Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“The more you know, the more you realize how much you don’t know.”

 

doctorstrange-poster

 

Kita senantiasa digenjot oleh motivasi “engkau bisa menjadi apapun yang kau mau.” Kata-kata yang penuh pesona optimis, it is great really, akan tetapi cenderung membuat kita menjadi arogan. Karena kalo ada satu hal yang enggak semua orang bisa menjadi, maka itu adalah menjadi gelas kosong. Butuh pergulatan personal yang alot, perlu keikhlasan yang tinggi, buat seseorang rela melupakan segala yang sudah ia miliki, ia percaya, mengesampingkan ‘ilmu’ yang selama ini sudah ia kumpulkan, in order to bisa melihat sisi lain dan mengisi diri dengan sesuatu ‘ilmu’ baru yang belum pernah dikenal.

Kita enggak bisa belajar jika kita mengira kita sudah tahu semuanya. Kita tidak bisa menerima sudut pandang yang baru jika kita tidak menyisihkan ruang kepadanya. Dengan semakin banyak tahu, kita akan tahu masih banyak hal yang tidak kita ketahui.

 

Dokter Stephen Strange literally disuruh melupakan segala hal yang dia tahu sebelum memasuki Kamar-Taj. Padahal dia adalah seorang dokter bedah yang jenius. And he knows it. Dia begitu bangga kepada dirinya karena dengan kemampuan yang ia miliki dia bisa terus menyembuhkan orang-orang. He wants to heal sebanyak orang yang dia bisa. Memerankan tokoh yang hati mulianya tersembunyi banget di belakang sifat egosentris, arogan, dan celetukan ngehek, Benedict Cumberbatch terlihat begitu believable. His facial work, his timing, sama kuatnya ama delivery dialog dalam menyampaikan eskpresi. Kita bisa lihat tak-percaya campur cemoohnya perlahan memudar as the story goes on, kita bisa merasakan struggle di dalam diri tokoh ini. Secara performances, saingan Strange mungkin adalah Tony Stark.

Terutama his pains. Strange mengalami kecelakaan hebat, damaging syarafnya. Strange jadi enggak bisa mengendalikan kedua tangannya yang bergetar terus. Tidak ada ilmu medis di dunia yang ia pelajari yang bisa membuat Strange bisa kembali menggunakan tangan-tangan tersebut untuk mengoperasi orang. Dan inilah awal dari benturan emosi yang terus mengguncang dunia pribadi Doctor Strange. Tubuh dan. nanti, spiritnya sama-sama broken. Dan kita juga gak bisa lupakan konflik batin The Ancient One yang rela menyepi dalam keabadian demi melindungi Bumi. EKSPLORASI DRAMA PERSONAL ini adalah di mana film does it work best. Aku menemukan film ini bakal jauh lebih kuat jika saja dirinya tidak berupa film action superhero.

it strikes the inside!

it strikes the inside!

 

Marvel Cinematic Universe paham agar tokoh-tokoh komik bisa disenengin oleh banyak kalangan, mereka perlu diberikan cerita yang compelling. Enggak bisa terlalu gamblang baik melawan jahat. Harus ada inovasi, harus dibahas dari sudut lain sehingga cerita yang pada hakikatnya punya formula yang sama bisa keluar sebagai produk yang cinematically feels different. Dalam Doctor Strange kita melihat sekuen aksi yang bikin melongo sebagai penyeimbang drama yang jadi emotional core ceritanya.

Dari opening act nya saja kita langsung tahu bahwa tokoh film ini punya kekuatan yang sama sekali berbeda dari kekuatan super para pahlawan lainnya. Dunia dalam Doctor Strange dibuatnya persis kayak kotak rubik yang diputer-puter, diacak susunannya, terus warna kotak-kotaknya dicat ulang dengan acak. Action dalam film ini sangat inovatif, camera work dan efeknya sungguh sangat impresif. Meski dunianya amburadul kayak gitu, namun enggak bikin kita pusing dan masih sangat enjoy mengikuti that ever shifting environment dengan relatively easy. Mengatakan visual film ini amazing sesungguhnya adalah sebuah pengecilan, karena apa yang kita lihat di layar saat para tokoh berantem itu, benar-benar jawdropping. Film ini juga punya adegan-adegan supernatural-like yang even-more trippy dengan visual yang amat stunning.

We get to see kehandalan Strange sebagai seorang dokter, and it is nice film ini enggak membuat kita melupakan statusnya tersebut. Strange kerap kembali berusaha menjalankan profesinya walaupun enggak mampu dan dia sendiri bakal punya kekuatan sihir, dia menggunakan tenaga kayak chakra sebagai senjata dan alat bertahan, dia bisa melepaskan dirinya ke dunia astral, dia mempelajari caranya bikin somekind of portal untuk berpindah tempat, dan dia punya (as you know it) jubah merah yang merupakan makhluk paling adorable seantero 130 menit durasi. Hebatnya memang, segala AKSI DALAM FILM INI DIBUAT PARALEL DENGAN TEMA cerita. Dunia bolak-balik itu merupakan simbol dari apa yang dialami oleh Strange begitu dia harus meninggalkan ilmu kedokterannya di depan pintu masuk Kamar-Taj. Dan bukan kebetulan film ini menuliskan benda yang paling berharga bagi Strange adalah jam tangan (yang karena suatu kejadian, rusak) dan di final battle, kekuatan terbesar Strange adalah mengendalikan waktu.

Actually, suka banget gimana film ini membawa arti “time heals all the wound” menjadi sesuatu yang bener-benar kocak. Oke, mungkin enggak tepat jika pertemuan Strange dengan Dormammu disebut final battle, karena resolusi film ini so hilarious, mereka membuatnya beda banget dari film-film superhero yang udah pernah kita saksikan sejauh ini.

Dalam film ini, Stephen Strange belajar bahwa menjadi dokter yang menyembuhkan bukan satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa orang. Bahwa sesungguhnya dia punya pilihan untuk melakukan tindakan yang lebih urgen dari mengobati. Bahwa dia bisa punya kemampuan untuk mencegah in the first place. Ya, simpelnya film ini adalah tentang mencegah lebih baik daripada mengobati.

Our biggest enemy’s enemy is time.

Our biggest enemy’s enemy is time.

 

The movie moves very fast. Aku bahkan belum kepikiran untuk kebelet sampai adegan post-credit kedua ditayangkan, dan itu prestasi banget buatku mengingat betapa dingin AC bioskop dan durasi film ini. Narasinya kayak berlari, dari kecelakaan, ke inciting incident, ke Strange’s belief crumbles, ke dia belajar the new power, ke ketemu musuh, and so on, they just keep going. Like, pacenya nonstop. Actually dari saat Strange mulai belajar sampai dia udah bisa ngejailin si penjaga perpus dengan his portal ability, kejadiannya hampir seperti instan sehingga seolah ada satu sekuen yang hilang. Namun dengan konteks karakternya yang pinter, sedikit ‘jump’ ini bisa termaafkan dengan gampang.

Karakter-karakter dalam film Doctor Strange dibuat semenyenangkan mungkin. Semua tokoh yang dapet jatah dialog bakal menyumbangkan seenggaknya satu momen yang membuat kita tertawa. They do funny things yang bisa kita relasikan dengan kelakuan kita sehari-hari. Walau tentang magis, namun dunia film ini right-at-the moment banget. Makanya konflik yang dihadapi karakternya kerasa. Film ini udah mengeset tonenya sejak sepuluh menit pertama dari adegan operasi pasien yang dilakukan Strange dengan santai, sambil nyanyi, dan sempet-sempetnya ngeledekin sejawat yang kurang kompeten. Kadang tone ringannya ini bekerja baik, dalam artian it helps the storytelling. Bantering antar mereka seringkali punya makna dalem di balik punchline mereka. Kadang terasa agak mengganggu nature drama yang dimiliki oleh ceritanya. Karena begitu nyentuh ke dalem dikit, film jadi kayak kehilangan momentum. Padahal enggak.

Penampilan para pemain, yang sebagian besar sudah punya nama, benar-benar mengenhance film berkat kualitas akting mereka. Personally aku suka banget sama Rachel McAdams di sini. Meski penampilannya paling sedikit, perannya pun enggak signifikan amat. Dia terlihat lepas sekali, reaksinya genuinely bikin ngikik. Lihat deh, cara dia ngelirik jubahnya Strange waktu mereka di rumah sakit haha.. Belakangan kita ngeliat Regina Geo…eh sori, Rachel McAdams di peran serius melulu, it is a nice change bisa melihat kembali sedikit sisi komik darinya.

Beberapa karakter suffers, tho, lantaran film ini pun tak lepas dari masalah ‘klasik’ film-film yang diniatkan sebagai bagian dari some bigger picture. Doctor Strange ini kayak semacam episode perkenalan, membahas asal muasal ‘kelahiran’ tokoh superhero berkekuatan magis yang bakal berperan di franchise Marvel berikutnya. Ini membuat arc beberapa karakter harus ditahan-tahan buat membangun ‘episode’ film berikutnya. Mordo yang dimainkan oleh Chiwetel Ejiofor, misalnya, his arc sesungguhnya menarik, kita liat gimana dia grows up dengan memegang teguh pandangannya sendiri yang berbeda, dan kita enggak benar-benar melihat his sight goes full-circle di film ini.
Dan Kaecilius pun sebenarnya punya sudut pandang yang cukup compelling yang membuat statusnya bisa kita anggap sebagai penjahat utama. Hanya saja, dia malah terlihat sebagai sub-boss dalam sebuah ‘episode’ yang enggak really have an actual boss yang harus dikalahkan. Mungkin ini bagian dari gimana film ingin memberikan warna baru kepada genre superhero, di mana setiap film enggak harus diakhiri dengan musuh gede yang meledak, akan tetapi justru semakin memperkuat kesan film ini bisa menjadi lebih baik lagi jika bukan film superhero.

 

 

 

It has characters, it has great direction, it has plenty comedic remarks, action yang kreatif, efek visual yang menakjubkan dan belum-pernah-kita-lihat dimainkan dengan semassive itu. Untuk sekali ini, anehnya, genre superhero terlihat menjadi beban dari storytelling. Formula konvensional membuat elemen-elemen cerita menjadi kisruh sehingga bagian tengahnya malah menjemukan. It’s either karena personal drama yang kuat nyaris psikologikal just enggak begitu klop dengan aksi superhero dengan pace cepetnya atau memang genre ini sendiri yang sudah jadi so beaten up at this moment.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for DOCTOR STRANGE

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements