Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Our life dreams the utopia. our death achieves the ideal.”

 

captainfantastic-poster

 

Dalam keluarga Cash, tanda sudah jadi pria dewasa itu bukan mengundang pacar ke rumah untuk dikenalin ke orangtua dan keluarga. Bodevan harus membuktikan dirinya sanggup menyembelih seekor rusa sendirian, dengan disaksikan oleh the rest of the family. Kalo itu belum cukup aneh buatmu, tunggu sampai kalian melihat ayahnya, Ben, mengusapkan darah rusa itu ke dahi Bo dan kemudian Bo memakan segumpal daging mentah-mentah. It was some kind of a family ritual bagi mereka. I mean, keluarga macam apa yang sengaja tinggal di hutan, ngelakuin hal-hal liar seolah mereka adalah keluarga tarzan?

Siang hari Ben melatih fisik keenam anaknya; combat training, panjat tebing-batu, latihan lari di hutan yang nanjak. Malamnya, mereka sekeluarga duduk membaca buku mengelilingi api unggun. Semua kegiatan diawasi dengan ketat oleh Ben, ayah sekaligus kapten dari ‘kawanan’ ini. Dia akan menanyakan analisis dari apa yang anak-anaknya baca. Dengan ajarannya yang radically honest Ben ingin anak-anaknya jadi philosopher king;  open-minded, mikirin segala sesuatu dengan kritis, mengatakan pendapat mereka dengan lugas, while punya fisik yang kuat dan enggak manja. And then of course, art. Setelah belajar mereka semua akan bermain musik bareng. Anak-anak Ben, melolong lolong, menari, tertawa-tawa, mereka terlihat so into their ‘nature’ lifestyle.

Di mana sih ibu mereka?

Now that is a good question.

Keenam anak Ben juga enggak tahu pasti. Mereka hanya tau ibu sedang terbaring sakit di rumah sakit di kota sana. Mereka enggak tahu sakit apa ataupun kapan ibu pulang. Kemudian suatu malam, Ben masuk ke tenda mereka, being brutally honest himself, tembak-langsung ngasih tau bahwa ibu mereka sudah meninggal karena bunuh diri. Jadi di tengah-tengah isak tangis, mereka sepakat untuk keluar dari hutan dan berangkat naik Steve, bus gede milik mereka, ke kota demi melihat ibu untuk terakhir kali.They want to honor their mother’s last wish. ‘Misi’ yang complicated lantaran kakek mereka tidak pernah meets eye to eye dengan Ben soal gaya hidup keluarga mereka, soal cara membesarin anak, dan hal ini menciptaan tensi yang jadi konflik utama.

Masalah kayak ginilah yang bikin Captain Fantastic menjadi sangat menantang kita untuk berpikir. BAHASA PARENTING. Mana yang lebih baik; menjelaskan sesuatu dengan benar-benar jujur kepada anak kecil ataukah – seperti yang lazim dilakukan banyak orang – sugarcoating things untuk melindungi perasaan mereka? Ada satu kesempatan di mana Ben menjelaskan secara gamblang begitu saja soal maksud dan cara kerja tindak perkosaan kepada anaknya yang paling bungsu. Ben Cash dalam film ini toh tidak pernah digambarkan sebagai orangtua yang sempurna. Ada kala ketika secara tersirat film ini nunjukin Ben going too far dengan cara berpikirnya, kala ketika dia menggunakan anak-anaknya sebagai statement bahwa dia yang paling benar. In some way, Ben has indeed abused his children. On the contrary, kita jadi tahu kalo film ini enggak bertindak sebagai guru yang ngajarin apakah satu pandangan lebih mulia daripada yang lain. AMBIGUITAS ADALAH POIN PALING INTERESTING dari gaya bercerita Captain Fantastic.

but hey, kata ‘interesting’ enggak boleh dipake loh dalam ajaran keluarga Cash!

but hey, kata ‘interesting’ enggak boleh dipake loh dalam ajaran keluarga Cash!

 

Aku pertama mengira film ini bakalan mirip banget ama My Neighbor Totoro (1988), you know, kartun Studio Ghibli yang juga bercerita tentang anak-anak yang tinggal di pedalaman sementara ibu mereka sakit. Meski sama-sama menyenangkan of some sort, namun Captain Fantastic kerasa punya ‘daging’ yang lebih tebal. Film ini membahas serius soal perbedaan gaya hidup yang dijadikan sebagai inti perjalanan Ben dan keenam anaknya yang hanya ingin mewujudkan permintaan terakhir ibu mereka. Like what a good movie should do, Ben dibuat harus memimpin anak-anaknya keluar dari keteraturan satu-satunya dunia yang mereka kenal. Saat-saat keenam anak tersebut sampai di kota, sangat tertarik untuk mencoba burger karena selama ini mereka hanya percaya sama makanan alam yang enggak diproses, menciptakan perasaan LUCU CAMPUR HARU yang sangat genuine. Aku ngakak ketika salah satu anak Ben bertanya heran kenapa orang di kota gendut-gendut, apakah mereka sakit?

Dan of course, ada juga momen yang truly painful to watch. Kayak adegan di meja makan bareng keluarga sodaranya Ben. Benar-benar bikin kita gak nyaman karena udah ditempatin di posisi tengah-tengah penuh ambiguitas. Film ini tak hentinya melempar komentar soal nilai-nilai sosial, perihal konsumerisme, serta tentang dunia pendidikan dan agama. Menunjukkan kepada kita betapa susahnya melihat mana keluarga yang fungsional mana yang enggak. You know, anak-anak Ben patuh dan sepaham, mereka lebih pintar, supposedly free-spirited namun terlihat kayak sepasukan robot yang aneh di dunia luar. Dan di ujung lain meja makan ada sepupu mereka yang gambaran anak modern masa kini yang enggak bisa lepas dari gadget. Kita melihat some flaws dalam ajaran Ben but somehow, kita tetap memandang kakek mereka sebagai antagonis.

Kita tidak bisa membangun utopia tanpa berakhir menjadi sesuatu yang ekstrim. Karena people are involved. Kayak Ben dan ‘kelompok kecilnya’; tercipta peraturan yang mengekang di sana. Meski begitu, kehidupan ‘normal’ juga bukan berarti tidak ekstrim hanya karena mayoritas orang melakukan hal yang sama. Kuncinya adalah menemukan keseimbangan. Apa yang kita rasakan terhadap film ini dengan sempurna dicerminkan oleh ulasan salah satu putri Ben ketika pendapatnya mengenai novel Lolita ditanya; that despite kritik terhadap kejahatan dan penyimpangan yang dilakukan, kita masih merasakan simpati, karena dunia tidak pernah hitam dan putih.

 

Tingginya emosi yang ditarget oleh film ini tidak akan bisa tercapai jika tidak didukung oleh penampian akting yang luar biasa compelling. Yang kita punya pada film ini adalah tokoh-tokoh yang kaya oleh perspektif yang at times terasa ekstrim. Ada banyak lapis dalam penokohan mereka. Kharisma Viggor Mortensen memang jadi ujung tombak, he gives an amazing performance, he nails every emotions. Perasaan cinta dan sayang enggak pernah lupa dikeluarkan entah itu saat dia terlihat keras semacam cult leader, ataupun ketika have fun dengan anak-anaknya. Dan momen-momen realization yang acap menerpa dirinya, kita bisa melihat pada mata Ben bahwa dia sebenarnya sedang melihat kebenaran. Mortensen memainkan Ben dengan sungguh powerful.

Captain Fantastic toh bukan one-man show. Keenam anak Ben diberikan kesempatan untuk terlihat sebagai manusia. Aku suka mereka diberi nama yang unik dengan alasan supaya di dunia hanya ada satu mereka. I can feel that, aku kesel loh begitu ngegoogle namaku dan ternyata ada banyak orang yang namanya persis sama. Aku bisa ngerasain pentingnya hal tersebut. And hey, julukan Voldemort diciptakan lantaran nama Tom membuat Dark Lord merasa seragam dengan orang lain. Kesamaan membuat kita merasa enggak spesial.
Kita bakal tersentuh melihat Ben dan anak-anaknya actually acted as a unit. Sebagai sebuah keluarga. Kerasa banget they love each other. They love their dad. Dan terutama cinta banget sama ibu mereka. Di level personal, masing-masing mereka diberikan hook dan beef terhadap ayah mereka. Bodevan misalnya, sebagai yang paling gede diam-diam dia mendaftar di perguruan tinggi. George Mackay doing a great job memainkan perannya sebagai si sulung yang siap untuk dilepas ke peradaban tanpa menjadi inhumanely kaku. He actually has his own heartfelt moments throughout.
Konflik antara Ben dengan anaknya terutama datang dari seorang putranya yang mulai bisa melihat errors of their way. Rellian yang paling rebellious (rage dalam tokoh ini digambarin dengan sangat moving oleh Nicholas Hamilton) mulai ‘tergoda’ oleh video games, rumah, dan segala hal modern. Yang bikin hati kita ketarik lagi adalah saat saudara-saudaranya, saat ayahnya, enggak pernah menganggap Rellian sebagai pemberontak. This shows betapa berartinya keluarga bagi mereka.
Lalu ada duo cantik Vespyr dan Kielyr (Annalise Basso dan Samantha Isler, respectively, udah kayak peri hutan, magical but rapuh) yang nunjukin ke kita bahwa setia bukan berarti enggak pernah protes. Karakter mereka adalah wanita-wanita yang tangguh dan mandiri. Terakhir ada Zaja yang hafal the Bills of Right dan Nai yang crafty banget.

Keberhasilan orangtua sesungguhnya bisa dilihat dari anak-anaknya. Keenam anak Ben was so coordinated, mereka pintar – baik itu booksmart maupun streetsmart, tapi kurang gaul. Tapi penilaian bukan dari sana. Catatan pentingnya adalah mereka tumbuh dengan understanding that their father is not exactly the best. Tapi tetep cinta.

 

Adegan yang memperlihatkan interaksi mereka semua adalah apa yang membuat film ini terasa hangat dan menyenangkan. Paling menyentuh buatku adalah adegan di akhir, di mana mereka menyanyikan lagu Sweet Child O’Mine. Like, it was so beautiful, konteksnya menjadikan adegan tersebut terasa surreal, dan you know, pernahkah kalian merasa ingin menangis karena melihat sesuatu yang begitu indah? Begitulah scene tersebut terasa. Serius, I think I’ll cry kalo saja adegan tersebut dishot dan diedit dengan lebih sempurna. Continuous shot might work better dan bikin kita sepenuhnya bisa berada di sana di antara mereka.

A happy hippie family

A happy hippie family

 

Bentrokan dua pandangan hidup ditangkap lewat kamera dengan penuh gaya, I mean, sinematografinya sungguh excellent. Cahaya dan warnanya dimainkan menghasilkan gambar yang stunning. Momen-momennya kerasa artsy. Arahan dan penulisan Matt Ross membuat film road trip ini menantang bagi kita semua. Jalan yang dibangunnya panjang dan berliku namun tegas. There are some bumps on the road tho; editing yang slightly loose membuat kita sering tersentak lepas dari filmnya itu sendiri. Ada waktu saat film ini lucu, kemudian serius, kemudian lucu lagi, transisi tone tersebut acapkali enggak mulus. Banyak sambungan cuts yang abrupt, sering gak cocok dengan cut sebelumnya, kayak one second Kielyr merangkul Zaja-detik berikutnya mereka tampak enggak begitu dekat-kemudian cut dan here they are barengan lagi. Film ini juga berani melangkah ke dunia mimpi, yang scenesnya actually terasa out-of-place dan enggak mash up really well. Menjelang sampai di babak akhir ada adegan yang nyambungnya berkesan maksain dan kayak kurang terpikirkan, almost like mereka ngeskip satu sekuen.

 

 

 

Film ini melimpah oleh emosi. Karakter-karakternya akan berbicara lewat benturan sudut pandang yang kadang lucu, kadang mengkhawatirkan. Di balik production dan sound design yang artsy, the movie actually has a lot to say, terutama soal mendidik anak dan bagaimana pandangan kita terhadap apa yang penting dalam menjalani hidup. Actually, ini kembali kepada pertarungan klasik antara apa yang kita inginkan dengan apa yang kita butuhkan. Dan film ini hadir, bukan sebagai superhero yang menghantarkan kita untuk mendapatkan keduanya. Melainkan adalah sebuah perjalanan penuh oleh pemandangan ambigu yang brutally honest. Fantastis!
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for CAPTAIN FANTASTIC.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

Advertisements