Tags

, , , , , , , , , , , , ,

034992100_1474616637-ffb_2016-1

 

Dimulai oleh lagu Cing Cang Keling, Monumen Perjuangan Rakyat terus saja meriah sampai Film Terpuji diumumkan, bersamaan dengan perayaan ulangtahun Kota Bandung yang ke 206. Sungguh sebuah PERAYAAN FILM DAN SENI YANG SEMARAK. Budaya kita kaya, Festival Film Bandung 2016 menyadari penuh hal itu, tema “Berjaya di Tanah Legenda” itu dijadikannya bukan sekedar slogan. Seluruh jiwa yang menyaksikan acara bakal ngerasain feel traditional Sunda yang merasuk di balik gemerlapnya lampu-lampu dan hingar bingar seni kontemporer.

 

Para undangan malah diberikan angklung yang sudah bersandar manis di sisi tempat duduk masing-masing. Tepuk tangan pada acara ini digantikan oleh bunyi bambu antusias dari goyangan angklung-angklung audiens. I bet it sounded cool on TV. Orkes angklung kecil-kecilan pun dilakukan, menyanyikan lagu Halo-Halo Bandung. Pada tau dong, kalo each of angklung itu beda-beda, mereka punya nada tersendiri. Aku (terima kasih undangannya, FFBComm!) kebagian angklung bernada ‘fa’. Sialnya, itu nada yang paling jarang dimainin, jadi selama orkes aku habiskan dengan nungguin ‘konduktor’ di depan memberi isyarat untuk ‘fa’ yang langka banget and when the sign actually comes aku malah blank out kelupaan goyangin angklung hahaha..

Penampilan musik dari pemusik-beneran membuat suasana semakin festive. Ada Gigi, Melly Goeslaw, aku senang sekali akhirnya bisa melihat Jamrud perform live – meski personel mereka udah beda dari waktu aku bocah dulu. Beberapa talent muda juga ada, but I don’t know (or to some extent; don’t care) about them much. Malahan, to be honest, sebagian besar waktu aku cukup mengantuk. You know, acara pengumuman pemenang awards tentu saja diselingi dengan performance-performance lain, dan selain the really funny ones kayak Indro Warkop dan Tora Sudiro yang ngelakonin polisi Chip kayak di film Warkop ataupun family-bantering yang genuinely kocak antara Roy Marten dengan Gading Marten, aku enggak familiar dengan bintang-bintang pengisi acara lainnya. Terutama yang dari televisi. Aku enggak nonton tv, jadi aku gak bisa cerita banyak soal mereka. But judging dari reaksi penonton festival di bawah; penampil-penampil itu dapat sambutan luar biasa kenceng, bisa disimpulkan bahwa acara ini beserta pengisinya bener-bener hits the ‘hits-spot’.

even the rain looked amazing

even the rain looked amazing!

 

Berikut adalah nama-nama insan perfilman Indonesia yang udah sukses menggondol piala FFB 2016. Kalo ada yang bikin alismu terangkat, tahan dulu aja. Kita akan bahas sama-sama di bawah!


FILM TELEVISI


Sutradara Film Televisi Terpuji
Hanny R Saputra – Sejengkal Tanah Surga

Penulis Skenario Film Televisi Terpuji
Baskoro Adi – Pulang Merantau

Pemeran Wanita Film Televisi Terpuji
Keira Shabira – Hadiah Terindah Seorang Pemulung

Pemeran Pria Film Televisi Terpuji
Teuku Rifnu Wikana – Ibu Tak Bisa Mendengar Tangisku Lagi

Film Televisi Terpuji
Dalang

 

 


SERIAL TELEVISI


Pemeran Wanita Serial Televisi Terpuji
Nabila Syakieb – Surga yang Kedua

Pemeran Pria Serial Televisi Terpuji
Teddy Syach – Candra Kirana

Serial Televisi Terpuji
Candra Kirana

 

 


FILM


Penata Artistik Terpuji
Ade Gimbal – My Stupid Boss

Penata Musik Terpuji
Melly Goeslaw dan Anto Hoed – Ada Apa Dengan Cinta 2
Ricky Lionardi – Badoet

Penata Editing Terpuji
Andhy Pulung – Aach.. Aku Jatuh Cinta

Penata Kamera Terpuji
Enggar Budiono – Jilbab Traveler Love Sparks in Korea

Penulis Skenario Terpuji
Ernest Prakasa – Ngenest
Jujur Prananto dan Gunawan Raharja – Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara
Pemeran Pembantu Pria Terpuji
Tanta Ginting – 3

Pemeran Pembantu Wanita Terpuji
Indah Permatasari – Rudy Habibie
Nova Eliza – Aach.. Aku Jatuh Cinta

Sutrada Terpuji
Anggy Umbara – 3

Pemeran Utama Pria Terpuji
Reza Rahadian – My Stupid Boss

Pemeran Utama Wanita Terpuji
Chelsea Islan – Rudy Habibie
Sha Ina Febriyanti – NAY

Film Terpuji
Rudy Habibie – MD Pictures

 

 


LIFETIME ACHIEVEMENT AWARDS


Niniek L. Karim
Henky Solaiman

 

Selamat Pak Hengky Solaiman, paling aku ingat itu waktu beliau jadi Pinokio pacarnya Lulu di film Lupus

Selamat Pak Hengky Solaiman, paling aku ingat itu waktu beliau jadi Pinokio pacarnya Lulu di film Lupus

 

 

Festival Film Bandung 2016 adalah saat di mana aku tidak ingin aku benar.

You know when hari minggu tiba, kalian ingin jalan-jalan sementara di dalam hati kalian punya perasaan bakalan hujan, and you wish you were wrong namun kenyataannya saat kalian udah di luar, hujan pun turun? Kurang lebih begitulah yang kurasakan saat deg-degan duduk mendengarkan dengan seksama setiap pengumuman kategori film. Pada prediksi ku sebulan yang lalu (klik sini), ada film-film yang aku yakin bakal menang meski sesungguhnya sangat berbeda dengan yang aku inginkan untuk menang. Turns out my guesses are mostly correct, and I’m not happy about it.

Salah satu yang membuat Festival Film Bandung yang udah jalan 29 tahun ini spesial, berbeda dari ajang penghargaan lain, adalah mereka menggunakan term ‘TERPUJI’ SEBAGAI APRESIASI PALING TINGGI buat film-film. Dalam majalah Festival Film Bandung edisi khusus 2016 – yang dibagikan kepada tamu undangan acara – mereka mengatakan bahwa sebutan ‘Terpuji’ disepakati bukan untuk menyatakan ‘paling’ melainkan maknanya adalah ‘yang patut dipuji’. Seperti ‘orang terhormat’ yang berarti ‘orang yang patut dihormati’ maka ‘film terpuji’ pun diartikan simpelnya sebagai ‘film yang layak mendapat pujian’. But within the concept of an award show, di mana ada pemenang – ada yang dapat piala, ada yang enggak – menurutku arti awalan “Ter” tersebut naturally menyatakan intensitas. Tidak salah jika ada yang mengasumsikan “Terpuji” di sini berarti “Yang paling banyak mendapatkan pujian”

FFB 2016 terkesan sangat ballsy dan meledak-ledak saat mengumumkan nominasi-nominasi pada Agustus yang lalu. I was actually high from their surprises. Akan tetapi nama-nama yang keluar pada Malam Puncak ini terdengar kayak suara orang yang cari aman. Pengumuman Film Terbaik malahan kesannya antiklimaks banget, mengingat build-up yang perlahan terbangun dari mulai acara. Tidak ada kejutan, yang menang simply adalah yang paling mainstream.

Satu lagi yang unik dari FFB adalah kebiasaan mereka menganugrahi dua pemenang dalam satu kategori yang sama. Penulis Skenario Terpuji, misalnya, jatuh ke tangan Jujur Prananto dan Ernest Prakasa. Selamat buat keduanya, speech Ernest actually sangat emosional, dan true words of wisdom terucap oleh mas Jujur. Tapi FFB 2016 terlihat struggle antara muasin selera penonton dengan selera art. Dan sebenarnya dua pemenang kayak gini adalah tanda bahwa “Terpuji” digunakan untuk tidak menutup kemungkinan. Good films flop, bad films juga bisa flop. FFB, dengan term “Terpuji” menunjukkan bahwa dirinya adalah ajang AWARD YANG FLEKSIBEL, yang dapat menjangkau dua arah. Semua nominator mungkin dinilai memang pantas, namun penetapan jatuhnya piala lebih terkesan in favor of consensus, bahkan at times seperti diagendakan kayak si anu dimenangin lantaran lagi red-hot banget sekarang. Dalam hal ini, FFB tidak lagi terasa begitu independen.

There’s always THIS indication, tho. “Terpuji” bisa terlalu mendua, takutnya ada pembuat film yang beranggapan jalan mudah menang award adalah dengan membuat film yang banyak penggemar. Maka standar akan turun; Pasang saja aktor dengan follower dan fan base terbanyak. Bikin saja cerita yang konyol. Terbang saja ke luar negeri, sekalian jalan-jalan. Bikin saja film sebagai sebuah brand, sebagai barang dagangan untuk dijual. Seperti kasus-kasus sinetron di televisi; kenapa repot bikin yang bagusan jika yang jelek aja banyak yang nonton. Lucunya, aku enggak pernah nonton tv tapi melihat dari judul-judulnya, pemenang Televisi dan Serial Televisi terdengar lebih meyakinkan dari kebanyakan yang terpuji di Film.
Aku enggak bisa melarang orang yang ingin berbisnis, tapi aku pikir aku bisa menantang filmmakers untuk tidak begitu tergoda membuat film dengan niatan utamanya adalah menarik cheap-pujian dari penonton. Karena film, sebagaimana karya-karya seni lain, sejatinya dibuat untuk berekspresi. Bukan untuk mengimpresi.

Dan yang bisa kita lakukan sebagai penonton? Tugas kitalah sesungguhnya yang paling berat. Kita harus belajar untuk memberikan pujian kita yang-begitu-berarti secara jujur buat film atau karya-karya yang benar-benar pantas. Pelitlah dalam memberi pujian demi kemajuan.

 

Next year, I want to be there because of my own movie, tapi bukan semata karena paling banyak dipuji

Next year, I want to be there because of my own movie, tapi bukan semata karena paling banyak dipuji

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

Advertisements