Tags

, , , , , , , , , , , , ,

roadblockeotl2016poster

 

Acara Roadblock dari Raw turns out terasa sama persis dengan judulnya; macet! Tagline “End of the Line”nya menggambarkan kebuntuan perasaan gembira yang akan kita alami saat menonton ini. They are trying to deliver stories, mereka punya materi solid untuk diceritakan, hanya saja berkat booking yang enggak kreatif-kreatif amat kebanyakan dari cerita-cerita tersebut bikin kita seolah berjalan, nemu jalan buntu, kemudian muter balik lagi. Masalah yang kalo di film istilahnya; resolusi plot yang muter-muter. Dan pada Roadblock: End of the Line 2016, di ujung jalan di sana yang ada cuma kebengongan. Apaan? Ini kita nonton Raw mingguan biasa apa gimana sih?

 

Eventually aku akan ngomongin masalah booking yang jadi penyebab utama jeleknya acara ini. Tapi seperti biasa aku mau bahas yang bagus-bagus dulu. You know, mungkin ini bawaan dari jaman sekolah. Guru-guru kan biasanya kalo menilai selalu bilang semacam “Tulisan kamu bagus tapi idenya masih banyak yang bisa lebih dikembangkan lagi”, atau pernah juga guru bilang padaku “Idenya keren tapi tolong dong ya tulisan kamu dibenerin, kelas 3 SMA apa 3 SD sih ini!!!??!!” Jadi sampe sekarang nulis review pun, aku jadi terajar buat menilai sesuatu dari nilai plusnya duluan. Semua pasti punya dua sisi – kuat dan lemah, yang aku suka dan tidak suka – dan I think it’s only fair kalo keduanya diulas dengan mengangkat sisi baik terlebih dahulu.

Kembali ke Roadblock: End of the Line 2016, the best match malam itu adalah pertandingan kejuaraan tag team yang ditaroh sebagai pembuka. Antisipasi kelengseran New Day memang sudah memuncak, mereka baru saja memecahkan rekor tag team legendaris Demolition sebagai pemegang sabuk juara tag team terlama (483 hari itu panjang loh, rekor pacaranku aja dicombine gasampe segitu huhu). Makanya false finishes yang bertebaran pada pertemuan mereka dengan Cesaro dan Sheamus ini terasa begitu greget. Pacingnya great, it was full of energy. Kedua tim semakin kreatif terhadap masing-masing menjadikan partai ini sangat enjoyable.

Sayangnya, semua kesenangan terus menurus sampai penutupan acara ini. Well, sekitar pertengahan mungkin kita tersulut sedikit api oleh kemunculan kembali Neville, yang dengan sukses membuat dua top cruiserweight menjadi terlihat seperti jobber. Neville legit terlihat on fire di segmen berantem post-match, I like how he didn’t bother to display his famous Red Arrow move. But I must tell you tho; bukan pertanda baik bagi keseluruhan divisi cruiserweight jika Neville yang balik sebagai antagonis justru mendapat ucapan terimakasih yang hangat dari penonton di arena. In fact, tidak sedikitpun peduli diberikan oleh penonton — di arena ataupun di Warung Darurat tempatku nonton bareng – kepada kejuaraan Cruiserweight yang dilangsungkan dalam kontes triple threat. Di saat Rich Swann, T.J. Perkins, dan Brian Kendrick sibuk terbang di atas ring, penonton sibuk melayang di dalam pikiran masing-masing. Bahkan tidak ada reaksi penonton ketika Perkins dengan bego ngebreak Knee Bar submissionnya sendiri padahal tidak ada aturan rope break dalam pertandingan triple threat. Seriously, that was just a plain-stupid gesture dari Perkins. Tidak menolong apa-apa buat karakternya yang membosankan dan sok ngehits sedari awal.

Stupid itu kepanjangan dari “STUpid Idiot”

Stupid itu kepanjangan dari “STUpid Idiot”

 

Bicara tentang tidak menolong apa-apa buat karakter, Sami Zayn melawan Braun Strowman sungguh kacau. Cerita yang diangkat adalah gimana Strowman adalah seorang monster yang tidak ragu untuk menghancurkan lawannya dan Zayn adalah seorang petarung yang tak-akan mundur, that he could survive dari sang monster, dan terutama dari dirinya sendiri. Akhir dari pertandingan yang dibatasi sepuluh menit ini memancing kita dengan pertanyaan yang lebih besar; bisakah Sami actually mengalahkan Strowman jika diberikan lebih banyak waktu. Sebenarnya storyline ini menyegarkan, cerita resiliency selalu berhasil menciptakan kesan dramatis dan mestinya bisa menguntungkan buat kedua kubu yang terlibat.
But the weird booking has found the way in. Pertandingannya tidak pernah mencapai titik brutal yang benar-benar memerlukan kemunculan Mick Foley sambil membawa handuk putih tanda menyerah. Zayn dihajar biasa aja padahal. Kedatangan Foley justru terasa kayak ngulur-ngulur waktu, tetep aja kesannya Zayn diselamatkan oleh Foley. It didn’t make Zayn look strong. Kalo Foley enggak datang, Zayn masih akan terus dilempar ke sana kemari oleh Strowman yang terlihat enggak berniat untuk menangin match – dia gak pernah go for the pin. Alih-alih diberikan partai 10-menit yang brutal di mana kita akan ngecheer dan peduli terhadap kesehatan Zayn, kita malah diberikan pertunjukan drama yang including akting kaku dari Strowman.

 

Dua pertandingan high-profile pun mesti menyerah kalah oleh BOOKINGAN YANG BURUK. Kita tahu ada sesuatu yang enggak klop ama suatu match jika video promo-sebelum tandingnya aja udah enggak fokus. It was a long reach dari video nampilin tentang Rollins dengan Triple H, ke antara Rollins dengan Jericho. Begitu pun dengan video package sebelum main event; fokusnya lebih ke persahabatan Owens dan Jericho, instead of clash antara Owens dengan Reigns. Akibatnya ya memang matchnya jadi kurang percikan. Rollins lawan Jericho cukup bagus, namun dengan superstar sekaliber mereka berdua seharusnya bisa lebih hebat lagi. Rollins bener-bener butuh Triple H secepatnya, aku pikir mungkin WWE bisa ngestall feud mereka paling lama sebulan lagi. Dan memang sepertinya mereka bakal memainkan angle Owens-Jericho melawan Reigns-Rollins. Which is not bad, kita bisa lihat di ending acara ini. Masalahnya terletak pada hubungan antara Owens dan Jericho.
They have been swerved us so much, ngetease perpecahan kubu ini, hanya untuk melihat dua superstar Kanada ini bergabung kembali. Itulah yang aku sebut di atas tadi dengan istilah ceritanya muter-muter. Keseluruhan main event mala mini hanya bertujuan untuk melihat Jericho ternyata masih di pihak Owens. Dan sebelum adegan tersebut terjadi, kita disuguhkan oleh pertarungan yang biasa-biasa saja antara juara yang tidak seganas dulu lagi melawan Reigns yang jurusnya itu-itu melulu. The only awesome thing yang terjadi adalah tiga Frog Splash dari Kevin Owens. Beneran deh, pertandingan mereka ini tidak punya urgensi – tidak ada feel ppv nya sama sekali.

I love it ketika di tengah match, Owens mengejek betapa pengecutnya Reigns tidak ikut menyertakan sabuk U.S miliknya sebagai pertaruhan.

I love it ketika di tengah match, Owens mengejek betapa pengecutnya Reigns tidak ikut menyertakan sabuk U.S miliknya sebagai pertaruhan.

 

 

Salah satu yang menarik perhatianku adalah Charotte yang muncul dengan nama Charlotte Flair. It’s really intriguing kenapa kali ini dia kembali nongol pake nama belakang ayah yang katanya ia despise so much. Satu rekor putus, satu rekor lagi tetep hidup. Anyway, aku gak begitu masalah soal titel yang bolak-balik berpindah. I get the bigger picture dari WWE yang terus ngepush winning streak Charlotte; jadi ketika pada akhirnya nanti ia kalah, it would be like the biggest deal of all. Hanya saja mestinya hasil akhir decisive battle antara Charlotte dan Sasha Banks ini bisa ditulis dengan lebih meyakinkan dan lebih seru lagi. Karena ada begitu banyak yang salah dari gimana pertandingan Iron Man 30-menit mereka berakhir; seri dua-dua kemudian perpanjangan waktu dengan Charlotte menang sudden death.

Pertama adalah elemen perpanjangan waktunya. Mengingat status match, this should be a big deal. Paling enggak, mestinya dihandle dengan Stephanie atau Mick Foley keluar buat ngumumin perpanjangan waktu demi membuat keputusan ini terlihat semakin legit. Namun pertanyaan terbesarku soal perpanjangan waktu adalah; apakah benar-benar diperlukan? I mean, mari lihat struktur jalannya match ini: Dari 30 menit, Sasha dan Charlotte menghabiskan 20 menit awal untuk set-up (alias nothing special happens), barulah pada 10 menit terakhir keadaan menggila. Sasha jatuh dengan posisi naas, wajahnya menghantam steel steps, dan later hidungnya mengucurkan darah. Charlotte ngelakukan Diving Natural Selection. Dan skor berakhir dua-sama. And then proceed to overtime. Jadi basically, mereka berduel lebih dari 30 menit so apa poinnya bikin match ini 30 menit? Kenapa enggak sekalian bikin jadi Iron Man 45 menit atau malah digeber dari 20 menit pertama, supaya overtime yang membingungkan alih-alih dramatis bisa dihilangkan.

Kedua adalah soal kenapa skornya bisa seri. Sasha Banks disiksa oleh kuncian kaki Figure 4 dari Charlotte sekitar lima menit terakhir, dan dia tap-out pada detik ke 29:58 ketika Charlotte menambah siksaan dengan jurus Figure 8 ciptaannya sendiri. Ini adalah cerita yang compelling, jika saja Sasha tidak melirik ke display waktu pada titantron. Clearly, Sasha melihat tinggal dua detik lagi. Mestinya dia bertahan, sefrustasi apapun-sesakit gimanapun, pingsan jika perlu. Apalagi penonton di arena sudah pada teriak ribut ikut menghitung detik-detik terakhir, menyemangati Sasha agar bertahan. Nyatanya enggak. Ini udah kayak ketika nonton film horor dan ada tokoh yang ngelakuin hal gegabah yang bego yang bikin kita neriakin layar. Setelah momen draw itu, kita tidak lagi percaya Sasha berhak menangin sabuk kejuaraan bergengsi tersebut.

Poor Sasha, lebih masuk akal kalo dirinya kalah kena pin

Poor Sasha, lebih masuk akal kalo dirinya kalah kena pin

 

 

 

 

 

Sekali lagi, para superstar sudah menunjukkan kerja keras mereka. Tim kreatiflah yang membuat usaha mereka nyaris sia-sia dengan terrible booking. Roadblock: End of the Line 2016 terasa tidak ada bedanya dengan acara Raw yang biasa kita tonton setiap minggu. Acara yang datar dan biasa saja. Pertandingan yang kurang greget; Iron Man, stipulasi Zayn lawan Strowman, Kejuaraan Universal, Jericho lawan Rollins, semuanya punya kesamaan: terlalu mengandalkan outside/mechanic interference. Kita hanya penasaran ingin segera melihat hasil akhir, tanpa bisa peduli dengan jalan pertandingan aktualnya.
Hanya Kejuaraan Tag Team antara New Day dengan Sheamus dan Cesaro yang betul-betul bikin kita bersemangat dan peduli, itulah sebabnya kenapa match tersebut dipilih oleh The Palace of Wisdom sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

 

 

 

Full Results:
1. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP Sheamus dan Cesaro berhasil menghentikan rekor juara The New Day.
2 10-MINUTE TIME LIMIT MATCH Sami Zayn survives Braun Strowman
3. SINGLE MATCH Seth Rollins mengalahkan Chris Jericho
4. WWE CRUISERWEIGHT CHAMPIONSHIP TRIPLE THREAT MATCH Juara bertahan Rich Swann mengalahkan T.J. Perkins dan Brian Kendrick
5. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP IRON MAN 30-MINUTE MATCH Charlotte Flair merebut gelar dari Sasha Banks
6. WWE UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Kevin Owens, dengan kekuatan persahabatan, mengalahkan Roman Reigns.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Buat yang di Bandung, kami akan mengadakan nonton bareng pay-per-view WWE, so yea you are very welcome buat ikutan. Senantiasa cek facebook Clobberin’ Time buat info nobar selanjutnya.

 

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements