Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“I’ll never fall in line, become another victim of you conformity.”

 

wonderfullife-poster

 

Tidak pernah terpikir oleh Amalia kalo juara cilik semata wayangnya gak bakal bisa mendapatkan gelar juara kelas. Bagaimana bisa begitu? Padahal dari kecil, dia sendiri selalu dapat nilai sepuluh. Ayah menempa Amalia dan abangnya untuk menjadi rangking satu. Bagaimana bisa? Amalia merasa dia selalu sukses mengontrol semuanya. Dia CEO perusahaan, she know how to run things. Dia mau segalanya sempurna menurut caranya sendiri.

Jadi saat dia mendengar diagnosa terhadap Aqil, anaknya yang masih delapan tahun, Lia memandang anak tersebut sebagai problem yang harus diluruskan. Atiqah Hasiholan membawa intensitas ke dalam perannya sebagai single mother yang mencoba deal with rising kid yang menyandang disleksia. Kita bisa ngerasain dia secara konstan terus on-the-edge. Lia akan menantang semua orang yang enggak sesuai dengan conformitynya. Dia memandang kondisi Aqil sebagai suatu kesalahan. Lia malu mengakui kepada teman kantor bahwa sebenarnya anaknyalah yang membutuhkan pertolongan. Dan tentu saja she makes a big deal saat Ayahnya – meski dengan menyalahkan Lia — kerap menawarkan bantuan supaya Aqil bisa berobat. Knowing fully (while at heart still refusing) disleksia enggak bisa disembuhkan, Lia membawa Aqil ke Jawa. Mencari pengobatan alternatif dari orang-orang pinter. Perjalanan mereka memang berhasil menyembuhkan sesuatu, namun yang sakit ternyata bukanlah si Aqil.

Wonderful Life adalah film road trip yang lebih ditujukan buat orangtua ketimbang buat anak-anak. Terutama buat orangtua yang absent-minded; orangtua yang mulai melupakan kebutuhan anak mereka. Kids need parents to be there, with them, as person yang membimbing mereka belajar. Bukan sebagai orang yang memaksakan perspektif harus gini-musti gitu. Harus juara kelas. Kudu dapat beasiswa. Orangtua enggak bisa memaksakan anaknya ke dalam kotak conformity mereka, orangtua harusnya membantu anak membangun kotaknya sendiri.

 

This is actually diangkat dari kisah nyata yang dinovelkan oleh Amalia Prabowo herself. Mungkin kalian pernah mendengar tentang Aqil Prabowo, pelukis cilik yang pernah menggelar pameran tunggal di hutan pinus di gunung di Bogor. Imagine betapa inspiratifnya hal tersebut!

Disleksia adalah kondisi di mana seseorang tidak dapat membaca dengan baik, susah untuk memahami tulisan, menulis pun kadang terbalik kayak di kaca, dan ada juga yang mengalami kesulitan berbicara. Aku dulu sempat disangka disleksia karena waktu kecil aku kesulitan parah bedain mana kiri mana kanan. Lalu kemudian orangtuaku found out aku juga gak bisa ngikat tali sepatu, sehingga mereka malah berbalik kecewa dan menyimpulkan ternyata aku cuma anak yang kelewat bego -,-
Disorder disleksia berhubungan dengan syaraf yang membuat penyandangnya susah untuk mengstruktur pikiran mereka ke dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Ini toh bukan penyakit, seorang gak bisa ‘sembuh’ dari disleksia karena kondisi ini akan terus menetap. Meski begitu, pengidap disleksia bukan berarti mengalami kemunduran mental. Kecerdasan mereka bisa berkembang dengan normal. Dan, entah karena terbiasa berpikir out of the box ataupun just karena otak yang ter-wired berbeda, pengidap disleksia seringkali adalah orang-orang yang kreatif.

Seperti Aqil.

Di film ini kita melihat talenta menggambar Aqil sungguh luar biasa. Film ini did a great job menafsirkan betapa kaya imajinasi yang dimiliki oleh Aqil melalui tingkah polahnya yang selalu menemukan sesuatu untuk diapresiasi dalam cara yang hanya dirinya sendiri yang bisa. Aqil ngobrol sama belalang, dan siapa yang tahu apa yang ada di kepalanya saat dia bermain riang di atas perahu dayung. Awalnya dia terasa distant, kayak, dia ada di dunianya sendiri. Kemudian kita lihat Aqil sebenarnya have some acknowledgement dan dia juga menyimpan beef terhadap ibunya. Dan dia keluarin itu di akhir. It’s nice film ini nginclude sisi tersebut. Membuat Aqil such a wonderful character. These little things he does, those tiny gestures, main-main dengan hal sepele kayak saat dia menyarungkan baju ke kepalanya, bikin suara-suara dari mulutnya, membuat Aqil hidup sebagai karakter. Yang bikin aku jadi suka, karena film ini membuat kita untuk terus memperhatikan. Tidak semua hal harus dikatakan, atensi kita diperlukan untuk menangkap apa yang ingin disampaikan oleh Aqil. Sinyo memainkan tokoh ini dengan menyenangkan tanpa terperangkap dalam kategori annoying.

Yang annoying di film ini justru adalah Lia yang hobi banget bersihin tangan

Yang annoying di film ini justru adalah Lia yang hobinya bersihin tangan melulu

 

Bagus bagi sebuah film untuk punya cerita berlapis. Wonderful Life TIDAK SEKADAR MEMBAHAS USAHA PENYEMBUHAN DISLEKSIA. Punya gambaran bagus tentang gimana sih the-said disorder itu terjadi, selain itu juga banyak lapisan elemen cerita yang lain. Ada banyak sisi emosi yang terus menggempur Lia. Hanya saja, flashback bukanlah pilihan terbaik sebagai cara untuk menceritakan lapisan-lapisan tersebut. Dalam film ini, aku tidak melihat adanya kepentingan untuk bercerita dengan membawa kita bolak-balik antara keadaan di jalan dengan masa-masa di kantor sebelum mereka berangkat. Mestinya bisa dihindarin, struktur yang lebih lurus akan membuat film ini makin enjoyable.

Tidak hingga setengah jam terakhir, kita baru bisa menyimpulkan ke arah mana film ini dibawa. Sepanjang film kita melihat drama keluarga, ada drama kerja, ada komedi juga, sedikit nuansa menegangkan, it was just keep going. The tone was really on and off. Sampai ke titik kita bisa menyimpulkan Wonderful Life adalah jenis film yang sangat membutuhkan musik untuk menyampaikan perasaan karena cerita gagal dalam delivering it on it’s own.

Kendatipun gitu, aku suka gimana film ini menuliskan Lia yang selama ini ninggalin Aqil mengalami realization soal how wrong her conformity was saat giliran Aqil lah yang meninggalkan dirinya. Dua puluh menit terakhir barulah cerita berhenti di perasaan yang ceria dan hangat. Implikasi yang ada adalah film ini berusaha membuat para penonton dewasa untuk melihat sesuai dengan apa yang dirasakan oleh anak kecil; bosan dan sebel kalo orangtua kerja, senang bermain-bermain di luar, dan completely blank soal apa yang terjadi di dalam keluarga sendiri.

Jika kamu berhadapan pada pilihan antara bagus dalam pekerjaan dengan bagus dalam parenting, maka film ini bilang kamu tidak bisa menjadi bagus dalam keduanya.

 

Kalian tahu gimana anehnya bagi Amalia, seorang terpelajar, untuk menyerahkan kepercayaannya kepada dukun? Ini mungkin adalah konflik yang lumayan ngintrik. But, yea, well, film ini toh memang punya ARAHAN CERITA YANG ANEH. I mean, lihat doodle lucu di poster dan di opening scene, seolah mengisyaratkan ini adalah film yang ditujukan untuk anak kecil. Tapi jalurnya terasa lebih pas untuk ditempuh oleh ibu dan bapak anak kecil. Ada banyak saat di mana kita akan dibawa ke lingkungan kantor. Karena film ini juga membahas tentang masalah kantor Lia. There’s this guy from her work, yang terus meminta Lia untuk mempersiapkan meeting. Keadaan di kantor lagi kacau, sedangkan masalah Lia dan Aqil di jalanan membuat Lia can’t really do the job right now dan diapun enggak bisa gitu aja nyerahtugasin ke orang karena Lia masih ngotot untuk bisa mengerjakannya sendiri.

Hubungan antara Amalia dengan ayahnya direfleksikan dengan kuat oleh Lia kepada hubungan dirinya terhadap Aqil. This is the main drive force yang mengarahkan Lia menjadi seperti apa dia sekarang. Menjelang akhir kita akan melihat adegan yang really deep-in-the-feels. Konflik antarmereka sudah ditanam sejak awal cerita, kita bisa lihat ada tensi di antara Lia dan ayahnya, akan tetapi bagian drama yang ini nyaris tak tersentuh sebagai usaha film untuk membangun antisipasi penonton. Padahal inilah yang ingin kita lihat. Alasan atas sikap Amalia. Konfrontasinya. Ada apa sebenarnya di balik hubungan Lia, ayah, dan abangnya. This is such a big emosional hook hanya saja sangat under-developed, kalah sorotan dibandingkan dengan drama dengan karyawan kantor.

Drama kantoran kayak gitu dibutuhkan untuk menambah layer pada plot Lia, tapi porsi dan caranya diceritakan actually membuat perhatian kita terlempar keluar dari drama keluarga yang lebih compelling.

I mean, going into this movie tentu saja kita berharap untuk melihat hubungan emosional yang terjalin antara ibu dan anak, dari yang tadinya renggang – ibu yang hanya peduli agar anaknya enggak terbelakang – menjadi suatu ikatan keluarga yang sungguh heartwarming. Adegan di akhir saat untuk pertama kalinya Amalia apresiatif terhadap gambar yang dibuat Aqil was just so beautiful. Yang kita ingin lihat adalah interaksi antara anggota keluarga; kita ingin lihat lebih banyak konflik Aqil dengan Amalia, dan for some reason kita enggak dikasih liat gimana hubungan antara Aqil dengan kakeknya. Padahal akan sangat menarik melihat konflik apa yang bisa tercipta di antara mereka berdua. Instead, we got sisi story yang membingungkan, bosenin, dengan banyak orang teriak dan ngamuk. IT WAS VERY CONVOLUTED.

"Don't count on me, cause I'm not listening"

“Don’t count on me, cause I’m not listening”

 

 

 

Beautiful real-life story dengan beberapa performances yang excellent dan benar-benar compelling. Drama keluarga yang mengajarkan orangtua tentang gimana seharusnya bersikap kepada anak. Untuk saling menerima. Membuka mata kita untuk melihat dengan jelas apa yang harus disukuri. Karena sebenarnya yang punya penyakit komunikasi di film ini adalah the rest of Aqil’s family members. Film ini pun ada yang perlu disembuhkan. It could have been better tho; arahan yang aneh, flashback yang enggak bener-bener diperlukan, serta tone yang on dan off membuat film ini susah untuk dinikmati. Padahal ceritanya simpel dan dekat. Mungkin seperti menonton film inilah rasanya bagi para penyandang disleksia ketika membaca buku.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for WONDERFUL LIFE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements