Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Of course it is happening inside your head, but why on earth should that mean it is not real?”

 

amonstercalls-poster

 

Ngasih kabar buruk ke anak kecil, grown ups biasanya bakal berbohong. Ngasih tau yang baik-baik, biar mereka enggak kecewa. Saat Ibu sakit, misalnya. Orang dewasa akan simply bilang si ibu butuh istirahat sehingga harus tidur di kamar spesial di rumah sakit. Akan tetapi, seperti yang dinarasikan di awal oleh suara ngebass si monster pohon, Connor sudah bukan exactly anak kecil meski belum gede-gede banget untuk dibilang sudah dewasa. Connor tahu persis apa yang sedang terjadi kepada ibunya. Connor sadar akan betapa mematikan kanker yang ibunya derita. Mimpi buruk Connor bukan sekadar bunga tidur, itu adalah tanda pergolakan hati Connor yang enggak mau melepaskan kepergian ibu yang cintai.

Setiap pukul 12:07, Connor dikunjungi oleh monster pohon yang datang hanya untuk mendongeng. Si monster udah janji dia akan datang tiga kali, yang berarti Connor akan mendengarkan tiga kisah darinya. Pada kali keempat si monster datang, giliran Connor lah yang harus bercerita. Dan si monster dengan tegas mengatakan bahwa cerita Connor nanti haruslah sebuah ‘kebenaran’.

wait, really? I am… Groot?

wait, really? I am… Groot?

 

A Monster Calls adalah film ketiga di tahun 2016 ini yang menggambarkan HUBUNGAN ANTARA ANAK MUDA DENGAN SOSOK RAKSASA DARI DUNIA FANTASI. Kita udah liat Sophie yang kesepian mendapatkan teman seorang raksasa baik hati. Kita udah ngikutin petualangan Pete dengan naga penyayang berbulu yang ia adopsi dari hutan. Monster pohon yang jadi ‘teman’ Connor di film fantasi kali ini tidak semata berasal dari khayalan kekanakan. Kita lihat betapa agresifnya monster tersebut. Mencabut dirinya sendiri dari pekarangan kuburan di tengah bukit dan langsung berlari menuju jendela kamar Connor. Matanya merah menyala, suaranya menggelegar, menabrak rubuh apa saja yang ia terjang.

You know, kata orang anak kecil punya imajinasi yang liar dan semakin dewasa khayalan tersebut kalah oleh masalah kehidupan nyata. Well, sebenarnya apa yang kita sebut fantasi dan imajinasi kanak-kanak tersebut tetap ada di dalam diri hingga kita gede, hanya saja mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan. Yang lebih sering dianggap sebagai mimpi buruk. Karena mereka adalah personifikasi dari apa yang kita rasakan, apa yang kita takutkan akan semakin mendominasi setelah kita dewasa. They are all very real. Connor, berada di usia beranjak dewasa, menciptakan monster pohon raksasa sebagai jeritan minta pertolongan ketika terlalu dini hidup menjadi berat buatnya.

 

Relationship antara Connor dengan si monster bekerja dengan sangat baik. Sebaik elemen fantasi yang sukses digambarkan oleh film ini. Penampilan Lewis MacDougal; gelisahnya, takjubnya, khawatirnya, dan terutama marahnya, berkontribusi raksasa sebagai emotional core film ini. Dan takutnya, tentu saja, takut adalah main drive force dalam hati Connor, tetapi tidak pernah sekalipun Connor tampak takut kepada Monster pohon. Interaksi antara mereka berdua terasa familiar, kayak kalo kita lagi ngobrol sama teman paling dekat; sama diri kita sendiri. Secara performance, Liam Neeson did a very majestic job menjadikan karakter CGI sebagai monster tak-terlupakan. I guess kita semua bakal suka denger suaranya. Adegan konfrontasi Connor dan Monster menjelang kisah keempat mereka adalah yang paling bikin kita terperangah oleh segitu banyak emosi.

Animasi level super-banget berhasil disuguhkan oleh layar. It was very believable padahal sangat imajinatif. Apalagi animasi gambar-gambar bergerak di sekuens dongeng-dongeng dari si Monster. Ini adalah film yang cukup lambat dan semakin berat berkat tema cerita yang SO HEARTWRENCHING, namun saat tiba pada bagian dongeng kita akan ngerasa terangkat dan sedikit lega. Sangat cantik untuk diihat dan dirasakan. Aku paling suka dongeng yang pertama, di mana si monster menceritakan kisah yang selayang kayak dongeng klasik biasa tapi ternyata ada twist yang diberikan kepada tokoh si Pangeran Tampan. Dongeng yang ketiga sebenarnya paling menarik; Tentang orang-tak-kasat mata yang bosan selalu tak kelihatan, sayangnya kita enggak dapat style visualisasi yang serupa. Mungkin karena durasi atau mungkin untuk nekanin urgensi konteks film saat cerita ini diangkat. In a way, gaya bercerita film ini kayak campuran dari gaya klasik Spielberg dengan dark fairytale ala Guillermo del Toro.

 

Jika elemen fantasi film ini sungguh cantik, penuh emosi, dan menghanyutkan, maka elemen drama di kehidupan nyata Connor sesungguhnya ditulis dengan parallel, juga penuh oleh emosi, namun terasa meleset dari sasaran. Sama kayak yang kurasakan saat menonton Wonderful Life (2016), film Indonesia tentang ibu yang dealing with keadaan anaknya yang menyandang disleksia. Film A Monster Calls – diadaptasi dari buku Patrick Nesssupposedly tentang anak yang berjuang nerima kenyataan, dealing with kepastian akan kehilangan ibunya. Dalam film ini kita melihat sang Ibu (Felicity Jones benar-benar ‘kurang gerak’ di sini) melawan kanker mematikan yang ia derita, sementara Connor ‘bertarung’ melawan nenek yang tukang-larang, melawan ayahnya yang pindah ga ngajak-ngajak, dan melawan bully di sekolah yang at some point ngerasa pointless terus-terusan menghajarnya.

Intensi dari penggarapan elemen-elemen drama tersebut jelas, supaya film bisa mengestablish se’hancur’ apa hidup Connor menurut pandangan dirinya sendiri, so kita bisa peduli. Akan tetapi film seperti tidak bisa menetapkan mana yang lebih penting. Beberapa kali film seperti SULIT NETAPIN FOKUS. Seolah bingung mau seperti apa. Pergeseran tone nya terasa kasar dan rather episodic, eksekusi drama yang dihasilkan pun tidak jauh dalam ruang lingkup klise.
Nenek yang dibuat terlalu strict sehingga malah jadi kayak tokoh jahat di kartun anak-anak. Sungguh disayangkan padahal antara Connor dan Nenek, mereka sharing this one thing, yang membawa kita ke salah satu adegan emosional, hanya saja jatohnya flat.
Ayah yang sebenarnya enggak penting-penting amat. Serius deh, adegan dengan bapaknya enggak benar-benar menambah apapun buat karakter Connor.
Dan temen sekolahnya yang tukang bully seperti just throw in there karena film anak sekolahan enggak lengkap tanpa gencet-gencetan. Malah ditulis tanpa resolusi, sehingga kita bertanya-tanya kenapa si bully ini dapet porsi plot yang lebih gede daripada antara Connor dengan ibunya.

Saat film menghabiskan waktu di dunia nyata, kita hanya menginginkan dua hal; bahas mengenai hubungan dengan ibunya, atau ngutak-ngatik jam ke 12:07 supaya si monster cepet datang. Aku beneran kecewa pas ada satu kali adegan si monster datang cuma sesaat tanpa bercerita. I was really looking forward to the stories karena ketika membahas yang lain, film ini datar dan cenderung membosankan.

Mana yang sakit, mana yang sehat

Mana yang sakit, mana yang sehat?

 

Setiap nulis review, aku bakal nulis separagraf yang membahas apa sih sebenarnya yang diceritakan oleh suatu film. Apa maknanya bagi kita, apa yang berusaha film ini katakan. Buat film A Monster Calls ini, aku enggak benar-benar punya hal baru yang bisa kukatakan kepada kalian. Malah aku lumayan blank mau nulis apa lagi karena film ini sudah sangat blak-blakan menceritakan maksud terdalem ceritanya. TIDAK ADA YANG TERSIRAT DALAM FILM INI, SEMUANYA TERSURAT. Meaning dari keempat dongeng dalam film, relevansi masing-masing kisah terhadap apa yang dialami Connor, semuanya sudah dibeberkan semua oleh si Monster yang kelewat baik hati. Seusai nyeritain satu kisah, si Monster akan mengulasnya kepada Connor. Dan di lain kesempatan, ulasan tersebut akan diulang lagi dengan lebih jelas. Akibatnya kita kehilangan emosi yang hanya bisa didapatkan dari hasil menginterpretasi sendiri.

Berhubung tadi udah dibilang mirip secara style, mari kita bandingkan sedikit film ini dengan Pan’s Labyrinth (2006) buatan Guillermo del Toro. Film Pan’s memposisikan kita, penonton, bersisian dengan tokoh utama, kita ngikutin petualangannya, kita ikut bingung dan amaze bareng Ophelia (Ivana Baquero di film ini mirip Dian Sastro versi cilik), makanya ‘journey’ film itu terasa personal. A Monster Calls tidak punya perasaan seperti ini. Karena penonton, kita, diposisikan di luar dunia mereka. Kita, penonton, hanya sebagai, ya, penonton. Emosi yang kita rasakan, meski memang berlimpah, tidak benar kita rasakan sendiri karena tak diajak untuk alami bersama. We discovered it by being told.

Pada intinya ini adalah soal gimana kita menangani sakitnya kehilangan, apalagi kehilangan orang yang sangat kita cintai. Apalagi jika kita tahu rasa sakit itu pasti akan datang. Pelajarannya adalah kita harus belajar untuk merelakan diri, bahwa kita butuh untuk melepaskan kepergian seseorang tidak peduli betapa besar rasa cinta itu. Tidak peduli betapa besar lubang dalam hidup kita yang mereka tinggalkan. Kita harus belajar bahwa merelakan bukan berarti harus melupakan.

 

 

 
Mengangkat tema tentang kanker, film ini sesungguhnya mempersiapkan anak kecil untuk menghadapi kehilangan yang bukan tidak mungkin akan mereka alami sendiri. Karena terkadang orang yang sehat lebih perlu untuk mendapatkan kesembuhan. Pesan yang diceritakan lewat pemandangan dark fantasy dengan monster raksasa dan dongeng-dongeng bergambar penuh imajinasi. Visualnya cantik. Sound and aktingnya juga impresif. Film ini punya karakter dengan momen-momen yang dirancang penuh emosi. Namun emosi-emosi tersebut tidak pernah bisa terdeliver sepenuhnya. Akibat dari cerita yang bergilir ke sana kemari. Fokusnya kadang samar; terlalu depresi untuk anak kecil dan terlalu enggak challenging buat orang dewasa. Menghabiskan waktu terlalu lama di elemen cerita yang enggak begitu relevan. Dan terutama oleh keputusan film ini, sesuai dengan relosusi ceritanya, untuk tidak lagi menutup-nutupi; Film ini tidak mempunyai pesona yang kita kenal sebagai sublety dalam mendongeng.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for A MONSTER CALLS.

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements