Tags

, , , , , , , , , , , ,

“First they ignore you, then they laugh at you…”

 

 

Tentu saja, kita akan menertawakan film yang buruk bersama-sama. Kita berpikir, film yang sudah menginsult kecerdasan kita, perlu untuk diinsult balik. Kita bikin review konyol, kita bully film habis-habisan, sebagai bentuk apresiasi terhadapnya. Keseimbangan yang wajar terjadi. Sebuah reaksi yang mudah terhadap sesuatu yang jelek. Film The Room (2003) buatan sutradara dan aktor nyentrik Tommy Wiseau bukan hanya film yang jelek, dia adalah film paling ngaco sepanjang masa. Saking jeleknya , banyak yang suka. Sampai sekarang, film ini rutin diputar oleh berbagai fans di luar sana. Markas My Dirt Sheet, kafe es krim Warung Darurat Bandung, juga pernah muterin sekali. Hasilnya, sendokku ilang delapan biji. James Franco punya ide untuk menyelebrasi film itu, dia kumpulkan kru dan mereka membuat cerita tentang apa yang terjadi di balik dialog-dialog absurd dan akting kaku tersebut.

Memang lebih mudah menetertawakan badut ketimbang mencoba mengerti kenapa mereka mengenakan riasan make-up

 

 

I gotta be honest, The Disaster Artist adalah cerita yang menyentuh buatku. Dalam lapisan yang paling dalam, ini adalah cerita tentang seorang pria yang berjuang mewujudkan mimpinya. Hambatan yang ia temui berasal dari dalam dirinya sendiri; dia tidak dapat melihat bahwasanya tidak semua orang bisa mengerti apa yang ia sampaikan. Maksudku, sebagian besar dari kita juga pasti pernah merasa diri kita spesial, ide cerita kita hebat dan orisinil. Ada banyak calon filmmaker di jalanan yang punya stok naskah yang menurut mereka adalah cerita paling fresh dan keren sedunia, aku tahu karena aku adalah salah satu di antaranya. Tapi apa yang terjadi ketika kita ngepitch cerita tersebut ke produser, ke investor? Ditolak, dicuekin, disuruh ubah. Kalo aku punya duit tak terbatas seperti Tommy Wiseau, pastilah aku udah bikin film sendiri juga. Mewujudkan impianku. Meski mungkin filmku bakal seratus kali lebih jelek dari The Room. Tapi inilah yang ingin disampaikan oleh James Franco dalam The Disaster Artist; Jangan menyerah, terkadang kita memang harus membuka peluang sendiri, dengan perlu mengingat bahwa ada banyak cara konek dengan orang lain bisa terjadi, mungkin saja bukan seperti yang kita harapkan. Dan koneksi itulah yang semestinya menjadi tujuan kita dalam berkarya.

jika dipandang sebaliknya, film ini juga berfungsi sebagai petunjuk “Bagaimana Cara untuk Membuat Film yang Buruk”

 

Yang kita dapat di sini sesungguhnya adalah sebuah cerita yang menginspirasi. James Franco tidak membuat Tommy Wiseau sebagai sebuah tokoh yang wajib untuk melulu kita ledek. Ada sesuatu di dalam dirinya yang akan menangkap hati para penonton. Kita akan mengikuti perjalanan Tommy dari ketika dia bertemu dengan Greg di sebuah audisi teater. Mereka kemudian berikrar untuk mengejar mimpi menjadi aktor, begelut di bidang film. Maka lantas mereka pindah ke L.A. Namun, hal bagi Tommy tidak berjalan semulus apa yang datang kepada Greg. Jadi, Tommy bikin film sendiri. Dia mengajak Greg untuk ikut berperan bersamanya di film tersebut. Sebagaimana kita semua tahu, film tersebut tidak berakhir dengan semestinya.

The Disaster Artist cukup bijak untuk tidak memfokuskan ini sebagai parodi, film tidak sekedar menertawakan “You’re tearing me apart, Lisa!” dan pilihan-pilihan aneh bin bego yang dilakukan oleh Tommy Wiseau ketika membuat film ini. Memang, momen-momen The Room yang fenomenal, gimana film ini ngereka adegannya hingga nyaris sama persis, adalah bagian yang menonjol pada penceritaan. Tapi sekaligus ini adalah drama yang cukup suram, banyak adegan yang diniatkan sebagai heartfelt moment. Sebagai karakter, Tommy Wiseau belajar banyak dari reaksi penonton yang tidak ia harapkan, dan dari bagaimana dia harus berurusan dengan orang-orang yang tidak melihat visinya.

Tommy Wiseau yang asli merupakan salah satu sosok paling misterius di industri perfilman. Seperti yang juga disebutkan oleh film, tidak ada yang tahu persis siapa dirinya, dari mana dia berasal. Tommy ini di samping eksentrik gilak, dia juga sangat tertutup. Jadi memang pesona film ini terletak di Tommy Wiseau, kita penasaran seperti apa orang ini, apa yang ada di balik kepalanya. James Franco luar biasa dalam berperan sebagai karakter ini, juga dalam bagaimana dia membangun film cerita yang menjadikan Tommy sebagai pusatnya. Sebagai sutradara dan pemain, Franco did a very excellent job. Adegan pembukanya efektif sekali memperkenalkan Tommy sebagai sebuah enigma. Dia mempertahankan pesona tersebut hingga akhir film. Menurutku apa yang dicapai Franco sebagai Tommy merupakan hal yang cukup sulit; ya dia sangat lucu di sepanjang film, namun bukan sekedar lucu oleh karena momen-momen konyol dia lupa skrip, atau dia mainin adegan-adegan ikonik The Room. Di sini kita melihat Tommy sebagai seorang yang enggak hebat-hebat amat dalam pekerjaannya, dan dia punya cara yang aneh untuk mendapatkan yang ia mau, tapi kita bisa menghormati apa yang ingin ia lakukan. Sebab ada sisi manusiawi yang diberikan. Ada semangat yang bisa dipungut dari sikapnya yang tidak menyerah meskipun orang-orang tidak menghargai sesuai yang ia harapkan.

jangan-jangan karakter Broken Matt Hardy terinspirasi dari Tommy Wiseau

 

Salah satu aspek yang menjeratku adalah tentang bagaimana ini sebuah pembuatan film. Aku punya soft side terhadap film-film yang memperlihatkan di balik layar bisnis gambar bergerak seperti ini.  Aspek ini membawa kita ke kekurangan yang dimiliki oleh The Disaster Artist. Film ini actually mematahkan Hukum Ekonomis Karakter cetusan Roger Ebert lantaran tokoh-tokoh lain dalam cerita, yang diperankan oleh aktor-aktor yang cukup terkenal kayak Alison Brie ataupun Zac Efron ataupun Josh Hutcherson, tidak benar-benar punya karakter. Mereka cuma ada di sana, memainkan dengan sangat kompeten peran yang ditugaskan – Seth Rogen juga sebenarnya cukup lucu di sini – dan tidak punya banyak untuk dilakukan. Padahal mestinya bisa lebih dalam lagi jika kita diperlihatkan lebih banyak lagi tentang mereka.

 

 

Film dark komedi ini precise sekali ketika dia mencoba membuat ulang adegan-adegan film The Room. Tepat hingga ke framing dan segala macam treatment aneh yang dilakukan oleh film tersebut. Namun, jika kalian belum pernah nonton The Room, atau bahkan belum pernah mendengar tentangnya, film ini tetap akan bekerja sama hebatnya, sebab ini bukan serta merta sebuah film komedi yang memarodikan salah satu film terburuk di industri sinema. Film ini punya hati yang besar, tokoh utamanya terasa dekat. Benar saja, kita memang harus dapat melihat film sebagai mana mestinya. Sebagai penonton kita bisa saja suka, namun tetap harus mengakui kejelekan film. Tapi ini bukan tentang penonton. Ini tentang orang yang punya mimpi, tentang pembuat film yang dihadapkan kepada situasi di mana ia diapresiasi tidak sesuai dengan yang diharapkan. James Franco mungkin saja tidak kepikiran, filmnya tentang sebuah film begitu jelek sehingga menjadi cult, bisa jadi adalah film terbaik yang pernah ia buat.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 gold stars for THE DISASTER ARTIST.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

Advertisements