Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Patriotism is supporting your country all the time, and your government when it deserves it.”

 

 

Kamu sedang sendirian di kamar, rumah lagi sepi lantaran orang-orang masih pada beraktivitas di luar. Kemudian kamu ngerasain dorongan untuk nyolong makanan punya adek di kulkas, mungkin. Atau ngestalk mantan di facebook, atau ngelakuin hal-hal lucu dengan tisu di depan laptopmu, I dunno, whatever stupid-fun things you wanna do on your private me-time. And suddenly kalian merasa seperti sedang diawasi. Enggak mungkin hantu karena masih siang. Tapi tetep aja kalian punya perasaan kayak ada mata yang ngikutin gerak-gerik kalian. Mungkin itu hati nurani. Atau mungkin saja benar-benar ada sekelompok orang yang melihat kalian dari balik lensa kamera laptop itu. Mencatat dan merekam segala kegiatan, not only you but also everyone in your family. Seperti yang dibocorkan oleh Edward Snowden, seorang Amerika yang bekerja sebagai analisis CIA. Well, sekarang dia mantan analisis CIA. Also, mantan orang Amerika.

Apa yang diungkapkan oleh Snowden pada Juni 2013 benar-benar bikin kaget semua orang. Melalui media-media gede kayak The Guardian dan The Washington Post dia merilis dokumen-dokumen berisi informasi gimana sih sebenarnya cara kerja program rahasia mata-mata NSA (National Security Agency).

Bukan hanya membahas tentang aksi pembocoran informasi yang dilakukan oleh Edward Snowden, film ini juga mengangkat kisah asmaranya dengan Lindsey Mills, dan segala hal yang mempengaruhi keputusan Ed untuk mengambil tindakan yang sampai sekarang pun masih mengundang pro-kontra. Program surveillance nasional negara mereka dianggap melanggar privasi internet dan jaringan komunikasi. Dan as Amerika adalah big brother of the world, jaringan telekomunikasinya tentu merambat ke seluruh dunia. Disinyalir Amerika sudah mengawasi seluruh dunia, menyadap internet, teknologi, percakapan telepon. Melakukan kontrol ekonomi dan sosial demi melindungi supremasi negaranya. Sebagian menganggap Edward Snowden pahlawan, tetapi bagi sebagian besar Amerika, Snowden dituding sebagai pengkhianat; Pembocor rahasia sekaligus mencoreng nama negara.

sudahkah Anda memplester kamera laptop hari ini?

sudahkah Anda memplester kamera laptop hari ini?

 

Oliver Stone bukan orang asing dalam membuat film yang memiliki pesan-pesan politik dan a lot of times dalam filmnya dia ingin penonton bisa mengerti dan setuju dengan pemikiran yang ia yakini. Snowden juga tak luput dari ciri khas Oliver Stone yang demikian. Secara gambaran besar, film ini hanya nampakin satu sisi koin. No worries tho, film ini bukan tipe yang menggurui ataupun terlalu berat. Dengan shot demi shot yang clear, film ini bercerita dengan amat fascinating. Ada banyak eksposisi namun istilah-istilah yang digunakan cukup mainstream sehingga lebih mudah diapresiasi oleh penonton kebanyakan. Sehingga menurutku film Snowden LEBIH ‘RAMAH’ DAN LEBIH ACCESSIBLE buat penonton umum ketimbang dokumenter Citizenfour (2014) yang merupakan real-life cerita dari orang-orang yang terlibat. Snowden terasa lebih mempesona ketimbang sebuah episode mencekam seperti yang digambarkan oleh Citizenfour. Ceritanya bergaung penuh relevansi dengan jaman modern kita sekarang.

Mungkinkah di jaman internet ini kita punya privasi? Film ini menyinggung sedikit bagaimana setiap orang punya sesuatu yang ingin disembunyikan, but then again, terkadang kita loosely posting about anything on social media. Dan apa yang dilakukan NSA adalah tidak lebih besar dari ‘membaca’ aktivitas tersebut tanpa repot minta ijin.

 

Secara teknis, film ini punya arahan yang luar biasa. Pada kulit luar ini adalah cerita seorang yang sangat ingin berbuat sesuatu untuk negara. Kita lihat Ed tadinya ikut militer, sekuens yang I guess dinilai cukup penting karena menonjolkan akar dari niat protagonis kita, but actually ngingetin aku sama bagian camp di film Full Metal Jacket (1987). Perjuangannya di baris depan terpaksa terhenti karena suatu kecelakan menimpa dan fisiknya jadi hambatan besar. Pindah dari lapangan, Ed memutuskan terjun ke medan perang cyber. In it’s core ini adalah tentang pria patriotis yang memegang teguh jaminan kebebasan. Dan later, Ed juga digambarkan enggak nyaman di depan kamera, ada sedikit paranoia feels yang membuatku teringat thriller klasik The Conversation (1974).
Sebagai karakter, Ed adalah ‘hero’ yang senantiasa dibuat menarik. Joseph Gordon-Levitt is incredible. Bahasa tubuhnya benar kayak orang yang terbeban dilema. Kayak, dia tahu dan di dalam kepalanya terus mengulang-ngulang pertanyaan kenapa dia enggak kunjung bertindak?

Di akhir-akhir, film ini akan buat satu keputusan yang ballsy. Sama nekatnya dengan yang dilakukan oleh Ed, kalo mau dibandingin. This is kinda big-spoiler sih, tapi aku ngerasa perlu nyebutin buat nunjukin gimana incrediblenya kerja Jospeh Gordon-Levit di sini. Oke here goes: jadi di akhir, film ini mengganti Joseph Gordon-Levitt dengan Ed Snowden yang asli, dan we could even barely noticed it. Penampilan yang amazing, gaya bicaranya sama, suaranya sama, bahkan wujudnya pun mirip. Oke, done.

Ed rela ninggalin surga dunianya, he was like, “there must be a much better world than this!”. And he knows he could be the one that created such a world.

 

Really, semua pemain di sini menyuguhkan penampilan yang keren-keren. Pacar Ed, Lindsay si cewek fotografer diperankan oleh Shailene Woodley. Kalian tahu she’s one of my fave actress, langganan jadi nominasi buat Unyu op the Year di award My Dirt Sheet. I love Shai, but beneran, penampilannya dalam film ini adalah salah satu penampilan terbaik yang pernah doi suguhin buat kita. Yang strong dari cewek ini adalah sense of vulnerability yang selalu sukses dia portray. Makanya relationship antara Lindsay dengan Ed terasa genuine banget, membuat film ini jadi sangat grounded dan secara emosional, manusiawi. Emosi yang sangat dibutuhkan oleh film ini, tentu saja. Snowden akan sangat hampa jika hanya bercerita tentang orang yang nekat bocorin dokumen rahasia negara tanpa ada koneksi emosi terhadap para tokohnya. Kita perlu melihat beban saat keputusan tersebut diambil, dan hubungan Lindsay dan Ed ditulis dan mainkan dengan tepat sebagai pemberat tersebut.

ketika negaramu is a better stalker than your overly-attached-girlfriend..

ketika negaramu is a better stalker than your overly-attached-girlfriend..

 

However, kejadian di dunia nyata tidak selamanya tertranslate baik jika diubah jadi adegan film, enggak peduli betapa penting atau betapa compellingnya kejadian tersebut. Film ini menceritakan kehidupan Ed, leading up to dia mengambil his world-changing decision. Kejadian-kejadian ‘normal’ dalam hidup Ed banyak yang jatoh tidak theatrically very compelling, you know, tapi film ini bersikeras untuk memasukkannya karena penting bagi kita untuk melihat pertumbuhan tokoh Ed. Sebagian besar musabab cerita tidak berjalan dengan mulus-mulus adalah gaya penceritaan yang ditempuh oleh film ini. FLASHBACK DAN NARASI YANG BERTUTUR DENGAN TERLALU EKSPOSISI. Show, don’t tell. Frustatingly enough, film ini suka terlalu banyak menerangkan alih-alih menggambarkan. Tensi yang ada terasa nyebar, enggak steadily ngumpul dan meningkat. Mungkin kalo timeline narasinya dibikin lurus aja, film ini bisa semakin efektif.

Dan dalam usaha kekeuh mereka untuk membuat kita tahu everything about Edward Snowden, film ini memang TERLALU PANJANG. Banyak sekali bagian yang bisa dipotong, banyak celah untuk bikin film ini lebih ketat. Certain details menutupi apa yang sebenarnya sangat pengen kita ketahui, ‘what drives him to do that?’. Akibatnya, secara utuh Snowden terasa cukup membosankan. Kalo ditonton ulang di dvd atau bluray, kita bakal ngeskip-skip ke bagian yang penting-penting, yang mana buat film ini sangat gampang untuk memilih mana yang enjoyable dan mempersona untuk ditonton ulang mana yang enggak. Dan percayalah akumulasi durasi yang kita tonton ulang itu paling hanya delapan-puluh-menitan.

 

 

Secara materi, film ini punya elemen cerita yang sangat mempesona dan menarik. Masih anget banget kalo dilihat dari segi relevansi. Dan actually, kebaruan dan relevansi adalah dua syarat utama sebuah film untuk bisa sukses. Arahan dan teknis yang luar biasa, pun dengan penampilan-penampilan hebat. Kisah asmara yang juga diangkat terasa sangat grounded dan emosional. Jangan heran banyak orang akan menonton film ini karena romancenya saja. Strukturlah di mana film ini jatoh. Narasi yang bikin tensi jadi enggak koheren. Juga terlalu banyak bagian yang enggak perlu-perlu amat namun tetap dimasukkan demi misi yang diemban oleh film ini. It could have work better jika diperketat atau malah bisa makin menarik jika film ini membahas sisi koin yang satu lagi.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for SNOWDEN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements