Tags

, , , , , , , , , , ,

“Hope is not pretending the troubles don’t exist.”

 

deepwaterhorizonposter

 

Tragedi rig Deepwater Horizon disebut sebagai bencana minyak paling parah yang pernah tercatat dalam sejarah Amerika. Memang belum lama banget kejadian malang ini terjadi, mungkin juga masih banyak yang ingat beritanya memenuhi media publikasi di mana-mana pada April 2010. Much like tumpahan minyaknya yang masih terus menggenangi Teluk Meksiko hingga beberapa bulan setelah kejadian, mencemari lingkungan perairan. Dan Peter Berg bareng Mark Wahlberg, setelah sebelumnya menggarap Lone Survivor (2013) yang juga berasal dari kejadian nyata, actually menangkap esens dari betapa mengerikannya tragedi tersebut. Deepwater Horizon adalah projek kedua dari tilogi-tak-resmi Peter Berg.

Ini adalah kisah nyata tentang orang-orang yang terjebak pada hari naas tersebut, tentang peristiwa yang mendetonasi semuanya, tentang bagaimana mungkinnya ledakan tersebut sebenarnya dapat dicegah. Dan film ini dalam kapasitas yang bikin merinding berhasil menceritakannya dengan baik, bukan hanya tentang gimana mereka bisa selamat, tapi juga sebagai penghormatan kepada mereka-mereka yang tidak.

 

126 kru on board…

Menonton film seperti ini, menyadari penuh bahwa ini adalah kisah bencana dengan aktraksi utama berupa action yang non-stop, sungguh gampang bagi kita untuk berpikir “ah, just sit back and relax”. Menganggapnya film hiburan semata, yang penuh ledakan tanpa punya genuine emosional hook ataupun karakterisasi yang signifikan di dalamnya. As soon as bencana itu terjadi, Deepwater Horizon memang adalah wahana ledakan menggelegar yang terus menggeber napas kita sampai ceritanya selesai. Tapi ini adalah wahana yang didesain dengan sangat masterful. Kita enggak bisa enggak memuji teknis film ini. Aktingnya, ledakannya, the stuntworks, the way it happened, film ini tidak terasa palsu ataupun lebay kayak film-film Michael Bay. Semuanya dicapture dengan sangat baik, terasa sungguh nyata, in-the-moment banget. THIS IS A VERY REALISTIC AND GRITTY DEPICTION OF A TERRIBLE DISASTER.
Bahkan saat beberapa kali kita diperlihatkan gambar-gambar up-close view dari daleman pipa minyak, you know, supaya kita bisa lihat mekanisme yang terjadi di bawah sana, adegannya dishot sedemikian rupa seolah mereka masukin kamera beneran ke dalam situ. Tidak sekalipun adegan-adegannya membuat kita merasa sedang menonton sesuatu yang artifisial.

Yang mengagetkan adalah besarnya kepedulian kita terhadap karakter-karakter dalam film ini. Prestasi ini dapat dicapai berkat betapa efektifnya Deepwater Horizon mengset-up penokohan mereka di babak awal. Sebenarnya struktur yang digunakan oleh film ini tidak ada bedanya dengan film-film bencana pada umumnya; karakter para tokoh ditanamin dan dipoles di awal, buat mereka menjadi sangat likeable, kemudian letakkan mereka-mereka ini dalam keadaan yang sangat horrible. It’s just struktur seperti demikian benar-benar bekerja dengan baik buat film ini. Deepwater Horizon melakukannya dengan sangat berani sehingga film ini KAYAK TERBAGI OLEH DUA BAGIAN; saat perkenalan dan saat ketika semuanya porakporanda. Film ini really takes time untuk menghimpun para tokoh-tokohnya.

 

 

126 kru on board…

Kita diperlihatkan interaksi antara mereka. Those likeable workers; Mereka saling bicara, mereka saling bercanda. Hubungan yang tergambar sangat realistis. Malah kinda familiar, buatku. Dari masaku kuliah di teknik geologi aku punya teman-teman yang actually kerja di rig off-shore kayak tokoh-tokoh film ini. Aku pun bukan tidak mungkin bakal mengalaminya sendiri jika enggak banting setir, keluar dari jalur kerjaan haha.. So yea I can actually feel for them, stake mereka terasa grounded. Ninggalin keluarga untuk kerja beberapa minggu, kerja di environment yang, yah, punya risk sedikit lebih gede daripada field lain.

Dalam film ini pun tokoh utamanya, si Mike Williams, punya keluarga; ada istri (diperankan penuh emosi oleh Kate Hudson) dan putri 10 tahunnya yang ngarep dibawain fosil dinosaurus. Tapi dalam film ini, keluarga Mike bukan hanya sekadar ada supaya kita berpikir, “dia ditunggu di rumah, so I guess kita harus peduli kepadanya”. Mereka punya peran yang actually membangun karakter dan motivasi Mike.
Film ini sungguh membangun natural environment sehingga tokoh-tokohnya bisa ada dan berkembang dan terasa nyata. Sehingga saat kejadian mengerikan itu terjadi, kita merasakan peduli yang luar biasa. Kita ingin mereka semua selamat.

Ada satu kebiasaan Mike Williams yang tergambar dalam film ini, yang benar-benar kerasa akrab sehingga menarik perhatianku. Dia digambarkan punya sikap OCD (bukan diet Corbuzier, loh!) di mana dia menaruh perhatian ekstra terhadap barang-barang miliknya, atau hal-hal yang dia hargai. Mike takes a great pride in his office being perfect. Dia nanyain orang yang masuk ke sana, “kau pegang barangku? You touch my shits?!” kemudian dia masuk ke kantor dan menemukan benda-benda yang berpindah tempat, and he just flipped out marah-marah. Sikapnya ini ngingetin aku sama diriku, karena sebagai Cancer aku suka ngumpulin barang di dalam kamarku yang kata orang berantakan. Tapi letak barang-barang tersebut sebenarnya sangat aku perhatikan dan kalo ada yang mindahin, aku pasti tahu dan kesal karenanya.

mungkin Mike takut orang nemuin kaset rap Marky Mark and the Funky Brunch

Mungkin Mike takut orang bakal nemuin kaset rap Marky Mark and the Funky Brunch

 

Banyak ekposisi yang harus dilakukan. Deepwater Horizon berhasil menanganinya sehingga bahasa film ini tidak comes off membingungkan buat penonton. Istilah-istilah drilling, cara kerja oil rig, info-info demikian enggak memberatkan narasi. Sepuluh menit pertama really foreshadowing apa yang bakal terjadi, diceritakan dengan efektif melalui sudut pandang anak kecil. There are actually a lot of reflecting, kind of repetition yang menghenyakkan tokoh kita, sehingga cerita jadi cukup punya layer emosi yang menggugah.

Momen paling menggetarkan hati tentu saja adalah adegan antara Mr. Jimmy (Kurt Russell also very good in this movie) dengan seorang petinggi BP yang dimainkan oleh John Malkovich. Momen fantastis ini terjadi menjelang akhir dan benar-benar bikin merinding. Sekali lagi membuktikan bahwa kesunyian mengatakan sesuatu yang lebih lantang dan mengena. Ada penyalahan di sana, ada penyesalan di situ, ada kasihan. Ada begitu banyak emosi yang ditelan. Salah satu contoh nyata dari betapa hebatnya arahan dan akting film ini.

 

126 kru on board…
…dan 11 yang tak-bisa pulang untuk menceritakan kembali pengalaman mereka.

Tetap bukan angka yang kecil; tidak ada angka yang kecil dalam urusan nyawa. Namun begitu, sekali lagi aku take pride terhadap jurusan yang mungkin juga membesarkan pekerja-pekerja dalam film ini. At least, I’d like to think that way. Karena aku tahu mereka tidak digembleng untuk menderita sendirian. Mereka diajar kebersamaan. Interaksi mereka sebelumnya menunjukkan keeratan, lebih dari sekadar sebagai satu tim. Bencana mengungkap sisi terbaik dan terburuk dari manusia. Dalam film ini kita saksikan sendiri sisi mana yang dominan dalam usaha mereka untuk memenuhi insting bertahan hidup masing-masing.

Meski memang cerita film ini juga menyinggung singkat tentang kecenderungan kita untuk saling tuding dan mulai mengacungkan jari kepada orang lain saat kita tidak benar-benar tahu kejadian yang sebenarnya. Juga tentang kecenderungan kita untuk lebih suka bertaruh kepada harapan ketimbang bersiap untuk menghadapi yang terburuk. Memasukkan hal yang dalem sepeti inilah yang membuat Deepwater Horizon lebih dari average action-thriller.

 

tanks-a-lot

tanks-a-lot

 

Kelemahan film action-thriller juga sebenarnya jadi sandungan yang sama pada film ini. Porsi aksi yang menggebu, yang senantiasa meledak, memberikan kita tiada ruang untuk katakanlah bernapas dan menikmati kesan teatrikal sebagaimana kita menikmati film-film normal. You know, film tiga-babak biasanya terdiri dari tujuh hingga delapan sekuens yang membimbing kita melewati perjalanan naik turunnya emosi. Sedangkan Deepwater Horizon kesannya adalah film ini pertama menetapkan ground para tokoh dan just blow it up, sampai habis. Namun karena sensasi real terbangun dengan baik, di mana para tokoh tersebut juga gak dapat kesempatan bernapas, film ini pun jadinya bekerja dengan amat baik. Memang harus terjadi seperti begitu, feel in-the-moment yang harus right on time, dan kupikir aku sangat menikmati film ini karena dia berhasil membuatku tidak seperti sedang menonton film.

 

 

Tidak seperti kejadian dalam cerita film di mana semennya enggak properly dipasang, semen yang merekatkan elemen-elemen dalam film ini sama sekali tidak menjadi masalah yang melemahkan konstruksi. Ini adalah film dengan pengolahan teknis luarbiasa. Babak pertama jadi penyokong utama yang sukses menghantarkan kita kepada ledakan emosi di akhirnya. Di samping juga ledakan beneran yang juga ditampilkan dengan masterful. Really on-point actions dari mulai bencana sampai film berakhir. Penggambaran yang realistically mengerikan tentang suatu kejadian tragis yang beneran pernah terjadi.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for DEEPWATER HORIZON

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements