Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Strength is born in the deep silence of long-suffering hearts.”

 

athirah-poster

 

Bagaimana mungkin bisa menjustifikasi sebuah seni sepi penyayat hati, kalo tidak disaksikan sendiri? Maksudku, di sini aku duduk menatap halaman yang kosong terhitung dua jam sejak keluar dari bioskop, berpikir: Mau secerewet apapun aku mengetik kata pada ulasan ini nanti, tidak akan bisa menghantarkan derasnya emosi yang terasa saat menonton Athirah. Karena yang dibuat oleh Riri Riza di dapur Miles Films ini bukan film drama tragedi-keluarga yang biasa kita dapatkan.

Athirah diadaptasi dari novel ngebiopik karya Alberthiene Endah yang memotret suatu periode kehidupan keluarga Wakil Presiden kita, Jusuf Kalla. Kita akan diperlihatkan muasal keluarga harmonis ini (anaknya banyak!) meniti hidup sebagai pedagang di Makassar. Dengan Ibu Athirah sebagai pusat semesta mereka. Di balik lelaki yang kuat ada wanita yang kuat, bahkan kalimat tersebut sedikit mengecilkan peran Athirah dalam keluarga mereka. For one, beliau tidak pernah gagal menghidangkan aneka masakan di atas meja. Pengabdiannya sebagai seorang istri bukan tanpa cobaan, as poligami bukanlah hal terlarang dalam budaya Bugis Makassar yang beragama. Dan di sinilah film ini bekerja; tentang pergulatan perasaan seorang istri pertama yang selalu menjunjung tinggi nilai perkawinan, yang menaruh harapan besar kepada masa depan anak-anaknya, meski cinta itu kadang tak pulang dan air mata selalu ada. Tersembunyi memang, tapi the tears will always giving it away.

”if there’s nothing missing in her life, then… why do these tears come at night?”

”If there’s nothing missing in her life, then… why do these tears come at night?”

 

Alih-alih memfokuskan kepada gimana poligami itu ‘take place’ di tengah-tengah Makassar 1957an, film ini memilih untuk menyorot bagaimana dampak poligami secara personal kepada pihak yang ditinggalkan. Jika sang Ibu berusaha tegar, maka Ucu (panggilan kecil Jusuf Kalla) seperti kehilangan panutan. Kita bisa merasakan konflik yang ia derita dari masalah orangtuanya; sebagai anak lelaki tertua, dia merasa bertanggungjawab sekaligus belum siap. Dia belum bisa jadi imam. Kita pun melihat amarah itu perlahan terbendung, not only towards his father, tapi juga kepada ibu yang dianggapnya tidak mau melawan. Juga status dirinya sendiri, Ucu practically di-shun dari possibility punya relationship personal lantaran orangtua temannya ngeri ‘kebiasaan’ ayah Ucu menurun juga kepada dirinya.

Tapi film ini tidak cengeng, dirinya tahu betul untuk lebih baik tidak menghabiskan delapan-puluh-dua menit dengan bergalau ria, and that’s what make this movie so uniqe. Athirah adalah FILM YANG HENING. Meski bukan film yang ‘krik-krik’. Tidak ada banyak dialog di dalamnya. Malahan baru setelah lebih dari dua puluh menitan si Ucu kecil melafalkan satu kalimat penuh; saat dia menemukan cinta dalam hidupnya. Di awal-awal dia cuma diam dengan ekspresi stricken. Aku cukup tertarik karena kukira dia bakal diam sampai habis karena film ini, up until he actually talks, has managed very well untuk membuat dialog Ucu terucap dengan diwakilkan oleh teman sekolahnya. Christoffer Nelwan berhasil menghidupkan segala ekspresi yang dibutuhkan oleh gaya penceritaan film ini.

kalo kata orang Jerman, mukak si Ucu ‘backpfeifengesicht’ banget

kalo kata orang Jerman, mukak si Ucu ‘backpfeifengesicht’ banget

 

Dan tone yang diam ini benar-benar sukses bikin kesan yang sangat pecah. Like, you know, that strange calm before the big storm. Bedanya, ‘badai’ tersebut tak kunjung datang, at least kalo kita hanya melihatnya secara fisik. Dari kredit pembuka saja– yang nunjukin pesta nikahan adat bugis – kita langsung disambut dengan perasaan unsettling. Dan perasaan ini berlanjut sampai akhir babak kedua. Membuat sebagian besar film akan kita lewati dengan merasa ringkih, bingung, diamnya itu bener-bener DEEP IN THE FEELS. Kayak kalo ada orang ngambek sama kita sampai ngediemin berhari-hari, kita bener-bener gak tau harus gimana, like, coklat Hershey enggak bakal ngefek. Atau perasaan saat orangtua kita begitu marahnya, sehingga mereka hanya berkata pelan, “Mama Papa enggak marah. Kami kecewa.” Just that- no more words. That kind of treatment was even worse than to have them yelling sampai kedengeran sama penduduk satu kompleks.

Kita lihat Athirah menangis tanpa suara di kasurnya, dan itu adalah pemandangan yang paling memekakkan telinga.

 

Konstruksi adegan yang luar biasa adalah kekuatan film ini. Kayak AADC2 (2016), editing film ini perfect punya. Arthirah, however, punya arsenal lan; Strong oleh budaya lokal, true sebagai period-piece. Dalam film yang penuh emosi ini, tidak ada yang berteriak. Setiap penampilan bener-bener kayak ditelen ke dalem. Cut Mini sebagai Athirah, well, she steals every scenes! Excellent sekali Cut Mini dalam film ini. Kita bisa gimana sebenarnya dia ingin mengesklusifkan imamnya. Her first try was actually pretty funny, tapi enggak bikin film keluar dari jalur serius. Kita lantas melihat gimana dia bottles up all of her pain, semua perasaannya. Terutama, dia tidak pernah menampakkannya kepada anak-anaknya. The feeling was really visual. Tergambar lewat ekspresi dan intonasi singkat. Ada empat kali adegan Emma’ Athirah terlambat menjawab salam, dan tiap masing-masing waktu tersebut kita bisa merasakan gejolak perasaan yang berbeda. Kita tahu nyesek yang ia alami setiap kali melihat piring yang masih tertelungkup di meja makan itu.

Sarung mas kawin dipergunakan sebagai relik untuk melambangkan bagaimana Athirah masalah perkawinannya. Dia menjahit benangnya yang terlepas, memperlakukannya sebagai barang yang senantiasa dijaga. Actually, Athirah berhasil membangun bisnisnya sendiri, out of kebiasaannya menjahit sarung. In the end, kita menyaksikan apa yang ia lakukan terhadap sarung mas kawin pemberian suaminya, dan results of that event membuat Athirah tidak hanya membantu dirinya sendiri, namun juga keluarga, dan bahkan sang suami.

Ini menunjukkan kepada setiap ibu yang berdedikasi kepada keluarga di luar sana bahwa tidak bisa melawan bukan berarti berhenti berjuang. Diam tidak melulu harus resort ke lemah. Justru kekuatana tercipta dari keheningan yang lama hati yang terluka. Seperti hati Athirah. In a way, apa yang diperlihatkan di film ini punya kontras mengerikan dengan how woman portrayed their ‘fight’ today.

 

Whether it’s Jajang C Noer’s singing, or musik latar yang kental kultural, ataupun pemandangan yang mungkin tidak akan pernah kita lihat lagi, seolah ada magis yang menawan perhatian kita ke setiap moment. Masalah yang terasa adalah begitu sudah di tengah, alur film yang lambat membuat kita seringkali menemukan diri berada selangkah di depan film. Kayak, kita tahu apa yang bakal terjadi. Dan kita tetap berharap akan terjadi sesuatu yang lain. Only there wasn’t any sparks of surprise. Datar-datar aja, dari segi kejadian. Dan itu jadi penghalang terbesar buat film ini mencapai puncak emosinya. Bagi yang ngerti struktur film, akan bisa mengantisipasi ending, karena bisa melihatnya datang dari sekuens-sekuens yang berjalan. Namun, penonton-biasa akan kaget, “Loh udahan? Gitu doang?”, terlebih dengan munculnya pemeran versi usia yang lebih dewasa, seperti pasangan remaja dan ibu-ibu yang duduk pada barisan di depanku yang actually nyeletuk, “kirain masih panjang, orangnya pada ganti”

 

 

 

Kalo mau dibandingin, kupikir film ini paling dekat dengan The Window (2016); sama-sama membahas hubungan antar anggota keluarga. Bisa saja film ini sangat personal untuk beberapa orang. Soal dedikasi dan pengabdian. Soal be there and standing on the ground that you love. Perjuangan yang keras akan menempa orang yang hebat. I mean, lihat saja seperti apa si Ucu sekarang!
A real, top-notch production designs. Penampilan yang sangat stricken, hening, namun terasa begitu vokal. Emosional. Menyenangkan untuk ditonton jika kalian suka memperhatikan detil, jika kalian suka mendapatkan pemahaman dengan mengamati. Ada banyak pesan positif di baliknya. Film indah ini tahu persis bagaimana membangun adegan yang benar-benar mengena tanpa harus banyak bersuara. Sebuah penceritaan magis nan unik yang mampu menyedot atensi dan kepedulian kita until the very end.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for ATHIRAH.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements