Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“If you cannot explain it to a six year old, you don’t understand it yourself.”

 

storks-poster

 

–Dari mana datangnya cinta?
Dari mata turun ke hati.

–Dari mana datangnya bayi?

Well, anak-anak, begini; Saat papa dan mama loves each other very much, maka mereka akan ngirim surat ke pabrik Storks untuk meminta kiriman bayi supaya mereka bisa merawat bayi tersebut bersama-sama.

 

Menjelaskan suatu hal kepada anak kecil bisa menjadi salah satu hal yang paling menyenangkan di dunia. Namun terkadang pertanyaan mereka bisa sangat menantang, ataupun bisa sangat membosankan.

Aku pernah harus menjelaskan seluruh kejadian film The Book of Life kepada adikku yang waktu itu baru berumur lima-tahun. Seru karena aku harus ngimbangin level imajinasi, sekaligus membuatnya tetap memancing. Pertanyaan-pertanyaannya tak henti itu – “kok bantengnya jahat?”, “kenapa kumisnya gitu?”, “kenapa suaranya lucu?”, “kenapa senjatanya gitar?”— kadang memang tak penting dan bikin canggung untuk dijawab. Namun harus dijawab karena it’s just our job to explained things to their learning brain. Dan harus sampai mereka mengerti. Karena Einstein bilang kalo kita gak bisa jelasin sesuatu hal kepada anak kecil maka itu artinya kita sendiri juga enggak mengerti.

Pertanyaan Nate Gardner (Anton Starkman yang currently dan pernah main di serial American Horror Story) bukannya tidak dimengerti oleh kedua orangtuanya yang menjawab gelagapan. Nate pengen punya adik laki-laki untuk teman bermain. Dia bertanya darimana mereka bisa mendapatkan bayi. Hanya saja jawaban yang kutulis di atas sudah tidak bisa lagi digunakan untuk memuaskan pertanyaan polos dari Nate. Masalahnya, para stork (burung-burung bangau) sudah lama tidak nganterin bayi lagi. Mereka udah banting setir jadi pengantar barang-barang paketan. Junior (disuarain dengan kocak dan goofy oleh Andy Samberg) sudah akan naik pangkat jadi bos di pabrik jasa-kirim-barang bangau itu. Syaratnya satu; dia harus memecat karyawan cewek yang sangat annoying, yang setiap ngerjain sesuatu selalu berujung sial. Si Tulip ini (Katie Crown membawa suara penuh semangat yang lucu dan luar biasa ceria) adalah anak manusia yang sudah tinggal di pabrik sejak bayi, she has no idea who her family is. Susah memang memecat orang, ada beban tersendiri. Apalagi bagi Junior untuk melakukannya kepada Tulip yang yatim piatu.

lebih gampang ngediemin orang sih. Also, more cruel.

Lebih gampang ngediemin orang sih. Also, more cruel.

Jadi, Tulip ‘diasingkan’ oleh Junior ke bagian surat-surat permintaan bayi yang sudah lama enggak berfungsi. Sementara itu, di luar sana, Nate menemukan selebaran iklan pabrik mereka. Iklan jadul tentang jasa pengiriman bayi. Nate lantas ngirim surat ke pabrik, yang diterima oleh Tulip, yang ended up accidentally membuat bayi tersebut, dan akhirnya Tulip dan Junior terpaksa bertualang bersama untuk tanggung jawab mengantarkan sang bayi kepada keluarga Nate.

 

Yep, that was the set-up of the movie. Terkesan njelimet, memang, banyak yang terjadi namun film ini berhasil menceritakan semuanya dengan menghibur. Storks is actually a pretty good movie. PACINGNYA SANGAT CEPET. Ada banyak lelucon yang beterbangan ke sana ke mari dengan sangat cepat. Tapi tidak terasa buru-buru. Tidak ada loose-end yang ditimbulkan oleh berbagai elemen cerita. Terkadang memang agak over, banyak leluconnya enggak punya apa-apa di balik niat untuk ngelucu doang. Kayak rangkaian sketsa komedi dengan punchline sebagai penutupnya. Berhasil memancing tawa, sih. The good thing is, temanya yang deket tetap menarik perhatian kita kepada cerita yang berusaha mereka hadirkan. I have tons of fun watching this.

Sebelum ini kita sudah melihat gimana sunyi mengambil peran paling vokal dalam bercerita, liat saja betapa strongnya Athirah (2016) dan adegan tatap-tatapan di menjelang akhir Deepwater Horizon (2016). Storks juga punya adegan diem, tapi enggak artsy, enggak dalem, hanya saja sukses KOCAK BANGET! Di sekitar sekuens resolusi kita akan dapet adegan Tulip dan Junior melawan sekawanan penguin dengan ‘stipulasi’ masing-masing mereka enggak boleh bersuara karena takut si bayi terbangun. There’s not much beyond it but this was a very humorous scene. Aku juga kebawa, jadi tertawa tanpa suara melihatnya.

Animasi dan desain karakternya juga sangat menarik. Bayinya digambarkan dengan super imut. Beberapa tokoh memang sepertinya dicanangkan untuk comedic relief. Dan mereka bekerja dengan baik sesuai kepentingannya. Props to para pengisi suara. Duo komedi Key and Peele tidak pernah gagal dan di sini mereka sukses jadi duo serigala yang impossibly very hilariously determined. Aku juga suka sama tokoh bos bangau yang diisi oleh Kelsey Grammer, bener-bener lucu sebagai pihak authority yang harus Junior dan Tulip ‘lawan’. Paling loveable jelas adalah Nate yang desperado banget pengen punya adik. I like this kid a lot, tokoh ini mewakili perasaan anak-anak dalam diri kita semua. Dia ngirim surat dan secara khusus meminta bayi yang punya skill ninja! Hahaha, kupikir kita semua bisa relate to that. Siapa coba yang enggak mau sodaraan atau temenan sama ninja!? I mean, waktu kecil aku juga pernah punya keinginan semacam itu. Heck, aku yang sudah dewasa juga masih sering ngayal begitu.

Nate adalah karakter yang bikin plot bergerak maju. Kalo dia enggak ngirim surat, maka pabrik storks tetep tidak akan kembali membuat bayi, yang berarti tidak akan ada film yang bisa kita dapatkan. Karakter penggerak semacam ini biasanya cuma jadi sampingan, terlebih dalam film anak-anak. Akan tetapi dalam film Storks, Nate diberikan compelling story khusus untuk dirinya sendiri. Kita dibuat sama pedulinya kepada anak ini as in kita peduli terhadap keberhasilan petualangan Junior dan Tulip. Adegan akan berpindah-pindah memperlihatkan hubungan Nate dengan kedua orangtuanya yang mulai cuek. Terlalu asyik pada pekerjaan. Mereka lupa untuk meghibur putra mereka, untuk memberikannya perhatian. That whole story, mereka berusaha rekonek kepada Nate, adalah episode tersendiri yang menyentuh hati.

Diamond Destiny: BEST-NAME-EVER!!!

Diamond Destiny: BEST-NAME-EVER!!!

 

Relationship yang terbangun antara Junior dan Tulip sungguh mengejutkan buatku. Kedua karakter ini flesh out each other very well dan aku suka melihat gimana persahabatan mereka tumbuh. Argumen mereka, percakapan yang acapkali jadi snappy, terasa sangat genuine. Terkadang mereka kayak suami istri yang lagi ngurusin anak. Aku gak nyangka arahnya ke sana. Memang, film ini paling cocok ditonton oleh pasangan muda yang baru punya anak. Storks really depicts kesenangan yang bisa didapatkan oleh rumah tangga yang dianugrahi anak.

Bahwasanya bahagia sebuah keluarga itu, ya, karena kehadiran anak. Film ini akan menyadarkan tentang betapa indahnya peran seorang anak. Keluarga modern sibuk dengan kerjaan. Bagi beberapa, bisnis adalah anak mereka, yang harus dibangun dan diurus supaya bisa bahagia. Lagipula kebayang dong betapa ngurus anak itu sangat merepotkan. Namun rumah bukanlah pabrik. Orang terkadang lupa alasan mereka pada mau jadi bos dan sukses. It was simply karena ingin share kebahagian bersama keluarga. Bersama anak-anak. Jadi, deliver kebahagian itu kepada keluarga, sekarang!

 

Dan oh by the way, aku setuju banget sama slogan para bangau “always deliver”. Karena itulah yang kami berusaha lakukan. We try to deliver ulasan film baru pada hari yang sama kami menonton filmnya, we try to keep our reviews kerasa in-the-moment. Kalian tahu kan betapa kebanyakan media ataupun orang, pada suka gak tepat janji; mereka bilang bakal ngasih ini, bakal ngadain itu, jam yang ngaret, nah I hate that. Beneran. Mungkin kebiasaan dari kecil, dulu aku anaknya suka ‘nodong’ jadi orang suka janjiin macem-macem just to get off of me, tapi sekarang aku jadi tahu harga janji. Aku akan berusaha untuk selalu menuhin apa yang sudah kami katakan akan-kami-lakukan. Dan ini bukan sekadar we broke promise then try to make it up later; TIDAK ADA KATA YANG TAK-TERPENUHI. Period. We will always deliver at the Palace of Wisdom.

 

 

Ada banyak humor sehingga film ini terkadang memberi kesan bahwa dirinya lebih mementingkan lelucon ketimbang karakter. Dan memang untuk beberapa kali, menonton film ini terasa kayak nonton sketsa komedi yang episodic. Banyak adegan-adegan konyol yang sengaja ditaruh untuk sekadar have fun, tanpa ada kepentingan atau lapisan cerita di baliknya. Tapinya lagi, anak kecil – yang jadi target utama pasar mereka – tidak akan mengeluhkan hal tersebut sebagai masalah. Anak-anak akan totally have fun bareng film ini, petualangan seru dan it’s easily relatable to them. Bagi orang dewasa, film ini pun berpotensi untuk jadi sangat memikat. Karakter-karakter majornya di flesh out dengan baik. Bagi yang punya anak, kalian will love your kids even more. Have fun explaining this movie to them!
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for STORKS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements