Tags

, , , , , , , , , , , ,

“The only thing certain in life is uncertainty”

 

terpana-poster

 

 

Visual teramat cantik, penuh oleh percakapan-percakapan bikin mumet seputar probabilitas, Terpana adalah drama romansa membingungkan yang tidak sama seperti yang lain. That is as much as one could say about karya terbaru Richard Oh ini jika melihatnya secara objektif. Kerja terbaik film ini justru adalah kemampuannya MENGGUGAH SISI PERSONAL terdalem, atau malah ketakutan terbesar kita. Karena sebagai manusia kita pun tentunya, in some degrees, pernah mempertanyakan tentang keberadaan dan alasan di balik semua hal yang terjadi di sekitar kita.

How we perceive thing?
-Apakah kebetulan itu ada?
-Haruskah semua kejadian punya makna dan purpose di baliknya?
-Kalo begitu, bisakah semua yang terjadi di dunia – termasuk cinta – dijelaskan dengan teori kuantum, fisika, ataupun ilmu-ilmu scientific lainnya?

Terpana, dalam kapasitas berceritanya yang filosofis, berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi dan ultimately tentang hubungan antarmanusia. Engaging its audience ke dalam komunikasi verbal dan visual sehingga yang nonton pun bakal menemukan diri mereka ngobrol bareng tokoh film ini di dalam kepala masing-masing.

ada berapa besar angka kemungkinannya kita ketemu Raline Shah di pinggir jalan?

berapa besar angka kemungkinannya kita ketemu Raline Shah di pinggir jalan?

 

Rafian percaya bahwa keberadaan Ada yang telah membuat dirinya terpana, menyelamatkan nyawanya. As in, kalo dia enggak bengong di tengah jalan itu, pastilah tubuh tegapnya sudah melayang helpless ditabrak truk yang melaju 70 km/jam. Kurang lebih kayak saying yang bilang kalo kita ngelempar benih, maka bukan tidak mungkin beberapa tahun kemudian ada orang kehujanan yang berteduh di bawah pohon yang tumbuh dari benih tersebut, thus kita kind of menyelamatkan mereka. Rafian berargumen pertemuan mereka – Ada memilih duduk di meja luar kafe tersebut – is somewhat have bigger purpose karena ada banyak faktor-faktor yang bekerja pada momen nyaris-kecelakaan itu terjadi, yang membuat ia sekarang berdiri di tepat di hadapan Ada. “Jumlah semua probabilitas sama dengan satu”, katanya selalu. Sebaliknya, Ada percaya not everything is by design, “You’re just lucky,” ujarnya sambil senyum. Maka mereka pun saling beragumen passionately, menjelaskan teori masing-masing. Rafian terus ngintilin Ada ke mana cewek cantik itu pergi, di mana bincang-bincang ‘I can’t believe you don’t see that vs. skeptism’ mereka terus berlanjut.

HUBUNGAN RAFIAN DAN ADA SESUNGGUHNYA SWEET BANGET. I mean, dia ketemu stranger dan actually bisa nyaman ngobrol panjang dan mendalam mengenai hal absurd kayak gitu, like, I want to have the chance to feel that way. Enggak setiap hari kita bisa ketemu orang yang ‘nyambung’ kayak gitu. Tentulah hari kita bertemu orang seperti demikian akan jadi hari paling bersejarah dalam hidup kita. Enggak perlu hampir mati ditabrak dulu deh buat kita bisa mengapresiasi pertemuan tersebut. Bukankah bisa berbagi isi pikiran, bertukar ide, adalah hal yang utama dari suatu connection? Film ini bahkan ngepush hubungan mereka lebih ‘intim’ lagi dengan perasaan yang amat surreal kala kita diperlihatkan Rafian dan Ada enggak perlu buka mulut untuk saling berkomunikasi. They just keep on talking and talking and talking meski enggak berada di jalanan yang sama. It’s like, mereka sudah begitu sinkronnya, keberadaan mereka saling terikat satu sama lain no matter what. Jadi yea film ini sukses bikin aku longing for what they have.

Si Ada percaya bahwa terkadang sesuatu tidak butuh penjelasan. That sometimes everything is just happen. Dan kemudian datanglah “Why”. Ada dengan kepercayaannya akan kebetulan tersebut terang saja merasa uncomfortable begitu dikonfrontasi oleh si Pria Kenapa lantaran she just can’t give a reason. Eventually, pria yang terus bertanya kenapa itu kerap muncul sebagai ‘antagonis’ dari pandangan kedua tokoh utama. This is where the movie gets a little bit creepier for me; aku termasuk orang yang akan terus menuntut ‘kenapa’. Karena aku percaya semua orang deserved to know alasan di balik sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. So if a friend, apalagi the important ones, suddenly don’t talk anymore, I will pursue them for a ‘why’. Aku ingin tahu salah di mana, sehingga aku bisa memperbaiki diri. Tapi dari film ini aku jadi ngerti beberapa orang just enggak nyaman dengan itu simply karena mereka enggak punya jawabnya. And sometimes people need a space more than a reason.

bikin baper juga sih, film ini..

bikin baper juga sih, film ini..

 

Bagian cerita paling menarik adalah saat Rafian dan Ada setuju untuk berpisah jalan di persimpangan demi membuktikan siapa yang lebih benar. Aku mengira film ini akan ‘tega’ dengan membuat kedua tokoh enggak akan pernah bertemu lagi sampai film selesai. Tapi enggak, karena film ini punya pandangan yang actually lebih ‘wah’ lagi. Di jalan pilihannya, Ada sengaja balik arah, ia ingin dikejar oleh Rafian. She tries to neglect her belief, but she was right; Dia enggak bisa ‘memaksa’ something to happen. Sementara, Rafian terus berjalan karena dia percaya mereka berdua akan pasti akan bertemu lagi. Rafian, too, pada akhirnya was proven to be right. Namun bukan berarti semua berakhir karena sekarang mereka butuh mencari middle ground. Percakapan-percakapan film ini pun akan berkembang menjadi semakin kompleks. Apakah cinta jawabannya? Atau apakah semua kemungkinan itu bergantung kepada apa yang actually mereka pilih?

Biasanya kalo kita bikin janji atau acara, semakin direncanain maka kemungkinan batalnya akan makin gede, atau paling enggak acaranya enggak sesuai apa yang udah direncanakan. Justru yang enggak direncanainlah yang sukses. Ada dan Rafian juga sempet ‘galau’ lantaran setelah mereka niat pisah dan eventually pengen ketemu lagi, mereka tak kunjung bertemu. There’s this fear they won’t see each other ever again. I know that feeling when you want to meet someone real bad, kurasa kita semua tahu rasanya. Kita udah usahain yang kita bisa but everything seems out of control. Ujanlah, sibuklah, tugas mendadaklah. Pertanyaannya adalah; Apakah itu karena takdir yang melarang atau is it just life yang ingin menguji seberapa gede keinginan kita, menguji pilihan apa yang akan kita buat? Jawabnya kita enggak akan pernah tahu pasti karena satu-satunya yang pasti di dunia dengan konsekuensi begitu beragam ini adalah ketidakpastian.

 

 

Sebuah film biasanya akan menghindari incident yang berbau kebetulan. Terpana, on the other hand, mengambil ‘kebetulan’ sebagai salah satu topik elemen bahasan so kejadian-kejadian yang jadi poin narasinya juga ya karena kebetulan. Dan itulah yang bikin film ini jadi unpredictable. Banyak ‘kebetulan’ umumnya bakal bikin any other films jadi “meh” but that is not the case on this film. Karena arahan film ini sangat on-point dan well-thought banget. Film ini tahu dia punya banyak yang ingin dibicarakan and acts really ballsy to actually say it all. Dengan lokasi yang berpindah-pindah dari pemandangan outdoor cantik ke museum indoor yang chilling, kita nggak pernah dibuat jelas akan apa yang terjadi. Tokoh-tokohnya diflesh out dikit dengan diberi backstory namun bisa dibilang mereka enggak punya karakter; mereka CONSIST OF IDEAS. Bantering ide-ide tersebut menjadi percakapan yang topiknya bakal terus berkembang, shaping up the whole movie. Jadi tulang punggung konflik, jadi plot poin, jadi ‘karakter’.

Bukan berarti penampilan para aktor jadi minimalis. Fachri Albar excellent jadi Rafian. Dia bisa jadi cowok yang gugup di depan cewek kece, dia bisa jadi cukup persistent, dia juga bisa jadi pemikir yang girang dan berpuas diri saat idenya terbukti. Raline Shah sebagai Ada awalnya just go around dengan, bukan tampak bête sih, cuma ekspresinya seringkali kayak bilang “is he bullshitting me?” tapi kemudian karakternya conveys more of this ‘kemisteriusan seorang wanita’ dan Raline did a very well job with that. Dialog ‘bermakna berat’ antara keduanya bisa terdeliver dengan mulus dan enggak bikin bosan berkat arahan yang bener-bener tahu ke mana labuh cerita ini.

Dan siapa sih karakternya Reza Rahadian?
Film ini juga menunjukkan gimana sebuah ide, meski itu berupa celetukan ‘liar’, bisa mempengaruhi orang. Baik Ada maupun Rafian jadi punya momen bersama Reza di dalam kepala mereka masing-masing meski mereka enggak tahu siapa pria ini sebenarnya. Hal itu terjadi karena Rafian berkelakar pertemuan mereka bisa saja dikendalikan oleh seseorang. Dalam kepala mereka, however, Reza adalah ‘tuhan’ yang tahu-segala yang membimbing pemahaman mereka, simpelnya ia adalah the voice of reasons that Rafian and Ada created inside of their heads. Dan sweetnya lagi, mereka tanpa sadar, menciptakan tokoh yang sama.

 

Dalam merekam visualnya, film ini tampak having so much fun. Ada satu adegan yang bikin aku tertawa, yaitu saat Rafian dan Ada jalan di pinggir jalan, di background ada tukang sampah bermotor yang ngeliatin mereka sampai lehernya literally muter (mungkin bapak itu terpana ngeliat Raline Shah hihi) Enggak tahu apakah itu intentional, as in, si bapak disuruh untuk lewat dan ngeliat mereka, atau apakah it just happened naturally and the film decided to keep it, yang jelas reaksinya sangat hilarious dan kinda work dengan cerita. Tapi ada juga yang editingnya agak over. Ada scene yang pakek efek grafis yang terlihat enggak mulus, dan diiringi sesudahnya dengan cut yang terasa terlalu abrupt.

Towards ke akhir banget, film memang terasa sedikit nge-drag. Setelah rangkaian adegan yang nunjukin Rafian dan Ada akan tetap bertemu di waktu dan kehidupan yang berbeda, yang membuktikan mereka ditakdirkan bersama, kita akan kembali melihat mereka dalam apa yang kelihatannya seperti their second meeting in their first life. Kita akan lanjut mendengar mereka bercakap-cakap, kali ini menyerempet soal keabadian adalah kehidupan dan kematian yang secara konsisten terus berulang. Ada indikasi loop dalam sebuah relationship, kita bahkan melihat Rafian sekali lagi ngintilin ke manapun Ada melangkah, but honestly I’m not really sure apa yang dibidik oleh ending ini.

 

 

 

Sebuah film harus bisa membuat penontonnya merasa menjadi manusia yang lebih baik sehabis menyaksikannya. Aku masuk studio dalam keadaan demam, dan 80menitan kemudian keluar dalam keadaan sembuh. I know I was feeling better because of this.

This is a very different level of filmmaking dari yang biasa disuguhkan oleh drama cinta film Indonesia. Film ini punya banyak yang ingin ia bicarakan, dialog yang jadi tubuh utama cerita disampaikan penuh ide sehingga memancing penonton untuk punya ide sendiri dan ikutan ‘ngobrol’. Ada sejumlah referensi mitologi yang koheren dengan tema cerita. Juga banyak istilah-istilah physics yang gamblang dan detil. But actually ini adalah kisah pertemuan dua anak manusia yang lead to something really sweet at heart. Mengatakan film ini bukan untuk semua orang, rasanya kok terlalu nuduh. Film ini bisa kok ditonton oleh semua orang, masalahnya adalah enggak semua orang mau memilih untuk ‘mendengar’ melewati the beautiful visual and the stunning audio.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for TERPANA

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements