Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Just because you have all these moral qualms and feel bad over stuff, that doesn’t make you a coward.”

 

hacksawridge-poster

 

Mungkin menjadi pribadi unik memang penting, namun kita enggak akan pernah bisa seunik dan sekeren Desmond Doss. Beneran deh, dibandingkan dengan yang dilakukan prajurit perang itu, sikapku yang menolak nonton sepakbola enggak ada apa-apanya. Desmond Doss ingin mengabdi kepada negaranya, menjadi tentara, turun ke medan perang, tapi dia dengan tegas bilang tidak mau mengangkat senjata. No matter what. Doss ingin berada di sana bukan untuk mengambil nyawa. Ia ingin menjadi petugas medis supaya bisa menyelamatkan orang-orang sebanyak yang dirinya mampu. Dan tidak ada satu hal pun yang sanggup membelokkan Doss dari niat mulianya tersebut.

Mau tau yang lebih keren daripada prinsip Desmond Doss? Fakta bahwa ini adalah KISAH NYATA. Perang Okinawa itu ada dalam sejarah Perang Dunia Kedua, it was really terrible – semua perang adalah hal yang sangat buruk, orang-orang berguguran – dan ada satu pria berdiri di sana mencoba untuk melakukan sesuatu demi kebaikan. Pria yang tubuhnya hanya segede batang jagung berlarian ke sana kemari, tanpa sepucuk pun senjata untuk melindungi dirinya sendiri, menyelinap di antara hujanan peluru, melesat di sekeliling ledakan granat, bolak-balik di medan pertempuran penuh jerit kesakitan yang memilukan, demi menyelamatkan manusia yang terluka. And he’s real; dia manusia biasa tanpa superpower yang benar-benar melakukan itu semua. Kalo hati kalian enggak terenyuh melihat adegan dia menggendong tubuh penuh luka dengan penuh tekad dan dedikasi, maka hati kalian pastilah ketinggalan di rumah.

Aku berjalan dalam hening keluar dari studio. Tenggelam dengan khidmat oleh imaji-imaji dan segala pikiran tentang karakter yang baru saja aku saksikan. Segitu hebatnya film ini! Hacksaw Ridge tidak meninggalkan satupun elemen emosi untouched saat menceritakan kisah hidup penyabet Medal of Honor tanpa menembakkan satu pun peluru ini, yang actually sangat menyentuh dan keren. Ini adalah kisah beneran tentang gimana hubungannya dengan keluarga, gimana ia bertemu dengan the love of his life. Ultimately, ini adalah cerita tentang perjuangan Desmond Doss meyakinkan seluruh dunia bahwa ogah memegang senjata bukan berarti dia adalah pengecut. Because, obviously, he was one of the bravest man that has ever resides on our planet Earth.

Cerita perang yang hebat selalu membahas mengenai dilema kemanusiaan dari hati nurani. Desmond Doss adalah seorang pria dengan keyakinan agama yang begitu kuat dan film ini menggambarkan pergulatannya dalam mempertahankan keyakinan dan kepercayaan tersebut. Namun tidak pernah sekalipun film ini mengatakan kita harus memiliki pandangan yang sama dengan Doss. Fokusnya adalah untuk memperlihatkan kepada kita keyakinan adalah sesuatu yang harus kita pertahankan, walaupun banyak tantangan. Kita lihat Doss dibully karena prinsipnya. Mempertahankan apa yang kita percaya actually is a hard thing to do.

 

Aku suka gimana film ini tidak begitu saja mencap Doss sebagai yang mutlak benar. Kita diberi kesempatan untuk bisa mengerti kenapa teman-teman angkatannya menganggap Doss sebagai pengecut; Karena prinsip Doss yang enggak mau mengangkat senapan untuk alasan apapun sudah menyinggung mereka, seolah Doss seoranglah yang punya nurani. Mereka menganggap menurut Doss tidak mengapa dunia menjadi neraka asalkan dia bisa menjaga moralnya, tetap sebagai orang suci. Konflik yang dihadirkan dalam film ini memang luar biasa. Juga bisa dibilang FILM INI BERPERANG MELAWAN DIRINYA SENDIRI. Kita punya protagonis yang menentang kekerasan, sebaliknya filmnya sendiri menghadirkan adegan-adegan perang yang mengerikan dan sangat brutal. Singkatnya, ADEGAN PERANG HACKSAW RIDGE SANGAT REALISTIS.

Hacksaw Ridge menggambarkan perang seperti sebuah film horor. Nyeremin banget. Kita belum lagi melihat sekuens pertempuran sedisturbing dan se-in-the-moment begini sejak Saving Private Ryan (1998). Visualnya berdarah dengan banyak potongan badan berceceran di sana sini. Dan mata-mata kosong para mayat itu.. hiii!! Enggak nahan-nahan deh pokoknya. Film ini goes all-out dalam ngereka adegan pertempurannya. Bakal bikin kita merinding. Ada salah satu yang paling menegangkan yaitu pas adegan Doss keluar dari lubang persembunyiannya lantaran keadaan sekitar begitu pekat oleh asap, namun kemudian asapnya mulai memudar dan dari kejauhan tampak tentara Jepang mulai bergerak, posisi Doss jadi terbuka di luar sana, kemudian seisi studioku ngeluarin suara tercekat karena pada ngeri Doss sampai ketahuan.

aku nyaris tutup muka loh

aku sampe tutup muka loh

 

Mel Gibson membuat kita merasa seolah sedang menonton film tahun 60an atau 70an (dengan peralatan modern dan teknologi mutakhir) berkat directingnya sehingga Hacksaw Ridge terasa begitu old-fashioned. Kalo mau dibandingkan, yaaah film ini sedikit lagi deh bisa melebihi karya paling epik dari Gibson; Braveheart (1995). You know, the way Gibson menggerakkan kamera, dia memungkinkan setiap adegan bercerita hanya dengan para aktor berekspresi dan menunjukkan emosi tanpa banyak berbicara. Gibson membiarkan emosi para pemainnya meresap ke dalam setiap frame.

Hebatnya, ARAHAN MEL GIBSON SUKSES MENGELUARKAN YANG TERBAIK DARI PARA PEMAIN. Andrew Garfield sebagai Desmond Doss memberikan penampilan terbaik sepanjang karirnya. Aku sendiri suka sekali dengan gimana dia berbicara, aksennya benar-benar worked here. Garfield sangat menakjubkan dalam adegan-adegan perang itu. Ketika Doss benar-benar sudah di medan perang, dia berada di tengah-tengah tumpah darah tersebut, dia begitu shock, dan kita bisa melihat ketakutan dia enggak bisa nyelametin semua merekah dari dalam hatinya. But even better, adalah relationship antara tokoh Andrew Garfield dengan tokoh Teresa Palmer. Palmer di sini meranin Dorothy, suster kece, dan penampilannya pun adalah salah satu yang terbaik sepanjang karirnya. Doss dan Dorothy ketemu pertama kali di rumah sakit dalam sebuah adegan awkward-kocak khas orang jatuh cinta, dan dari sana hubungan mereka menjelma menjadi sebuah relationship yang sangat charming. So sweet banget, deh!

Bahkan peran-peran yang minor juga dimainkan dengan teramat baik. Favorit semua orang jelas adalah Vince Vaughn yang jadi drill sergeant. Actually adegan mereka latihan mirip-mirip sama latihan di Full Metal Jacket (1987). Penuh bentak-bentak, Vince Vaughn gold banget di komedi one-liner kayak begini. Perannya enggak sebatas neriakin kata-kata hinaan kocak di depan muka para kadet. Dia punya banyak momen serius juga di sini, yang dimainkan dengan pretty good. Personally, penampilan pendukung favoritku di sini datang dari Hugo Weaving. This is one of the best performance on this entire film. Kalo biasanya kita melihat Hugo mainin karakter yang easily likeable kayak V di V for Vendetta (2006), he’s a lot of fun. Di film ini dia memberikan penampilan yang keras, penuh oleh emosi yang really powerful sebagai ayah Desmond. Bapak ini dealing with alcohol, beliau mantan pejuang Perang Dunia Pertama di mana teman-teman seperjuangannya gugur di medan perang. Makanya kita ngerasain sekali gimana bingungnya tokoh ini ketika kedua anaknya malah memutuskan untuk mendaftar sebagai prajurit. Kita merasakan khawatir di balik amarahnya, he was so great, penampilannya bakal nge-blown kita semua.

Karakter Doss ngingetin aku sama Cassie di Animorphs

Karakter Doss ngingetin aku sama Cassie di Animorphs

 

 

Seperti layaknya film-film yang diangkat dari tokoh nyata, kita bakal dikasih liat nasib para tokohnya lewat tulisan-tulisan yang menerangkan semua. Film ini begitu sukses bercerita dan bikin kita peduli, sehingga rasanya kurang aja kita enggak dikasih kesempatan ngerasain beberapa arc para tokoh secara on-screen. Contohnya abang si Doss, we don’t get to see what actually happened to him. Problemku cuma itu sih, film ini really affected me. It is a really strong storytelling.

 

 

 

“Tuhan, tolong kasih aku kesempatan menyelamatkan satu orang lagi” kalimat yang terus digaungkan oleh Doss di pertempuran. Dia bahkan menyelamatkan tentara musuh. This is a very cool story about a very cool personality yang memegang teguh dan mempertahankan prinsipnya. Dan Mel Gibson membuktikan sekali lagi kepiawaiannya di belakang kamera. Arahan yang sangat gritty, adegan perang yang tergambarkan sangat brutal dan realistis. Salah satu film terbaik tahun ini. Salah satu film perang terbaik yang pernah ada!
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for HACKSAW RIDGE

 

 

 

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements