Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“But it is surely in reality the most important work in the world.”

 

badmoms-poster

 

Ingat saat kami netapin bahwasanya film-film, especially film Hollywood, enggak pernah menggambarkan tokoh ibu sebagai tokoh yang normal? (kalo lupa boleh kok dibaca lagi review Me vs. Mami) Well, itu karena di kehidupan nyata ibu memang bukan makhluk yang normal. “Kasih ibu tak terhingga sepanjang masa” letak poinnya adalah di ‘tak-terhingga’, as in para ibu take care segala hal, terus-menerus mastiin keluarga – terutama anaknya – beneran udah keurus setiap saat. Bahkan saat mereka berpikir ngerjain rumah tangga doang melelahkan dan membosankan, mereka memilih bekerja di luar, jadi wanita karir, that doesn’t make peran mereka sebagai seorang ibu menjadi lebih gampang. You know, kalo ibu kerja maka anak siapa yang jaga? Gizi mereka siapa yang merhatiin? Gimana dengan pendidikan anak-anak? Kapan waktu luang? Jawaban semua pertanyaan itu adalah keputusan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi di jaman moderen di mana setiap tindak-tanduk senantiasa dimonitor oleh publik, dalam hal ini: social media.
Hasilnya adalah selain mengurus terlalu banyak, ibu-ibu juga berjuang melawan judgement dunia sehubungan dengan bagaimana mereka membesarkan anak. Apakah mereka ibu yang baik? Atau dalam usaha mereka yeng kelewat keras menjadi supermom, mereka malah menjadi seperti yang tak jarang ditangisin oleh anak sendiri, “Mama jahat!”?

Para ibu diharapkan untuk bisa melakukan semua hal. Ada alasannya kenapa ‘ibu rumah tangga’ terdaftar sebagai ‘pekerjaan’ meskipun tidak berbayar; yang mengisyaratkan kita tidak benar-benar mengakuinya sebagai pekerjaan.

 

Jadi gimana cara menceritakan kisah perjuangan ibu sedemikian rupa sehingga topiknya bisa menghibur dan ringan, hits and bang, dan bisa sedikit menyentuh at the same time? Penulis The Hangover (2009) Jon Lucas dan Scott Moore tau cara terbaiknya adalah dengan menyasar ke komedi bahkan jika bahasannya ada di dalam area yang sensitif seperti begini. Film ini akan bertindak dengan sangat baik jika kita menganggapnya sebagai SATIR DARI KEADAAN PARA IBU MASA KINI. Makanya film ini dengan anehnya begitu gampang untuk disukai dan dinikmati. Bad Moms adalah apa yang terjadi jika para ibu yang berdedikasi namun amat-kurang-dihargain tersebut sudah ‘puas’ dicap jelek dan memilih untuk membebaskan diri; bertindak ngikutin keinginan pribadi mereka.

Sebagai tokoh utama, film ini punya Mila Kunis yang memerankan Amy; Ibu dua anak yang setiap harinya habis dengan tunggang langgang antara telat ngantar anak ke sekolah, telat ke kantor, balik lagi ke sekolah untuk rapat orangtua dan nganterin anak ke kegiatan ekstrakurikuler (yang mana ia juga telat dengan sukses), ngurusin hewan peliharaan, belanja ke supermarket, jemput anak-anak, dan masak untuk suami yang kadang bertingkah kayak anaknya yang ketiga. Naskah menetapkan Amy sebagai contoh nyata seorang ibu super. Dia adalah pusat dan seringkali jatoh sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Kondisinya ini juga tercermin dalam lingkungan kerjaannya; Amy bekerja di perusahaan kopi yang sangat kekinian. Sebenarnya jadwal kerjanya hanya tiga kali seminggu, namun dia dibutuhkan di kantor setiap hari lantaran anak-anak buahnya – mereka semua berusia lebih muda dari Amy – deep inside udah nganggap Amy sebagai semacam ibu yang bossy. Mereka butuh Amy seperti anak-anak Amy butuh dirinya untuk mengerjakan apapun buat mereka. Mereka menjadi manja tatapi juga jadi lupa bersikap apresiatif karena bagi mereka Amy adalah bos yang cerewet. Oya, and also suami Amy ketangkep basah mau ngelakuin sesuatu yang basah secara online dengan wanita lain..

Serupa tapi tak-sama dengan Amy, ada tokohnya Kristen Bell; seorang ibu dengan terlalu banyak anak yang bernama Kiki. Di rumahnya, Kiki ini udah kayak karyawan dibandingkan seorang istri. Anak banyak dan suami yang secara konstan nanyain how things are going on at their home, membuat Kiki tidak punya banyak waktu luang untuk dirinya sendiri. Saking parahnya, Kiki bilang bahwa angan-angan terbesarnya adalah tabrakan mobil sehingga dia dirawat di rumah sakit dan enggak bisa ngapa-ngapain selain disuapin, dirawat suster, sambil nonton tv sepuasnya. Gila kan, berpikir melukai diri sebagai jalan keluar adalah ciri-ciri kepala yang udah enggak sehat.

 It is always the quiet, small ones..

It is always the quiet, small ones..

 

Makanya begitu Amy dan Kiki bertemu dengan Carla, yang saat itu ceritanya lagi diperankan nyaris mabok oleh Kathryn Hahn, mereka seketika berteman baik. Mereka tertarik sama sudut pandang Carla yang sudah lama berstatus sebagai single mother. Mereka mau bebas bertindak gila karena apapun yang mereka lakukan, mereka tetap akan dianggap jelek. Carla adalah personifikasi dari bad mom yang sebenarnya. Dia mangkir dari pertandingan sekolah anaknya (“mendingan ke Afganistan daripada dateng!”). Dia ngegodain setiap pria yang tertangkap oleh matanya. Sebenarnya ada yang menyedihkan di balik sikap Carla, it’s like she’s just come off saying “I am a mom, and I’m still sexy”, dan kita semua tahu banyak ibu-ibu di luar sana yang berpikir seperti demikian. And they really put efforts supaya bisa pantas menyandang kalimat tersebut selamanya. I mean, why they can just be a mom and proud tanpa embel-embel?

Play field yang ditinggalkan oleh Lucas dan Moore adalah lapangan yang nyaris kosong, hanya berisi one-dimensional character semacam tokoh Gwendolyn, bebuyutan geng si Amy. Christina Applegate merepresentasikan tokoh ibu sukses dambaan setiap wanita dengan decent, pasif-agresif Gwendolyn yang ‘menjajah’ semua orang yang ia tampilkan bikin penonton geram walaupun memang tidak jauh dari karakter antagonis lebay ala sinetron.
So it’s basically semuanya tergantung gimana para pemain menyuntikkan karakter ke dalam tokoh-tokoh mereka. Kita toh memang mendapatkan adegan yang nice dan genuine di sana sini saat Mila Kunis dan Kathryn Hahn trying their best untuk keluar dari karakter komikal mereka lewat dialog berisi kata-kata yang obviously mereka improvisasi sendiri. It is also almost like, pengalaman real-life ibu para pemain di kredit penutup punya kontribusi gede buat drama dan penokohan film ini.
Penampilan yang spot-on datang dari Oona Laurence yang bisa bergurau dan saling flesh out imbang dengan Mila Kunis sebagai anak dan ibu.

 

Sejak masuk babak kedua sampai menjelang penghabisan it’s all drinking, berantakin supermarket, ribut gajelas nonton bioskop, dan berpesta liar diiringi lagu Hey Mama. Adegan-adegan yang dilakukan oleh trio ini (ataupun yang enggak mereka lakuin, for their family sakes) sungguh enggak-pantes untuk dilakuin oleh ibu-ibu yang udah punya tanggung jawab mendidik anak. Mereka semua kayak tokoh kartun yang susah untuk diresonansikan ke dalam our modern world. This is where the movie feels kinda low. Lelucon-leluconnya datang dari tempat yang bikin kita nyengir, kayak waktu mereka ngobrolin pria yang enggak disunat. KOMEDI YANG RAUNCHY enggak bekerja dengan baik, membuat tindak karakter-karakternya jadi so comical dan too over. Kebijakan dalam cerita mengenai menilai mana yang harus dilakukan-mana yang enggak bakal bikin kita khawatir. Like, gimana kalo film ini ditonton oleh pola pikir yang salah?

Film ini pun punya feels that we have seen it too many times before. Particularly plot soal ketemu duda keren and Amy wants to get on it, klasik tipikal cerita prince-charming banget, actually malah membebani film ini dengan klise dan membuat jarak dari pesan yang ingin disampaikan. Namun hal conservative kayak gitu diolah oleh film dengan subjek yang kekinian sehingga menjadi mainstream.

Film ini adalah soal empowering para wanita yang melakukan semuanya. Wanita yang punya karir dan punya keluarga, dan masih bisa menyediakan waktu untuk ngurusin diri mereka sendiri. Antara ibu rumah tangga dan bekerja di luar, is all about finding balance dan mengorganisir prioritas sehingga semuanya bisa adil terperhatikan. It takes power to be parents,it takes extra to be a mom.

Moms I’d Like to Follow, kata ibu-ibu

Moms I’d Like to Follow, kata ibu-ibu

 

And its kinda disturbing ngeliat ibu-ibu berpesta pora kayak anak remaja, berhura-hura dengan teman-temannya. Tapi kupikir, adegan-adegan tersebut adalah cara film ini untuk ngasih tau bahwa sesungguhnya adalah tugas kita untuk menjaga ibu-ibu agar tidak kejadian beneran seperti begitu. That we should have be more appreciative kepada peran dan kerjaan mereka. Karena sebenarnya enggak ada titel ‘Ibu Baik’ ataupun ‘Ibu Jahat’, yang ada hanyalah ketika wanita memutuskan untuk menjadi seorang ibu atau just give up being one.

 

 

 

Kalo ini film untuk ibu-ibu, maka siapa yang bakalan nonton jika ibu-ibu benar seperti yang dikatakan film ini; terlalu sibuk bekerja ngurus ini-itu-kapan ke bioskopnya? So I get it kenapa film ini butuh untuk go big dengan jadi komedi lebay dengan tingkah karakter yang over-the-top supaya bisa appealing buat lebih banyak penonton. Dan bener, perhatian kita tercuri olehnya. Terpancing juga untuk tertawa. Pesan secara satir terdeliver dengan baik, lumayan menyenangkan mesti acapkali bikin geleng-geleng. Performances yang bagus. Meski ‘liar’ karakternya enggak really resonance dengan kehidupan nyata, kesannya jadi ‘film’ banget, tetapi ini juga artinya film ini benar-benar memikirkan at least on how they would incorporating the message ke dalam komedi yang over. Tetep kerasa bahwa those ‘moms’ di dapur studio mereka really know what they were doing on cooking a mainstream product.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for BAD MOMS.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements