Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Everyone has three lives: a public life, a private life, and a secret life.”

 

mr-church-movie-poster

 

Eddie Murphy probably adalah salah satu dari performer paling berbakat yang masih hidup sekarang ini. Sudah bertahun-tahun dia membuktikan dirinya mampu memainkan peran dengan genuinely kocak. Sayangnya Murphy kerap membuat pilihan buruk kalo udah menyangkut soal film. You know, Dr. Dolittle (1998), The Haunted Mansion (2003), and – yea it’s getting worse – Norbit (2007). Murphy lantas pernah mengeluarkan pernyataan bahwa dia enggak mau lagi main di komedi-komedi ‘mengerikan’ seperti yang disebutkan barusan. Dia mau fokus membuat film yang lebih baik. Eddie Murphy pun akhirnya mutusin absen dari dunia perfilman empat tahun lamanya. So yea, kupikir kita semua udah gak sabar dan excited banget untuk melihat apa sih yang bisa ia lakukan di film drama tentang KISAH NYATA SEBUAH PERSAHABATAN beda usia dan beda ras ini?

Enggak pake lama, enggak pake sugarcoating, without a doubt, Eddie Murphy adalah bagian terbaik dari film Mr. Church. Perannya di sini adalah sebagai seorang pria yang lembut, dia sangat menahan-nahan ketegasan yang ia punya, dan Murphy memainkannya dengan sangat fantastis. Dari performanya sebagai tokoh yang sangat subdued begini, Murphy mampu berbicara banyak tanpa benar-benar banyak bicara. Mr. Church adalah karakter yang menyimpan banyak rahasia. Sebagian besar suspens drama ini dibangun dari kita enggak pernah betul-betul tahu apa yang sesungguhnya ia lakukan di luar frame kamera. Kita akan melihat Mr. Church berjalan melintas malam namun kita enggak seratus persen tahu siapa dan apa yang dia lakukan di balik kerjaannya sebagai tukang masak (yang sangat handal) di rumah keluarga Brooks.

nonton ini dapat mengakibatkan perut keroncongan

nonton ini dapat mengakibatkan perut keroncongan

 

Kalo kalian punya teori tokoh utama sebuah film bisa dilihat dari judul filmnya, maka Mr. Church akan jadi salah satu film yang akan membuktikan teori kalian itu salah. Kita hanya melihat sosok Mr. Church dari sudut pandang gadis kecil bernama Charlotte Brooks, yang ketika sudah gede tumbuh menjadi Britt Robertson. Hehe.

Charlie, nama panggilannya, dulu tidak mengerti kenapa pagi itu dia terbangun dengan mendapati pria berkulit hitam sedang memasak di dapurnya, membuatkan sarapan (yang enak banget!) untuk Charlie dan ibunya. Akan lama bagi Charlie untuk mengetahui bahwa ibunya menderita kanker payudara ganas dan Mr. Church telah menyetujui bekerja untuk keluarga mereka, sebagai orang bayaran dari pria yang secara teknis adalah ayah dari Charlie. Kontrak kerja Mr. Church hanyalah enam bulan, sesuai dengan sisa usia ibu Charlie menurut perkiraan dokter. Tapi sang ibu berjuang keras setiap hari sehingga Mr. Church terus memasak di dapur keluarga itu hingga Charlie lulus SMA. Charlie practically grows up with him. Dan dari yang awalnya enggak suka (Charlie kecil malah enggak mau mengakui kalo ia suka sama masakan Mr. Church), eventually dia menjadi bersahabat baik dengan pria ini. Film ini adalah tentang Charlie yang mengisahkan jalinan persahabatan yang udah seperti keluarga, gimana mereka saling mengubah hidup masing-masing.

Kita semua akan terpesona melihat friendship yang digambarkan oleh film ini. It’s just a REALLY SWEET FRIENDSHIP. Dan teman Charlie bukan hanya Mr. Church seorang. Kita juga akan melihatnya membangun persahabatan-persahabatan indah dengan teman sekolah dan orang di lingkungan rumahnya. Film ini akan gampang disukai oleh banyak orang berkat gambarannya mengenai hubungan sosial yang sangat manusiawi.

“Henry Joseph Church bisa menjadi apa saja yang ia mau. Dia memilih untuk masak. Rahasianya, ia berkata, adalah Jazz.” Mr. Church punya banyak rahasia, baik di resep limunnya maupun di dalam hidup. Rahasianya membuktikan kemandirian. Film ini terus menekankan pentingnya untuk membiarkan kehidupan rahasianya enggak bercampur dengan kehidupan public ataupun kehidupan pribadi. Perlunya untuk menegaskan garis di antara ketiganya. Film ini meminta kita untuk saling menghormati privasi; enggak semua yang terjadi di kehidupan orang lain perlu untuk kita ketahui, enggak peduli seberapa dekat hubungan kita dengannya.

 

Inti drama dan penampilan para pemain jelas bukan jadi masalah dalam film ini. Inti dramanya kuat dan dibeking oleh penampilan yang excellent. Britt Robertson adalah hal terbaik kedua yang dimiliki oleh film ini. Sekali lagi dia nunjukin kepiawaian menjadi karakter yang sungguh genuine. Aku selalu jatuh cinta sama tawa-tawa kecilnya yang ngekhas itu, her reaction was so natural; enggak dibuat-buat. Saking alaminya, kita juga enggak bakal susah melihat persona bratty menguar dari Britt sebagai daughter yang sempet-sempetnya kind of antagonizing sang ibu menjelang kepergiannya. Charlotte kecil juga meyakinkan sekali memainkan tokoh yang gengsi bilang suka dan nyaman oleh kehadiran Mr. Church di rumahnya.

pas udah gede tahilalat di pipi Charlotte ilang loh hhihi

pas udah gede tahilalat di pipi Charlotte ilang loh hhihi

 

Sayangnya, film ini runtuh karena penceritaan yang enggak bisa mengimbangin penampilan para pemain. Naskah film ini PENUH OLEH NARASI. Bukan bermaksud untuk bilang narasi itu buruk ataupun bikin sebuah film menjadi males dan gampang, sih. Ada banyak film hebat yang memakai narasi sebagai penunjang bercerita, American Beauty (1999) atau The Shawshank Redemption (1994), contohnya. If it works, it works. Dalam film ini, however, narasinya membuat kita kehilangan sense of discovery. Setiap kali seorang tokoh menyembunyikan emosinya in some way, film ini tidak mengerti gimana cara untuk membiarkan kita penonton untuk merasakan apa yang sedang terjadi. Ketika di layar kita melihat ekspresi Charlotte atau Mr. Church yang membuat kita ingin memahami apa yang ada di dalam pikiran mereka, maka narasi akan serta merta muncul menjelaskan kepada kita exactly apa yang sedang mereka rasakan. Sehingga kita tidak menemukan perasaan bersama si karakter.

Pun bahasa narasinya terdengar berbeda dari gaya penceritaan dalam naskah film pada umumnya. Maksudku, mendengar kalimat-kalimat tersebut diucapkan rasanya persis kayak jika kita mendengarkan seseorang membacakan paragraf yang tertulis dalam sebuah novel. You know, kayak kita lagi dengerin audio book. Kalo ada subtitle, pastilah menonton film ini akan terasa seperti membaca buku dengan gambar yang bergerak.

 

Misalnya nih, adegan saat Charlotte hendak masuk ke kamar ibunya. Narasi yang ada doesn’t necessarily feels like a movie script, kita melihat adegannya, kita juga akan dengar suara Charlotte bilang, “Setiap kali aku masuk ke kamar itu, aku menahan napas. Hanya supaya aku bisa mendengar napas ibu.”

Ngerti kan?

Kalo dalam film yang merupakan media audio visual, biasanya adegan tersebut akan digambarkan begini: Charlotte membuka pintu kamar, kita melihatnya menahan napas, kamera ngezoom wajah ibu, kita mendengar tarikan napasnya-melihat dadanya turun naik, kamera ngezoom wajah lega Charlotte. Gitu doang, kita yang nyimpulin sendiri kenapa Charlotte berdiri dulu di pintu, tanpa perlu ada suara yang menceritakan dengan indah apa yang sedang terjadi di layar.

 

Menurutku Mr. Church akan sangat indah sebagai sebuah novel, akan tetapi cara bercerita yang sama tidak tepat diwujudkan mentah-mentah sebagai media film. Strukturnya juga lebih mirip struktur cerita buku daripada sekuen-sekuen teatrikal ala sinema. Penulisannya tidak menyisakan ruang untuk kejutan-kejutan kecil yang diharapkan mampu mengombang-ambing perasaan kita. Alih-alih, segalanya jadi kerasa familiar dan gampang-ditebak. Film ini memanfaatkan narasinya untuk menjadi melodramatis. Toh memang sukses bikin terenyuh, banyak adegan yang sangat emosional. It was really sappy at times. Hanya saja teknik berceritanya ini justru bikin keseruluhan film terasa emotionally manipulative.

 

 
Terselamatkan oleh penampilan top-notch dari para pemainnya. Eddie Murphy is indeed memberikan salah satu performa terbaik dari seluruh karirnya, Britt Robertson juga. It was one of her better performances sebagai tokoh utama. Hubungan manis persahabatan dan kekeluargaan yang terjalin di antara keduanya sukses tergambarkan dengan penuh hati. Ini adalah film hangat yang mudah merasuk ke dalam emosi penonton. Ah, jika saja gaya bercerita film ini bisa digarap dengan lebih ‘sebagai film’. Tutur kata film ini lebih kerasa cocok sebagai novel. Tidak ada sense of discovery, tidak ada perasaan yang bisa ditemukan, karena layar terus menghidangkan sajian lengkap; gambar yang memvisualisasikan dan narasi yang menjelaskan semuanya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for MR. CHURCH.

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements