Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“The ones who love us never really leave us.”

 

kubo

 

In general, stop-motion kayak gini memang bikin kita kagum dan takjub. Namun Kubo and the Two Strings adalah animasi STOP-MOTION YANG BEGITU IMPRESIF. Directionnya keren banget – keliatan sekali kerja keras yg dilakukan oleh pembuatnya demi nyuguhin animasi yang aktif, glorious oleh banyak aksi-aksi yang cepet. Liat deh sampai kredit penutupnya. Akan ada sekilas tentang gimana tim film ini membuat adegan dengan model tengkorak raksasa yang bergerak.

Petualangan Kubo bersama si Monyet, si Kumbang, dan si Prajurit Kertas mencari tiga senjata legendaris untuk mengalahkan kekuatan jahat dari masa lalu akan bikin penonton cilik betah. Visualnya kreatif; setting Jepang jaman dahulu digunakan sebagai device budaya yang menambah kayanya kandungan cerita film ini. Adegan kelahinya seru, intens sekali sehingga membuat kita geregetan menonton. Karakter-karaternya entertaining dan felt real. Yang paling keren adalah si Monyet yang dihidupkan oleh suara Charlize Theron. Dia bertindak layaknya guru merangkap guardian buat si Kubo. Interaksi mereka berdua actually sangat kocak, ngingetin aku sama hubungan awal-awal antara Gohan dengan Piccolo di kartun Dragon Ball. Matthew McConaughey kebagian peran menyuarakan si Kumbang yang jago memanah yang supposedly mengemban tugas sebagai comic relief. Namun delivery lelucon one-linernya seringkali melenceng dari sasaran sehingga karakter pembantu yang satu ini tidak meninggalkan kesan sekuat si Monyet.

Si Kubo sendiri sangat relatable buat anak-anak seusia adekku, Devan, yang masih duduk kelas dua SD. Sebagaimana anak kecil, Kubo sangat playful. Dia juga merupakan suri tauladan yang baik. Kubo adalah anak yang mandiri. Dia mengurus ibu yang sakit, ibunya enggak function well as a human di siang hari. Kita akan menyaksikan gimana dia menggunakan kemampuan bermain gitar dan melipat kertasnya yang ajaib sebagai media untuk tampil bercerita di jalanan. Art Parkinson did so well menyulihkan tokoh Kubo. Ada sense melankolis yang berhasil ia keluarkan dari tokoh ini. Dari segi penulisan pun, Kubo adalah seorang tokoh utama yang benar-benar vulnerable. Ia kreatif dan penuh imajinasi, tapi tentu saja Kubo adalah bocah yang kesepian. Bersama Ibu, Kubo hidup dalam pelarian. Sebagian besar waktu bekerja di siang hari, ia habiskan dengan ketakutan terhadap tibanya malam.

Petualangan ke barat mencari deadly hallows hhihi

Petualangan ke barat mencari deathly hallows hhihi

 

Membawa adek yang masih kecil nonton film semacam Kubo and the Two Strings adalah tindakan yang bisa bikin kita jadi sangat bangga, puas, you know, it is a wonderful watching experience for family. It is an action packed, extremely fun adventure film. Beautiful to look at, yang engage it’s audience untuk berpikir. Kubo adalah animasi yang sangat fantastis. Lewat kekuatan Kubo yang involving seni melipat kertas dan tema ceritanya sendiri, film ini akan MEMINTA ANAK KECIL UNTUK MENGGUNAKAN IMAJINASI MEREKA. So they can see beyond our physical world. Mengajak anak kecil untuk berkhayal sehingga mereka mengerti dan siap akan sesuatu hal nyata yang sangat penting; kematian orang yang kita cintai. Memang sih, anak-anak kecil mungkin saja belum nangkep aspek cerita yang lebih ‘serius’ ini until they get older, but at least mereka sudah ‘dipersiapkan’ sambil tetap terhibur. Karena film ini worked on multiple levels.

Bulan dan matahari.

Malam dan siang.

Ayah dan ibu.

Hidup dan mati.

Dua senar.

Dualitas menjadi elemen berulang dalam cerita film ini. Yang mengajarkan anak kecil bahwa selalu ada dua sisi yang berdampingan dalam kehidupan. Dan betapa pentingnya bagi kita untuk bisa melihat hal dari dua perspektif tersebut.

 

 

Kita bisa menikmati film ini lewat kacamata polos anak-anak. Terhibur oleh aksi dan humor dan visual yang cantik. Tidak pernah ada momen yang membosankan. Eksposisi dihandle sedemikian rupa sehingga terintegral sempurna ke dalam cerita. Mereka membahas masalalu sambil bertarung, mereka ngomongin important things sembari animasi glorious bekerja nonstop di latar.
Kita juga bisa menonton film ini sambil mikirin deeper messagenya. Konsep abstrak KEMATIAN, SPIRITUALITY, DAN KELAHIRAN-KEMBALI diceritakan lewat simbolisasi dunia fantasi. Ada certain amount of metaphors di dalam cerita; Mata yang disimbolkan sebagai melihat cinta, misalnya. Di balik poninya, Kubo mengenakan eye-patch. Ia hanya melihat dunia dengan sebelah mata. Dan there’s his blind grandfather yang memburu satu lagi matanya. Kubo basically setengah buta. Ini adalah tentang apakah Kubo akan berakhir dengan pandangan yang suram terhadap dunia seperti kakek dan rest of his family dari sisi ibu atau apakah dia tetap berada di sisi di mana ia bisa melihat matahari bersinar, layaknya sang ayah? This is about accepting fate dan gimana kita menyingkapinya.

Kubo pandai bercerita namun dia tidak mau menyelesaikan ceritanya. Karena dia takut akan akhir dari sesuatu. Kubo enggak pernah tahu ayahnya yang sudah meninggal, dan kini dia merawat ibunya yang sakit. The whole journey film ini adalah tentang Kubo yang belajar untuk memahami bahwa kematian adalah hal yang alami. Kematian pasti akan datang, dan kita tidak akan pernah siap menghadapinya. Tidak peduli berapa banyak senjata legendaris yang kita punya. Namun begitu, kematian bukanlah hal yang perlu ditakuti.

Film ini akan membimbing anak-anak untuk memahami apa arti dari kematian. Bahwa orang yang kita cintai tidak akan pernah benar-benar pergi, mereka hidup di dalam diri kita, kecuali jika kita berhenti mengenang mereka. It’s a journey towards maturity. Mengingat bukan berarti terus berkubang dalam duka. Pemahaman bahwa yang terkasih akan terus hidup di dalam cerita-cerita kita, di dalam setiap tindakan kita.

 

Kekuatan terbesar dari Kubo and the Two Strings adalah film ini tidak meremehkan penonton ciliknya. Menjadi animasi tidak harus melulu konyol dengan pesan dangkal. Kubo tidak menggunakan fantasi sebagai alat untuk sugarcoating things. Imajinasi dan kreasi dipakai film ini sebagai jembatan ke dalam benak penonton muda. Sama seperti film stop-motion keluaran Laika lainnya kayak Coraline (2009), Paranorman (2012), ataupun The Boxtrolls (2014), Kubo juga adalah film yang dark. Kejamnya dunia diperlihatkan film ini lewat Kubo yang bahkan tidak bisa mempercayai keluarganya sendiri. Bahwa justru kakek dan kedua bibinya lah yang paling menginginkan ia celaka. Atau setidaknya begitu yang Kubo percaya, karena momen ending dan revelation yang dialami Kubo akan membuat kita turut melihat film ini dari cahaya yang berbeda. That sebenarnya seluruh petualangan Kubo adalah sebuah metafora yang besar yang terjadi dari sudut pandang Kubo sendiri. Makanya motivasi penjahatnya masih terasa agak kabur, jika kita melihatnya dari permukaan cerita. As of why he wants all of that specifically from Kubo dan jadi jahat enggak pernah beralasan dengan jelas.

but seriously, dua tante kembar ini bener-bener nyeremin!

but seriously, dua tante kembar ini bener-bener nyeremin!

 

Satu minor issue sebenarnya buatku adalah soal apa yang dibilang Mas Garin Nugroho sebagai ‘Formula Sutradara dalam Bercerita’. Pola khas yang dipakai dalam setiap sekuen. Film Kubo ini repeatedly makai either black or very bright screen dengan suara yang perlahan menghilang untuk memulai dan mengakhiri sekuens. Kayak misalnya ada ledakan, terus hening, terus tokohnya buka mata dan menemukan dirinya di situasi yang berbeda. Nah di film ini sering terjadi yang kayak gitu, sehingga kita sedikit terlepas dari cerita. But dengan cepat ceritanya pick itself up sehingga kita dapat segera terattached kembali. Malahan, ‘kelemahan’ ini sejujurnya baru terasa olehku begitu aku menonton untuk kali kedua. Mungkin ini hanya jadi masalah karena aku sudah tahu ceritanya. So yea, it is actually a small nitpicking from me.

 

 

 

Highly enjoyable on so many different levels. Kubo and the Two Strings is a beautiful and fun stop-motion film, juga the important one! Kita butuh lebih banyak animasi yang ceritanya berisi ala-ala Studio Ghibli kayak gini. Mendorong untuk berpikir mengenai hal penting dalam kehidupan. Tidak akan ada habisnya jika animasi gorgeous film ini dibicarakan. There’s so much effort yang dikerahkan, dengan arahan bercerita yang sama kerennya. Film yang menghormati setiap lapisan penontonnya. Sebuah dongeng yang sangat menghibur. Sama seperti kata tokohnya; jika harus berkedip, lakukanlah sekarang – karena setelah filmnya dimulai, kita tidak akan ingin ketinggalan satu momen pun dari film petualangan ini.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for KUBO AND THE TWO STRINGS.

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements