Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“I don’t wanna waste my time become another casualty of society.”

 

miss-peregrines-home-movie-copy

 

Menyaksikan langsung kematian kakeknya, Jake menjadi merasa terbebani. Bukan hanya karena si kakek used to be anggota keluarga yang paling dekat dengannya, namun juga karena malam itu Jake melihat sesosok monster tinggi, berlengan panjang, dan mengeluarkan tentakel dari mulutnya. Monster yang dulu sering diceritakan oleh kakek. Monster yang, Jake tahu tanpa ada yang percaya, telah membunuh kakeknya.
Jake terpaksa mengingat kembali cerita-cerita fantastis tentang pengalaman kakeknya saat dikirim ke sebuah sekolah aneh di mana anak-anak bisa merasa aman dari monster. Cerita masa kecil yang selama ini Jake repressed karena ya, berkat cerita-cerita tersebut Jake jadi disalahmengerti sehingga remaja pemalu tersebut basically has no friends. Orangtuanya sendiri menganggap mental Jake enggak beres. Namun eventually, Jake melihat sendiri bukti cerita si kakek, dan dia ingin pergi ke pulau tempat dulu kakeknya dikirim. Di sana Jake menemukan gua misterius yang membawanya menembus lingkaran waktu. Jake kembali ke tahun 1943, tepat di depan sekolah yang dulu diceritakan kakeknya. Dari sinilah petualangan dimulai.

 

Babak pertama film ini actually sangat menarik. Ini adalah petualangan Jake mengungkap misteri kematian sang kakek, yang nyatanya bakal jadi satu hal terpenting yang pernah dilakukan oleh Jake untuk hidupnya sendiri. Menyenangkan ngikutin Jake ketika pertama kalinya dia sampai ke sana, melihat segala cerita ajaib yang akrab di telinganya dengan mata kepala sendiri. Begitu kita bertemu dengan anak-anak yang punya kekuatan aneh di sekolah tersebut, kita langsung bisa merasakan gaya khas Tim Burton. Cerita FANTASI DENGAN HUMOR YANG, ah katakanlah… PECULIAR. Kayak adegan tengkorak hidup towards the end itu.

Film ini diangkat dari novel (bagian pertama dari novel trilogi, tepatnya) karangan Ransom Riggs, dan pada dasarnya memang sebuah dark fantasy dengan monster-monster, time loops, dan kekuatan ajaib yang membumbui kisah tentang trauma psikologis. It is actually about Jews yang jadi korban Nazi. Tapi enggak segelap kedengarannya kok, film ini manages untuk membius kita dengan element fantasinya. Pesannya dibungkus dengan amat subtle, PENUH SIMBOLISME. Misalnya domba-domba yang mati dan monster yang bisa berubah wujud yang melambangkan innocent dan momok sebenarnya bisa berasal dari siapa saja. Ataupun pulau yang bisa kita tafsir sebagai perlambangan tempat mengurung perasaan aman di dalam diri. Sebagaimana setiap dongeng dari sutradara ini, Miss Peregrine’s Home for Peluciar Children juga glorious oleh AMAZING PRODUCTION DESIGN. I really like the visual style. Semuanya terlihat hebat, semua terdengar great.

Kepercayaan, mungkin agama, memegang peran penting dan kerap berulang sebagai tema dalam film ini. Gimana Jake adalah satu-satunya yang percaya dengan cerita kakek. Gimana kepercayaan tersebut menjadikan mereka as some kind of ‘target x’ sebuah diskriminasi; dianggap aneh, dikerjain orang. Kepercayaan itu jualah yang membawa Jake kepada anak-anak yang punya kekuatan, yang bisa melakukan apa saja, mereka menolak jadi korban bom, mereka berkuasa di dalam dunia mereka. Ini seperti Jake akhirnya menemukan saudara-saudara seiman, di mana dia akhirnya take action untuk menolak jadi korban diskriminasi, dan sadar dia juga bisa melakukan apapun, by keeping a faith.

Dulu aku selalu bilang aku nonton film karena ceritanya. But now I know better. Dalam menonton film, yang sebenarnya kita cari adalah karakter. Karena tanpa karakter, kita tidak akan punya konflik. Tidak akan ada plot. Tanpa karakter, tiadalah cerita.
Film ini punya SEGUDANG KARAKTER PENUH WARNA. Performances merekapun semuanya sekeren kemampuan unik mereka. Eva Green sebagai Nyonya Peregrine was suitably over-the-top. Dia bicara cepet-cepet banget dan sangat akurat menebak sesuatu yang akan terjadi, in the matter of time. Eva Green pas dan proper sekali mainin karakter ini, I really like her character. Sosoknya dibikin makin misterius oleh aura Eva, like, aku nyipitin mata melihatnya – mencoba untuk menerka apa yang sebenarnya tokoh ini pikirkan, where her action leads to – tapi gakbisa. Dia terasa cewek banget, you know, shrouded with mystery and beauty and everything.

Sedangkan untuk peran anak-anak, beberapa terlihat bener-bener fun, mereka bisa ngelakuin hal keren dengan kekuatan mereka. Bikin kita semua iri dan takjub. Terutama bikin kita penasaran. Karena film ini sengaja nyimpen-nyimpen, maksudku, karakter paling menarik – yang paling bikin kita pengen tahu apa yang bisa mereka lakukan – malah dikasih screen time yang paling sedikit. Si Kembar dan Claire, contohnya. They were adorable. Claire punya mulut di belakang lehernya, she’s really funny. Si Kembar bertopeng goni actually dikasih liat kekuatan mereka apa di akhir-akhir. But just like that, kita tetap enggak bisa nyimpulin what they were all about.
Tentu saja, tokoh-tokoh cewek yang bakal jadi love interest lah yang dieksplor lebih banyak. Mereka cool sih, Ella Purnell yang jadi Emma manis banget, hanya saja yaah kita sudah sering melihat kekuatan average seperti bisa membakar benda ataupun niupin udara dengan dahsyat. Emosional hook soal hidup abadi sementara pasangannya bertambah tua juga sudah pernah kita alami, dengan lebih compelling pula, dalam film The Age of Adaline (2015).
Aku juga suka si Bronwyn, little girl paling kuat di muka bumi, dia bisa ngangkat everything dengan gampang. Aku ngakak ngeliat adegan panen wortel antara Bronwyn dengan anak cewek yang bisa mengendalikan tumbuhan.
Least, ada Enoch. Orang ini agak nyebelin sih ya, tapi kekuatan yang dia punya adalah yang paling berguna (dan mengerikan). In the end of the day, dia pun hanya tak lebih dari sekadar peramai karena kurang tergali.

Enoch, di kamarnya lagi bikin bayi dibantu oleh Olive

Enoch, di kamarnya lagi bikin bayi dibantu oleh Olive

 

Aku enggak pernah mau repot-repot nonton trailer kecuali yang terpaksa harus aku tonton beberapa waktu sebelum film bioskop dimulai, jadi aku sama sekali enggak tahu kalo Samuel L. Jackson turut bermain dalam film ini. Dia jadi Barron, penjahat utama yang rambutnya kayak Don King dan punya mata kayak Undertaker. Dia membawakan karakternya dengan sangat fun, dalam cara yang hanya seorang Samuel L. Jackson yang bisa. But I don’t really get his character, backstorynya – yang menyangkut makan bola mata – terdengar cukup random dan enggak bekerja dengan terlalu baik.

Wajar saja buat nerd kayak aku tertarik sama film ini. Sekolah untuk anak-anak dengan bakat khusus? Kalian yakin nama kepala sekolahnya bukan Charles Xavier? Hahaha..

Cerita film ini udah kayak gabungan antara X-Men dengan Harry Potter, jika Harry Potter nya hanya walks around doing nothing kecuali bertanya. Jika Harry Potter enggak pernah main Quidditch. Jika ia sekadar nanya-nanya sama Ron dan teman-teman yang lain. Jika Harry Potter enggak belajar sihir dan enggak pernah ngayunkan tongkat sihir.

Karena hanya ‘bertanya’ itulah yang dilakukan oleh Jake pada sebagian besar waktu. Oke, bertanya dan berkeliling pasang tampang wow! Bukan salah Asa Butterfield, dia memainkan tokoh Jake dengan pretty good, kita bisa merasakan rasa takjubnya, kita bisa merasakan his faith semakin membesar. Kita bisa merasakan urgensi untuk mengambil tindakan tumbuh dalam dirinya. Masalahnya adalah, si Jake itu sendiri – sebagai seorang tokoh utama – dia sangat membosankan. He doesn’t do anything, tidak ngapa-ngapain sampai ia akhirnya mengambil crossbow dan itu filmnya udah tinggal 30 menitan lagi. Sepanjang film kita melihat dia bertanya dan ada orang yang hadir untuk jelasin ini-itu kepadanya. Bahkan sekuen Jake learning towards resolusi terasa convenient sekali karena dia cuma diberikan sesuatu oleh orang lain.

 saat layang-layang mainin orang

saat layang-layang mainin orang..

 

Dimulai dengan langkah yang tepat, sangat intriguing melihat Jake menemukan dunia ajaib yang selama ini hanya ia dengar. Menyenangkan. Namun, entah apa dorongannya, Jake mutusin untuk kembali ke masa kini, untuk kembali ke hotel The Priest Hole, untuk balik ke ayahnya yang normal dan boring  yang menghabiskan siang dengan tidur. Oke, ini kayak Harry udah di Hogwarts terus minta pulang karena khawatir sama ekor babi Dudley. I mean, entire film terasa runtuh oleh struktur cerita kayak begini. Kita sudah sampai di bagian terkeren film, kenapa malah diajak kembali ke bagian di mana kita mulai mencari kekerenan tersebut? Untuk sebuah film, ini adalah struktur yang sangat ngacak yang bikin film terasa berantakan. Mungkin di novelnya memang ceritanya seperti itu, namun hal ini nunjukin bahwa film adaptasi tidak harus ngikutin struktur yang sama dengan novelnya. Nunjukin bahwa saat diadaptasi, it is perfectly okay – malah mungkin diharuskan – agar film tidak persis dengan bukunya. Mungkin mereka bisa ngambil langkah menjadikan Miss Peregrine atau salah satu anak-anak itu sebagai tokoh utama dan mengubah banyak elemen, atau apapun what it takes sehingga strukturnya bisa lebih sesuai sebagai sebuah film.

 
Kadang memang novel tidak bisa diterjemahkan begitu saja dengan baik sebagai film. Secara produksi, film ini sangat memikat. Elemen fantasi dan visual adalah daya tarik utamanya. Juga penuh oleh karakter yang, tentu saja, unik dengan diimbangi oleh performances yang sama kerennya. Mengecewakan betapa film ini bisa menjadi jauh lebih baik jika bukan karena ceritanya yang enggak beraturan. Dan tokoh utama yang sangat, amat, membosankan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for MISS PEREGRINE’S HOME FOR PECULIAR CHILDREN.

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements