Tags

, , , , , , , , , , , , ,

wwe_clash_of_champions_2016_poster_by_chirantha-dahpcyy

 

Untuk sebuah show milik major brand, justru hal-hal kecillah yang bikin kita enjoy nonton Clash of Champions. The minor details kayak Kevin Owens dan Seth Rollins bergantian saling insult niruin gaya DX nya Triple H, atau Chris Jericho bernyanyi “We are the Champion” celebrating kemenangan Owens, atau titantron ala video game 16-bit milik TJ Perkins, atau bahkan outfit Sasha Banks yang on-point banget.

dan aku masih nyanyi lagunya Taylor Swift saat ref musik Sami Zayn, “This time, I’m telling you I’m telling you”

dan aku masih nyanyi lagunya Taylor Swift saat ref musik Sami Zayn, “This time, I’m telling you I’m telling you”

 

Those details really show us characters, sesuatu yang sangat penting untuk acara berbasis entertainment kayak WWE ini. Udah bukan rahasia, ajang-ajang pencarian bakat di televisi sesungguhnya lebih mencari karakter ketimbang bakat-tanpa-polesan. Hal ini jualah yang membuat TJ Perkins menjuarai turnamen Cruiserweight Classic.

Skill gulatnya yang mumpuni dibarengi oleh karakter personal on-screen yang kuat. Pada tanding pertamanya ini – tidak banyak superstar yang debut di PPV sebagai juara, terakhir kali dilakukan oleh Paige di Extreme Rules 2014 – pegulat asal Filipina itu terlihat sedikit all-over-the-place di atas ring. Musik video game, gaya ngedab, highflying action, kita belum bisa yakin, like, apa dia dari dunia Scott Pilgrim? Namun dari segmen interviewnya di backstage, dia terlihat kayak normal people. TJP perlu mencari fokus direction karakternya sehingga penonton lebih mudah konek.
In fact, divisi Cruiserweight yang baru tiba di Raw ini seluruhnya perlu netapin what would they be like dengan gaya yang harus menyesuaikan style televisi WWE. Tolak ukur mereka adalah The Brian Kendrick, yang sudah punya pengalaman seperti apa Cruiserweight di WWE. Pertandingan Kendrick melawan Perkins di acara ini bisa dijadikan contoh, dan buat para penonton supaya tahu what to expect. Fast-paced action yang tidak melulu mengandalkan jungkir balik. Menilai dari reaksi penonton yang so into them, terlebih di post match moment, kita bisa bilang divisi ini berjalan (atau berlari, seperti yang suka mereka lakukan di dalam ring) with a right step.

Jika Cruiserweight butuh mencari tanah yang stabil, maka main event antara Kevins Owens dan Seth Rollins IS ALL ABOUT THE HIGHER GROUNDS. Tersimbol manis di awal pertandingan mereka; Rollins sudah menunggu di atas ring, Owens berjalan memutari ring. Kedua superstar tahu mereka harus mempertahankan posisi sebagai yang lebih tinggi. Dalam sebuah sekuens singkat, Owens kini berada di dalam ring sementara Rollins memandangnya dari bawah. It was a realization moment buat Rollins. Pertandingan ini sudah jadi sangat personal. Lebih daripada perebutan sabuk Kejuaraan Universal, Owens melawan Rollins adalah pertaruhan siapa yang seharusnya lebih dipilih oleh Triple H. Gestur crotch chop dilakukan masing-masing untuk mendapatkan perhatian dari Triple H, kinda saying, “Gue yang pantas jadi penerus elo!” Buat kita-kita yang nonton, pertarungan fisikal mereka adalah pilihan antara the lesser of two evils. Kedua superstar sama kuat, sama jahat, pertengahan match penuh spot yang dahsyat. Top Rope Gutbuster dari Owens itu misalnya. Tapi keduanya toh sama-sama difavoritin. Resolusi match yang pakek alur chaos jadi enggak begitu worked out, karena it was no longer feel like a match.

screw Triple H, let me be Shawn Michaels!

screw Triple H, let me be Shawn Michaels!

 

Sebagian besar waktu, Clash of Champions terasa DATAR-DATAR SAJA. Pertandingan-pertandingan yang dihadirkan sesungguhnya tidak buruk. Sami Zayn berhadapan dengan Chris Jericho, dua supertars yang kita inginkan untuk bertemu muka dalam ppv, karena kita tahu kemampuan kedua orang ini. Namun terasa tidak punya kepentingan. Feud mereka hampa dan abrupt. Status mereka, yang jadi api yang menyulut terciptanya match ini, adalah Kevin Owens. Temen Owens melawan mantan temen Owens. Hook yang enggak bisa dianggap serius, bahkan bagi mereka berdua. Terbukti dari pertandingan yang meski memang bagus, akan tetapi terasa longgar. Banyak spot yang sloppy, enggak seketat yang kita yakin sanggup mereka lakukan dengan fantastis.

Malam itu Indianapolis menyaksikan seluruh sabuk juara milik Raw dipertaruhkan. Hanya saja TIDAK ADA PROGRES YANG SIGNIFIKAN terhadap masing-masing storyline. Seteru The New Days dengan The Club – kali ini duel mereka cepet dengan hasil yang aneh buat karakter masing-masing tim – masih saja going nowhere. Apakah kita memang perlu untuk melihat perayaan lain dari The New Days? I mean, sejak kedatangan Enzo dan Cass, antics trio Big E-Kofi-Woods terasa tidak lagi serame biasanya. Mereka butuh perubahan. Kita butuh melihat perubahan.

Bayley terlihat salah-guna dalam Kejuaraan Women’s yang dikonteskan secara Triple Threat. Sepertinya, penulis tidak menempatkan Bayley di dalam pertandingan ini untuk lebih dari sekadar the third wheel di antara kisah Charlotte dan Sasha Banks. Much like Dana Brooke, yang ditulis dengan sangat bego. Peran Dana sebagai kaki-tangan Charlotte udah sampe ke titik enggak logis banget. At one point of the match, Dana yang gak ikutan tanding, berusaha bantuin Charlotte dengan curang, lalu komentator Michael Cole nyebutin bahwa ini adalah pertandingan tanpa-diskualifikasi. Hal yang membuat kita mengernyitkan dahi; Kenapa Dana Brooke enggak turun tangan langsung aja bantuin sepanjang pertandingan? Kenapa mesti curi-curi nolong? Enggak bakal diDQ ini kok, semuanya dianggap legal. There’s no pay off dari feud ini. Dana enggak cukup simpatik, Bayley terlihat enggak cukup penting, Sasha kehilangan spark Boss nya, dan Charlotte enggak terasa cukup kuat untuk berdiri sendiri.

Progres nyata actually bisa kita dapatkan dari Kejuaraan United States antara Rusev dan Roman Reigns. Pertandingannya pun seru. Roman Reigns menunjukkan peningkatan, sementara Rusev is still the super athlete he used to be. Which made him looked genuinely strong. Problem dalam kontes ini adalah peran peserta yang enggak masuk akal. Aku susah sekali memahami kenapa kita harus mendukung Reigns yang meranin tokoh face, sementara apa yang ia lakukan dalam cerita ini adalah mengganggu perayaan asmara tulus antara Rusev dan Lana, dengan act dan lelucon yang childish dan enggak lucu? Dan secara garis besar, posisi Roman tidak banyak berubah; masih dijejalkan ke tenggorokan kita.

 

Cesaro melawan Sheamus kayak nonton film yang sengaja digantungkan demi sekuel.

Penonton sudah merasa dikhianati early, sejak pertandingan Sheamus melawan Cesaro. The match was awesome, it has a nice-strong build ups. Sheamus dan Cesaro dalam pertemuan ketujuh dan final mereka. It was best of seven series. Cesaro berhasil ngimbangin skor, mengejar Sheamus yang unggul 3-kosong. Semua skenario kemenangan yang kita lihat pada match mereka sebelumnya, diulangi di sini namun gagal menghantarkan masing-masing untuk jadi yang teratas. The stake menjadi tinggi dan personal. Sheamus dan Cesaro ganti-gantian melakukan jurus-jurus keras. Cesaro bahkan sempet gunain jurus 619 milik Rey Mysteryo. There are so many false finishes. Intensitas semakin naik, it got really physical. Cesaro diving menyerang Sheamus dan mendarat keras dengan lehernya. Moment yang bikin penonton tahan napas. The match was really heated up, it was so great, and then the momentum just stopped. Penulisan yang sungguh buruk untuk mengakhiri pertandingan dengan tanpa-keputusan yang jelas. Kontes hebat yang penuh pertaruhan berakhir dengan draw tanpa sebab musabab kayak begitu sudah cukup untuk membuat penonton kehilangan selera, hingga malam berakhir.

 

 

 

Dibandingkan dengan Backlash milik Tim Biru, Clash of Champions 2016 terasa kurang nendang. Going in, tidak banyak hook dan cerita pertandingan yang bikin kita excited. Dan sepanjang jalannya acara, perhatian kita semakin mengendur oleh solusi jelek dari pertandingan-pertandingan yang sebenarnya enggak buruk. Zero progress terhadap storyline yang ada. Ini adalah show yang penuh dengan bad decisions.
The Palace of Wisdom memutuskan Cesaro melawan Sheamus sebagai Match of the Night, kalo saja endingnya enggak sepointless itu.

 

Full Results:
1. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP The New Days bertahan atas The Club berkat si trombone Francesca.
2. WWE CRUISERWEIGHT CHAMPIONSHIP T.J. Perkins mengalahkan The Brian Kendrick.
3. MATCH SEVEN OF THE BEST OF SEVEN SERIES Antara Cesaro (3) melawan Sheamus (3) berakhir seri.
4. SINGLE Chris Jericho menang atas Sami Zayn.
5. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Juara bertahan Charlotte mengalahkan Bayley dan Sasha Banks.
6. WWE UNITED STATES CHAMPIONSHIP Roman Reigns jadi juara baru mengalahkan Rusev.
7. WWE UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Kevin Owens pertahanin gelarnya over Seth Rollins.

 

 

 
That’s all we have for now.

Our customized Kevin Owens shirt masih available looh di Merchandise section

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements