drama komedi yang kodratnya adalah film sedih, it tugs so many heart strings yang kita punya. Namun arahan film ini mencegahnya untuk bermuram durja. This is a HIGHLY-SPIRITED MOVIE. Tidak mellow berlebih. Kita bisa menikmati film ini sebagai kisah cinta remaja. The really sweet one, kalo boleh kutambahkan. Setiap young boy pasti ngimpi punya pacar yang awesome, begitu juga Connor. Tapi baginya, Raphina adalah kenyataan. Charm antarkedua tokoh ini worked magically. Kedua pemeran did an extremely grounded, real, performance. Kita bisa rasakan genuine love tumbuh, tak hanya pada Connor dan surprisingly – bahkan mengejutkan buat dirinya sendiri – pada Raphina. Namun apa enaknya cinta tanpa konflik, film ini menulis dengan engaging enough soal ‘beda dunia’ mereka dan berhasil membuat kita longing buat nasib hati Connor. Lagu The Riddle of the Model is just one way to describe their early relationship. Kita mengantisipasi the bad outcome, we care for them, we want so much for them to be together in the end.

happy-sad

happy-sad

 

Pemusik basically adalah pemberontak. Kita juga bisa melihat film ini sebagai drama pembebasan diri dari sebuah sistem. Connor memakai riasan ke sekolah, meniru dandanan Simon Le Bon, David Bowie. Bukan hanya the looks, Connor mengimplementasikan juga attitude mereka ke dalam dirinya sendiri. Dia bahkan berakhir dengan nama panggung, Cosmo. Nama yang memiliki arti luar angkasa, as opposed to dunia sempit tempat ia tinggal.
Sebagai sebuah karakter, pertumbuhannya yang demikian ini membuat Connor begitu compelling. Kita sungguh terinvest kepada karakternya. Kita turut dibikin penasaran ke mana dia akan melangkah setelah ini, karya yang bagaimana lagi yang akan ia hasilkan, akankah dia sukses atau hanya akan berakhir seperti abangnya.

Which leads us to the third way we could see this movie: As drama persaudaraan kakak-beradik yang sangat emosional. Semua orang di sekitar Connor adalah individu-individu yang meninggalkan mimpi mereka karena, well, hidup harus realistis. Kayak saudara cewek Connor yang dulunya hobi melukis, namun setelah gede ia berhenti dan tekun belajar biar nilai di sekolah bagus. Abang Connor, Brendan, on the other hand, memilih dropout dari kuliah untuk mengejar cita-citanya sebagai pemusik. Sayangnya, sampai Connor remaja, Brendan belum berhasil meraih mimpinya itu. Namun sosok Brendan adalah guru bagi Connor. He listens and hang on to Brendan’s every words. Prinsip Brendan ‘kerjakan impianmu’ jadi semacam mantra yang guiding Connor. As a character, Brendan ditulis dengan sangat kuat dan interesting. Dia sudah melewati banyak hal, endure so many hard things – kegagalan – di masa lalu. Dia ada pada titik hidup di mana pikirannya sudah begitu terbuka, dia mendukung semua orang yang punya mimpi, bahkan jika mimpi itu adalah menjadi karyawan. Baginya, Connor sudah lebih dari sekedar adik; Connor adalah dirinya waktu masih muda.
And this creates a great conflict di dalam dirinya. Ada adegan di mana Brendan beneran menumpahkan segala emosinya kepada Connor karena Brendan tidak ingin Connor gagal, while deep inside it also hurt him karena ia tidak mau ditinggal sukses. Ia akan kehilangan arti jika Connor gets his dream come true. High note pada hubungan antara Connor dan Brendan ini ditulis dengan sangat indah.

Bagian terbaik dari sebuah film adalah bagian endingnya. Dan film yang terbaik adalah film dengan banyak elemen yang saling berlapis. Sing Street punya kedua kualitas di atas. Each of its stories berkumpul manis di akhir, pada lokasi yang disimbolkan oleh lautan lepas. Aku enggak mau spoiler banyak, namun perasaan accomplished, perasaan bebas, tergambar dengan megah. Setiap akhir film adalah suatu awalan yang baru, dan yes kita bisa merasakan gamangnya Connor menghadapi apa yang ada di hadapannya.

 

 

I enjoy every seconds of it. Tidak ada nada sumbang dalam film ini. It was beautifully written. It has heart and soul. Penceritaan yang sangat kreatif. Dialog-dialog membuat kita gatel pengen mengutipnya. Karakter-karakternya terflesh out dengan sempurna, bahkan temen-temen anggota band — the brothers of the same cause – dan bully langganan Connor mendapat jatah ‘hati’ yang cukup. It was highly well-performed. Cerita remaja yang bittersweet. Penuh great humor, pula. Dengan lagu-lagu yang catchy, yang menyuarakan ambisi Connor, ketakutannya, romantic feelings, his growing pains, akan tetapi membuat film ini tidak terasa pretentious. Malahan, lebih sebagai sebuah suara harapan yang menginspirasi benak-benak muda yang beruntung sudah menontonnya.
The Palace of Wisdom gives 8.5/out of 10 gold stars for SING STREET.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements