Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“We share the blame.”

 

 

Ada dua hal yang bisa kita lakukan saat rumah kita kemalingan; pasrah, atau melawan. Sebenarnya ada satu lagi yakni minta tolong. Tetapi jika rumah kita letaknya di tengah-tengah entah di bagian mana Sumba seperti rumah Marlina, teriak minta tolong jelas bukan pilihan yang cerdas.

Rumah Marlina selayaknya adalah sistem yang rusak, karena dia tidak lagi punya suami. Tanpa anak. Marlina adalah istri, seorang wanita yang tidak punya lagi pria sebagai sosok pelindung. Film dengan segera mencengkeram kevulnerablean Marlina melalui tujuh pria yang datang menyatroni rumahnya. Merampok ternak. Memakan sup ayam masakannya. Dan kalo masih ada waktu, bergiliran menidurinya.  Tapi Marlina beruntung, karena sistem di rumahnya akan terestorasi berkat tindakan para pria tak-diundang tersebut. Marlina masih akan berfungsi sebagai wanita; tunduk dalam bayang-bayang lelaki. Toh, ada dua hal yang bisa dilakukan dalam sebuah sistem yang rusak; diem-diem aja sejauh mana bisa bertahan, atau bergerak untuk mengubahnya. Marlina memilih mengayunkan parang. Empat babak cerita ini adalah tentang Marlina si pembunuh dari Sumba yang menunggang kuda, menenteng kepala pria, di sepanjang jalan berbukit nan tandus.

Dengan sebagian besar waktu menampilkan pemandangan alam, film ini tampak SEPERTI FILM KOBOi. Musiknya membuatku pengen bertualang lagi di wilderness  game Wild Arms. Tapi jagoan utama film ini bukanlah pria berpistol. Marlina tidak menunggang kudanya ke balik matahari tenggelam. Ini adalah western gaya timur, yang dengan berani mendobrak pakem-pakem yang ada. Film ini tidak seperti yang lain. Serius deh, aku sampai merasa kasihan sama penonton yang masih berbondong ngantri nonton superhero – bahkan sampai rela mendongak di barisan depan, sementara mereka sebenarnya bisa lega-legaan menonton Marlina yang tayang satu hari sesudahnya, dan menikmati kecantikan dan keindahan cerita yang jarang didapat.

Oh, betapa mereka tidak tahu apa yang mereka lewatkan..

 

Setiap pilihan yang diambil oleh sutradara Mouly Surya adalah beneran pilihan beresiko yang terbayar dengan amat memuaskan. Marlina boleh saja membawa kepala orang ke mana-mana, namun sebenarnya yang melakukan heavy-lifting di sini adalah Marsha Timothy. Dia membawa keseluruhan film ini dengan sangat meyakinkan, emosi perannya begitu menguar lewat penampilan yang penuh oleh ekspresi-ekspresi terkepal penampilan. In fact, arahan Mouly berhasil membuat semua tokoh film ini kuat oleh karakter, mereka terasa nyata.  Novi, teman Marlina yang sedang hamil tua, juga diberikan arc cerita yang berakar pada kenyamanan istri yang ‘ikut’ suami. Dea Panendra juga enggak tanggung-tanggung menampilkan emosi. Novi tadinya ingin pergi mencari suaminya yang kesel lantaran anak mereka belum lahir-lahir. Dari cara Novi bercerita, kita tahu dia masih ingin memegang hubungan yang erat dengan suami, meskipun suami sudah menyalahkannya – menuduhnya ada main dengan pria lain. Ini adalah ciri orang yang playing the victim banget. Mereka bertahan karena ada orang yang bisa mereka salahkan.

Tapi film ini cukup bijak menangani tema yang ingin disinggungnya. Kaum lelaki diberi kesempatan untuk triumph secara kemanusiaan. Film tidak terjebak dalam perangkap sebagai korban. Tidak semua pria digambarkan arogan seperti Markus dan teman-temannya.

Ya, terkadang orang-orang kampung Sumba itu tampak aneh, mengingatkan kita kepada tokoh-tokoh di serial Twin Peaks. Film ini memang sesekali menampilkan adegan yang brutal; pemenggalan kepala actually terpampang tanpa tedeng aling-aling, tetapi film bekerja dengan sangat efektif  ketika dia tampil sebagai KOMEDI YANG BENAR-BENAR DARK. Kebanyakan komedi datang dari reaksi penduduk saat mereka bertemu dengan Marlina. Sekali lagi komentar tentang status gender terucap saat kita melihat para lelaki akan ketakutan, sementara para wanita tampak tidak terlalu mencemaskan. Aku beneran ngakak dan harus menutup mulut demi mendengar salah satu penumpang truk  menanyakan dengan kepedulian “Tidak capek tanganmu, Nona?”, alih-alih berteriak ketakutan ngeliat Marlina menodong supir truk yang ia bajak dengan parang.

 

Dunia yang nestapa menjadikan kita cenderung nyaman berperan sebagai korban. Saat kita menyalahkan orang lain atas kejadian yang menimpa, sebenarnya kita meminta untuk dikasihani.  Bahwa kita enggak salah. Yang salah orang lain, yang jahat adalah orang lain. Kita menggunakan istilah blaming the victim  untuk menuntut keadilan, akan tetapi justru mengukuhkan bahwa kita adalah victim, korban.

 

Jika ditelanjangi dari tema status gendernya, pesan soal menjadi korban atau enggak tersebut masih dapat kita rasakan keluar dari film. Ini bukan lagi sebatas gender mana yang jadi korban, karena kita melihat di bagian akhir cerita, peran ‘korban’ tersebut digulir begitu saja dari cewek ke cowok. Sedari awal, Marlina menuju kantor polisi bukan untuk mengaku telah membunuh orang. Kepala itu dia bawa bukan untuk ditunjukkan sebagai bukti. Dia melakukan perjalanan ke kantor polisi untuk mengadukan pelecehan yang ia alami. Marlina juga menolak mengaku dosanya ke gereja. Karena dia percaya dia enggak bersalah. Butuh tiga babak bagi Marlina untuk menyadari bahwa dia masih memposisikan dirinya sebagai korban. Ya, memang, walaupun digadangkan senang membantu rakyat, instansi pemerintah seperti polisi tidak pernah keliatan menyenangkan ataupun benar-benar membantu dengan segala tetek bengek birokrasinya. Film ini pun mengomentari soal tersebut saat Marlina duduk menceritakan tragedi ke yang berwenang.  Tapi Marlina tidak mendapat reaksi yang diinginkan. Malahan polisi justru tampak menyalahkannya, “kok enggak ngelawan?” polisi basically bilang gitu. Barulah ketika Babak keempat yang diberi judul ‘Kelahiran’, Marlina menyadari dia bisa duduk sebagai pengemudi.

nonton ini enaknya sambil makan sop ayam.

 

Bicara visual, ini adalah film yang sangat menawan. Pencahayaannya, wuiihhh, sama dengan Leonardo DiCaprio’s The Revenant (2016), film ini juga menggunakan cahaya-cahaya alami. Matahari, lampu petromaks, api tungku, menghasilkan gambar-gambar yang bergaung kuat oleh emosi cerita. Momen Marlina berpikir di dapur, dengan api tungku menciptakan riak-riak bayangan adalah salah satu momen favoritku di film ini. Wide shot pemandangan bukit-bukit alam itu dimanfaatkan lebih dari sebuah latar belakang. Kamera menangkap hal-hal indah adalah kerjaan sinematografer, dan kerjaan sutradaralah yang mengomandoi penggunaan dan penggabungannya. Semuanya disunting dengan sempurna, semuanya tergelar tidak dengan sia-sia. Tidak ada satu shot pun yang terasa salah tempat.

 

 

Desain produksi kelas atas. Film ini boleh berbangga sudah menciptakan varian genre baru dalam dunia sinema, karena dia memang pantas untuk berbangga. Pilihan musiknya, pilihan cara bercerita, film ini sangat berani. Ia begitu berbeda dari film-film Indonesia kebanyakan. Robbery – Journey – Confession – Birth adalah babak yang juga menjadi mantra bangkitnya kesadaran internal yang dialami oleh Marlina, juga Novi. Film ini membuka mata bahwa kebanyakan wanita hidup di antara berusaha melawan dan ngikut sistem, mereka melihat sampai kapan mereka mampu. Akan tetapi, adalah hal yang memungkinkan untuk menjadi lebih daripada itu. Bahwa wanita, juga pria, bisa mengambil aksi tanpa harus menyalahkan siapa-siapa. Bahwa setiap kita bisa menjadi tokoh utama dalam kehidupan sendiri.

Tonton ini sesegera mungkin begitu ketertarikan itu tiba, karena kita gak punya hak buat nyalahin bioskop kalo-kalo filmnya keburu turun sebelum kita sempat menonton.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements