Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“We believe what we want to believe.”

 

SAPTY_DOM_DIGITAL_12.indd

 

Semua tokoh dalam film Sausage Party tinggal di supermarket. Mereka adalah produk makanan dan barang yang dijual sehari-hari; ada sosis, ada roti, taco, selada, saos tomat, kecap, kentang, mereka punya society masing-masing di sana. Rak tempat mereka dijual udah kayak batas negara deh. Kehidupan mereka-mereka ini berlandaskan kepada kepercayaan bahwa manusia adalah dewa-dewa, atau katakanlah; Tuhan. Saat mereka diangkat dari rak dan dimasukkan ke kereta belanja manusia, mereka percaya itu berarti mereka sudah terpilih untuk pergi ke tempat menakjubkan dan paling indah; The Great Beyond – ke surga! Jadi, tokoh-tokoh film ini semuanya menanti untuk dibawa ke surga, di mana mereka bisa bersatu, melakukan apapun yang mereka mau. Namun seperti yang kita semua tahu, bukan begitu cara kerja makanan dan manusia. Eventually Frank si sosis mengetahui kebenaran, dan kita menyaksikan keseluruhan sistem kepercayaan mereka tersebut runtuh.

..kedip…

..kedip…

Sausage Party ternyata bukan film animasi yang imut dan innocent. 

Dilarang keras deh bawa anak kecil nonton film ini kalo enggak mau diberondong sama pertanyaan-pertanyaan bikin ga nyaman. Atau bahkan, jangan nonton film ini jika kalian orang yang cukup mudah tersinggung. Dan enggak kuat iman haha. Serius, film ini punya sedikit lebih banyak daging on the inside daripada presentasi ngaco yang ditampilkannya. Komedi dan leluconnya mungkin akan membuat kita yang nonton jarang tertawa karena film ini sesungguhnya SANGAT SATIR. MENONTONNYA KITA AKAN MERASA GETIR. Kita akan melihat sindiran terhadap gimana society bertindak di dunia kita, soal theology – kepercayaan kita terhadap Tuhan, soal salah kaprah toleransi, soal pandangan politik, negara-negara yang enggak akur, semua keadaan itu terpotret dengan kreatif lewat plesetan-plesetan berbau makanan. Kita akan liat roti kosher dengan roti halal terus-terusan menolak bekerja sama. Kita bakal nyaksiin produk makanan Jerman begitu ngebet memburu semua produk jus.

Kocak sekali melihat kala para tokoh film ini menyadari kebohongan besar yang selama ini mereka amini religiously. Konsep yang membungkus film ini benar-benar menyenangkan. Konsepnya ini actually adalah yang paling aku suka dari Sausage Party. Mereka membuatnya sekilas tampak seperti film Disney/Pixar, they really poke a lot of fun in doing that. Kita dikenalin sama karakter dari sesuatu yang biasa kita lihat sehari-hari, dan dibuat menggelinjang begitu tau para karakter tersebut punya kehidupan rahasia. Mereka pakek sarung tangan putih kayak miki mos. Film ini juga punya adegan musikal dengan lagu original, you know, hal-hal yang definitely biasa kita temukan di animasi Disney. Hanya saja begitu adegan nyanyian tersebut dimulai, kita langsung tahu Sausage Party adalah ANIMASI UNTUK ORANG DEWASA.

Ada banyak kekerasan kartun yang ditampilkan. Kayak anggota tubuh yang terpotong, percikan dara..eh, salah ding, saos! Sebenarnya merupakan hal yang biasa jika sering nonton anime ataupun film animasi rated-r yang lain, apalagi di sini disimbolkan oleh makanan-makanan, tapi film ini mengolahnya dengan dramatis sehingga jadinya benar-benar lucu. Kayak adegan ketika semua makanan di keretabelanja berjatuhan ke lantai; film ini nyeritainnya pake adegan lambat segala dengan suara panik dan takut para makanan yang isi perutnya tumpah, pecah, menggema ke mana-mana. Seolah adegan pengeboman saja. Dan adegan di dapur, sekitar pertengahan film, udah kayak adegan dalam film horror slasher!

Kata-kata dalam film ini jorok semua. Dan sebagaimana film karya Seth Rogen dan teman-teman, elemen cerita tentang ‘just sit down and getting high’ menguar kuat. Sexual innuendo tak ketinggalan berserakan di mana-mana. I mean, lihat saja judul filmnya! This animated movie is EXTREMELY RAUNCHY. Hey, tokoh utama kita, si Frank adalah sosis yang menunggu hari ia pergi ke Great Beyond agar bisa segera masukin dagingnya ke dalam roti Brenda. Begitupun dengan si Brenda, she just really want Frank to get in there. Beneran, memang begitulah ‘the want’ karakter-karakter film ini digambarkan. Di akhir film kita akan mungutin rahang kita yang jatoh demi ngeliat adegan – yang supposedly menggambarkan ultimate toleransi – namun sebenarnya malah lebih efektif dalam mengurangi toleran kita makan hotdog.

Food porn, they say… It is really save, they say.

Food porn, they say… It is really tasty, they say…

 

Menghibur, akan tetapi dalam taraf yang enggak konsisten. Umpatan mereka dengan segera menjadi terlalu banyak sehingga tidak lucu lagi. Beberapa leluconnya yang ngincer stereotype lebih sering jatoh datar. Jika kita membuka ‘bungkus’ karakternya, they really just don’t have enough layer of personality. Frank yang dimainkan oleh Seth Rogen adalah sosis yang suka menyumpah serapah, ia malah kalah banyak aksi dibandingkan Brenda nya Kristen Wiig. Justru tokoh sidekick yang disuarain oleh Michael Cera yang mendapat porsi petualangan lebih banyak dan terasa lebih jagoan. Sosis kecil rada peyang ini actually jadi lebih compelling karena dia ngalamin both inside and outer journey.

Sedikit melenceng dari yang diharapkan, film ini turned out to be. Kejadiannya ternyata berpusat di lingkungan supermarket. Padahal ngeliat dari gimana mereka nge-set up cerita di awal, enggak salah kalo kita mengantisipasi sebuah petualangan tentang Frank dan teman-teman yang kabur dari surga, dari dunia manusia, as soon as mereka mau dimakan. I guess that would make a better story karena ceritanya bisa bergerak ke arah akhirnya Frank belajar mengetahui siapa dan kenapa mereka diciptakan jika ia ngalamin langsung petualangan di luar sana.
Nyatanya, film ini secara garis besar hanyalah tentang Frank getting stoned dan dikasih tahu oleh tokoh lain, dan dia berangkat untuk melihat bukti pada salah satu sudut supermarket, dan in turn giliran Frank yang berusaha ngasih tau the rest of penduduk supermarket bahwa selama ini keyakinan mereka salah.

Dinilai dari arah storytellingnya tersebut, Sausage Party adalah film yang ambisius. They taking too much time in efforts to nunjukin gimana jika pandangan masyarakat soal keyakinan yang dianut setelah sekian lama ini adalah salah. Bahwa gimana jika sebenarnya agama adalah dongeng paling berbahaya yang pernah ditemukan, bahwa agama sebenarnya dikarang untuk menciptakan kepatuhan di antara the uninformed innocent people so they just blindly followed it. Gagasan mereka tersebut terefleksikan dari usaha kocak Frank buat ngasih tau temen-temen yang lain, yang menganggap Frank udah edan. Film ini, like, punya satu pandangan dan mereka mendedikasikan cerita untuk mengatakan pandangan mereka jauh lebih bener, asik, keren, more reasonable, dan lebih masuk akal. Atau mungkin juga it is just satirnya yang mulai ngefek, tapi aku ngerasa pesan film ini enggak berhasil come off senendang yang pembuatnya targetkan.

Kita tidak bisa sepenuhnya mendukung konteks film ini karena pada dasarnya ini adalah tentang orang-orang yang enggak mau musingin the purpose to their life.

 

Frank dan teman-temannya semula percaya Tuhan akan membawa mereka ke surga. Then they figured out manusia adalah makhluk biasa (yang bisa dibunuh) dan mereka tidak dibawa ke tempat magical melainkan ke dapur mengerikan di mana mereka akan dikuliti, dipotong-potong, dicemplungin ke minyak panas, sebelum berakhir jadi santapan. Resolusi dari cerita ini adalah Frank nyimpulin yang mereka sangka Tuhan ternyata not that all-powerful dan mereka semua tidak harus ke The Great Beyond dulu untuk bisa menikmati hidup. Apa yang tidak mereka sadari, dan film ini juga enggak pernah benar-benar membahasnya, adalah soal fakta mereka adalah makanan. Bahwa hakikat mereka adalah dibuat oleh manusia sebagai pemenuh kebutuhan. Sedari awal sepertinya ‘hidup para makanan’ bukanlah perbandingan yang tepat sebagai padanan ‘hidup manusia’.

Tokoh-tokoh dalam film ini realized hanya ada ‘neraka’ di luar sana, jadi mereka bangkit melawan manusia (yang mana mereka enggak pernah tahu hubungan antara manusia dengan makanan, Frank enggak pernah tahu mereka ada karena apa), dan membuat surga dunia mereka sendiri. Jika dibawa ke dunia nyata, maka film ini berkata; ‘kematian adalah satu-satunya hal yang pasti, jadi kenapa kita tidak menikmati hidup selagi bisa.’ Frank dan segenap penghuni supermarket tidak pernah berpikir tentang esensi keberadaan mereka, they are just food who want to have fun. Makanya susah bagi kita untuk merasakan simpati kepada tokoh-tokoh film ini. Kita bahkan tidak pernah mendapat impresi para makanan itu ingin melakukan sesuatu yang baik, mereka enggak pernah digambarkan ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat. Keinginan mereka adalah untuk hidup senang, dan ‘the need’ adalah mereka butuh percaya kesenangan itu bisa didapatkan sekarang juga.

Sebenarnya ironis; tema di sini adalah being able to see, film ini mengatakan dengan melihat barulah kita bisa percaya, jadi jangan ngelakuin ataupun ngeyakinin sesuatu tanpa bisa melihat alasan kebenarannya. Itu artinya kita harus punya pandangan yang luas. But on the other hand, karakter film ini hanya melihat apa yang ingin mereka percaya. Thus, they only believe apa yang mereka ingin untuk percaya.

 

 

inget ga kata mama; “kalo ndak abis, nanti makanannya nangis loh!”

“kalo ndak abis, nanti makanannya nangis loh!” Well, ABISIN biar nangisnya ga kedengaran!

 

 

 

 

So yea, it is a bit hit or miss. Film ini cukup menghibur sebagai komedi animasi dewasa yang sangat enggak sopan. Punya konsep yang kocak betul dan sukses membangun universe nya sendiri. It relies too much on being a rated-r, tho, film ini terus mendorong kevulgaran dan sindiran like there’s no tomorrow. Meski juga berusaha punya sedikit otak di baliknya. Mengangkat tema yang layak untuk jadi hal yang perlu dipikirkan. Namun pada akhirnya jika dibawa duduk baik-baik, film ini tidak benar-benar membahas tema tersebut dengan penuh pemikiran. Menonton film ini terasa seperti mendengar ceracau filosofis dari sekumpulan orang yang sedang teler.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for SAUSAGE PARTY.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there losers.

 

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements