Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“They don’t want none.”

 

 

The moment begitu kita ‘log in’ ke film ini, kita akan instantly ngerasa dekat. Right-in-the-moment banget. Karena seperti dalam film ini jugalah yang terjadi sekarang di luar sana; remaja pada berlomba untuk jadi terkenal melalui social media. Nerve, dengan statusnya sebagai film thriller, ingin mewanti-wanti remaja gimana mencari ketenaran di internet seringkali berubah menjadi hal yang berbahaya.

There’s this underground online daring game yang disebut Nerve, di mana user bisa memilih untuk jadi Player yang ngelakuin tantangan dan dapet duit yang terus bertambah semakin menggiurkan sesuai level tantangan dan jumlah view. Atau memilih untuk jadi Watcher. Venus or Vee, biasanya cuma Watcher, ia nonton demi mendukung bff nya yang udah populer. Kemudian of course terjadi konflik, mereka berantem, dan Vee nekat buat ikutan jadi Player. Dia ingin melarikan diri dari bayang-bayang popularitas Sidney and cast her own shadow. Awalnya tantangan yang diterima oleh Vee standar-standar aja. Hingga dia bertemu dengan cowok bernama Ian yang juga ikutan bermain. Para Watchers meminta Vee dan Ian untuk team up, dan tantangan buat mereka mulai menyerempet ranah kriminal dan semakin berbahaya sampai ke titik Vee tidak bisa mundur lagi karena yang dipertaruhkan adalah nyawa.

Banyak orang bakal suka banget sama Nerve. I know I do. Meski sebuah thriller, namun filmnya dikemas dengan entertaining banget. Cerita gelapnya disembunyiin rapet just by the bright look of the movie alone. Warna-warna lampu yang terang akan menghiasi film yang sebagian besar berlangsung di kota pada malam hari. NUANSA KONTEMPORER semakin kuat berkat musik-musik tekno yang kerap bernyanyi di belakang. It is also a very fast paced movie. Nerve diedit dengan ketat sehingga majunya cerita kerasa cepet tanpa ngasih ruang buat tone meleset ke mana-mana. Lapisan ceritanya koheren dan on-point.

Dalam hidup, kita selalu dihadapkan kepada pilihan untuk ngelakuin sesuatu atau just sit that one out. Nerve menunjukkan di era digital sekarang ini, para remaja – they don’t want none. Para Watcher di film ini bertindak hanya karena mereka dilindungi oleh kerahasiaan. Para Player rela melakuin sesuatu karena duit dan fame.Tetapi when push come to shove, both parties are gonna bail. They really don’t want anything to do with it. Yea ini tentang all-powerful internet. Dan bagaimana alat luar biasa tersebut digunakan tak-bertanggung jawab sebagai pemuas ambisi semu.

 

KHARISMA DUA PEMAINLAH yang sebenarnya yang bikin film ini amat menyenangkan untuk diikuti. Kerasa aneh sih sedikit ketika Emma Roberts yang jadi Vee, memainkan peran sebagai cewek baek-baek yang pemalu dan kind of pasif. Mungkin karena kita terbiasa ngeliat dia jadi psycho girl kali ya? Hahaha, I was constantly expecting bakal ngeliat Chanel Oberlin persona muncul dalam film ini. Aku juga sempat teringat sama Scream 4, di mana Emma berperan sebagai Jill, karakter yang juga strive for terkenal mendadak lewat internet. But no, transisi karakter Vee dimainkan meyakinkan tanpa jadi orang lain oleh Emma. Karakternya sendiri memang standar stereotipe anak high school. Hubungan pertemanan Vee toh digambarkan dengan rumit, dan film ini actually takes time to explore that. Emma tahu kapan harus memantik api dari tokohnya, dia juga calculated dengan tepat seberapa intens ‘api’ itu harus dikeluarkan.
Bicara soal api, di sinilah Dave Franco menyambung soal kharisma yang kusebut di atas. Kemisteriusan yang menyelimuti perfect nice guy yang dikeluarkan oleh Dave Franco klop banget dengan tokoh Emma. Dan kamera, whether saat dituntut oleh skrip maupun enggak, memastikan untuk terus menyorot chemistry dan pesona genuine dari mereka berdua. At the later time in the movie, we can’t hold ourselves to cheer for them, mostly because of their charisma.

“Some of them want to abuse you, some of them want to be abused”

“Some of them want to abuse you, some of them want to be abused”

 

Nerve punya nerve untuk menempatkan desire tenar yang dimiliki oleh remaja layaknya domba, dengan anonymity of internet sebagai serigala kelaparan yang mengincarnya. Serigala yang terus berkembang biak lantaran sumber makanan yang bermunculan tiada hentinya. This is very frightening look on dinamika dunia remaja masa kini. Bahwa kita tidak bisa menghentikan internet jika kita sendiri yang keep it fueled. Film ini tidak membahas reperkusi, but indeed have a solution. Matikan telepon dan putuskan hubungan internetmu.

 

 

Keengganan film untuk ngasih actual konsekuensi membuatnya jadi hanya bermain di batas antara really grounded dengan di awang-awang. Nerve kerasa deket namun ia sendiri ogah untuk napak dengan real life; pesan filmnya, yang dalem dan kelam, hanya terkesan sebagai afterthought oleh betapa SUPERFICIALNYA FILM INI SECARA KESELURUHAN. Tidak ada resolusi, tidak ada finality yang benar-benar kita rasakan dari permainan Nerve itu sendiri. Pihak yang terlibat tidak mendapat konsekuensi apa-apa, padahal mereka committing banyak kejahatan. Film ini berakhir dengan abrupt, meninggalkan sejumlah arc dalam keadaan tergantung begitu saja, dan kita sebagai penonton diharapkan puas melihat kedua tokoh kita ujungnya jadian.

Ada banyak elemen dalam film ini yang jika kita pikirkan – sedikit aja, gak usah banyak-banyak – maka akan terasa enggak masuk akal. Kita akan menyadari banyak ketidakkonsistensian poin yang membuat film menjadi berlubang. Kayak Vee yang encouraging Ian untuk menerima tantangan berkendara 60 km/jam dengan mata tertutup, padahal konteks karakter Vee adalah ia seorang adik yang masih troubled oleh kematian abangnya yang masih muda. It’s just don’t make sense buat karakter Vee mengambil tindakan yang bisa mengakibatkan dia kehilangan orang yang ia cinta sekali lagi.

Juga disinggung soal kejahatan di internet tidak akan bisa dideteksi karena faktor anonimitas. Orang bisa menyembunyikan identitasnya di internet, wrong-doers bisa stay hidden di balik betapa anomimnya internet. Makanya game Nerve masih bisa terus berlanjut meski tantangannya kerap menjadi lebih berbahaya daripada stunt konyol di Jackass. People are killed on this game. Dan yang melapor diancam bakal jadi Prisoner, yang dibully secara ekstrim oleh user lainnya. Namun jika kita memikirkan sekali lagi, film ini meminta kita untuk SUSPEND OUR DISBELIEF. Because there’s no way orang-orang gak bakal ngelaporin, ataupun sungguh enggak mungkin permainan illegal ini tidak tercium oleh yang berwajib. I mean, ada ribuan orang yang menonton, yang mendokumentasikan saat-saat permainan berlangsung. Kalo authority bisa menutup situs-situs tempat download film dan musik, kenapa online game yang sudah menjatuhkan korban, dengan ribuan user menonton dan memfilmkannya on daily basis bisa sama sekali enggak tercium oleh mereka? Dan di ending sejumlah user memadatin stadion, menonton final challenge dengan beringas. Sebanyak itu orang out in the open, it’s hard to believe maksud ‘anonim’ yang diusung oleh film ini.

Dan soal final challenge tersebut, saat mau tidur pun aku terus kepikiran karena ada yang mengganjal dalam kepalaku menyangkut sekuens adegan terakhir ini. Ini semacam spoiler gede, jadi ya baca resiko tanggung sendiri; Yang mau aku tanyakan adalah, tahu dari mana Vee tantangan terakhir mereka melibatkan pistol? Melibatkan salah satu dari peserta harus membunuh yang lain? How could she orchestrated all of these, sejauh apa? Apakah dia beneran mempertaruhkan semua dengan mengharapkan society sudah jadi makhluk haus darah?
Aku bener-bener butuh closure, butuh resolusi banget untuk adegan terakhir ini. I want some finality soal sebenarnya gimana sih pandangan Nerve terhadap humanity yang mereka ceritakan.

untung tantangannya bukan the famous “apakah warna dress itu”?

untung tantangannya bukan the famous “apakah warna dress itu?”

 

 

Film-film modern punya kecenderungan untuk masukin soundtrack yang keren-keren. Aku udah nyinggung dikit soal musik film ini di atas. Actually, seperti yang juga sering kurasakan kalo sedang nonton film Indonesia, musik film ini terdengar terlalu agresif. Nyaris seolah musik itu adalah karakter tersendiri. Ada banyak adegan yang dieja oleh musik; kalo musiknya sedih, kita harus sedih. Kalo musiknya ngebeat berarti adegannya sedang seru dan kita juga harus ngerasa upbeat. Film ini bercerita dengan bantuan soundtracknya, misalnya adegan Vee bersepeda di awal-awal. Film memasukkan lagu lagu Soap dari Melanie Martinez dengan lirik yang really tells us apa yang terjadi di layar, alih-alih membiarkan karakter atau dialog yang menceritakannya kepada kita. Mungkin bagi sebagian besar orang hal gini gak begitu masalah, namun dari perspektif filmmaking it’s just too much information but also setengah-setengah. Maksudnya, kalo mau bercerita pake lagu kenapa enggak bikin jadi musikal aja sekalian?

 

 

 

 

Usaha untuk membuat karakter-karakter yang stereotipikal lebih flesh out dengan backstory yang ditanam di sana sini membuat film ini bekerja efektif dalam membangun dunia remajanya. Interaksi antara mereka juga terasa beneran, dalam arti kata enggak lebay. Hubungan Vee dan Ian yang electrical, ditambah dengan faktor thriller yang bergulir dengan cepat membuat film ini seru dan menyenangkan. It feels very contemporer. It is very relevant dengan keadaan today. Dengan mudahnya film ini akan bisa disukai oleh banyak orang, meskipun sebenarnya film ini tidak benar-benar masuk akal dan penuh dengan inkonsistensi. Absennya konsekuensi dan resolusi malah membuat pesan film nyaris ternegasi.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for NERVE.

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements