Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“I’m the color red in the world full of black and white.”

 

headshot-poster

 

Ngaku deh, saat anteng duduk makan kacang nontonin pertandingan olahraga, secretly kita ingin melihat pesertanya rusuh kemudian berantem. Kita pergi nonton balapan karena deep inside kita ingin melihat ada mobil yang tergelincir, terguling-guling, dan “bushhh!” terbakar. Headshot adalah tempat di mana DAHAGA KEKERASAN KITA BAKAL TERPUASKAN. The movie is the safe haven where violence and gore and the brutal side of humans di-glorify seintens mungkin. Nonton ini, kita akan terengah-engah, seolah langsung terlibat dalam aksi-aksi yang so in-the-moment.

Kita datang untuk melihat orang berantem. Apa yang dilakukan oleh The Mo Brothers dalam film ini adalah mengecat adu fisik tersebut dengan warna merah. DARAH. Acapkali terasa kita dibawa bolak-balik menyebrangi antara action dengan horor. Dalam Headshot, segala aksi yang terekam benar-benar tak menyisakan ruang bagi kita untuk merasa aman. Di sini kita akan melihat berbagai macam kekerasan; parang beradu dengan daging, peluru menembus telinga, or even sumpit yang ditancapkan dengan gagahnya ke pembuluh nadi. Orang-orang yang tak bersalah pun kerap – um, actually aku ralat; pasti! – menjadi korban.

Jurus paling jitu yang dilakukan oleh Headshot adalah membuat kekerasan menjadi sesuatu yang menantang moral penonton. Kita dibuat ingin melihat para penjahat mendapat balasan setimpal atas perbuatan mereka terhadap yang tidak bersalah. Namun ketika si jagoan melawan balik, kita tak jarang berjengit di antara muncratan darah dan bunyi tulang yang patah demi melihat tindak ‘membela diri’ yang ia lakukan. Eventually, kita akan turut merasakan secercah remorse saat tokoh film ini menghabisi lawan-lawannya, terutama ketika dia harus berhadapan tinju-dengan-tinju dengan orang-orang yang punya hubungan dengan dirinya. Membuat kita tanpa sadar mempertanyakan pembenaran dari apa yang kita saksikan

Headshot adalah warna merah di dalam dunia yang penuh hitam dan putih. Dan jika kalian masih menghargai kemampuan kalian untuk bernapas, jangan terlalu dekat dengannya.

 

Di awal-awal, film ini punya elemen misteri yang menarik. Kita melihat seorang pemuda yang terbangun dari koma di sebuah rumahsakit di suatu tempat. He has been shot di kepala. Pemuda ini enggak tahu siapa dirinya. Dia bahkan enggak tahu siapa namanya. Karena dokter muda yang merawat dirinya hobi baca novel The Moby Dick, maka si pemuda jadi dipanggil Ishmael. Film ini adalah tentang journey Ishmael mencari tahu siapa dirinya sesungguhnya. Kemudian, mendadak ada orang yang menanyakan perihal dirinya ke rumahsakit. Keadaan pun dengan cepat menjadi berbahaya. Ailin si dokter cewek diculik, pelakunya meninggalkan ‘jejak berdarah’ untuk diikuti oleh Ishmael. Sesungguhnya film ini berangkat dari sesuatu yang sangat menarik bagi kita, karena informasi yang kita dapatkan tentang Ishmael berasal dari those terrible people yang sepertinya mengenal Ishmael. Juga dari flashback ingatan sekilas yang terkadang muncul saat Ishmael dalam kondisi yang emosional. Adegan opening film yang memperlihatkan seorang leader bandit melarikan diri dari sel penjara yang dijaga ketat adalah pilihan yang tepat untuk mengawali narasi karena semakin menambah misteri dan kengerian. Kita bisa meraba reputasi Ishmael, antisipasi perlahan terbangun, membuat kita semacam takut kepada pemuda ini. It is such a great way dalam membuat karakter hero yang compelling.

Paus itu bukan ikan, uuuaaarggghh!

Paus itu bukan ikan, uuuaaarggghh!

 

Salah satu elemen yang keren dalam Headshot adalah sense of growth yang diperlihatkan oleh tokoh Ishmael. As the film progressed, seiring kabut mengenai diri Ishmael perlahan memudar, kemampuan yang ia miliki pun semakin bertambah. Kalo di awal-awal gaya tarungnya serabutan, kayak orang yang membela diri mati-matian, maka makin ke akhir Ishmael terlihat semakin terasah. Adegan aksi berantem dalam film ini memang bukan dikoreografi dengan asal-asalan. Ada cerita yang turut terintegral ke dalamnya. Setiap pertarungan punya stipulasi dan emotional weigh yang berbeda. Psikologi pertarungannya benar-benar bekerja dengan baik. Membuat kita semakin tersedot, semakin geregetan melihat sekuens yang luarbiasa seru dan penuh suspens tersebut. Ishmael sangat vulnerable, dia terluka di sana-sini, even emotionally and mentally; Ishmael is a wounded person.

 

Hanya ada sedikit filmmaker yang mengerti dan bisa mengeksekusi dengan baik the art of handheld cam. Camera work dalam Headshot, however, senantiasa berganti dari statis ke dinamis dengan tujuan untuk menangkap momen-momen cepat so penonton bisa merasa berada langsung di TKP. For the most part, kamera melakukan kerja yang kompeten sekali dalam menangkap aksi dengan gerakan melingkar. Memastikan mata kita bisa mengikuti. The best work adalah saat hand-to-hand combat. Hanya saja terkadang ada kalanya kamera terasa begitu dekat, lost in the movement – terlalu banyak bergoyang. Namun editing yang cepat dan penuh perencanaan cukup ampuh untuk menutupi kekurangan ini. Membuat everything bergerak dalam pace yang frantic, seperti yang dirasakan oleh tokoh-tokoh filmnya.

Carpe diem dulu bisa gak sih, kameranya!

Carpe diem dulu bisa gak sih, kameranya!

 

Sekuens aksi film ini juga menunjukkan perkembangan Iko Uwais himself sebagai koreografer adegan aksi. Kita bisa melihat aksinya semakin belivable. Stylenya pun terlihat variatif. Tokoh-tokoh terlihat punya moves yang berbeda satu sama lain. Sekuens yang lebih traditional terdapat pada final duel antara Ishmael dengan Lee, si bos bandit. Pertarungan mereka menegangkan, meskipun tanpa senjata. Sound design dan kamera sekali lagi turut unjuk kebolehan. Actually, duel pencak silat mereka mengingatkanku pada film kungfu cina jadul, hanya saja bedanya tidak ada debu beterbangan setiap kali Ishmael mengibaskan tinjunya.

Aku paling suka adegan kelahi antara Ishmael dengan Rika di pantai. There’s so much hearts involving on their deadly encounter. Di titik ini kita sudah paham latar belakang masing-masing, and it was shot beautifully. Aku terpukau oleh pemandangan air yang memerah oleh darah. Adegan yang menyerang fisik dan emosi kita. Julie Estelle sebagai Rika yang bersenjatakan belati membuktikan dirinya bukan hanya sanggup mengimbangi koreografi Iko, sekalian juga ngukuhin posisi sebagai ‘cewek gangster’ dalam genre laga masakini.

 

Iko Uwais juga dituntut untuk memperlebar range aktingnya. Kita bisa merasakan frustasinya, kebingungannya, deritanya. Ishmael adalah penampilan Iko yang paling emosional. Dia juga punya relationship dengan Ailin, yang actually adalah orang pertama yang ia kenal pasca amnesia. Hubungan dramatis kedua orang ini sayangnya tidak pernah hadir dengan menggetarkan hati. Secara teori kita mengerti bahwa hubungan antara mereka adalah hubungan yang dalem, it was more than karena Ailin lah yang memberinya nama, memberinya jati diri dan hidup yang baru. Tapi deketnya mereka enggak pernah tampak meyakinkan dan berkembang on-screen. Chemistrynya sedikit sekali. It didn’t feel sweet, at all. Aku malah lebih tergerak oleh hubungan antara Ishmael dengan bapak-bapak yang menemukan dirinya di pantai pertama kali.

 

Tidak melulu bicara lewat aksi-aksi seru yang menegangkan, Headshot MENGGALI SISI DRAMATIS. Dia punya cinta, film ini mau nunjukin kalo dia punya hati. Akan tetapi, Headshot bukan The Bourne Identity. Ishmael enggak diberikan kesempatan belajar yang sama dengan yang didapat oleh Jason Bourne ketika ingatannya hilang. Malahan, yang belajar dalam film ini adalah kita para penonton saja. Journey Ishmael dibuat lebih gampang dengan ia berusaha mengingat lewat flashback.
Narasi yang ada terasa lemah dengan begitu banyak poin cerita yang mengundang pertanyaan dan enggak benar-benar ditulis full-circle. Ada banyak adegan yang memperdengarkan para tokoh menyinggung berbagai kelemahan pada narasi, misalnya ketika Lee setengah meledek Ailin yang menusuk bahunya alih-alih menghujamkan pisau ke lehernya, “I thought you were a doctor” katanya. Yang tentu saja aspek tersebut bisa juga kita artikan sebagai filmmakernya sengaja melakukan hal demikian; that they intend to turn a lazy writing into somekind of ironic comedy. Ada juga poin cerita yang enggak jelas keberadaannya untuk apaan, seperti adegan yang involving Ishmael dengan sebilah pedang buntung. Adegan tersebut tidak pernah dibahas lagi sejak kemunculannya yang juga terasa out of nowhere.

Ketika kepalan tangan berlumur darah itu diturunkan, drama yang dicetuskan justru seringkali terdengar sangat sappy. Karakter-karakternya, di luar misteri jati diri Ishmael, sulit keluar dari satu-dimensi. Celetukan trash talking dideliver dengan bikin kita nyengir. Apalagi dialog-dialog ngeromantis antara Ishmael dengan Ailin. Cheesy abis! Bagi Chelsea Islan bukan masalah sih, she could handle this kindof drama very-well, doi juga kebagian adegan aksi yang cukup meyakinkan. Babak pertama film ini bisa menjadi siksaan tersendiri bagi penonton.

Orang-orang experience kebahagiaan dengan cara yang berbeda. Sebaliknya, penderitaan, terutama yang begitu intens – seperti yang dialami oleh Ishmael dan rekan-rekannya di dalam sumur Ayah dari Neraka, akan dirasakan, diexperience dengan cara yang sama. Menderita bersama bisa menumbuhkan rasa persaudaraan yang kuat, that we share the same pain. We share the same colour. Dengan mengerti ini, kita akan bisa merasakan emosi yang lebih kuat dari cerita antara Ishmael dengan geng bandit of deadly killers yang mengejarnya.

 

 

 

Tema kekerasan yang brutal, intens, dan penuh darah diangkat dengan gegap gempita. Tema, atau katakanlah gimmick, film ini sebenarnya berantem dengan elemen drama yang berusaha ia angkat. Dan drama tersebut kalah telak, it feels weak, didn’t work properly, malahan membuat film menjadi cheesy. Tapi dengan formula naratif yang begitu simpel; berantem – ngobrol – berantem – diculik –berantem – ngobrol –berantem, kelemahan film ini dapat dengan mudah kita overlook. Setiap sekuens action were very cool, fantastic, well-shot, imbued with story sehingga sanggup bercerita lebih lantang. Didukung pula oleh efek praktikal dan sound design yang excellently mendebarkan. Kompetisinya memang enggak banyak, tapi ini adalah kandidat kuat film laga dengan aksi terbaik tanah air di tahun 2016.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for HEADSHOT.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements