Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Do not pity the dead, pity the living.”

 

ouija-origin-of-evil-4

 

Jadi, kenapa pula kita harus nonton Ouija: Origin of Evil jika faktanya; Ouija adalah film horor terburuk di tahun 2014? – hey, malahan film tersebut adalah salah satu film terburuk tahun itu, titik.

Ternyata, Ouija: Origin of Evil genuinely adalah salah satu SEKUEL HOROR TERBAIK (or prequel, sesuai timeline kisahnya) yang pernah dibuat di tahun 2016 ini!

Beneran, aku sendiri juga kaget. Bukan kaget karena jump scare loh, kaget karena sungguh-sungguh di luar perkiraan. Sebuah film males tentang papan bego pemanggil hantu, ha! Honestly, aku ngelirik film ini karena wajah Annalise Basso mejeng serem di poster. Hanya dua film aktris muda ini yang pernah aku tonton sebelumnya; Captain Fantastic (2016) dan Oculus (2014), dan pada keduanya penampilan Basso sangat fantastis meski bukan pemain utama. I’m glad to see her in much dominant role. Kemudian aku baca film ini disutradarai oleh Mike Flanagan, yang juga berada di balik film Oculus – actually adalah horor yang sangat underrated. And Flanagan juga menyutradarai dua film yang aku suka di tahun 2016 ini; thriller Hush dan drama fantasy kelam Before I Wake. So aku ikhlas ngasih kesempatan buat film ini dan berpikir, mungkin…mungkin saja Ouija: Origin of Evil enggak bakal parah-parah amat.

Fakta kedua adalah aku keluar dari studio dengan sangat puas dan gembira. Film ini bagus banget and it’s not just because first installmentnya begitu jelek. Film ini meniupkan udara segar kepada dunia perhororan, you know, sama seperti karya-karya Mike Flanagan lain yang bener-bener berlawanan dengan selera mainstream.

 

Ini adalah film yang LEBIH MENYOROT KARAKTER KETIMBANG ADEGAN-ADEGAN NGAGETIN. Sebagian besar waktu akan digunakan oleh film untuk menyiapkan tokoh-tokohnya sebagai orang yang real dan compelling. Kita akan jadi beneran peduli terhadap nasib keluarga Annalise Basso; di sini ia jadi Lina Zander versi muda. Ceritanya adalah tentang keluarga Zander yang punya usaha manggil-manggil arwah gitu. Tetapi mereka pada dasarnya nipu orang, they earn money dengan membuat klien merasa sedang berkomunikasi dengan arwah kerabat yang sudah meninggal. Kata ibunya Lina, yang mereka lakukan adalah membantu orang-orang tersebut mendapatkan closure, mendapatkan ketentraman hati. Lina sendiri enggak bisa punya banyak opini atas kerjaan mereka karena gimana lagi cara keluarga ini dapat duit, ayah mereka sudah meninggal. Adik Lina, Doris, yang kena getahnya. Di sekolah Doris di-bully. Dia bahkan belum mengerti betul soal kematian ayahnya. Dan begitu ibu membawa properti baru ke rumah, Doris ‘bereksperimen’ sedikit dengan papan Ouija tersebut, mengakibatkan dirinya berinteraksi oleh makhluk-makhluk halus, then things go crazy from there.

 rambutnya lucuuuu kayak Selphie di video game Final Fantasy VIII

rambutnya lucuuuu kayak Selphie di video game Final Fantasy VIII

 

Penampilan para pemain semuanya t-o-p-b-g-t. Annalise Basso sekali lagi gemilang dan fantastis. Karakternya kali ini lumayan kompleks, dia bakal go through somekind of rebelling teenager ke sesuatu yang lebih ‘gila’. Elizabeth Reaser yang jadi ibu juga bermain menakjubkan sebagai orang yang menyaksikan semua kejadian mengerikan yang terjadi di dalam keluarga mereka. Kita bisa merasakan dilema tumbuh di dalam dirinya, like, dia tahu betul trik-trik ‘komunikasi dengan arwah’, dia familiar dengan mekanisme alat-alat rakitan tersebut. Kemudian di depan mata sendiri ia melihat putri kecilnya bisa beneran komunikasi dengan orang mati; bayangkan saja kecamuknya antara apakah putrinya balik nipu dia atau jika memang nyata, should they keep going meski putrinya makin lama menjadi semakin aneh?

Bicara soal anak yang aneh, brrrrr.. Lulu Wilson yang jadi Doris amatlah sangat creepy! She really sold it sebagai anak kecil yang dipengaruhi langsung oleh kejadian-kejadian serem seputar papan jelangkung tersebut. Peran yang tricky loh ini sebenarnya; anak kecil yang kerap melontarkan kata-kata yang naturally lucu, polos, dan innocent, hanya saja mendengar setiap kata yang adek ini tuturkan akan membuat kita merinding. Aku pasti udah tunggang langgang kalo ditodong anak kecil dengan pertanyaan “ka, tau gak rasanya dicekik?” Ngeri!! Tentu saja arahan keren dari Mike Flanagan yang berhasil membangun creepiness dari tokoh ini, dan kengerian tersebut, in turn, terdeliver sempurna berkat penampilan pemain lain yang played off this little girl very well. Jadi jangan kaget kalo nanti Doris muncul di mimpi buruk kita semua yang udah nonton!!

Ketika kita kehilangan seseorang yang begitu dicinta, akan terasa seolah ada lobang di hati, bekas tempat mereka. Mencoba berbicara dengan loved ones yang sudah meninggal adalah salah satu usaha kita untuk menutup lubang tersebut. Sometimes kita butuh closure. Kita berdalih khawatir sama mereka, apakah mereka tenang di alam sana. Kita bilang kasian. Banyak orang berkubang dalam duka tanpa menyadari sesungguhnya yang lebih patut dikasihani adalah orang yang hidup, terutama yang ditinggal hidup tanpa cinta.

 

Alih-alih membombardir kita dengan penampakan serem saat kejadian betul-betul menjadi gila di babak ketiga, Flanagan memutuskan untuk memusatkan kengerian ke dalam reaksi emosi dari para tokoh tersebut. Dan karena kita sudah sangat invested secara emosional ke dalam perasaan tokoh-tokohnya, kengerian yang kita rasakan semakin berlipat ganda. Backstory eventually diungkap, ada kedalaman emosi di baliknya. Ketika sekuens itu tiba, kita udah benar-benar kesurupan oleh drama dan cerita film ini. Bahkan kita juga mencemaskan tokoh pastor/kepala sekolah yang diperankan Henry Thomas ataupun tokoh pacarnya si Lina, meski sedari awal kita aware peran mereka buat nambah-nambahin korban belaka. Film ini menggeliat dari berbagai klise dan mencoba meletakkan kita di tengah, di mana kadang hantunya tampak sebagai korban bully sama seperti Doris. Yang mengindikasi the real evil belum menunjukkan wujudnya (probably setting up for another sequel)

Dengan sangat pintar film ini terus membangun tensi. Film ini paham bahwa perlu bagi sebuah film horor untuk terus membuat penonton merasa tercekam, tanpa sekalipun bernapas lega, dan kemudian di akhir barulah semua perasaan takut-ngeri-segala macem tersebut dilepaskan. Hal ini bisa dicapai berkat penggunaan jump scare yang teramat minim. SUASANA HENING ACTUALLY MENDOMINASI film. Mike Flanagan tidak menggunakan musik bombastis yang menemani kemunculan hantu ataupun hal-hal mengerikan. Ketika film ingin memperlihatkan sesuatu yang menakutkan, the movie was simply show it there on the screen. Kita tidak dipaksa takut oleh musik ngagetin. Flanagan chooses to cut to something horrifying and just place it on the screen with dead silence. Sehingga setiap kali kita melihat yang ngeri-ngeri, kita akan bereaksi natural. Kita takut, kita merinding, perasaan itu benar-benar nyata. Dan tensi itu akan terus menumpuk karena enggak ada jump scare yang mana sesudahnya akan membuat kita bernapas lega. Film ini tidak membiarkan kita dengan mudahnya merasa lega, and that is a very clever filmmaking.

 

Bukan hanya dalam penuturan dan akting, dalam editing dan visual pun Mike Flanagan melakukan arahan yang keren. Latar waktu cerita ini adalah di tahun 1967. Film ini dibuat sukses tampil seolah betul diproduksi tahun 60an. Flanagan takes time untuk menyiapkan detil-detil yang membuat kita merasa sedang menyaksikan film jadul. Kostumnya, tata rambutnya, mobil-mobilnya. Oke itu hal-hal yang sudah biasa harus dilakukan oleh sebuah period piece yang baik. Hal luar biasa yang dilakukan film ini adalah FEEL RETRO juga menguar dari design filmmakingnya. Kita akan melihat logo klasik Universal, yang bikin orangtua kita bakal bernostalgia nonton bioskop jaman mereka masih muda. Format dan font opening titlenya, lengkap dengan nomor berangka romawi, something yang we used to see di film-film jadul. Dan yang paling cool adalah – mungkin enggak wah sih, bagi beberapa penonton – film ini sampe pake Cigarette Burns segala! Kalian tahu, itu loh, lingkaran hitam kecil di sudut atas layar (yang pernah nonton Fight Club pasti tahu ini) yang biasanya ada pada film-film lama yang diputar pake proyektor sebagai tanda penggantian reel. Nah, film ini precise dan niat banget terlihat klasik sehingga hal-hal sepele kayak gitu juga sengaja dimasukkan.

she likes my Vespyr sketch on instagram! *pamer*

she likes my Vespyr sketch on instagram! *seneeng*

 

Kendati segala arahan dan clever filmmaking tersebut, toh struggle film ini masih kerasa. ADA SAAT-SAAT KETIKA FILM INI MENGKHIANATI ARAHANNYA SENDIRI. Seperti penggunaan CGI ketika di tengah film, yang enggak cocok banget sama kesan film klasik yang berusaha ditonjolkan. It takes us away dari momen 60an. Atau juga seperti penggunaan beberapa jump scare yang berusaha disamarkan jadi adegan ringan. Film ini kayak bergulat dengan tuntutan untuk terlihat menarik bagi penonton mainstream, mengingat sedari awal ia diniatkan sebagai franchise mainstream. Beberapa elemen mesti dimasukkan sebagai bentuk kesetiaan terhadap pendahulunya, meski elemen tersebut enggak koheren-koheren amat sama inner story yang ingin disampaikan. Tetapi dari presentasi yang begini saja aku sudah sangat terpuaskan, film horor bagus menurutku ya harus seperti ini. Coba bayangkan gimana jadinya kalo film ini bener-bener full force tampil sebagai produk yang total idealis, or even just as a stand-alone movie!

 

Aku: “Mbak, tiket ‘wii-ji’nya satu, ya”
Mbak Karcis 1: “Ha?.. film yang mana?”
Aku: “wii-ji” (nunjuk judul pada layar di meja)
Mbak Karcis 1: “Ooooo ‘owi-ja’!”
Aku: “Iya, wii-ji”
Mbak Karcis 1: “Mau owi-ja yang jam berapa?”
Mbak Karcis 2: “O-I-YA, kali bacanya”

This movie is evil!!

 

 
Bekerja dalam pakem dunia yang sudah ada sebelumnya, Mike Flanagan memberikan usaha terbaiknya untuk memberikan angin segar kepada film ini. Teknik filmmaking yang niat banget, arahan yang keren dan very-well berhasil membuat film punya kedalaman sekaligus jadi sebuah pengalaman menyenangkan untuk diikuti. Fokus terutama adalah kepada karakter, yang diperankan dengan sangat baik, menghasilkan banyak emosi yang menuntun penonton masuk ke dalam suasana yang mengerikan. Alih-alih mengandalkan suara keras untuk menjual rasa takut, film ini memanfaatkan excellent sound design dan editing yang sangat precise, membiarkan penonton merasakan takut secara alami oleh sesuatu yang muncul dengan mendadak. Film ini mencapai banyak menembus kotak usang tempatnya bersemayam. This is one of the best horror sequel yang pernah dibuat. Enggak perlu deh bantuan arwah untuk membuat pilihan menonton film ini bergeser ke ‘YES’.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for OUIJA: ORIGIN OF EVIL

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements