Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Life can only be understood backwards but it must be live forwards.”

 

assassinscreed-poster

 

Menjadi gamer yang juga hobi nonton film kadang bisa menjadi begitu menyebalkan. Karena sampai sekarang, kita belum dapet film adaptasi dari video game yang benar-benar bermutu dan memuaskan. Yang memuaskan doang sih lumayan banyak, beberapa adaptasi dengan sukses menyadur elemen-elemen seru dari game, hanya saja film-film kayak gitu sebenarnya termasuk jenis tontonan guilty pleasure. Kita sadar filmnya enggak bagus, but we enjoyed it. Misalnya kayak Tomb Raider (2001), atau film Final Fantasy VII: Advent Children (2005). Bukan perkara yang mudah memang memindahkan cerita dari media game yang bisa punya waktu yang sangat kompleks dan panjang ke media film yang terbatas oleh durasi. Makanya dari sekian banyak game-game keren, kebanyakan yang dijadiin film malah game-game yang konsepnya amat sangat simpel. Doom (2005), misalnya, diangkat dari game first person tembak-tembakan melawan monster. Atau Mortal Kombat (1995) yang merupakan game gebak-gebuk yang cukup sadis. Heck, tahun ini kita dapet sebuah film animasi based on game di handphone, you know, the one with birds and catapult? Actually, tahun 2016 kita dapat banyak adaptasi video game namun belum ada yang sukses jadi film bagus. Sederhana, not much effort, dan jaminan uang kembali yang lebih gede adalah alasan utama kenapa, alih-alih Metal Gear Solid, mereka membuat film dari game-game remeh yang populer.

 

Ubisoft dengan salah satu video game terbaiknya, Assassin’s Creed mencoba untuk menghadirkan tayangan dengan kualitas, konsep original yang bakal memuaskan penggemar video gamenya, dan elemen yang menghibur buat semua yang nonton, yang bercampur sama rata.
Seorang terpidana hukuman mati, Callum Lynch (Michael Fassbender really trying, sampe buka baju segala!), menemukan dirinya setelah disuntik mati justru terbangun sebagai kelinci percobaan untuk eksperimen yang dilakukan oleh organisasi misterius yang sudah menyelamatkannya; Abstergo Industries. Bertindak sebagai pemimpin adalah Sofia Rikkin (aku actually lebih suka adegan-adegan dramatis yang melibatkan tokoh Marion Cotillard ini), eventually Sofia menjelaskan segala ini-itu dan cara kerja Animus. “Di sini kau tidak dipenjara, kau bebas mau ke mana jika mau bekerja sama”, jadi dengan terpaksa Lynch mau memasuki dunia virtual Animus, mengulang kembali kejadian hidup leluhur yang mengalir di dalam darahnya, dengan tujuan untuk menemukan lokasi di mana sebuah relic yang penting bagi kemanusiaan tersimpan.

Saat Lynch masuk Animus tersebutlah, kita akan dibawa ke Spanyol tahun 1400an untuk experiencing kehidupan leluhur Lynch yang menarik. Aguilar de Nerha (masih dimainkan oleh Michael Fassbender, hanya dengan lebih banyak pakaian dan lebih sedikit bicara) adalah anggota dari kelompok Assassin yang tengah bersengketa dengan para Templar. Segala yang kita suka pada video gamenya hadir pada bagian memori virtual ini. Adegan aksi parkour yang keren-keren, berlari di atas atap, membunuh dari balik kegelapan, dan eventually adegan fighting hand-to-hand, semuanya berhasil ditangkap dengan mulus. Stunwork yang excellent namun terkadang aku cukup sebel sama editing adegan kelahi yang seringkali cut us away saat aksi mulai memanas, membuat kita tidak dapat melihat apa yang terjadi dengan dekat. Mungkin sebabnya adalah karena film ini ingin mempertahankan rating PG, alih-alih M seperti video gamenya. Penggemar game ini pasti bakal terpuaskan dari segi aksi karena bukan FLASHY ACTION stylenya, setting dan kostum pun dibuat mendekati versi gamenya. Film ini punya sinematografi yang hebat (meski kadang ketutup sama efek yang rata-rata). Ia memperhatikan detil yang dianggap angin lalu oleh film adaptasi game kebanyakan.

 Jika ada seorang Assassin yang namanya menjadi terkenal maka itu artinya dia bad at his job, bukan sih?

Jika ada seorang Assassin yang namanya menjadi terkenal maka itu artinya dia bad at his job, bukan sih?

 

Elemen sci-fi yang diangkat memang menarik. Begitu juga dengan posisi abu-abu yang dijadikan pijakan oleh film ini. Assassin’s Creed menggoda kita dengan pandangan-pandangan dari kubu Assassin dan Templar tanpa menjadikan satu pihak lebih benar daripada pihak yang lain. Mereka semua melakukan terrible things. Tokoh kita ingin mengambil relic yang dipercaya bisa menghapus violence dari sifat manusia, dan in order to do that mereka akan melakukan banyak kekerasan. Lynch akan belajar siapa sebenarnya dirinya lewat masa lalu, sekaligus dia menjadi mengerti siapa organisasi yang menyelamatkannya. Kita juga melihat cekcok antara Sofia dengan ayahnya atas nama science. Aku suka gimana film ini mengeksplorasi soal kebebasan dan gimana manusia modern sudah begitu bablasnya that they don’t care anymore, bahwa manusia kini cenderung jadi lebih suka menjadi pengikut.

Lynch pergi ke masa lalu supaya bisa memperbaiki masa kini.Film ini examined topic bahwa demi kebaikan masa depan manusia, kita perlu mempelajari sejarah. Taking clues dari apa yang terjadi pada masa lalu. Karena hidup harus kita jalani sekarang dan hanya bisa dimengerti jika kita bercermin ke belakang.

 

Mekanisme dan struktur cerita mengharuskan kita untuk sering berpindah-pindah dari masa lalu ke masa sekarang, dari Aguilar yang melompat di atas atap ke Lynch yang melompat di dalam ruangan. Ini sesungguhnya terlihat sedikit menggelikan. Kalo mau diringkas, nonton film ini kayak kita nonton Fassbender yang lagi main game virtual reality. Dan kita sama-sama tahu, game paling asyik jika kita yang memainkan sendiri. I mean, apa enaknya terus-terusan nonton orang main game? Apalagi kalo permainannya jelek? And that’s what this entire film feels like. Kita tidak pernah merasa berada di posisi ‘player’ alias tokoh utama lantaran film ini tidak benar-benar mendevelop Lynch, ataupun Aguilar, atau Sofia, atau bahkan para karakter pendukung yang lain.

Film ini berusaha mengconvey cerita yang berlapis namun begitu sibuk dengan set up dan penjelasan dunia sehingga, literally, para tokohnya cuma berdiri diam di sana. It was so convoluted, membengongkan. Arahannya tidak pernah betul-betul fokus. Masalah yang biasa muncul jika film lebih memilih untuk memposisikan diri di tengah; karena kalo ada yang kupelajari dari kelas film yang dimentori oleh produser Mas Ichwan Persada, maka itu adalah film enggak boleh setengah-setengah. Yang ada malah kita akan dibuat sama bengongnya dengan Sofia ketika Lynch bilang relic kuno tersebut adalah hidupnya, karena kita have no idea darimana kalimat tersebut bisa masuk akal. Tokoh utama kita dibangun dengan konsep pahlawan standar cerita tiga-babak yang clear, hanya saja the whole journey tidak terasa urgen dan penting. Babak ketiganya malah terasa dragging dan aku ingin ceritanya cepat-cepat selesai. Konflik dan backstory yang dihamparkan tidak disentuh lebih dalam sehingga tidak jadi emosional. Kita gagal paham soal apa yang hendak dicapai; the inner journey, apa yang menghambat – apa tantangannya, bahaya apa yang akan dihadapi jika Lynch gagal dapetin relic kuno tersebut. We just can’t root for this character.

Dan bicara soal relic kuno tadi, well, jumlah kata “The Apple (of Eden)” is so ridiculous sehingga kita bisa bikin meme khusus film ini buat bakal saingan ama meme The Bee Movie

setelah dipikir-pikir, aku malah ngarep film ini dipercepat setiap kali kata ‘Apel’ disebut

setelah dipikir-pikir, aku malah ngarep film ini dipercepat setiap kali kata ‘Apel’ disebutin.

 

 

Kesalahan terbesar film ini adalah karena ia menjadi terlalu serius sehingga melupakan elemen penting yang harus ada dalam film-film yang diangkat dari video game; unsur fun. Aku tidak merasakan asiknya berpetualang dalam dunia semi-sejarah seperti yang kurasakan di video game. Lynch yang tadinya hanya bisa berlari, jadi bisa lompat ala parkour, dia jadi belajar hal yang sebelumnya tidak tahu bisa ia lakukan – namun kita tidak melihat dia merasakan kesenangan. Kalo aku pergi ke suatu tempat di mana aku bisa terjun bebas tanpa terluka, pastilah aku akan teriak kegirangan. Bagi Lynch, ketegangan aja yang terpancar. Padahal dia lama di dalam penjara loh, experiencing something amazing kayak yang ancestornya lakukan harusnya bikin dia merasakan sesuatu euphoria. The one time Lynch kelihatan have fun adalah ketika dia bernyanyi-nyanyi diseret ke Animus, akan tetapi adegan tersebut juga tidak terlihat asik, malah bikin kita nyengir waspada. It was still tense dan lebih ke psychotic. Even filmmakingnya pun terasa enggak fun, kentara dari musiknya yang terus bernada begitu melulu, penggunaan warna yang film ini diatur banget, film ini begitu niat untuk jadi film yang punya “It”

Sayangnya, Leap of Faith yang dilakukan Assasin’s Creed masih kurang nyampe dalam ngedeliver sebuah tontonan dari videogame yang menghibur dan cerita yang berkualitas.

 

 

 

 

 

Inilah yang terjadi jika film ingin bikin senang semua orang dengan mengambil langkah yang setengah-setengah. Sinematografi yang cakep namun tertutup oleh efek komputer yang kasar. Aksi yang seru, tetapi jadi tumpul oleh editing yang loose. Karakternya pun  hampa dan tidak benar-benar memberikan sesuatu yang baru. Punya tema dan elemen cerita yang menarik, hanya saja keputusan mengeksplorasi dari daerah abu-abu jadi boomerang buat film ini. It was pretty bland. Dengan sedikit cacat pada logika. It takes itself too seriously. Akting nama-nama besar pun tidak banyak membantu. Unsur fun seperti melompat terbang bersama tokoh-tokoh filmnya; Hilang tak terasa. Menonton orang lain bermain video game belum pernah semembosankan ini.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ASSASSIN’S CREED.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

Advertisements