Tags

, , , , , , , , , , , , ,

 

Joko Anwar mengajak para follower twitternya untuk menonton yang film berkualitas saja. Gimana cara tahu kualitasnya tanpa menonton? Yaitu dengan mengambil referensi dari tulisan-tulisan kritikus atau reviewer. Tapi kita bukan robot. Kita bisa berpikir sendiri, kita bisa merasa sendiri. Kata-kata reviewer hendaknya dijadikan acuan sebagai pembanding pendapat pribadi, anggap seperti moderator dalam sebuah forum diskusi. Jangan seketika dijadikan pedoman layaknya walkthrough video game. Lagian, di mana serunya jika setiap orang punya pendapat yang sama. Maka aku bilang, tontonlah film apapun, tetapi jangan matikan pikiran kita saat menyaksikannya. Pertanyakan semua. Berekspektasilah. Jadi pembuat film tandingan.

Lihat betapa indahnya pemandangan dunia sinema di tahun 2017. Begitu banyak film-film yang membagi penontonnya menjadi dua kubu likers dan haters. Ada yang bilang film itu karya masterpiece, sedangkan ada juga yang bilang film yang sama tersebut sebagai sebuah omong kosong, sampah. Dan tentu saja ini menciptakan ruang untuk diskusi yang sehat. Penonton akan memikirkan ulang filmnya. Mereka berpendapat, menyalakan otak, mengeluarkan suara tentang bagaimana film itu seharusnya. Hal seperti inilah yang eventually menggerakkan roda perfilman itu ke depan. Inilah yang membuat sebuah film yang bagus. Dan tahun 2017 dipenuhi oleh film-film hebat yang menggerakkan seperti demikian.

Jadi, jangan heran ketika kalian membaca daftar ini dan menemukan film yang mungkin kalian benci setengah mati nangkring di dalamnya. Sebab itulah poin yang dibentuk oleh 2017; sebuah tahun yang sangat polarizing terhadap film. Jangan pula ditahan-tahan jika kalian punya komentar ataupun ingin sharing film terfavorit kalian, kita punya kolom komen di bawah 😀

 

HONORABLE MENTIONS

  • A Ghost Story (drama sedih yang akan terus menghantui penontonnya)
  • A Silent Voice (anime yang penting untuk ditonton karena kebanyakan kita belum mampu berkomunikasi dengan benar)
  • Brad’s Status (film yang life changer banget, nyadarin kita untuk berhenti ragu-ragu kebanyakan mikirin masalah yang sebenarnya hanya ada di kepala)
  • Call Me by Your Name (perjalanan menemukan sesuatu yang tidak lagi bisa kita abaikan)
  • Dunkirk (terobosan baru Christopher Nolan buat film perang sehingga terasa begitu nyata)
  • Get Out (satir mengenai rasisme dan masalah sosial lain yang dibungkus dalam kemasan horor)
  • Good Time (thriller yang benar-benar lancang yang ngingetin bahwa hidup memang susah, bukan berarti berhenti berusaha)
  • Personal Shopper (bukan horor seperti yang diharapkan, ini adalah film orisinil yang benar-benar seperti lukisan abstrak)
  • Raw (cerita yang shocking dan sangat disturbing tentang manusia yang terlalu lama menahan nafsu)
  • Split (M. Night Shyamalan kembali dengan psikologikal thriller yang percaya kepada penonton dan gelora oleh penampilan-penampilan akting luar biasa)
  • Star Wars: The Last Jedi (mengenyahkan semua prediksi, aku senang sekali kita melihat petualangan dan aspek-aspek yang sama sekali baru di franchise Star Wars)
  • Stronger (film yang sangat inspirasional tentang trauma yang sama sekali enggak inspirasional buat mereka yang mengalaminya. Nah lo?)
  • The Devil’s Candy (layaknya karya seni yang berasal dari neraka personal seorang ayah yang struggling dengan pekerjaannya)
  • The Disaster Artist (dark comedy tentang menggapai mimpi, meskipun ekspektasi seringkali tak sesuai dengan realita. Film ini punya hati paling besar se2017!)
  • Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (penampilan akting yang melegenda, berani membahas isu yang dihindari orang. Salah satu tontonan terbaik, dan paling punya nyali)
  • To the Bone (sangat kuat mengeksplorasi psikologis orang-orang yang punya pandangan menarik tentang kebutuhan makan)
  • War for the Planet of the Apes (cerita brutal tentang perang dan survival dan apa yang membuat pemimpin menjadi seorang pemimpin, sangat emosional!)
  • Wind River (seberapa cepat dinginnya perlakuan dapat membuat orang melakukan hal-hal yang di bawah derajat moral)
  • Wonder (dapat membuat anak-anak jadi berani untuk mengambil tindakan yang benar dalam pergaulan mereka dengan teman sehari-hari)
  • Wonder Woman (akhirnya ada juga film superhero DC yang benar-benar bisa menendang bokong!)

Tak lupa pula, special shout out aku berikan buat Pengabdi Setan yang ulasan filmnya udah mecahin rekor jumlah view terbanyak di My Dirt Sheet.

 

 

 

8. BABY DRIVER


Director: Edgar Wright
Stars: Ansel Elgort, Lily James, Kevin Spacey, Jamie Foxx
MPAA: R for violence and language
IMDB Ratings: 7.7/10
“‘Retarded’ means slow. Was he slow?”

 

Musik asik yang lantang, mobil keren yang ngebut, itulah film ini. Lantang dan ngebut. Sama dengan superseru. Ini adalah salah satu film dengan pace paling cepat sepanjang tahun. Ciri khas sutradara Edgar Wright kelihatan jelas di sini.

Sekalipun sangat kuat dalam gaya, namun Edgar Wright tidak pernah melupakan substanti pada setiap ceritanya. Penulisan Baby Driver sangatlah on-point. Strukturnya berhasil memberikan banyak kepada Baby meskipun tokoh utama kita ini hanyalah semacam orang suruhan yang tidak mau berada di sana. I mean, Baby kebanyakan bereaksi ketimbang beraksi – sesuatu yang kebalikan dari rumus tokoh utama – tetapi film masih mampu mengolahnya sehingga senantiasa menarik. Baby adalah tokoh yang punya kebiasaan yang unik, dan akan sangat mengasyikkan melihat perkembangan tokoh ini, apa yang ia lakukan, dan apa yang pada akhirnya harus dia pilih.

Diperkuat oleh pemain dan humor yang kocak, film ini akan jarang sekali mengerem. Dan ketika film memang benar-benar melambat membangun kisah cinta antara Baby dengan Deborah, kita akan masih betah duduk di sana.

My Favorite Scene:

Kurang dahsyat apa lagi coba adegan ngebut-ngebut di opening ini? Hebatnya adegan ini – beserta setiap stun action lain yang ada di Baby Driver – tampak bener-bener bisa dilakukan di dunia nyata.

 

 

 

 

 

7. MOTHER!


Director: Darren Aronofsky
Stars: Jennifer Lawrence, Javier Bardem, Ed Harris, Michelle Pfeiffer
MPAA: R for disturbing violent content, nudity, some sexuality, and language
IMDB Ratings: 6.8/10
“You never loved me. You just loved how much I loved you. I GAVE YOU EVERYTHING. You gave it all away.”

 

Film yang aneh. Menyinggung, dan mengganggu. Ada banyak adegan kekerasan, ataupun adegan yang mengerikan, yang tak terjelaskan. Aku bisa melihat alasan sebagian orang dapat menjadi begitu enggak suka sama film ini. Aku bisa mengerti kalo Indonesia menolak memutar film ini di bioskop. Bahkan, penampilan akting Jennifer Lawrence yang begitu luar biasa memilukan di film ini, besar kemungkinan akan dilewatkan begitu saja oleh penghargaan-penghargaan film. Karena penceritaan film ini amat sangat ganjil.

Namun buat yang mau bertahan menonton, Mother! adalah sebuah film kiasan yang digarap dengan tingkatan dewa. Semua yang terjadi di film ini mempunyai makna, membentuk lapisan cerita yang menantang kita untuk memahami apa maksudnya. Mother! adalah film yang susah untuk dicerna. Aku mencoba untuk menafsirnya dalam ulasan, dan bisa jadi semua yang kutulis salah. Film ini benar-benar bekerja sesuai dengan interpretasi penontonnya masing-masing.

Menurutku, di balik lapisan tentang pasangan suami istri yang rumahnya mendadak disatroni banyak orang, film ini bicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan alam semesta. Di mana kita adalah tamu di dalam rumah Tuhan. Dan ini membawa kita ke pemahaman bahwa si Ibu adalah orang yang paling disibukkan kalo ada tamu, dia yang paling ‘dirugikan’, dan orang ini adalah personifikasi dari alam. Bumi. Simbol-simbol gila seputar tentang itu banyak bertebaran di aspek-aspek narasi. Film sinting seperti ini mungkin tidak akan segera bisa kita jumpai lagi.

My Favorite Scene:
Oke, aku gak bisa nemuin video sehingga membuatku ngeri juga masukin foto mengenai adegan yang menurutku merupakan bagian terbaik di film ini. Dan adegan tersebut adalah ketika Mother dihajar hingga babak belur oleh massa. Adegan brutal ini sangat heartbreaking, menontonnya bikin kita sakit juga, suara-suara tulang yang patah ketendang itu benar-benar bikin adegan ini berat untuk ditonton, namun juga begitu penting, karena inilah yang actually sedang kita lakukan terhadap bumi tercinta.

 

 

 

 

 

6. THE SHAPE OF WATER


Director: Guillermo del Toro
Stars: Sally Hawkins, Octavia Spencer, Michael Shannon, Richard Jenkins
MPAA: R for sexual content, nudity, violence, and language
IMDB Ratings: 8.2/10
“Oh God! It’s not even human.” / “If we do nothing, neither are we.”

 

Seorang wanita tuna wicara polos yang jatuh cinta kepada makhluk amfibi mengerikan. Ini adalah kisah cinta tak biasa, yang mungkin bisa disturbing buat beberapa orang, namun bukan itu satu-satunya yang disampaikan oleh Guillermo del Toro, seorang master dalam membuat kisah fantasi kelam yang sangat menyentuh, Film ini adalah dongeng tentang hidup yang belum terpenuhi. Pesan di balik film ini sesungguhnya akan terasa akrab oleh kita yang pernah merasa hidup kita belum sempurna.

Ada sesuatu di balik monster tersebut yang bisa kita relasikan. Ada sesuatu di balik mimpi-mimpi tokohnya yang membuat kita peduli tanpa harus mengasihani mereka. Mengisi hidup adalah perjuangan. Film ini menarik perbandingan bahwa semestinya kita bertindak seperti air demi mengisi kekosongan dalam hidup. Kita harus bisa beradaptasi sesuai dengan environment tempat kita berada.

The Shape of Water diarahkan untuk menjadi pengalaman visual nan personal yang sangat menggugah. Efek-efek praktikal dan sinematografi film ini benar-benar mencuat membentuk adegan-adegan yang begitu kuat. Penceritaan The Shape of Water mengalir dengan menawan. Dia bekerja baik dalam banyak tingkatan. Kita bisa menikmati romansanya, ataupun dibuat tegang oleh suspens dan dunia politik Perang Dingin, ataupun menyimak pesan yang diselipkan di balik setiap simbol dan elemen ajaib yang film ini miliki.

My Favorite Scene:

Di luar apakah adegan ini penting atau kagak, sekuens musikal film ini tampak begitu indah. Aku punya soft side buat adegan musik yang aneh yang diselipin di dalam cerita.

 

 

 

 

 

5. MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK


Director: Mouly Surya
Stars: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egy Fedly,
Certificate: 21+
IMDB Ratings: 7.4/10
“Saya tidak merasa berdosa”

 

Akhirnya, akhirnyaaaa, setelah sudah lima tahun bikin list film terbaik, akhirnya ada film Indonesia yang masuk Delapan Besar. Dan Marlina sangat pantas untuk mendapatkan apresiasi segede ini.

Empat babak cerita ini merangkum kisah Marlina, seorang yang baru saja jadi janda, yang rumahnya disatroni tujuh pria dengan niat gak baik. Marlina membunuh sebagian besar mereka, memenggal kepala pemimpinnya, untuk kemudian pergi menyebrangi padang gersang pulau Sumba menuju kantor polisi.
Film ini bergulir tidak seperti film-film Indonesia lain yang keluar di tahun 2017. Orang luar bahkan menyebut film ini sebagai satay western. Marlina menggunakan musik yang seperti musik country dilebur dengan irama lokal Sumba. Marlina memperlihatkan pemandangan padang berbukit, kita melihat Marlina naik kuda. Betapa uniknya film ini. Dia membahas isu-isu sosial, berkelakar dengan melontar komentar tentang gender. Ceritanya mempertanyakan peran masing-masing gender, untuk kemudian membaliknya begitu saja. Antara wanita dan pria, sesungguhnya tidak ada yang jadi korban. Tidak ada yang total mendominasi di atas yang lain.

Film ini pun sesungguhnya turut bersumbangsih dalam kebangkitan sutradara-sutradara wanita, dengan menampilkan tokoh wanita yang kuat, dalam scene perfilman dunia.

My Favorite Scene:

Marlina dihuni oleh karakter-karakter yang juga unik. Satu adegan yang membuatku ngakak adalah ketika Marlina membajak angkutan umum, sepanjang perjalanan dia menodong si supir dengan parang yang diacungkan beberapa senti dari leher, dan kemudian salah satu penumpang angkutan – yang sudah ibu-ibu – malah nyeletuk dengan santai “Tidak capek tanganmu, Nona?”

 

 

 

 

 

4. GERALD’S GAME


Director: Mike Flanagan
Stars: Carla Gugino, Bruce Greenwood, Chiara Aurelia, Carel Struycken
Certificate: TV-MA
IMDB Ratings: 6.7/10
“Everybody’s got a little corner in there somewhere; a button they won’t admit they want pressed.”

 

Gerald’s Game adalah salah satu film adaptasi Stephen King terbaik dan ini benar-benar mengejutkanku lantaran source materialnya bisa jadi merupakan materi yang paling susah untuk disadur ke bahasa film. Kebanyakan adegan cerita ini adalah tokoh Jess bicara dengan dirinya sendiri. Ini adalah cerita psikologikal thriller tentang seorang wanita yang terborgol di tempat tidur dan dia harus melepaskan diri karena selain anjing kelaparan yang terus saja menyantap mayat suaminya di lantai, tidak ada orang lain yang tahu kondisi Jess karena pasangan suami istri ini memang lagi liburan di vila terpencil.

Kita akan melihat Jess ngobrol dengan dirinya sendiri, ada personifikasi dirinya, suaminya, kita dibawa flashback ke kejadian masa kecil Jess yang membuatnya trauma. Dan pada puncaknya, Jess harus berhadapan dengan Moonlight Man; sosok tinggi besar misterius, bermata merah, yang kerap datang ketika malam tiba.
Ini adalah cerita yang hebat yang penuh dengan metafora dan simbolisme. Perjuangan manusia untuk membebaskan diri dari trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi yang sekarang. Seluruh penceritaan film ini akan sangat menantang kita. Ceritanya creepy. Sinematografinya pun membuat merinding. Juga amat disturbing. Ada satu adegan yang bikin ngilu dan bakal membuat kita mengelus-elus pergelangan tangan. Penampilan akting para pemain pun luar biasa, karena mereka memainkan dua versi dari tokoh mereka.

Salah satu horor psikologis terbaik yang pernah aku saksikan.

My Favorite Scene:

Orang bilang ending adalah bagian terbaik dari sebuah film. Aku tidak bisa menyangkalnya buat film Gerald’s Game. Stephen King adalah master dalam menulis cerita balas dendam. Dan sekuens akhir film ini sungguh-sungguh membuktikan hal tersebut. Amat memuaskan melihat konfrontasi final antara Jess dengan Moonlight Man

 

 

 

 

 

3. BLADE RUNNER 2049


Director: Denis Villenueve
Stars: Ryan Gosling, Harrison Ford, Ana de Armas, Jared Leto
MPAA: R for violence, some sexuality, nudity, and language
IMDB Ratings: 8.3/10
“Dying for the right cause. It’s the most human thing we can do.”

 

Aku bilang film ini adalah masterpiece dalam filmmaking. Temen-temenku yang mendengar rekomendasi ini, pergi ke bioskop untuk menontonnya.

Dan mereka tertidur.

Seriously guys, aku tahu aku nulis film 2017 itu hebat-hebat lantaran bisa membagi pendapat penonton, tapi aku bener-bener garuk kepala ketika ada yang bilang Blade Runner 2049 adalah film yang membosankan. Ya, filmnya memang panjang banget. Tapi ada begitu banyak kemenakjuban yang bisa kita lihat, yang bisa kita nikmati, yang bisa kita serap dari penceritaan ini. Sekali lagi, oke, mungkin ceritanya agak berat. Mekanisme dunia penuh Replicant dan sebagainya; film ini bisa berdiri sendiri karena naskahnya benar tertutup, namun kalo kita sudah nonton film yang pertama, cerita memang jadi sedikit lebih mudah dicerna. Makanya, aku menyarankan kepada yang tertidur karena gak paham ama ceritanya, coba deh nonton dengan suara di-mute. Karena pemandangan visual dan sinematografi dalam film ini, begitu grande sehingga membuat calon filmmaker bakal ciut “bisa gak gue bikin yang lebih bagus?”

Naskah film ini begitu kuat. K, tokohnya si Gosling, punya plot yang paling WTF di tahun 2017. Aku gak bisa membayangkan kalo aku yang bernasib seperti dia. Kalian tahu Tommy Wiseau yang bikin film The Room? Yang kisahnya diceritain dalam The Disaster Artist? Apa yang dialami Wiseau; dia menyangka film buatannya bakal jadi yang terhebat, namun ternyata film itu ngehits karena hal yang memalukan, bukan apa-apa dibandingkan dengan kenyataan yang dihadapi oleh K.

My Favorite Scene:

The face you make when you think you were the chosen one, but you aren’t.

 

 

 

 

 

 

2. LADY BIRD


Director: Greta Gerwig
Stars: Saoirse Ronan, Laurie Metcalf, Lucas Hedges, Timothee Chalamet
MPAA: R for language, sexual content, brief graphic nudity and teen partying
IMDB Ratings: 8.1/10
“People go by the names their parents give them, but they don’t believe in God.”

 

Satu-satunya film yang sukses menangguk score 9 dari My Dirt Sheet di tahun 2017.

Lady Bird yang merupakan debut terbang solo Great Gerwig sebagai sutradara adalah film yang sungguh personal bagi dirinya. Makanya film ini terasa sangat real.

Ini bukan sekadar coming-of-age story di mana tokoh utamanya berhasil keluar dari rutinitas hidup yang mengekang dan mencoba pengalaman dan hal-hal baru. Bukan sekadar tentang tokoh utama yang dapat pacar cowok keren. Lady Bird adalah romansa anak cewek dengan ibunya. Dan ya, kita akan melihat Lady Bird udah gak sabar untuk lulus dari sekolah Katoliknya, namun environment Lady Bird tidak pernah ditampilkan mengekangnya dalam cahaya yang ‘jahat’.

Menonton ini akan terasa seperti kita melihat adegan percakapan sungguhan, karena kita dilempar begitu saja ke tengah-tengahnya. Ini memberikan kesempatan untuk mengobservasi mereka, dan terbukti sangat efektif sebab ada banyak saat ketika aku mendapati diriku ikutan mengobrol dengan mereka. Aku ingin ikut nimbrung, aku jadi begitu peduli sama karakter-karakternya. Saoirse Ronan luar biasa natural memainkan Lady Bird. Rasanya sedikit sedih ketika film berakhir, seperti berpisah dengan orang yang sudah deket. Begitulah bukti betapa menakjubkannya Gerwig menyetir narasi, cara berceritanya benar-benar membawa kita hanyut.

My Favorite Scene:

Paling ngakak melihat Lady Bird ‘diskusi’ milih-milih gaun sama ibunya. Adegan ini menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua dengan sangat efektif.

 

 

 

 

 

Peringkat pertama tahun 2017 My Dirt Sheet ini akan menyimpulkan betapa pentingnya peran sutradara dalam sebuah film. Sutradara yang baik harus bisa meninggalkan jejak, harus berani melakukan perubahan, harus punya visi uniknya sendiri yang membuat film menjadi semakin urgen dan berdiri mencuat di antara yang lainnya. Lihatlah ke belakang, semua yang masuk daftar ini adalah buah tangan dari sutradara yang berani mengambil resiko. Filmnya tidak diniatkan untuk memuaskan semua orang, melainkan hanya sebagai sebuah sajian yang benar-benar mewakili diri mereka.

Dan inilah film peringkat pertama kami:

1. THOR: RAGNAROK


Director: Taika Waititi
Stars: Chris Hemsworth, Tom Hiddleston, Cate Blanchett, Mark Ruffalo
MPAA: PG-13 for intense sequences of sci-fi violence and action, suggestive material
IMDB Ratings: 8.1/10
“What were you the god of, again?”

 

Menurutku bagaimana kita melihat film Thor ketiga ini bergantung kepada bagaimana pandangan kita terhadap superhero.

Jika kita punya mimpi pengen diselamatkan oleh superhero, kita enggak akan suka sama Thor dalam film ini yang diberikan banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lelucon dan kekonyolan.
Jika kita punya mimpi untuk menjadi superhero, kita akan menjerit kesenangan sampai terjatuh dari kursi demi melihat Thor yang dewa dan superhero ternyata quirky dan ‘bego’ seperti kita.

Kalimat Hela kepada Thor “Kau dewa apaan sih?” adalah kunci yang menjelaskan seperti apa Taika Waititi memvisikan Thor.

Apa yang dilakukan oleh Dewa? Apakah kita bisa menjadi Dewa? Thor dalam film ini dijatuhkan menjadi level rakyat biasa supaya kita bisa merelasikan diri kepadanya. Waititi tidak ingin membuat Thor superserius dan menjadi makhluk sempurna. Dia melihat potensi komedi yang ada dari materi Thor sebelumnya, dan embrace it. Thor kehilangan palu, bahkan rambutnya. Adalah sebuah make over total yang dilakukan sang sutradara demi meniupkan hidup baru yang lebih akrab terhadap tokoh superhero yang kita kenal.

Thor: Ragnarok adalah film superhero paling lucu yang pernah dikeluarkan oleh Marvel Studio. Definitely yang terbaik dari seri film solo Thor. Narasinya banyak bermain-main dengan gimmick dewa-dewi Asgard, bersenang-senang dengan trope karakter-karakter superhero Marvel. Yang perlu diingat adalah bermain-main bukan berarti enggak serius. Bersenang-senang bukan berarti melupakan nilai seni. Pada film ini, seni adalah komedi, pada bagaimana dia bermain-main. Sinematografinya keren parah. Adegan aksinya benar-benar dahsyat. Aku bisa nonton film ini berkali-kali dan enggak akan pernah bosan.

My Favorite Scene:

Sebenarnya susye sih memilih satu adegan yang paling favorit. Karena film ini hilarious dan keren parah. Aku suka semua adegan aksinya, apalagi semakin mantep diiringi oleh Immigrant Song yang awesome!!

 

 

 

 

 

Sedikit kekurangan di departemen film animasi, kita tidak banyak menjumpai animasi yang menantang dan benar-benar baru tahun 2017 ini. Ada sih satu yang indah, tapi tidak terasa benar-benar spesial buatku. Tapi secara keseluruhan, 2017 adalah film yang asyik banget buat penggemar film seperti kita-kita. Tahun 80an menyeruak lewat sekuel-sekuel dan homage. Kita dapat banyak film adaptasi Stephen King, yang practically awesome, di Indonesia sendiri film horor lagi naik daun. Aku harap tahun 2018 semakin banyak bermunculan film yang berhasil memancing perbedaan pendapat, semakin banyak penonton yang kritis.
Aku juga ingin menyempatkan diri untuk mengucapkan terima kasih sama kamu-kamu yang udah sering bolak-balik ke blog ini. Aku benar-benar gak menyangka My Dirt Sheet bisa memenangkan Piala Maya sebagai Blog Kritik Film Terpilih 2017, dan itu masuk nominasi karena rekomendasi pembaca sekalian. So, thank you so much.

Dan ketahuilah, kami sangat mengharapkan komen dari kalian, baik itu diskusi film, komen pendapat, bahkan mengritik blog ini sekalipun. Jadilah penonton yang jahat, karena penonton yang baik adalah penonton yang tidak berpikir.
Apa film favorit kalian 2017?
Apakah perlu dibuat list film-film paling mengecewakan di tahun 2017?
Beritahu kami di komen.

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are…

Advertisements