Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Fear the day when a good heart gives up on you.”

 

ibumaafkanaku-poster

 

Ibu Maafkan Aku adalah film teruntuk kita semua karena each and every last one of us pernah nyaris, tinggal sedikit lagi, (really-this close!), menelantarkan kebutuhan paling mendasar ibu kita. Kapan terakhir kali kita nelpon ibu di kampung out of no reason? Adakah yang ngubungin Ibu di rumah on daily basis? Kalo lagi banyak masalah sih, pernah..

Gendis termenung di depan rumah masa kecil yang kini terlihat reyot dan miring. Ingatannya lantas terbang nun jauh ke saat-saat kedua orangtuanya masih ada. Masa-masa ketika cinta masih sehangat ubi rebus buatan Ibu. Kemudian Ayah meninggal, meninggalkan kekosongan besar yang dalam keluarga. Yang diisi oleh Banyu, begitu kakak Gendis ini memasuki usia SMA. Masalahnya adalah, Banyu sedikit terlalu berdeterminasi dalam tanggungjawabnya sebagai seorang ‘pilot’. Didikan Banyu kepada kedua adiknya lebih keras daripada ajaran Ayah. Gendis dilarang pacaran karena bisa mengganggu fokus mereka menjadi orang berhasil. Ibulah yang menjadi penengah setiap ribut-ribut antara kedua anaknya. Dan tanpa sepengetahuan mereka berdua, ibu melakukan banyak pengorbanan. Pilot dan dokter jelas bukanlah sekolah yang bisa dicapai dengan nabung dari kerjaan pemecah batu kali, thok. Dalam film ini kita akan melihat Gendis, Banyu, dan si bungsu Satrio, finally realized betapa sehebat apapun mereka sekarang tetap tidak bisa menggantikan segala cinta yang sudah Ibu berikan kepada mereka.

Anak belajar rajin, bekerja keras agar berhasil jadi orang dan bisa membahagiakan orangtua. Namun terkadang anak lupa bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan buat seorang ibu daripada mendengar suara dan bertatap muka dengan anak-anaknya.

 

Karakter-karakter dalam film ini terasa begitu grounded, kita dibikin bisa memahami keinginan, motivasi, dan cara pikir masing-masing mereka dengan gampang. Kita merasa kita mengerti mereka, kita merasa mereka adalah bagian dari keluarga kita. Film dengan karakter yang baik adalah film yang saat kita melihat tokohnya di awal dan membandingkan mereka dengan saat akhir film, tokoh tersebut sudah menjadi orang yang berbeda. Dan dalam film ini Gendis bukan hanya berubah dari anak cemerlang menjadi seorang dokter. Banyu enggak hanya berevolusi dari anak kecil yang girang liat pesawat ke pemain Jatilan kemudian menjadi seorang pilot beneran. There are a lot more changes on their inside yang bisa kita rasakan throughout.

Mau jadi pilot biar gak norak "minta duit-minta duit!!” sama pesawat yang lewat.

Mau jadi pilot biar gak norak “minta duit-minta duit!!” sama pesawat yang lewat.

 

Drama yang menyorot kepada tokoh-tokoh ini berhasil menjalankan fungsinya berkat PENAMPILAN AKTING YANG SANGAT BAIK, SECARA MERATA. Bahkan aktor-aktor ciliknya pun bermain dengan fairly acceptable, yah paling enggak mereka enggak annoying. Christine Hakim gives a really subdue performance yang sukses membuat kita khawatir setiap kali dia melayangkan senyum. Saking subdue-nya, terkadang ibu ini nampak keras kepala dan itu hanya membuat kita semakin mengkhawatirkan beliau lagi. Dan adegan saat Ibu melepaskan uneg-unegnya kepada Pak De, I think it was very heartwrenching. Selalu uneasy rasanya ngeliat ibu-ibu menangis; adegan yang satu ini sukses bikin aku feel bad sebagai seorang anak. Meriza Febriani dan Ade Firman Hakim juga berhasil menghidupkan momen-momen emosional karakter mereka. Meski begitu aku berharap film ini nunjukin lebih banyak Ibu, Gendis, Banyu, Satrio sebagai satu keluarga. Aku ingin melihat lebih banyak interaksi mereka, konflik antara mereka, karena berkat penampilan aktingnya kita semua sudah terinvest secara emosional.

I totally understand where Banyu come from. Sebagai anak laki-laki tertua, Banyu merasa teramat bertanggungjawab kepada keluarganya. Ya dia sedikit keras, but it was because menjadi pilot sudah menjadi penting baginya. Pilot sudah bukan lagi sekedar cita-cita. Banyu adalah pilot di rumah dan ia adalah pilot di atas udara. Nobody can take that away from him. Makanya begitu ada cowok yang bilang cinta kepada Gendis dan menawarkan diri untuk nganter-jemput sekolah, Banyu menjadi marah. Panji basically bilang dia bisa menggantikan Banyu sebagai ‘pilot’ buat Gendis.

Kenyataan bahwa Gendis justru mengantagoniskan Banyu is pretty messed up yang sangat menarik karena film ini ngasih hint pada apa yang terjadi jika kita salah mengerti sehingga membuat hati yang beneran peduli menjadi berhenti mempedulikan kita.

 

Bicara soal Panji, maaan, dia adalah karakter paling nyebelin dalam film ini. Sebenarnya enggak masalah apakah Gendis pacaran atau enggak, masalahnya adalah: Pacaran sama siapa? Panji ini, he was so full of himself. Sedari SMA omongannya sudah begitu tinggi soal cinta, dia begitu yakin Gendis dan dia diciptakan untuk bersama. He comes off too strong. Tapi dia nunjukin rasa cintanya dengan aneh yang justru nunjukin dia ga ngerti cinta. Never once dia membantu keluarga Gendis (or at least try). Kalo aku cinta sama adek orang, aku akan membantu benerin ban sepeda kakaknya yang bocor alih-alih ngacungin jari buat nganter adeknya pulang naik motor. Dan lagi, gimana mereka pacaran diam-diam bisa jadi cara supaya Gendis membikin ibunya bahagia? Seriously, semua kata-kata yang keluar dari mulut Panji saat SMA itu omong kosong gombal belaka, yang membuat relationship antara Gendis dan Panji terasa enggak ada manis-manisnya, malah annoying.
Towards the end orang ini muncul lagi, dan aku benar-benar ngakak. Nih Panji bener-bener, deh! Smug, persistent, so self-centered, apalah namanya WHAT IS THIS GUY? Jadi akhirnya dia dapat apa yang ia inginkan setelah sekian lama, mereka mengadakan pernikahan di sisi pembaringan Ibu yang sakit. Diniatkan sebagai ultimate tearjerker, sepertinya, tetapi enggak bekerja sebagaimana mestinya. Mungkin karena sudah terlalu banyak drama. Yang jelas, adegan nikah palsu buat mancing Raju sembuh di film komedi India 3 Idiots (2009) jauh lebih emosional dibandingkan dengan adegan nikah film ini.

Let me punch him in the face demi Banyu

Let me punch him in the face demi Banyu

 

 

Pak De bilang, Ibu kayak topeng: “mulutmu tertawa tetapi dalam hati terluka”. Poster film ini pun ‘menipu’ seperti begitu, liat saja betapa manis senyum para tokoh yang nampang di sana. Actually, ini adalah film DRAMA YANG BENAR-BENAR MENYEDIHKAN. ‘Ibu tertawa’ sebenarnya malah tersirat, hanya ada sedikit adegan beliau kelihatan baik-baik saja dibandingkan dengan apa yang berusaha terus diperlihatkan oleh film ini. Salah satu adegan yang terasa genuine adalah ketika Satrio mengaku dirinya enggak naik kelas dan Ibu enggak marah, malah mencoba menenangkan hati anak paling bontotnya itu. Selebihnya, well, film ini sungguh GLORIFYING KEADAAN SUSAH yang dialami keluarga miskin ini sejak Ayah meninggal dunia. Sedari awal aja kita melihat Gendis dewasa kecipratan becek dari anak-anak kecil yang sedang bermain. Adegan demi adegan dikontruksi dengan tujuan tali emosi di hati kita terus ditarik-tarik. Mereka pulang sekolah dengan gembira only to find orang kampung ngajiin mayat Ayah, ada bully di sekolah, kita melihat Ibu berlari dengan air mata berderai, you know, trope-trope drama sedih seperti demikianlah yang jadi andelan film ini.

Menit-menit awal padahal cukup lumayan. Aku suka opening saat Gendis melihat bayangan dirinya masih kecil bersepeda bareng Ayah. Aku mengira film ini bakalan memanfaatkan flashback sebagai cara bertutur yang unik, mungkin mereka bikin kayak Only Yesterday (1991) dari Studio Ghibli yang tokohnya actually berinteraksi dengan dirinya versi masa lalu. Namun, lebih gampang membuat drama dengan terus menggenjot yang sedih-sedih, dan memang ke sanalah arah film Ibu Maafkan Aku.

Aku enggak bilang sebuah film tidak boleh sedih banget ataupun film ini enggak cocok buat cowok apa gimana. When a drama is good and worked emotionally, it is good. Hanya saja film ini nyekokin yang sedih-sedih ke tenggorokan kita terus-terusan. Tone nya amat sangat depressing. IT GETS REALLY SAPPY. Pemandangan tebing-tebing batu, budaya lokal yang diwakilkan oleh Yogyakarta, digunakan sebagai alat untuk mengeskplorasi tragedi. Settingan waktu tergambar secara visual mengisyaratkan lamanya penderitaan dan pengorbanan sang Ibu. The movie keeps on pushing it, orchestrating even more dramas, sampai ke titik aku berhenti peduli. Saat di midpoint aja udah jelas arah film ini adalah ke kapan Gendis dan Banyu menyadari ‘kebutuhan’ Ibu mereka yang sebenarnya. Filmnya jadi terasa dipanjang-panjangkan. Like, I get it, please get it over with and stop trying to make me cry. Karena trik film ini udah enggak bekerja lagi.

Film ini pun mulai kehilangan pegangannya. It was supposed to be from Gendis’ perspective namun di paruh pertengahan, posisi kita melihat film ini bergeser ke tokoh lain. Dengan transisi yang enggak mulus pula. It was a very convoluted view. Enggak fokus. Bahkan sepertinya film ini lupa sama gimana mereka menceritakan film di awal. Ada perbedaan antara keeping things open dengan kelupaan menjelaskan, film sama sekali enggak membawa kita kembali menutup Gendis di awal cerita. Kenangannya berakhir begitu saja.

 

 

 

 

Ini adalah drama keluarga yang artifisial secara emosi namun true dan genuine secara karakter. Memancing air mata bukan perkara susah bagi film ini. Diceritakan lewat penampilan akting yang very good, meski fokus perspektifnya makin ke akhir semakin terasa convoluted. It’s right at the heart. Pesannya lugas, manis, menyadarkan akan besarnya jasa Ibu; yang bisa dibilang sebagai unsung hero di dalam setiap keluarga. Sebenarnya punya modal yang cukup untuk membuat penonton terinvest secara emosional. Sayang beribu sayang, arahannya yang biasa saja, cari aman, enggak memberikan keistimewaan apa-apa terhadap film.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for IBU MAAFKAN AKU.

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements