Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“The only thing holding us back is a moral question.”

 

morgan_xlg

 

Morgan diciptakan di lab, diberikan kecerdasan buatan, dan dirawat oleh sekumpulan ilmuwan selayaknya anak manusia. Sampai-sampai menimbulkan ketegangan antara para ilmuwan dengan seorang pengawas yang menyebutkan bahwa Morgan bukan anak cewek, dirinya adalah benda yang tidak punya hak apa-apa.

Film ini datang rada telat, as di 2015 kemarenlah kita disuguhkan dengan berbagai cerita tentang makhluk dengan makhluk dengan kecerdasan buatan, kayak Chappie dan Ex-Machina. Kami malah bikin kategori khusus buat para A.I. di My Dirt Sheet Awards KELIMA. Ya sebenarnya sejak dulu sudah banyak film dengan premise seperti punyanya Morgan; tentang apakah manusia punya tanggung jawab moral dan etika terhadap makhluk yang diciptakan, bahkan ketika ‘manusia buatan’ itu berwujud dan bertingkah persis sama dengan manusia asli. Perlukah mereka diberikan hak dan otonomi. Apakah mereka sepantasnya diberlakukan sebagai seorang anak, ataukah hanya sekadar peliharaan? Atau malah manusia buatan tidak lebih dari sebuah versi smartphone yang luar biasa canggih?

Sepertinya sudah bukan hal yang mustahil bagi dunia modern menciptakan makhluk biologis hasil modifikasi genetic seperti Morgan. Sudah banyak perusahaan yang mampu merekayasa tumbuhan sedemikia rupa sehingga menghasilkan produk yang lebih bermutu. Teknologi sudah mulai mengejar. Ibuku setiap kali beliau nonton animasi ataupun berita robot/boneka pasti berkomentar, “Orang Barat ni bikin nyawa aja yang enggak bisa.” Well, Ma, sini deh aku bilang: Sciencenya sih mereka udah ada, satu-satunya hal yang menahan ‘orang Barat’ menciptakan sentient dengan kesadaran dan perasaan adalah dilema moral.

Masalahnya memang kita cenderung terlalu sayang sama barang. Ungkapan ‘menyembah berhala’ sudah punya arti yang baru; kita lebih khawatir dan lebih perhatian sama handphone dibandingkan sama anak sendiri, sama teman sendiri.

 

Jadi jangan salahkan ketika para ilmuwan yang membesarkan Morgan menumbuhkan rasa sayang kepada makhluk yang sebenarnya dibikin genderless tersebut. Apalagi Morgan bisa belajar untuk merasakan cinta, sedih, takut, dan banyak lagi emosi manusiawi yang lain. Sebagian pertama film akan membawa kita ngikutin Lee Weathers – yang dikirim ke lab untuk mengawasi projek ini berjalan sebagaimana mestinya – berkeliling dari satu ilmuwan ke ilmuwan yang lain, dari satu staff ke staff lain, bicara dengan mereka, mempelajari hubungan mereka dengan Morgan, you know, trying to figure out seperti apa kehidupan di tempat terpencil tersebut. Ultimately, Lee harus menyimpulkan apakah Morgan adalah penelitian yang berbahaya ataukah dia bisa bermanfaat bagi kemanusiaan.

Film ini punya arahan yang bagus. It is also well-shot, aku suka gimana mereka dapet aja latar yang bagus, dengan pencahayaan yang menyenangkan untuk dilihat. Para pemain mempersembahkan penampilan yang meyakinkan. I like Kate Mara quite a bit sebagai Lee Weathers yang dingin dan jutek, meski karakternya rada susah untuk diikuti secara emosi.
To be honest, memang karakter-karakter dalam film ini kurang mendapat perhatian, mereka enggak terlalu didrawn out. Padahal banyak yang punya hubungan yang cukup menarik. Tokoh si koki, misalnya, dia punya sudut pandang yang bikin alisku terangkat saat dia mengaku jeles sama Morgan yang dengan gampangnya bisa bikin risotto yang lebih lezat. Orang bilang memasak harus pakai perasaan, pakai cinta. Dan si juru masak ini just don’t understand gimana bisa makhluk biologis buatan itu memasak lebih baik daripada dirinya sendiri yang manusia tulen.

Is it a better human than us?

 

Morgan menjalin hubungan paling dekat dengan Amy, seorang ecologist yang nemenin dan ngajarin dia sehari-hari tentang alam. Bahkan saat kejadian mulai menjadi buruk, Morgan mempertahankan rasa percayanya kepada Amy. Lucunya hubungan mereka berdua mengingatkanku kepada Bhu dan Mr. Satan di komik Dragon Ball. Tahu kan? Sejahat-jahatnya si Manusia Iblis, dia tetap enggak tega nyakitin Mr. Satan yang udah mengajarinya banyak hal. Hahaha gila, mungkin cuma aku seorang; nerd yang nekat menarik garis di antara dua cerita yang beda jauh ini.

 

Sebagian pertama film ini mungkin akan terasa membosankan, apalagi buat penonton yang enggak siap dicekokin dialog demi dialog dalam film yang bergenre horror. Bahkan aku juga cukup banyak menguap. This is a sci-fi, jadi sedikit penjelasan tentang how this science works dibutuhkan dalam cerita. Namun yang bikin jenuh dalam film ini adalah karakterisasi yang kurang digali. Tidak ada tokoh yang bisa kita jadikan pegangan.

Yang paling stand out jelas adalah si Morgan. Aku berani bilang, kalo ada orang yang suka sama film ini maka itu pasti adalah karena mereka suka sama si Morgannya, yang diperankan oleh Anya Taylor-Joy. Cewek ini fantastis di film The Witch (2016), dan melihat penampilannya dalam film Morgan, aku jadi penasaran dan rooting buat kiprahnya di dunia film. She is so good. Enggak ada yang dibuat-buat dalam penampilannya yang tenang namun bikin unsettling. Her look, ekspresi dan tatapan mata reptilnya, adalah apa yang membuat kita tersedot ke dalam cerita. Like, kita mengharapkan dia ‘meledak’, kita mau dia selamat but at the same time, kita mau dia do a good things.

Tidak akan berujung bahagia jika manusia menciptakan makhluk buatan dengan niatan untuk mencoba menjadi seperti Tuhan. The so-called Moral Block is there for a reason.

 

Sebuah film memang harus punya build-up, big things kudu dipersiapkan lewat cerita yang perlahan intensitasnya semakin meningkat. Tapi ngebuild cerita dengan just shifting the entire tone itu sesungguhnya beda tipis. Morgan adalah contoh film yang STORYTELLINGNYA SETENGAH-SETENGAH. Setelah adegan interogasi yang sangat intens dan sukses bikin penonton yang sempet ketiduran melek lagi, Morgan mulai berubah arah menjadi sebuah tontonan penuh aksi kejar-kejaran – berantem dan berdarah – ala Hollywood. The action itself seru banget, riveting, dan kupikir aku cukup terhibur dan have a good time with the rest of the movie. Tapi itu karena aku enggak punya ekspektasi apa-apa sama film ini. Filosofi cerita Morgan sudah bukan hal baru, meski memang topik bahasannya akan selalu menarik. Makanya, film ini bisa jadi terasa dangkal. Di tengah jalan, filosofi tersebut kayak ditinggalkan begitu saja karena fokus film ini berganti, lebih ke action sekarang. Masalah moral dan etika hanya dibahas di permukaan saja. Dan hal ini jadi salah satu penyebab kenapa film ini, pada akhirnya, terkesan biasa saja.

Menjelang akhir akan ada sebuah revelation, alias sebuah twist. Hanya saja, it’s not really a twist karena kita bakal bisa menebaknya jauh-jauh sedari awal. It may be obvious namun juga sebuah poin plus karena film ini enggak sok-sokan dalam menghandlenya. Twist seharusnya bukan untuk mengecoh penonton semata. Twist haruslah sebuah turn di mana di situlah satu-satunya cara untuk mengakhiri atau melanjutkan cerita. Dan film ini enggak nipu dalam membangun twist tersebut. It was presented dengan semestinya, dengan clue-clue visual maupun literal yang mendorong kita untuk menerka.

Itu cuma ilusi optik yang keren, kan?... kan???

Itu cuma ilusi optik yang keren, kan?… kan???

 

 

 

 

The way the film looks and the good performances were very pleasant. Penceritaannya bisa sedikit menipu sih, paruh pertama akan terasa seperti film serius yang bicara mengenai topik yang menantang. Sedangkan paruh berikutnya akan diisi oleh aksi-aksi seru yang menghibur khas film Hollywood. Beberapa akan merasa dikhianati oleh film ini, sementara beberapa penonton lagi akan merasa lega dan excited setelah berbosan ria. Jika saja tidak banyak yang bertema sama di luar sana, maka film ini bisa menjadi pilihan utama sebagai tontonan yang menghibur dan berisi. Tetapi, yaaah, film ini berhenti sampai di “oke”. It could have been more thoughtful, karakter-karakternya bisa lebih diperdalam lagi.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MORGAN.

 

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements