Tags

, , , , , , , , , , , ,

“None of us should be defined by the worst thing we’ve ever done.”

 

hell_or_high_water_movie_poster

 

Kita mengenal peribahasa “karena nila setitik rusak susu sebelanga” yang artinya kesalahan kecil mampu membuat semua hal yang baik ikut terlihat buruk. Selama ini kamu juara kelas dan sekalinya dapet nilai delapan ketawa (alias tiga!), maka guru akan mengeluhkan kamu mulai terlalu banyak bermain-main. Padahal mungkin saja saat ulangan itu kamu lagi sakit kepala sehingga tidak bisa berkonsentrasi.

Dalam hidup, memang pepatah tersebut tidak selamanya benar. Tidak seorang pun sepantasnya dijudge semata berdasarkan kesalahan yang pernah ia lakukan. Kita seharusnya menilai dengan melihat dari berbagai perspektif yang melatarbelakangi tindakan seseorang dalam konteks yang lebih besar. Seorang polisi yang baik melaksanakan tugasnya dengan menilang pengemudi yang ngebut. Di balik kejadian tersebut, si pengemudi adalah seorang dokter yang mendapat panggilan pasien darurat yang mendadak – dia tidak bisa untuk tidak melanggar batas kecepatan in order to save lives sedangkan polisi harus terpaksa kelihatan sok tegas karena ia tidak bisa begitu saja membiarkan tindakan ngebut yang membahayakan pengguna jalan. Setiap orang harus melakukan apa yang harus ia lakukan, tidak peduli kesulitan dan keadaan. Inilah maksud dari ungkapan Hell or High Water yang jadi judul film ini.

Bahwa sebagai makhluk yang tidak tak-bercela, keambiguan moral pasti ada pada setiap manusia. Semuanya adalah soal persepsi. Kita harus mengerti bahwa jika kita melihat lebih dalam, maka kebaikan bisa menjadi kejahatan dan begitu pula sebaliknya.

 

Tanner dan Toby Howards adalah dua kakak beradik yang memutuskan untuk merampok sebuah jaringan bank. Aksi mereka tergolong the perfect crime, mereka berusaha sebisa mungkin untuk tidak ada korban yang menderita cukup parah dan mereka hanya mengambil uang di meja register. At first, dua polisi yang menginvestigasi tindak kejahatan mereka menganggap ini sebuah kriminal yang ngasal. Namun as the film goes, kita dan para polisi itu belajar bahwa tindakan mereka terencana dengan rinci. Dengan sangat pintar. It was so much more to than meets the eyes. Ada alasan di balik semua tindakan mereka, yang mana sangat personal. To discover this very personal reason ourselves akan membuat kita merasakan KEKAYAAN EMOSIONAL yang dimiliki oleh film ini.

 

Karakter-karakter dalam Hell or High Water akan BICARA SOAL AMBIGUITAS MORAL, DINAMIKA ANTARA DOMINASI DAN POWER, YANG MEMBENTUK SOCIETY KITA. Sekilas, mereka akan tampak tidak simpatik. Mereka jauh banget dari kita, yang orang baik-baik. Film ini akan membawa kita menyusup ke bawah permukaan, membuat kita memahami tindakan mereka tanpa meninggalkan cela yang ada. Jadinya, kita akan melihat Toby dan Tanner sebagai pribadi yang shared the same feelings dengan kita. Menjadikan mereka berdua relatable. Kita akan menangkap basah diri kita sendiri sedang mencari alasan untuk mendukung aksi mereka. Kurang lebih kayak gini:

Dua bersaudara itu merampok bank, mereka melakukan hal yang salah. Tapi demi sebuah alasan. Meskipun alasan tersebut bersifat kepentingan pribadi. Akan tetapi mereka juga melakukannya dengan berusaha tidak merugikan orang-orang yang enggak bersalah. Salah satu dari mereka, actually, a nice and gentle person. Tapi dia berada di bawah dominasi abangnya yang, at heart, is a bad person. Tapinya lagi si abang juga melakukan aksinya demi kebaikan yang jauh lebih besar. Tapinya lagi, despite semua usaha, mereka gagal dan korban toh jatuh juga. Mereka bertanggungjawab atas semua yang telah mereka perbuat. Atas apa yang mereka pilih untuk dilakukan. Dan bahkan pada titik ini, kita – juga mereka, masih berusaha membela diri. Tapi, kita tidak pernah benar-benar bebas untuk memilih aksi dan menjalankan rencana sendiri, karena hasil akhirnya kembali kepada apa yang sudah digariskan kepada kita.

Toh untuk dapat mengerti kompleksnya cerita dan tema gede film ini, kita tidak pernah diminta untuk mengambil sisi; mendukung polisi atau rampoknya. Cerita permukaan film ini tentang drama pengejaran, lengkap dengan aksi tembak-tembakan sudah cukup untuk menghibur siapapun yang menonton. ADEGAN PERAMPOKAN DIGAMBARKAN DENGAN SANGAT REALISTIS. Tidak ada kesan dibuat-buat. The scenes were very exciting dan terasa seolah kita menonton sesuatu yang benar-benar bisa kejadian dalam kehidupan nyata. Aku (untungnya) belum pernah ngerasain gimana tegangnya berada dalam bank yang lagi dirampok, tapi kurasa seperti kejadian dalam film inilah suasana perampokan bank yang sebenarnya.

Dengan perampok yang actually merasa lebih ketakutan dibandingkan para korban

Dengan perampok yang actually merasa lebih ketakutan dibandingkan para korban.

 

Semua hal dalam film ini bisa kita golongkan ke dalam kategori luar biasa. Sinematografinya eventually yang paling wah, mengingat gimana film ini sukses membawa pemandangan Texas ke depan kita tanpa benar-benar kita berada di sana. Dan yang kumaksud adalah, film ini bahkan tidak disyut di Texas. But the setting seems so seamless. It is also gorgeously shot. Cantik dan liar di mata kita. Skripnya sendiri ditulis dengan ketat. Dengan sengaja dan seksama membangun narasi yang berjalan lambat. Namun di akhir semuanya akan terbayar begitu memuaskan. Sungguh sebuah angin segar melihat film yang meluangkan waktu untuk mengembangkan karakter-karakter, dan membiarkan mereka berkembang. Percakapan-percakapan kecil mereka digunakan untuk membeberkan banyak hal tanpa kedengaran sebagai sebuah eksposisi.

Hell or High Water sebenarnya juga bisa mengacu kepada istilah kontrak di mana pembayaran tetap terus akan diberatkan kepada pihak penyewa tidak peduli kesulitan yang bakal dia alami. Kedua arti frasa judul ini terapply ke dalam elemen cerita yang berbeda di dalam film. Ini menunjukkan gimana setiap elemen cerita berhasil dibangun dengan sangat koheren. Bank dalam film ini bisa kita lihat sebagai simbol sesuatu yang diciptakan oleh society, sesuatu yang diinginkankan untuk exist. Kita yang membiarkan bank antara menolong atau menggolong kita ke dalam kerugian. And while it happens, kita cuma bisa protes. Kita merasa kecil dan bukan apa-apa dibandingkan dengan bank. Collectively, kita setuju kita semua helpless. Sungguh sebuah dinamika kontrol yang aneh. Kita bisa menghentikannya, but we don’t. Kenapa dan bagaimana adalah apa yang dijelaskan oleh film ini sebagai salah satu ambigu moral yang melingkupi kehidupan masyarakat.

Apa yang terjadi jika seseorang mengkonfrontasi persepsi kolektif tersebut? Orang baik akan terlihat seperti orang jahat. Orang jahat akan kelihatan baik. Ketidakadilan akan bertemu dengan ketidakadilan yang lain.

 

 

Cerita yang berpusat pada karakter kayak gini kunci utamanya ada pada penampilan. Dan keempat karakter kunci berhasil dihidupkan dengan sangat baik. Chris Pine memberikan penampilan emosional yang very subdued sebagai Toby, yang ‘baik’ di antara kedua perampok. Menjelang akhir, ada adegan antara Toby dengan Kepala Texas Ranger yang sudah-akan-pensiun yang bener-bener bikin bingung sense benar atau salah kita. Bikin kita melihat karakter mereka dari sudut yang sama sekali lain. Sungguh sebuah adegan yang kompleks.

Jeff Bridges berhak dapat nominasi Oscar buat penampilannya sebagai si Texas Ranger gaek. Karakternya mewakili the faults of our self-perception. Kita akan melihat dia terus berkoar mengatakan hal-hal yang cukup ofensif kepada partnernya, yang keturunan Indian. Dia nikmatin insultnya karena dia menganggap dia benar. Dan mungkin dia benar, tapi dia enggak mempertimbangkan gimana kata-kata tersebut bisa hurtful buat si partner. He’s ‘The Man’ in this movie. Aku suka back-and-forth antara karakter mereka berdua. Gil Birmingham bermain fantastis sebagai yang berusaha tolerating his partner. Mereka berdua biasanya berakhir saling insult lagi dan lagi namun it’s all good karena deep inside relationship mereka sudah sangat erat.

I mean, bukankah begitu pertemanan yang paling akrab? Kita dan teman terdekat pasti suka ledek-ledekan, we just rip at each other constantly but at the end of the day, kita tetap tertawa bersama. Keren sekali melihat hal yang segrounded dan senyata ini dimainkan dengan baik oleh karakter-karakter dalam film ini. Toby dan abangnya pun punya hubungan yang kayak gitu. Mereka saling berbeda pandang, saling ‘serang’, tapi juga begitu mengerti dalam hati masing-masing. Tanner butuh the good dalam diri Toby sebagaimana Toby butuh sisi jahat dari Tanner. Dan oh boy, Ben Foster menghilang sempurna ke dalam karakter Tanner. He really blew us away dengan penampilannya.

kakak-adik kalo enggak kelahi enggak seru

awalnya berantem-beranteman, ujungnya berantem beneran hhihi

 

Aku udah nonton dua kali dan aku belum nemuin hal yang bikin aku bicara buruk soal film ini. Bahkan lagu-lagu country yang kerap terdengar tidak begitu menganggu telingaku yang memang jarang dicecokin musik. Lagu-lagu tersebut malah bekerja cukup baik memberikan kesan ‘Texas-banget’. Tapi memang kusadari ketika nonton untuk kedua kalinya, film ini terasa lebih berat dan lambat. Pace yang slow sepertinya membuat film dengan cerita dan penokohan keren ini enggak cocok untuk ditonton berulang-ulang.

 

 

Thriller western yang sangat bagus. Penggambaran yang sangat realistis. Punya karakter-karakter dengan relationship mendalem sehingga bisa dijadikan sebagai studi karakter yang pretty menantang. Konteks cerita yang sangat thoughtful dan merupakan bedah moral yang sangat kuat. Penceritaan yang intens dan emosional tanpa harus ada momen melodramatis yang dibuat-dibuat. It is really hard to pinpoint cela dalam film ini, sebagaimana kita tidak bisa bilang begitu saja perampok dalam film ini adalah orang yang jahat.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for HELL OR HIGH WATER.

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements