Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“We did it before it was cool!”

 

 

Pada tau video Pen Pinapple Apple Pen kan? Video konyol random itu sekarang udah ditonton lebih dari jutaan viewer di youtube, dan tentu saja sudah mulai bermunculan video-video gajelas buatan youtuber lain yang berusaha untuk ride along the trend wave. Nah, Blair Witch sendiri adalah sekuel resmi dari film The Blair Witch Project (1999); film yang sudah merevitalisasi found-footage horror. Oke sampai di sini kalian tentu sudah bisa melihat apa urusannya video om-om yang bernyanyi tentang nyatuin pulpen ama apel tersebut kutulis di dalam ulasan film Blair Witch. Mereka adalah yang pertama, yang duluan memulai sebuah tren.

Menjadi bagian dari tren tentu adalah hal yang keren, namun menjadi the one yang starting it all adalah kebanggaan tersendiri. Kita ingin fakta sebagai yang pertama tersebut diketahui oleh banyak orang. Kayak kalo tadinya cuma kita yang cuek pake kaos kaki belang ke sekolah-enggak ada yang peduli, namun suatu hari Si Populer ikutan makek kaos kaki seperti itu, kemudian anak-anak yang lain jadi pada makek jugak, and you have this urge to nulis gede-gede pake spidol merah di papan tulis “I wear those stupid socks before it was cool!”

Kurang lebih begitu jualah alasan kenapa The Blair Witch Project membuat film sekuel lagi, meski film kedua mereka yang keluar tahun 2000 gagal total. Film horor dengan gimmick found-footage sudah menjadi mainstream. Banyak yang gagal, namun tak sedikit juga yang sukses. Paranormal Activity (2007) adalah salah satu contoh yang berhasil menerapkan apa-apa yang membuat The Blair Witch Project sebuah fenomena pop-culture.

Marketing buat film original ini sangat on-point. The Blair Witch Project adalah salah satu film pertama yang pakek strategi viral campaign. Mereka bikin situs khusus untuk jelasin mitos Blair Witch, bikin selebaran, dan lain-lain, while also tetap mempertahankan kerahasiaan filmnya. Hasilnya; banyak orang yang mengira film ini adalah footage berita asli tentang tiga orang anak muda yang mencari Blair Witch dan hilang di hutan. Kritikus film tahun segitu pada kompak bilang The Blair Witch Project adalah film terseram yang pernah dibuat berkat sense nyata atau enggak-nyata tersebut. Tahun 1999, aku bahkan belum bisa ke bioskop. Aku nonton film ini di kosan, belasan tahun setelah kemisteriusan filmnya sirna, setelah orang-orang fully realized ini cuma film biasa yang dibuat oleh filmmaker yang pinter. I appreciate the movie sebagai sebuah film horor. Toh ada juga sebagian penonton – yang nonton belakangan, setelah tahu hypenya, kayak aku – yang menganggap The Blair Witch Project adalah film yang membosankan karena, well, jangankan si Blair Witch, musik aja enggak ada di dalam film. It was so dark, basically tidak ada yang terjadi kecuali remaja-remaja annoying nyasar di hutan.

Kalo kalian termasuk grup orang yang nganggap film originalnya boring, maka besar kemungkinan kalian akan turut membenci film Blair Witch terbaru ini.

 

The Blair Witch Project jadi sangat luar biasa berkat marketing dan sense of realism, yang juga didukung oleh performances yang genuine, sehingga banyak yang meniru. Termasuk film Blair Witch. Sutradara Adam Wingard did some VERY SIMILAR TACTIC. Dia memasarkan film ini sebagai The Woods untuk menjaga kerahasiaan. Caranya membangun tensi dan menghimpun rasa takut juga terasa familiar. Sayangnya, film ini malah jadi terasa enggak kreatif karena menggunakan elemen cerita yang sama dengan film pertamanya.

Tokoh kita kali ini adalah James dan teman-temannya. Mereka melangkah masuk ke dalam hutan Black Hills, Burtkittsvile demi mencari kakak James yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Usia James baru empat tahun saat Heather kakaknya hilang di hutan tersebut. James bermaksud menyelidiki rumah misterius tempat kakaknya terakhir kali terekam di video dokumenter mereka yang ditemukan. Yea, kakaknya actually adalah tokoh dalam film pertama. Jadi, berbekal kamera dan gadget yang canggih, James dan teman-teman menapak tilas perjalanan kakaknya. Tetap saja, mereka ujungnya tersesat dan hutan tersebut menjadi tempat paling tak menyenangkan seumur hidup mereka.

jadi inget hutan di film Dono yang Setan Kredit

jadi inget hutan di film Dono yang Setan Kredit

 

Nyaris beat-to-beat Blair Witch adalah PENGULANGAN DARI FILM ORIGINAL. Mereka kemping, malamnya denger suara, hutan yang seolah hidup membutakan arah, mereka melihat kayu-kayu yang diiikat oleh rambut, mereka melihat batu-batu yang disusun secara simbolis. Adegan wawancara dengan penduduk kota memang enggak ada, namun diganti dengan eksposisi mitos oleh dua remaja lokal yang jadi informan utama dan ikutan ekspedisi tim James. TEKNOLOGI ADALAH INOVASI yang dilakukan oleh film ini. Visualnya lebih modern. Gimmick teknologi juga mereka manfaatkan. Kamera di pohon dan telinga. Drone digunakan supaya kita bisa mendapat jangkauan penglihatan yang luas, yang sayangnya tidak berguna banyak bagi narasi. Most of the times kita akan mual oleh penggunaan shaky cam.

Penampilan para pemain untungnya tidak ngalamin kemunduran yang berarti. Karakter mereka memang ditulis plain (and still annoying), untuk menghasilkan kesan everyday teenager, I guess, but mereka rata-rata baguslah dalam delivering rasa takut dan bingung. Tokoh James yang dimainkan oleh James Allen McCune mestinya bisa lebih digali motivasinya. Begitu juga dengan Lisa yang diperankan oleh Callie Hernandez, yang dibiarkan ‘hanya’ sebagai teman yang punya rasa khusus kepada James, meskipun at times cewek ini yang lebih terasa sebagai tokoh utama.

Kuberi tahu satu rahasia dalam nonton film; bagian yang terpenting adalah sepuluh menit pertama. Karena biasanya dalam rentang waktu tersebut kita sebagai penonton sudah bisa menyimpulkan apakah kita suka sama film ini atau enggak. Itulah sebabnya kenapa penting untuk sebuah film nunjukin siapa karakter utama, apa keinginannya, apa yang menghalanginya dari mencapai itu, dan ngeset tone film sebelum menit ke sebelas. BAGIAN TERPENTING DALAM BLAIR WITCH JUSTRU PADA SEPULUH MENIT TERAKHIR. Di menit inilah ceritanya mulai berkembang menjadi sesuatu yang berbeda (dan actually kelanjutan) dari film pertama. Pada menit inilah arahan Adam Wingard mulai meledak as some serious stranger things digeber terjadi.

Aku bener-bener dibuat takut oleh adegan final di dalam rumah yang terlihat membusuk itu. Perasaan terkurung seolah ikut menjebak kita. Dan mekanisme dunia, misteri di balik kemampuan Blair Witch mulai sedikit terbuka. Kita akan menemukan diri kita menyusun teori-teori di dalam kepala, masing-masing teori akan terdengar lebih aneh dari yang sebelumnya. This is where the film works. Kengerian, ketidaktahuan. Semua itu menabrak kita di sepuluh menit terakhir, bikin napasku tersengal. Aku sendiri punya teori, which lead us to a big spoiler, menurutku makhluk beranggota gerak panjang itu benar adalah Heather, dan mungkin korban-korban lain dari sihir Blair Witch.

yang punya cara kerja sama kayak Basilisk; jangan dilihat langsung!

yang punya cara kerja sama kayak Basilisk; jangan dilihat langsung!

 

Sebagai ajang untuk recognition “hey kami loh yang duluan bikin kayak gini”, Blair Witch menyerukannya dengan lantang. Dengan berteriak. Literally. SUARA KERAS ADALAH ANDALAN film ini. Kalo di film originalnya, kita dibuat merinding mendengar suara cekikikan, suara lolongan, samar dari kejauhan, maka di film ini hutan Burkittsville di malam hari terdengar kayak hutan yang sedang ditebang oleh geledor-geledor. Suara-suara keras kerap bikin kita kaget alihalih takut.

Beberapa bulan ini, aku sering muji film horor, jarang sudah kita melihat jump scare boongan. Mungkin para filmmaker horror perlahan sudah mulai sadar. Sayangnya, Blair Witch didn’t get the memo. Kalo kamu getok kepala pake garisan setiap kali jump scare terjadi di film ini, maka di akhir cerita niscaya kepalamu benjol dan berdarah-darah. I mean, jump scares gajelas terjadi lagi dan lagi. Setidaknya ada enam kali adegan seseorang melompat ke depan kamera, bilang “HEY!!” Murahan banget. Dan lagi, sangat gak masuk akal buat orang yang ketakutan karena tersesat di hutan setan, mengendap ke belakang temannya yang megang kamera – yang by the way, juga ketakutan setengah mati – kemudian sekuat tenaga bersuara mengumumkan kehadirannya sambil meloncat tiba-tiba.

I dunno, mungkin motivasi mereka memang sekadar iseng. Aku gak tau gimana harus memaklumi tindakan tokoh-tokoh film ini. Kayak, empat sahabat yang kemah, dari pagi yang satu pergi entah ke mana, sementara sepasang lagi diem di dalam satu tenda, ninggalin teman mereka yang cewek dan lagi sakit di dalam tenda lain sendirian.

 

 

Sepuluh menit terakhir sungguh-sungguh bisa dinikmati sebagai fans film horor. Memberikan pandangan dan kemungkinan lebih dalam buat mitos Blair Witch, penggemar film originalnya sudah pasti bisa menghargai bagian film ini. Sayangnya, majorly, this movie is disappointing. Terlalu mirip dengan yang sudah pernah kita saksikan. Penggunaan suara yang berlebihan dan jump scare yang perlu untuk segera angkat kaki dari film-film kayak gini. Karena enggak bikin ngeri sama sekali. Mantra yang sama enggak bisa bekerja dua kali. Malahan membuat sense of realism – yang membuat film pertamanya begitu fenomenal, sama sekali tidak terasa di film ini.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for BLAIR WITCH.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements