Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“We carry our prisons with us.”

 

rogueoneastarwarsstory-poster

 

Salah satu topik paling mujarab buat bikin bibir para die-hard fans of Star Wars jadi item kebanyakan nyerocos adalah soal Death Star. The ultimate battle station, armed with weapons luar-dalem, yang sanggup menghancurkan satu planet, tampak begitu rapuh dengan adanya satu titik lemah. Kenapa sih dibikin begitu? Meskipun memang kemungkinannya kecil ada sejenis Luke Skywalker yang sanggup menerobos segala maut, kenapa Death Star harus punya kelemahan? Kenapa tidak ada yang do something about it? Kenapa para rebel bisa mengendus dan jadi punya rencana untuk menghancurin petaka bundar tersebut? Dari mana Princess Leia bisa dapet rencananya, siapa yang bikin?

Well, Rogue One adalah cerita yang bakal menjawab semua pertanyaan yang dikeluhkan fans tersebut. Dan film ini akan melakukannya dalam cara yang emotionally memuaskan.

 

rogue
Oke untuk menyelamatkan kalian semua dari kebingungan dan kewajiban menonton seluruh episode Star Wars terdahulu (kalian yang rugi sih, kalo belum nonton. C’mon, it is STAR WARS!!!), Rogue One mengambil timeline di antara episode III dengan the much closer episode IV (the original Star Wars). You know, Rebellion melawan Empire. Protagonis kita adalah Jyn Erso (Felicity Jones memerankan emosi perannya dengan terrific) Cewek ini menemukan dirinya mau-tidak-mau bergabung dengan pasukan rebel dalam sebuah misi kecil rahasia. Mereka ingin mengambil the Death Star plans dengan harapan dapat membalikkan kedudukan dalam pertempuran dengan the Empire.

Dari kecil kerap disembunyikan saat keadaan genting oleh orang-orang terdekatnya dengan alasan untuk keselamatan dirinya sendiri, Jyn Erso tumbuh menjadi karakter yang punya semacam trust issue. Dia tidak terbiasa mendapat bantuan, dalam keadaan sulit ia tidak terbiasa bersama orang-orang. Sesungguhnya ini adalah keadaan yang menyedihkan, untuk menganggap cinta berarti meninggalkan. Untuk menganggap tempat yang aman adalah kesendirian.

 

Selain Jyn, kita juga akan bertemu dengan tokoh-tokoh baru yang unik dan menyegarkan. Tidak ada Jedi di sini, instead kita akan kenalan sama orang-orang yang percaya kepada The Force as well as orang-orang yang sudah jadi bitter oleh perang. Favoritku adalah si droid imperial berjudul K-2SO (Alan Tudyk delivered his lines dengan kocak). K-2SO adalah tokoh yang sangat menyenangkan, is very likeable, dia banyak kebagian humor one-liner yang sukses bikin kita ketawa. Bicara soal humor, ada satu tokoh yang bukan hanya funny namun juga sangat keren; Chirrut Imwe (Donnie Yenn mainin tokoh yang badass abis). Semua adegan dia bertarung sangat asyik untuk diikuti. Dan aku ngakak sejadi-jadinya ketika mereka ditangkep dan muka mereka diselubungin kain hitam, Chirrut literally bilang “Are you kidding me, I’m blind…!”

 

Sejak Godzilla (2014), Gareth Edwards sudah menunjukkan keahlian dalam membuat kita merasa relate kepada apa yang terjadi di layar. Dia benar-benar MENANGKAP PERBEDAAN UKURAN; ada adegan dengan AT-ACT berjalan menembaki orang-orang dan sama seperti yang ia lakukan pada Godzilla, kita akan dibuat melihat adegan tersebut dari perspektif para manusia di bawah sana. Kita benar-benar merasa kecil, as opposed to the gigantic. Dan bukan kecil dalam soal ukuran, dalam soal jumlah pun kita dibuat really feel perbedaannya.
Rogue One adalah film action yang sangat FUN, EXTREMELY REALISTIC – dalam kosakata fantasy sci-fi, tentu saja. Aku suka gimana mereka berhasil memanfaatkan apa yang sebenarnya adalah porsi kejadian yang kecil dari cinematic universe yang luas, menjadi begitu grounded. Berkat sekuens aksinya yang punya perspektif yang so-in-the-moment. Environment planet-planetnya gorgeous. Design produksinya berhasil membangun dunia yang real dan tangible. Banyak praktikal efek yang bikin kita kagum, seperti halnya pada film Star Wars yang lain. Namun, pada spesial efek film inilah kata luar biasa terletak. Sebut saja, adegan pertempuran di udara, pertempuran di pantai menjelang penghabisan film, semua itu sangat menyenangkan untuk dilihat. In fact, they were all very mind-blowing. Grafik komputernya sungguh mulus masuk ke dalam film sehingga jadi menyatu dengan karakter-karakter manusia.

Apakah kalian sadar bahwa wajah General Tarkin di sini entirely diciptakan dari CGI?

Apakah kalian sadar bahwa wajah General Tarkin di sini entirely diciptakan dari CGI?

 

Tentu saja ada banyak referensi film-film Star Wars terdahulu, yang dilakukan demi kesinambungan cerita. Meski terkadang lebih untuk memuaskan nostalgia para fans. Rogue One cukup bijak dan berani bertaruh kepada ceritanya sendiri, sehingga referensi-referensi itu diperlihatkan dengan tidak berlebihan. Mereka ada, akan tetapi tidak overpowering. Mereka ada, begitu kalian recognize it pengalaman nonton akan semakin menyenangkan. Jika kalian melewatkannya pun, tidak akan berpengaruh terhadap kesenangan nonton film ini sebagai satu cerita yang utuh.

Topik ini membawa kita kepada satu sosok paling ditunggu-tunggu; Darth Vader. Normally, kalian pasti sudah mengantisipasi kemunculannya. Tapi buatku yang enggak nonton trailer, enggak baca berita promosi, adegan saat bunyi napasnya pertama kali terdengar adalah adegan yang bikin aku menjerit kayak anak kecil. Apalagi saat dia bicara dan suara James Earl Jones terdengar! Darth Vader kebagian adegan yang incredibly awesome di sini, cool banget deh pokoknya. Like, we want to see him more. Namun actually, porsi penampilan Darth Vader sedikit sekali. Malahan si Tarkin dapet screen-time yang lebih banyak dibanding Darth Vader. Granted, peran masing-masing cukup vital dalam cerita episode jembatan ini. Tapi serius deh, Vader muncul di dua adegan doang. What a way to tease us, right?

With that being said, Rogue One adalah petualangan yang seru dan menyenangkan, akan tetapi TIDAK PERNAH TERASA MENDEBARKAN. It lacks of surprises. Film ini kehilangan sesuatu hal mendasar yang sudah membuat kita tertarik ngikutin Star Wars; karakter. Yea, di sini kita dapet banyak tokoh-tokoh yang sangat likeable, yang keren, yang kocak, tapi mereka tidak punya intensity. Kita tidak merasakan urgensi kepada karakter-karakternya. Selain Jyn Erso, mereka tidak diberikan alasan kenapa kita harus mendorong mereka. We don’t know nothing about them. Karakter Cassian Andor yang diperankan sangat baik oleh Diego Luna, misalnya. He’s got some emotional burst, hanya saja kita tidak diberikan kesempatan untuk belajar mengenai siapa dia. Well, kecuali soal kita tahu dia baru sekali dipenjara dan dia didn’t like it. Tidak banyak yang diberikan kepada karakter-karakter membuat kita susah untuk peduli. Babak pertama film ini actually terasa rada messy dengan introductions yang abrupt. Contohnya lagi, soal hubungan Chirrut dengan temannya yang macho kayak Rambo, Baze Malbus. Persahabatan mereka sangat menarik, akan tetapi kita tidak pernah tahu alasan kenapa mereka berteman. Kita tidak belajar apapun tentang siapa kedua karakter ini. Tidak banyak yang bisa bikin kita terinvest sepenuhnya sama karakter-karakter pendukung, mereka seperti ada di sana hanya karena naskah butuh seseorang (atau sese-droid) untuk melempar lelucon, atau butuh adegan aksi yang keren.

dan tolong jelaskan sekali lagi kepadaku, apa gunanya monster bertentakel itu hadir di film?

dan tolong jelaskan sekali lagi kepadaku, apa gunanya monster bertentakel itu hadir di film?

 

Ini bukan lagi (atau paling enggak; belum) cerita tentang penyelamatan putri yang berlokasi di ruang angkasa. Rogue One adalah cerita yang really grounded tentang perang. Gampang untuk mengantagoniskan pihak musuh dan menjustifikasi tindakan yang kita percaya sebagai yang benar, tidak peduli kita mengambil aksi yang sama terriblenya. Film ini menggambarkan dengan tepat bagaimana persaudaraan di lapangan perang bisa terjalin di antara pejuang despite their backgrounds, bahkan meskipun tidak selamanya kita punya tujuan berperang yang sama. “You don’t have to rebel if you didn’t look up.”, kata Jyn – mengisyaratkan bahwa kita membawa penjara dalam diri masing-maisng dan eventually ini adalah cerita tentang kesalahan dan cela manusia pada tingkat yang cenderung ekstrimis.

 

 

 

Film yang exciting, dengan petualangan dan aksi yang seru dan so-in-the-moment. Sinematografi yang mencengangkan. CGnya tanpa cela. Katanya film ini banyak reshot, namun editingnya tetap terjaga ketat. Sebagai sebuah film action, ini akan menghibur banyak orang. Filmnya cukup berani untuk berdiri sendiri. I enjoy it very much, malah pengen nonton lagi. Namun sebagai sebuah film, let alone sebuah film dari universe Star Wars, film ini kehilangan satu hal penting. Karakterisasi yang harusnya bisa ditulis lebih dalem lagi. Harusnya bisa digali sehingga para tokoh yang ada enggak hanya sekedar jadi pelontar joke ataupun petarung yang akrobatik. Tokoh film ini kehilangan intensitas, mereka tidak terasa sepenting Han Solo, ataupun Kylo Ren. They’re just there. Untuk mengingatkan kita bahwa perang are fought oleh orang-orang kecil yang hebat yang mengorbankan diri mereka demi kemenangan pihak yang lebih besar.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for ROGUE ONE: A STAR WARS STORY.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements