Tags

, , , , , , , , , ,

“For the love of money is the root of all evil.”

 

 

Setiap hari selalu bertemu, bertukar-pandang tanpa sengaja, mengangguk menyapa seadanya, tentu mampu menumbuh perasaan kenal di antara orang-orang asing. Tapi ini bukan soal cinta. Ini soal rasa curiga. Michael MacCauley setiap hari naik kereta komuter yang sama. Mantan polisi yang baru dipecat dari perusahaan asuransi ini bisa dibilang sudah akrab dengan penumpang-penumpang lain, juga dengan pegawai kereta. Makanya, ketika ditantang permainan kecil-kecilan oleh seorang wanita, MacCauley setuju aja. Mencari seseorang yang ‘berbeda’ di dalam kereta tentu tampak gampang bagi dirinya yang punya skill observasi yang tinggi. Apalagi permainan hypothetical tersebut berhadiah serius; seratus ribu dolar. MacCauley butuh duit itu untuk keluarganya. Tapi permainan ‘Di mana Waldo’ tidak pernah segampang kelihatannya. Malahan, menjadi semakin susah karena kita tidak mampu melihat. Tantangan yang diterima MacCauley semakin lama bukan saja menjadi semakin sulit, namun juga menjadi semakin berbahaya. Sebab banyak nyawa yang dipertaruhkan di sana. Termasuk nyawa MacCauley sendiri!

Akhirnya aku dapat juga thriller di kereta api yang sesuai dengan harapanku. I mean, Murder on the Orient Express (2017) tetap yang terbaik memutar balik ide gimana jika penumpang kereta api ternyata sudah saling kenal – bukan strangers, tapi film ini adalah adaptasi novel klasik. Sejak dibuat kecewa oleh The Girl on the Train (2016), aku jadi tertarik pengen melihat thriller menegangkan di kendaraan umum yang mengeksplorasi penumpang yang benar-benar asing satu sama lain. Karena aku sendiri suka naik kendaraan umum, aku suka mengamati para penumpang, dan honestly aku kadang sering ngarep ketemu kasus yang seru. Tapi itu akan menjadi pengalaman yang sangat mengerikan. Makanya aku jadi pengen sekali melihat film yang benar-benar membahas soal tersebut. Night Bus (2017) tadinya kupikir akan jadi pemuas, namun film tersebut terlalu condong ke isu politiknya. Night Bus bagus tapi terlalu serius dengan gol untuk menjadi sajian dramatis.

Buatku, The Commuter adalah film thriller di atas kendaraan tertutup yang selama ini kuidamkan. It is really entertaining. Enggak menjadi terlalu serius, ataupun berat, sutradara Jaume Collet-Serra mengerti komposisi yang dibutuhkan. Dibuat olehnya The Commuter sebagai sajian thriller bercampur aksi yang pas, yang plot dan narasinya enggak ribet-ribet amat, dengan tokoh yang bisa kita dukung keselamatannya.

tut tut tut siapa hendak semaput

 

Kesulitan dalam menangani tokoh utama salah satu adalah kita ingin membuatnya terlihat kuat dan bisa dipercaya, sekaligus juga membuatnya tidak tanpa kelemahan. Michael MacCaulay yang diperankan oleh Liam Neeson adalah karakter yang ditulis sempurna untuk situasi yang ia hadapi. Dia adalah pria baek-baek, seorang kepala keluarga yang ingin berikan yang terbaik, sebagaimana dia juga ingin membantu orang lain. MacCaulay adalah jenis pria yang bisa kau jumpai di temapt-tempat umum, kau duduk di dekatnya, dan sama sekali enggak merasa terancam. Akan tetapi, alih-alih seperti Fahri yang ditulis hidup tanpa tuntutan dalam film Ayat-Ayat Cinta 2 (2017), MacCaulay disuntikkan ambiguitas moral ke dalam karakternya. Yang membuat tokoh ini bercela, dan eventually menjadi menarik. Dihadapkan oleh kesulitan finansial, tokoh kita dituntut untuk memilih sesuatu yang bertentangan dengan kompas hidupnya. Uang seratus ribu dolar dapat menjadi miliknya, asalkan dia bisa menemukan seseorang; dan MacCaulay menerima tawaran ini meskipun dia tidak mengetahui pasti apa yang akan terjadi pada seseorang tersebut – mungkin saja dilukai atau dibunuh. Aspek karakternya ini sangat menarik sebab dia tidak lagi hanya seorang pria yang punya kemampuan khusus yang ingin ‘menyelematkan’ keluarganya. Dia adalah pria yang harus memilih antara keluarga atau orang lain. Moralnya lah yang dipertaruhkan di sini.

Uang adalah akar dari semua kejahatan. Film ini menantang kita dengan pertanyaan apa yang akan kita lakukan jika dihadapkan dengan situasi seperti MacCauley; diberikan pilihan untuk menerima uang meskipun kita tahu akan ada pihak yang merugi karenanya, on the other hand kita yang akan rugi jika enggak menerimanya. Ini sudah seperti pilihan antara komersil atau moralitas. Tapi sebenarnya, bukan uanglah yang menyebabkan orang bertindak jahat. Akan tetapi, kecintaan berlebihan terhadap uanglah yang ultimately akan membuat kereta api hidup kita melenceng keluar dari rel.

 

Sebuah penulisan karakter yang menarik, yang membuat kita peduli. Kita ikut merasakan kebutuhannya,  tantangan-tantangan yang menghalangi, sekaligus kita ingin melihat dia melakukan hal yang benar menurut moralnya. Inilah yang membuat film menjadi thriller yang menarik.

Inilah yang menggulingkan bola aksi itu, membuat setiap sekuen aksinya menjadi semakin besar lantaran kita paham akar masalah, apa yang menjadi ‘kelemahan’ dari tokoh utama. Yea, Liam Neeson udah gak muda lagi, melihat dia dipukuli dapat menyebabkan kita meringis kasihan juga. Film ini pada dasarnya adalah sebuah laga, jadi kita bakal melihat banyak adegan-adegan fisikal. By the end of this movie, MacCaulay akan babak belur. Tetapi pukulan itu juga datang dari sisi mental. Dan itu telak sekali. Mid-point film di mana MacCaulay  sudah gabisa mundur lagi, dia musti menemukan orang yang dicari, tapi sekarang untuk menyelamatkannya  adalah bagian film yang terdeliver dengan baik. Bagian yang menarik lainnya adalah ketika MacCaulay actually berkomunikasi dengan para penumpang. Dia harus menanyakan siapa mereka, dengan cara yang enggak menimbulkan kecurigaan kepada dirinya sendiri. Tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri. Dia harus mencari bahan percakapan, menghindari supaya enggak awkward karena beberapa dari penumpang yang ia tanyai adalah wanita muda. Menurutku ini adalah ide yang sangat bagus dari sudut pandang thriller. Film ini punya lengkap; Bahaya dari aksi di mana dia bisa mati karena jatuh dari kereta, ataupun dari di mana dia menangani situasi yang canggung menginterogasi orang-orang, tanpa menakuti mereka.

ih, kokmuter

 

Collet-Serra memang meniatkan film sebagai tontonan hiburan. Sekuen-sekuen aksinya benar-benar gede dan berlebihan. Kita akan melihat orang melompat dari gerbong kereta yang mau tergelincir dan hal-hal heboh semacam itu. Beberapa aspek di film ini memang tampak enggak plausible. Enggak mungkin banget terjadi. Segala gerakan MacCaulay dimonitori oleh tokohnya Vera Farmiga, dan sebagai cewek misterius dia mengomandoi semua langkah-langkah berikutnya, seperti orang menggerakkan bidak catur, yang kalo kita pikir-pikir balik timing kejadian-kejadian di film ini amatlah gila-bisa-pas banget. Akan tetapi, Collet-Serra menyelamatkan film ini dari bagian-bagian gak-mungkin tersebut dengan menangani porsi berantem dengan sangat baik. Dalam kereta api ini kita tidak akan menjumpai berantem dengan kamera yang goyang-goyang. Enggak akan kita temui editing yang cepet-cepet. Multiple takes pada film ini dibuat seakan menjadi satu take panjang dengan memanfaatkan sempitnya lokasi. Atmosfer klaustrofobis terasa menguar dalam adegan battle, dan ini membuat kita menjadi sangat greget menontonnya.

 

 

 

While punya tokoh yang menarik, situasi yang memberikan rintangan yang jarang, aksi-aksi bagus dengan pace cepe yang efektif memanfaatkan kondisi, filmnya sendiri enggak benar-benar menantang ataupun memberikan jawaban ataupun sesuatu yang sama sekali baru. Ini adalah thriller yang sangat enjoyable dan tidak pernah dirinya minta dipandang sebagai sesuatu yang lebih dari kata fun. Jadi kita akan menemukan banyak hal yang implausible, yang menurutku adalah kelemahan pada film ini yang mestinya bisa dihindari. Atau dicari rute lain sehingga menjadi lebih mungkin untuk terjadi ataupun dipercaya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 for THE COMMUTER.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements