Tags

, , , , , , , , , , , ,

wwe_tlc_2016_official_poster_by_jahar145-dapiuoj

 

Smackdown terus menggunakan things yang enggak seharusnya bekerja – maksudku dengan “things” adalah bukan meja, tangga, dan kursi – dan terus saja berhasil memanfaatkannya sehingga semua come together dengan begitu baik.

Pertandingan kejuaraan tag team yang tadinya hanya kayak obvious device memindahtangankan sabuk, feud tiga bulan Carmella dan Nikki Bella yang diwanti-wanti bakal penuh oleh bad acting, James Ellsworth si Chinderella. Belum lagi nature acaranya yang berupa sekumpulan tanding-yang-sudah-berkali-kali-dilihat yang dilangsungkan dalam gimmick matches. Turn outs, TLC, mungkin memang bukan acara terseru yang pernah dibuat oleh WWE, namun adalah sebuah salah satu pagelaran paling memuaskan yang pernah ada. Dan it’s not just a bunch of crowd pleasers seperti Survivor Series dua minggu yang lalu. Pretty much yang kita inginkan menang, beneran menang di sini, di mana kita akan dibuat berbinar memandang layar sembari bergumam, “finally..”

Alih-alih mencoba untuk menghibur kita dengan serangkaian forceful showmanships dan aksi-aksi komedi, yang lebih sering garing ketimbang ngakak, pay-per-view ini memberikan kepada kita hiburan berupa cerita dengan karakter yang kuat di balik setiap pertandingan gulatnya.

 

While universe yang nonton langsung di arena sono sebagian besar waktu ‘mati’, yang mengindikasikan match-matchnya gak seru buat mereka, namun bukan berarti pertandingan tersebut mutlak enggak bagus. Matches di sini lebih punya story. This is an example bahwa eksplorasi karakter bisa do wonders terhadap bagusnya match. TLC SEPERTI SEBUAH FILM YANG SANGAT BAGUS YANG BORING BUAT PENONTON KEBANYAKAN. Aku sendiripun actually had to think qute a bit about it setelah nonton; salah satu kekurangan dari nonton bareng adalah terkadang kita ikut terbawa arus mood, and yea setelah menilik masak-masak; Pertandingan di TLC ini pada terdeliver dengan baik. They used karakterisasi better than any of Raw’ ppvs. Ada beberapa miss sih, datang dari ke’kurang pengalaman’ superstar, kayak Carmella dan Kalisto, but indeed mereka udah nunjukin peningkatan dan kerja keras yang signifikan.

how can you keep your chin up, if you have no chin?

how can you keep your chin up, if you have no chin?

 

Memainkan aset terbesar mereka; skill tampil dan membawakan karakter, Kalisto dan Baron Corbin adalah yang paling stands out dan bikin salut. Padahal tadinya ini pertandingan yang paling meragukan. There’s no real connection antara feud mereka dari berbulan lalu dengan pemakaian kursi. Nyatanya, mereka terlihat genuine, intensitas pertandingan ini cukup terasa. Seiring berjalannya pertandingan, Kalisto tampak berhasil mengurangi ‘demam panggungnya’. Di awal-awal dia terlihat cukup gugup; mencari-cari kursi di bawah ring padahal di sekitar ring ada banyak, melempar sejumlah kursi ke dalam ring, kemudian dia sendiri masuk ke ring dan menendang beberapa kursi keluar lagi, dan kemudian berhenti setelah sadar betapa konyolnya itu terlihat. Bicara tentang konyol, aku juga bukan fan dari attire yang ia gunakan kali ini.

Stipulasi pertandingan Kursi lebih bego dari celana Kalisto, but by playing to their strengths, match ini jadi terasa penting. Bukan sekadar karena bunyi keras hantaman kursi mereka. Kalisto yang luar biasa atletis sebagai luchador bermain kreatif dengan gerakan-gerakan unik, cepet, dan mematikan. Paling suka saat dia menghujamkan lututnya ke kursi di dada Corbin sebagai penutup gerakan moonsault. Sebagai pesaing, The Lone Wolf sukses membuat dirinya semakin dikenal berkat penampilannya yang berhasil ngimbangin kelincahan Kalisto. Style bertarung Corbin yang berpusat di countering momentum lawan membuat dirinya terlihat unik dan sangat tangguh. Ending matchnya beneran intens. Cerita yang disuguhkan pertandingan mereka adalah yang paling simpel di dalam match card acara ini, but sometimes yang simpel-simpel itulah yang bekerja paling baik.

 

On the other hand, TLC juga kembali menghadirkan cerita paling kuat yang dimiliki oleh tim kreatif WWE saat ini; cerita antara Miz dengan…. Daniel Bryan. Jangan salah, aku masih respek sama Ziggler yang sudah ngasilin series of great emotional matches bareng The Miz selama beberapa bulan ini, hanya saja si Show-Off ini memang hanya sekedar petarung pengganti. The way they build the story bikin kita geregetan, seolah di ujung kita akan mendapat Miz melawan Bryan, seolah mereka menggoda kita dengan kemungkinan Bryan akan turun bertanding sekali lagi. Karakter Miz kembali diperkuat di pertandingan tangga ini. Dia enggak punya masalah ngambil langkah yang paling aman, meski jalan tersebut adalah yang paling kotor. Ada banyak penggunaan tangga yang cukup inovatif sebagai senjata. My problem with this match adalah dengan stay true sama karakter Miz dan peran Ziggler, ini menjadi pertandingan tangga paling aman yang pernah aku tonton. Inovatif, yes. Eksekusi rather bland, sayangnya.

 

Orton bergabung adalah hal terbaik yang pernah terjadi kepada Wyatt Family. Bray akhirnya nyicipin sabuk kejuaraan. Dan aku suka gimana hubungan mereka masih terus berkobar oleh api intensitas. Interaksi antara Orton dan Harper mengisyaratkan tinggal tunggu waktu saja sebelum RKO itu dateng, namun jelas akan sangat menarik melihat gimana keluarga ini berperan sebagai juara. I personally want them to utilizing the freebird rule, kayak yang dipake oleh juara Raw, The New Day. Sedangkan soal matchnya sendiri, yaaahh, keliatan sih, there’s no way kita bisa percaya Slater bisa ngimbangin tim super berisi superstar langganan main event, bahkan dengan Rhyno di kubunya. Tapi, sekali lagi, karakter setiap yang terlibat dalam pertandingan ini bekera dengan baik.

 

It’s nice to see dua pertandingan cewek yang enggak berakhir di bawah lima menit. Smackdown mesti berjuang keras melebihi pertandingan tanpa diskualifikasi antara Sasha Banks melawan Charlotte yang berlangsung di Raw seminggu sebelum TLC. Pertarungan antara Nikki dan Carmella terlihat stiff dan terkadang intens. Honestly, aku nungguin momen Carmella menuhin janjinya untuk meletusin sesuatu, if you watched Smackdown sebelumnya, you’ll know what I mean. Pertandingan persoal ini bukan hanya soal Nikki membuktikan dosa Carmella, melainkan juga menyakiti, mempermalukan, dan membungkam si Princess of Staten Island. Sayangnya psikologi matchnya agak kendor, Nikki malah sakit kaki setelah dibanting dan dilempar ke barikade, dan aku juga enggak begitu melihat korelasi pentingnya pemadam kebakaran digunakan sebagai sekuens finish.

Senjata tersebut malahan lebih cocok jika digunakan oleh Alexa dalam pertandingannya melawan Becky Lynch, karena feud personal mereka menyebutkan Alexa ingin memadamkan ‘straight fire’ nya Becky. Namun demikian, aku tetep suka sama match ini karena…

Congrats Aleksya Bliss nyaawwww

Congrats Aleksya Bliss nyaawwww

Kedua superstar were pretty great, semua memainkan karakter dan peran dengan baik. There were also some sick spots. Pinggang Alexa pasti ngilu kena besi meja setelah ngelakuin DDT ke meja yang terbalik. Endingnya memang tergolong mengejutkan. But, Alexa was did great sejak draft sih. She is so convincing, terlebih sejak jadi Harley Quinn versi WWE. Masalah sebenarnya datang dari the match itself. Aku enggak bilang kalian harus jadi The Dudley Boyz dulu. Hanya saja mekanisme pertandingan meja terlalu banyak celah. Untuk menang, syaratnya kita harus put opponent through a table. Kita sudah melihat gimana rule tersebut menjadikan match berakhir sloppy, kayak Big Show yang kalah hanya karena nginjek meja ampe patah. Dalam kejuaraan wanita kali ini, akhir pertandingan terasa agak abrupt. Alexa did a couple of heelish moves dan Powerbomb Becky ke meja. Jika bukan karena akting dan ekspresi Alexa, aku belum yakin kalo it was over.

 

Satu hal yang menarik dalam acara kali ini adalah WWE MULAI MENGGUNAKAN REPLAY UNTUK MEMPERLIHATKAN REAKSI-REAKSI PENONTON. I think that aspect is so cool, karena ini membuat kita yang nonton di rumah jadi merasa deket dan feel related dengan penonton langsung. Sebenarnya cukup tricky loh mengatur susunan tanding dalam acara yang tiap-tiap matchnya adalah kontes bersenjata. Energi penonton juga harus dijaga. Tentu WWE tidak ingin dari jam-jam awal penonton sudah capek kaget dan bersorak-sorai demi melihat spot-spot dahsyat. Para main eventers haruslah bisa menyuguhkan aksi dan emosi yang mampu bikin penonton tercharge kembali. Kita bisa melihat, tugas kayak gitu bukan masalah bagi AJ Styles. Gila, orang ini selalu melakukan what he does dengan profesional banget. Celana bolong bukan masalah baginya. Pertandingan yang awalnya cukup lambat, brawl sampe ke mana-mana, dengan cepat menjadi kontes penggugah semangat berkat Styles yang nekat jadi objek derita dan teknik sellingnya yang meyakinkan. Liat gak gimana Styles jungkir balik di udara terkena Suplex dari Ambrose? Atau ketika dia menyambut lemparan tangga dari Ambrose? He was all over the place. Coba siapa yang enggak bersorak saat Styles ngeluarin jurus Springboard 450, IT WAS A PHENOMENAL LANDING! Ambrose did his part very well too. Orang ini brutal. Dia juga ngejual jatoh ke meja dengan cara yang unik. Karakter lunaticnya dimainkan dengan bagus ke dalam jalan pertandingan. Kita melihat dia berkali-kali ngeset tangga dalam posisi yang enggak lurus-lurus amat ama sabuk yang tergantung di atas. And it turns out, posisinya punya sebab khusus. It was a very nasty TLC yang menghidupkan suasana, but I guess deep inside kita semua melek lantaran pengen ngeliat apakah James Ellsworth muncul dan actually memegang peran penting di dalam match penentu ini.

mentality Wile E. Coyote banget; dia yang masang jebakan, dia yang kena

mentality Wile E. Coyote banget; dia yang masang jebakan, dia yang kena

 

The writing, atau dalam istilah wwe; the booking, is well-thought. Ada yang hilarious saat sesudah Carmella ngejelasin kalo pelaku yang nyerang Nikki adalah Natalya, WWE malah muterin video Natalya menolong seorang fan. They were trying to mess with our head.

Aku lebih suka hasil TLC tanpa mengetahui the smart reason behind James Ellsworth. Reaksi Ellsworth membuka banyak interpretation tapi dengan penjelasannya di Talking Smack, I think it hurts the sense dari pertandingannya sendiri. Alasan Ellsworth mendorong Ambrose worked karena Ambrose beneran kayak manfaatin Ellsworth doang, liat aja di video pre-match mereka. But it totally doesn’t feel like Ellsworth pengen Styles menang karena menurut delusinya ia bisa mengalahkan Styles. Alasannya memang masuk akal namun tidak terasa klop. Menurutku ini masalah ada didirection yang, seperti biasa, WWE suka nulis ulang mendadak.

 

 
TLC bukan yang paling seru, tapi ini adalah acara yang sangat konsisten. Semua pertandingan berhasil deliver cerita dengan baik. Karakter benar-benar dieksplor. Penggunaan environment dan senjata yang kreatif. All-in-all the show was way better than any of us thought. Acara ini nunjukin seberapa besar pengaruhnya jika kita memperhatikan karakterisasi dan memberikan kesempatan kepada para superstar untuk nampil nunjukin kemampuan mereka sebebas mungkin.
The Palace of Wisdom menobatkan TLC Match antara AJ Styles dengan Dean Ambrose sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

Full Results:
1. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP Randy Orton’s RKO menjadikan The Wyatt Family juara baru mengalahkan Heath Slater dan Rhyno
2 NO-DQ MATCH Nikki Bella defeat Carmella
3. WWE INTERCONTINENTAL CHAMPIONSHIP LADDER MATCH The Miz retains over Dolph Ziggler
4. CHAIRS MATCH Baron Corbin mengalahkan Kalisto
5. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP TABLES MATCH Alexa Bliss merebut gelar dari Becky Lynch
6. WWE WORLD CHAMPIONSHIP TLC MATCH AJ Styles beat Dean Ambrose.

 

 

 

That’s all we have for now.

Buat yang di Bandung, kami akan mengadakan nonton bareng pay-per-view WWE, so yea you are very welcome buat ikutan. Senantiasa cek facebook Clobberin’ Time buat info nobar selanjutnya.

 

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements