Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“She lives inside your laughter; your first home, first friend, and first enemy.”

 

cvb73n8viaaklic

 

In real life, ibu kerap dianggap sebagai ‘musuh utama’ anak perempuan. Kontras yang natural sepertinya, since ada pepatah yang bilang cinta pertama setiap anak perempuan adalah ayah mereka. Well, yea, soal ibu; in general, film-film selalu menggambarkan tokoh ibu sebagai entah itu seorang yang kurang perhatian, atau terlalu cerewet, atau bahkan gila. Dan tokoh anak perempuanlah yang paling sering digambarkan sebagai yang punya ‘beef’ terhadap ibunya. Liat aja Merida di Brave (2012) mengutuk ibunya menjadi beruang. Carrie yang melepaskan all of that evil kepada ibunya. Even Max Black di serial 2 Broke Girls kerap merendahkan sosok sang ibu lewat celetuk-celetukannya.

Me vs. Mami menggambarkan hubungan unik antara ibu dan putri semata wayangnya dengan sangat kocak. Film ini get it right dengan keputusannya membuat sebuah DRAMA JALAN-JALAN BERNADA KOMEDI dari hubungan ini. Karena memang lucu melihat mereka ‘berantem’. Hiburan sehari-hariku dulu di rumah adalah melihat adek cewekku bertengkar dengan mama. Nyaris setiap waktu ada aja yang dipermasalahin, meski kadang awalnya baik-baik aja. Paling sering sih pas lagi adekku disisirin mama di depan cermin, “Itu gayanya alay, Maaaa!”/ “Idih banyak protes, nyisir rambut sendiri aja ndak pandai!!” Ataupun sering juga terjadi kayak yang di film ini, lagi masak bareng aja ujungnya bisa perang dunia ketiga haha.

Aku merasa cukup deket ama film ini. Setting di lingkungan berbahasa Sumatera Barat hanya membuatku merasa semakin familiar, which is a very good thing. Peran budaya yang kuat diintegrasikan ke dalam lelucon-lelucon film ini, dan toh akan tetap bekerja dengan baik karena film ini begitu ringan dan easy untuk dicerna. Yahh sampai sebelum ending sih; hal ini akan kita bahas nanti.

Cut Mini di sini adalah Maudy, seorang single mother, host sekaligus chef acara masak-memasak di televisi, yang great at her job namun susah akur sama anak gadisnya. Maudy begitu berdedikasi untuk menjadi great at everything sehingga untuk menyeimbangkan kerja dengan waktunya di rumah, ia menjadi agak terlalu over everything dalam membesarin Mira. Atau setidaknya begitulah apa yang dirasakan selama ini oleh tokoh yang dimainkan oleh Irish Bella tersebut. Bagi Mira, ibunya sok ngurusin ini-itu dengan cerewetnya tanpa pernah mau stop dulu dan cari tau apa yang Mira mau. Buktinya, saat nenek buyut Mira dari pihak ayah menelpon dan memintanya berkunjung ke Payakumbuh, Maudy langsung ngikut despite Mira bilang bisa berangkat ke sana sendiri. Akhirnya mereka memang berangkat berdua, dan tentu saja perjalanan mereka menjadi kocak, penuh oleh kejadian (baca: kemalangan) tak-terduga.

Kenapa hubungan jangan sampai renggang..

Kenapa hubungan jangan sampai renggang..

 

Interaksi kedua lead adalah apa yang membuat film ini teramat menghibur dan menyenangkan untuk disimak. Menyenangkan melihat mereka mencoba untuk menyelesaikan masalah, yang sebenarnya simpel, bareng-bareng. Bantering antara Maudy dengan Mira terasa genuine. They played off of each other very well seolah kita sedang melihat dua manusia beneran yang lagi ribut. Bukan hanya kata-kata loh, ada juga gestur-gestur yang kerasa alami. Makanya jadi lucu banget. Untuk sebagian besar waktu, film ini benar memfokuskan cerita kepada hubungan langsung antara kedua tokoh ini, dengan elemen jalan-jalan, pekerjaan, asmara, ataupun sedikit misteri disematkan sebagai penghias.

Secara single performance, Cut Mini masih beberapa kepala di atas pemeran yang lain. Maudy bisa mencapai rentang emosi dengan mulus seberapapun jauh jaraknya. Antara bertingkah konyol, ke cerewet, ke emosi yang lebih serius, transisinya ia lakukan dengan mulus dan beliveable. Karakter Maudy juga memang adalah yang paling di-flesh out dengan backstory.

Kalo dipikir-pikir, film memang butuh untuk menjadikan ibu sebagai tokoh yang enggak normal. Karena itu adalah satu-satunya cara untuk membuat tokoh putrinya menjadi menarik. Kayak, seandainya anak cewek di dalam film punya ibu yang normal, maka si anak mungkin tidak akan segampang itu melempar hati dan dirinya ke cowok ganteng pertama yang ia lihat. Thus, we will have no story.

 

Mira is plainly boring. Tokohnya terlalu biasa dan enggak bener-bener ada traits yang bisa kita simak dari karakter ini. Tanpa ada cacat parenting dari sang ibu, karakter ini akan punya personality nol besar. Mira adalah tokoh yang bisa menjadi begitu clueless at times. Segala kejadian dalam perjalanan mereka dimaksudkan agar Mira bisa punya momen-momen merefleksikan diri so she could learn a thing or two tentang posisi ibunya. Irish Bella did more work dalam menghidupkan karakter sejenis ini, and I guess we can appreciate that. Lucu dan kinda cute melihat Mira mencoba to comfort orang, dan dia pake bahasa minang yang ngasal banget untuk berkomunikasi. Akhiran katanya diganti ‘O’ semua ahahaha

Sentuhan bagus dilakukan oleh film ini dengan menginclude berbagai TOKOH PENDUKUNG YANG TURUT MEMBERIKAN AMUNISI LELUCON DAN SUDUT PANDANG YANG FRESH. Aku gak bicara soal karakter Dimas Adityo, yang saga nya going nowhere as Rio ini enggak punya karakter beneran selain sebagai prince charming yang datang menolong. I’m talking about Pak Nurdin dan beberapa penduduk lokal yang lain. Akting mereka mungkin sedikit kaku, but yea they breath in some colors. Kalo mereka bisa bermain baik mungkin saja kita  dapet cerita yang berbeda, like, aku akan senang sekali jika tokoh-tokoh ini ikutan ngetrip ngukur jalan bareng sampe ke Payakumbuh.

 “Sia paja ko?”

“Sia paja ko?”

 

Meski kejadian yang mereka alami kocak semua; they keep getting pinned down by unfortunate events, namun poin-poin cerita tersebut dengan cepat menjadi annoying karena sebenarnya apa yang terjadi kepada mereka itu adalah campuran karena setingan orang (film ini diarahkan untuk punya ‘twist spektakuler’) dengan terjadi karena kebegoan mereka sendiri. I mean, come on, saling buang hape? Maksa ngambil KTP orang yang lagi nyetir? Good job udah bikin mobil nabrak kerbau, Bu!

Arahan film ini yang menyasar komedi lebay not really work properly karena justru membuat tone yang berantakan. Me vs. Mami ingin mengangkat tema serius soal anak terhadap orangtua, and in turn soal parenting, tapi melakukannya dengan terlalu over-the-top. Kalian tahu, kita bisa respek sama film Warkop DKI Reborn (2016) yang jelek dan superlebay karena film itu enggak berusaha untuk jadi sesuatu yang bukan dirinya. Me vs. Mami ENGGAK YAKIN SIAPA DIRINYA. Di sini kita melihat orang-orang yang kayak beneran ada diletakkan ke dalam situasi komikal. Hasilnya lucu, akan tetapi ketika sisi yang lebih emosional coba untuk diangkat, film ini jadi terasa pretentious dan enggak fokus. Film ini juga surprisingly bloody towards the end, demi memancing drama yang mana pada titik itu malah bikin film kayak mengkhianati tone di awal.

Tensi dramatis memang ditulis subtle, sudah ditanam, sedari awal. Masalahnya adalah film ini melepaskannya dengan terlalu telat. Klimaks dengan emosi tertinggi datang pada menit ke70an. Mereka menulisnya sebagai sekuen false-resolution, instead. Meninggalkan tidak ada waktu dan ruang yang cukup efektif bagi emosi tersebut untuk berkembang dan mencapai efek maksimal. Film ini kayak menghabiskan begitu banyak waktu buat bermain-main dengan komedi, only to realize ia butuh suatu puncak yang gede untuk menutup cerita. Bagus untuk kita melihat perjuangan seorang ibu, hanya saja drama yang mereka bangun di waktu sesingkat ini adalah drama yang a little too much, and it messed up a lot with entire tone of the movie.

Oke, kita sampai ke soal ending yang sempat kusebut selayang di atas tadi; Endingnya bego. Titik. Benar-benar enggak masuk akal. Like, how did they do that? Is that even possible buat seluruh komunitas bisa… aarrgghghgah. Dan sungguh-sungguh tidak perlu dibuat seperti itu. Ada cara yang lebih masuk akal untuk mengakhiri film ini, tapi, enggak, film ini mau menutup diri dengan gede. Bahkan kalo itu gede yang jelek. Aku malah ilang selera buat nulis spoiler karena aku enggak mau merusak experience kalian nikmatin film ini bahkan sebelum kalian menonton ceritanya.

 

 

 

Jika film road trip adalah film petualangan yang terjadi di dunia nyata, maka film ini adalah film petualangan yang amat jenaka. Diisi oleh interaksi dua lead characters yang sangat genuine, berusaha menyampaikan pesan yang sudah sering kita dengar di film-film lain dengan cara yang tidak-biasa. Dan caranya ini tidak selamanya berujung bagus. Film ini berakhir dengan terlalu over dan mengirim penonton pulang dalam tawa yang bukan lagi karena tertawa oleh sesuatu yang lucu. But again, performances film ini mostly good, bahkan film ini hidup karena penampilan dan warna tokoh-tokohnya. Juga tidak melupakan elemen budaya, dalam hal ini budaya Sumatera Barat.
Rancak? Yes.
Tambuah ciek? Ehm.. mending enggak dinikmati sampai abis, deh.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for ME VS. MAMI

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements