Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“The foolish man seeks happiness in the distance, the wise grows it under his feet.”

 

the-red-turtle

 

Studio Ghibli has made yet another beauty. The Red Turtle, atau judul aslinya: La Tortue Rogue, mengisahkan tentang seorang pria yang terdampar di pulau kecil tak-berpenghuni di tengah laut. Pria ini berulang kali mencoba berlayar keluar dengan rakit yang ia buat dari bambu-bambu di pulau, namun seekor penyu merah misterius selalu menghancurkan rakitnya. Frustasi lantaran usahanya digagalin melulu, pria tersebut melakukan sesuatu terhadap si penyu. Yang mana kemudian dia merasa amat sangat bersalah dan saat itulah film berbelok arah menjadi sebuah cerita yang surreal, yang ditulis begitu mempesona. Ceritanya terbuka begitu saja, mengundang pikiran kita untuk bebas menafsirkannya.

Beneran deh, aku pikir When Marnie was There (top animasiku tahun lalu) adalah karya terakhir mereka. Struggle ngehasilin film-film berkualitas is real! Aku sebenarnya ingin menanyakan hal ini ketika produser Ghibli Toshio Suzuki ngadain limited screen di Jakarta bulan Agustus lalu, hanya saja aku enggak ke sana karena ketinggalan berita. Bayangkan betapa kecewanya!!! Anyway, aku turut bersukur Studio Ghibli menemukan jodoh dan berkolaborasi dengan sineas film pendek asal Belanda, Michael Dudok de Wit. Sehingga mereka masih bisa lanjut berkarya. Hasilnya; sebuah DONGENG YANG SUNGGUH MAGICAL TENTANG HUBUNGAN MANUSIA DENGAN KEHIDUPANNYA.

Apa yang membuat kita ‘tinggal’?

Apa yang mendorong kita untuk ‘pergi’?

 

Apa yang aku suka dari film ini adalah dia tidak membahas hal-hal yang biasa. Maksudku, here we have seorang pria yang terpenjara oleh keadaan. Pulau kecilnya tidak berpenghuni selain kawanan kepiting (yang blo’on mirip-mirip Heihei di Moana, hanya lebih natural), burung-burung, penyu, dan jangkrik yang senantiasa bernyanyi di pepohonan. It’s easy untuk bikin cerita tentang bagaimana pria tersebut bertahan hidup. Swiss Army Man (2016) juga merupakan film tentang orang terdampar yang trying to survive. Dalam The Red Turtle, however, masalah survival ini hanya dibahas sebentar saja. Kita dengan segera diperlihatkan bahwa sang Pria adalah manusia yang sangat resourceful, dia bisa manjat pohon untuk memetik buah-buah. Pulau tersebut juga memberinya banyak ‘fasilitas’; kolam jernih di tengah pulau untuk minum dan batang-batang bambu yang nyaris tak-terbatas. Hidup di pulau sama gampangnya dengan membuat sesuatu untuk kabur dari sana.

Letak fokus film ini adalah pada apa yang dirasakan oleh si Pria. Terdampar seorang diri, tentunya dia merasa kesepian. Apa gunanya dia bisa macem-macem tanpa ada yang mengapresiasi? Tanpa ada yang diajak berbagi. Film ini menggugah kita dan si Pria even more dengan memberikan satu faktor lagi; Jika diberikan alasan untuk tinggal di pulau itu, jika kehadiran si pria actually dibutuhkan di sana, apakah dia akan memilih tinggal? Keberadaan penyu merah membuat eksistensi si Pria menjadi penting di pulau. Whether it’s a hallucination or not (again, it is open for aundiences’ interpretation), Pria itu merasa bertanggung jawab. Terlebih saat ada cinta terinvolve di antara mereka. Penyu merah eventually berubah menjadi wanita. Seperti Adam yang mendadak dapet temen Hawa, seketika si Pria merasa pulau tersebut adalah tempat yang kaya, layaknya surga.

I wonder kenapa warnanya merah tho, padahal penyu lain hijau.. hmmm….

I wonder kenapa warnanya merah tho, padahal penyu lain hijau.. hmmm….

 

 

Rumah adalah tempat di mana kita merasa dibutuhkan. Film ini mencoba memancing kita untuk berpikir melalui si Pria yang awalnya sampai bermimpi menemukan jembatan dan terbang di atasnya namun kemudian justru betah dan make a living di pulau, bahwa yang terpenting adalah bukan bagaimana cara pulang ke rumah. Melainkan yang lebih utama adalah bagaimana cara membuat suatu tempat terasa seperti rumah sendiri. Film ini adalah alegori dari keberdayaan kita dalam mengubah kualitas hidup kita masing-masing.

 

Jika kita bandingkan dengan tiga raksasa animasi mainstream tahun 2016; Kubo and the Two Strings, Zootopia, dan Moana, film The Red Turtle ini memang berada selevel dengan mereka di atas sana. Skripnya sangat clear dan ketat. Akan tetapi dari penampakannya, film ini jelas kalah mentereng. Animasinya lebih tradisional dengan menggunakan gambar dua dimensi buatan tangan. Namun begitu, visualnya amatlah sangat fluid. Gerakan para tokoh terlihat begitu realistis. Environment pulau tergambar cukup detil, rimbun oleh warna alam.
SEMUANYA TERLIHAT NATURAL DI DALAM FILM INI.
Despite nuansa surealisnya, semua terlihat nyata dan breathtaking on its own level. Kelebihan film ini yang tidak dipunya oleh film lain, well actually it’s the other way around — film lain punya tapi film ini enggak – adalah MINIMNYA DIALOG. Like, selain kata seruan “Hey!” dan tawa “Hahahaha!”, tidak ada percakapan di dalam film ini. Bukan berarti filmnya hampa, loh. Actually it has a very great sound design. Alamlah yang bersuara. Kita akan mendengar deburan ombak, rintikan hujan, tiupan angin di dedaunan, langkah kaki di bebatuan, gerakan-gerakan kecil kepiting di atas pasir, detil banget. Berasa kayak di pulau beneran. Alunan musiknya juga terdengar sangat heartwrenching at times.

Film ini enggak butuh bicara untuk bisa memberitahu kita apa yang sedang terjadi. Kita enggak butuh untuk mendengar apa yang ada di dalam pikiran si tokoh, karena we just know it. Lihat saja adegan di pantai saat si Pria meninggalkan kerjaannya bikin perahu dan mendekat ke arah penyu merah yang tergeletak. Rasa sedih, penyesalan, menguar kuat tanpa perlu ada yang bersuara. Tanpa-dialog sebetulnya memegang peranan penting dalam penceritaan. Karena bahasa yang dipakai adalah bahasa emosi. Lawan bicara kita adalah alam dan diri sendiri. Dan film ini dengan kebisuan karakternya sukses membuat hubungan yang sangat intim antara mereka dengan alam. Antara kita dengan perasaan. In that way, film ini bertindak sebagai puisi siklus kehidupan yang penuh emosi dan sangat universal.

Kayak mimpi banget

Kayak mimpi banget

 

Dengan tema yang dewasa, The Red Turtle membuktikan bahwa animasi bukan hanya untuk anak-anak. Atau bahkan bahwa animasi bukan alasan untuk membenarkan sebuah film dibuat dengan dangkal. Tujuan dari film ini adalah untuk membuat kita-kita yang nonton berkontemplasi sedikit soal hidup, soal kematian, soal kesendirian, dan banyak lagi soal-soal apa yang dirasakan oleh manusia. Dan kupikir film ini sukses berat menggapai tujuan tersebut, karena kita pasti akan merasakan sesuatu saat menontonnya. Film ini worked on a personal level. Aku enggak akan menjelaskan apa arti film ini buatku secara pribadi karena nanti bakal banyak spoiler dan bakal baper -,-

Yang jelas ini adalah sebuah pengalaman emosi yang sangat engaging untuk dilewati. Anak-anak bisa saja menonton film ini, ada beberapa momen komedi yang sangat visual – alias meleng (atau as I would guess kebanyakan penonton anak-anak bakal menguap) dikit bakal kelewat. Juga ada momen-momen menegangkan, misalnya saat tsunami datang. Through-and-thorugh pace film ini intentionally dibuat lambat, dengan tujuan supaya kita bisa menangkap lebih banyak elemen visual yang bercerita dalam tiap-tiap shot. So yea, anak usia kecil banget mungkin akan cepet bosan, tapi buat anak-anak yang sudah bisa mengerti pasal hidup-mati, sudah mengerti arti keluarga, film ini tak-pelak menjadi tontonan yang berharga. Dan perlu kuingatkan, tidak semestinya kita meremehkan anak kecil, they know a lot these days. Malah mungkin kita yang malu jika bawa adek nonton ini dan justru kita yang ketiduran.

 

 

 
Semoga film ini got released internationally dan tayang resmi di Indonesia sehingga aku bisa mendukung Studio Ghibli langsung, karena film-film seperti buatan mereka inilah yang benar-benar perlu disupport; Berkualitas dan teach us how to be a good person.

Animasi yang stunning. Sound design yang membuat kita merasa berada di tempat yang sama dengan tokoh filmnya. Konsep yang critically menantang. Ini adalah persembahan yang luar biasa berani dari Studio Ghibli. Hampir pada seluruh film kita dilepas untuk menerjemahkan sendiri. Apakah ini mimpi? Atau realita? Yang jelas film ini bersuara kenyataan. Dengan tanpa-dialog kita akan diajak untuk menyelami cerita penuh emosi tentang seorang pria yang belajar untuk betah di dalam kondisi yang mengukungnya. Dongeng antara manusia dengan hewan, dengan alam, yang menggabungkan keindahan, misteri, dan drama yang begitu magical dan menyentuh. Pengantar tidur yang membuka mata kita. Wait, is that even possible?
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for THE RED TURTLE.

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements