Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Forgiveness is simply means loving enough to pursue healing instead of punishment.”

 

munafik-poster

 

It’s perfectly normal jika kita ingin nuntut penjelasan atas sesuatu saat hal yang sudah kita usahakan—saat suatu yang kita percaya selama ini berjalan dengan baik – tiba-tiba take turns for the worst. Semua orang punya cara cope yang berbeda. Dan kita harus go through it sehingga bisa memaafkan dengan lapang hati. Yang enggak sehat adalah ketika kita terus-terusan mengungkit dan mengingat kesalahan tersebut. Jika yang kita mau hanyalah harus ada yang dihukum.
Seperti ketika Ustadz Adam harus kehilangan istri yang sangat ia cintai dalam sebuah kecelakaan maut, bapak satu orang anak ini mengunci diri. Tidak lagi dia aktif ngerukiyahin orang-orang yang membutuhkan. Kerabat sekitarnya mencemaskan Adam. Barulah ketika tidak ada Ustadz lain yang available, Adam mau turun tangan membantu satu keluarga muslim terpandang yang kerap mendapat gangguan tak-terjelaskan. There’s something wrong about Maria, putri keluarga tersebut. Bekerja nanganin kasus ini, actually membawa titik terang atas pertanyaan Adam soal kenapa kejadian buruk menimpa orang beriman seperti dirinya.

 

Most of the times, NGERI FILM INI SANGAT FISIKAL, dalam artian datang dari takutnya kita ngeliat tampang para makhluk goib yang secara sporadis bermunculan. They really snuck up on us, hantu-hantu itu bisa hadir di mana saja kalo kita jeli melihat layar. Dan tentu saja bagian hantu-hantu inilah yang paling mudah untuk disukai oleh kebanyakan penonton. Adegan kesurupan Maria (Nabila Huda is really scary here, aku merinding waktu dia menjawab “Dajjal!”) selalu sukses bikin sestudio saat aku nonton tercekat.
Meski begitu, film ini tidak lupa pula memanjatkan rasa takut ke dalam sisi yang lebih emosional. The direction this movie is going for is that some SORT OF PSYCHOLOGICAL, and I like that. Menurutku, di ranah inilah Munafik melakukan pekerjaan yang terbaik. I mean, kita dapat adegan teroriginal yang dimiliki film ini saat mereka mengeksplorasi apa yang dirasakan oleh Adam di dalam kepalanya.

‘Pertarungan’ antara manusia melawan iblis selalu adalah kisah yang personal. Munafik paham ini, sehingga kisah Adam dan cerita Maria pun diikatnya dengan really crafty sehingga enggak susah untuk terasa hits home buat penonton. Terutama kalo penontonnya masih rumpun melayu, kayak kita-kita. Munafik adalah horor yang sangat grounded dan really on-point. Production design film ini patut diacungi jempol. Ada kesan low-budget tapi justru jadi hal yang menguntungkan karena memberikan kesan genuine. Kamera pun tak luput menyajikan warna-warna seram yang penuh sudut mati. NUANSA RELIGIUS KENTAL SEKALI dalam film ini, membuatnya bahkan terasa lebih disturbing lagi. There’s also this whodunit element yang membuat daya tarik film ini semakin meningkat.

Apa yang dilakukan oleh Munafik adalah membawa sebanyak mungkin horror tropes yang sudah acap kita lihat; exorcism, hantu anak-anak dengan bola, hantu dalam lift, rumah sakit yang strangely deserted, suara distorted setan yang jago merapal ayat kitab suci, ke dalam lingkungan yang lebih familiar. Inilah yang terutama mempesona dari Munafik. Mengambil sesuatu yang biasanya kita observe dari jauh dan meletakkannya ke tengah-tengah kita.

hey lihat, itu pocong! Di belakang rumah kita ada juga satu kan, ya?

hey lihat, itu pocong! Di belakang rumah kita juga ada satu kan, ya?

 

Film ini did a great job dalam menuliskan karakter utamanya; Adam (bisa dipahami soal performance yang over-the-top, it was needed, tetapi kadang delivery lines dari Syamsul Yusof – yang juga menulis dan menyutradarai – terdengar off). Dia susah untuk memaafkan orang yang telah menabrak mobilnya, dan hal tersebut membuatnya mempertanyakan Tuhan. Ada keraguan terbersit di dalam hatinya. Adam benar-benar kesulitan untuk melupakan sosok sang istri yang ia rindukan. And we see those things come together, messing with Adam’s head. Kita lihat gimana Adam melampiaskan ketidakmampuannya untuk mengikhlaskan itu kepada Amir, anaknya (Izuan Fitri mainin peran yang annoying banget alih-alih simpatik dan bikin penasaran). Sebagai karakter, Adam dibuat sangat vulnerable secara emosional. Dia lemah, dan itulah yang membuat kita peduli.

Munafik adalah Adam, ketika dia mengusir setan dari orang-orang padahal sendirinya memelihara ‘setan’ di dalam hati. Adam is so consumed with rasa bersalah, kebingungan, marah yang tak-tersampaikan. Dendam. Hal yang membutakan matanya sehingga ia tidak bisa melihat sasaran sebenarnya dari amarahnya tersebut.

 

Dan sebagai antagonis, iblis bener-bener ditunjukin sebagai sosok yang menakutkan. Dalam film ini kita akan melihat gimana mudah saja bagi iblis untuk mengadu domba manusia. Bermain-main dengan keyakinan mereka. Menggiring yang-tak-kuat-iman ke dalam kesesatan dan akhirnya bercerai berai. Membuat manusia takut kepada semua hal, kecuali kepada Tuhan. Menurutku di bagian inilah film sungguh menakutkan. Like, lihat saja gimana suksesnya iblis bekerja di lingkungan yang kental ajaran agama. Orang –orang di film ini, mereka tidak meninggalkan sholat wajib, gaulnya sama ustadz-ustadz, heck bahkan aurat mereka tertutup sempurna, namun tetap saja berakhir jadi budak setan. Gimana dengan lingkungan kita? Gimana dengan kita sendiri, dengan aku yang ibadah aja bolong-bolong. Kita semua bermain di telapak tangan iblis, kata film ini for all we know.

Banyak yang makek agama sebagai gimmick untuk nyari uang. It’s scary how this film relevan dengan kedaan sekarang. Like, di sini, this time kita dapet dua ‘padepokan’ on our hands. Belum lagi soal perkara pengutipan ayat-ayat suci demi kepentingan politikal.Khutbah dipakai sebagai kedok untuk hal yang bersifat duniawi.
Film Munafik terasa kayak sebaliknya. Menggunakan gimmick horor untuk bersuara soal agama, soal hubungan kita terhadap Yang Maha Kuasa. This movie actually has one or two legit things to say. Berdakwah lewat kisah hantu, membisiki kita sehingga tidak lupa terhadap musuh terbesar manusia sampai akhir zaman.

 

Hanya saja, Munafik cenderung untuk CONDONG KE ARAH HOROR STANDAR. Pacing ceritanya dibuat cepat, namun berkesan seolah ingin segera angkat kaki dari bagian yang berfokus kepada konflik Adam. Belum sempat kita mengapresiasi pergulatan inner Adam, saat feels itu belum sink-in sepenuhnya, film akan membawa kita ke adegan remeh seputar Maria diganggu hantu. Yang really mengalihkan perhatian dari elemen cerita yang lebih kuat. For one, mereka mengolah adegan-adegan hantu ini dengan sangat standar. Musik keras, kamera bergerak cepat, terus close up ke muka setannya. Dan, hey, baru enam menit kita sudah dapat fake jump scare loh! They really tidak berusaha memainkan sesuatu yang baru dari momen-momen penampakan setan ini. Hasilnya adalah adegan yang enggak distinctive, enggak ikonik.
Adegan terkuat dan original mereka, yang sudah kusebutin di atas, adalah adegan yang involving pocong, kuburan, dan anak kecil, harus ngalah disematkan sebagai adegan ‘cuma-mimpi’. Sangat disayangkan sekali, kalo saja film ini berani menempuh rute yang full-psikologis, alih-alih more conventional route, maka Munafik bisa menjadi salah satu film horor yang diperhitungkan oleh dunia. Munafik, in reality, hanya terasa kayak horor pengusiran hantu generik versi islami.

Juga, film ini tidak terasa terlalu compelling karena arahan membuat adegan yang over-the-top, especially adegan pengusiran. Hanya saja rasanya enggak gitu beda jauh kayak acara reality tv pengusiran hantu yang dulu jadi bahan tertawaan. Penyelesaian yang diambil nge-deus ex machina banget. Susah untuk nelan akhiran yang seolah si tokoh berbincang dengan Tuhan, trying to make up for his sins, dan datanglah that divine thunder. Terlalu over aja, kayak ngeliat Flanders dalam serial komedi The Simpsons. Mereka ingin stick dengan tema religius, namun kupikir Tuhan tidak bekerja seperti demikian.

Mungkin ini sedikit nitpicking, tapi melihat dari jarak dan posisinya, sulit untuk ngereka under what circumstances kecelakaan yang menimpa keluarga Adam bisa possible terjadi, bener-bener resulting seperti yang kita lihat di layar. Oke mungkin setelah terlempar sejauh itu, dengan sebelah wajah penuh luka, sang istri masih sanggup membalikkan badan dan hidup sampe suaminya bangun, but it’s really a long reach buat logika kita untuk bisa memaklumi kejadian seperti itu.
Mungkin memang film ini meminta kita untuk sedikit suspend our belief and be okay with that. Tapi bukankah itu…namanya… juga… munafik?

I know you are, but what am I?

 

Dan tentu saja ada twist. Paragraf ini mengandung big-spoiler, oke? Nah. Twist ala The Sixth Sense di akhir tidak berjalan dengan baik-baik amat. Ya, memang sukses bikin kita “oohhh ternyataaa” tapi kalo dipikir-pikir, memasukkannya tanpa ada follow-up yang berefek, membuat film ini seperti jenis film yang favoring twist lebih daripada semua. Which make this movie as a standard horror even more. Ada dua kemungkinan soal si Amir ini.
Pertama adalah dia hanya ada dalam kepala Adam, yang mana masuk akal secara alur psikologis; Amir mungkin ‘diciptakan’ oleh Adam sebagai personifikasi dirinya sendiri yang gak nerima istrinya mati. Tapi kalo begini, kejam banget sih si Adam sama anaknya.. he overlooked his death and pretty much bikin eksistensi si anak enggak sepenting istri atau dirinya sendiri.
Kedua adalah Amir beneran hantu, dia di sana buat nyadarin ayahnya, hanya saja si Adam ini memang suka motong kata-kata orang lain lantaran dia enggak mau dengar kenyataan. Kalo bener begini, I think Munafik missing the chance untuk bikin plot Adam bisa comes full-circle. Film harusnya berakhir dengan Adam exorcising Amir, dengan begitu dia bisa deal dengan pengikhlasan dan gak nyalahin orang lain.
Either way, film ini nyatanya ditutup dengan nonjolin twist sahaja seolah pencapaiannya adalah bangga bisa mengecoh penonton.

 

 

 

This is not a bad movie, namun kita juga enggak bisa munafik mengabaikan some obvious flaws yang menghantui film ini. Aku bisa lihat average horror fans bakal sangat menyukai film ini, karena terasa sangat dekat as in ceritanya bisa terjadi di sebelah rumah kita, punya penampakan-penampakan seram, elemen whodunit yang engaging, punya twist yang bikin makin greget. Scare-fest yang efektif. Kental unsur budaya, juga. Pesannya ngena. Namun yang aku paling suka dan respek adalah usaha film ini untuk memasukkan kengerian secara mental, which I think they didn’t do it enough. It coud have been better. Pace yang cepat harusnya bisa diperlambat sedikit sehingga penonton bisa dapat kesempatan untuk mencerna dan mengapresiasi the true horror aspect behind the story.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for MUNAFIK.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements