Tags

, , , , , , , , , , , ,

“..fashion has to do with ideas, the way we live,..”

 

 

Dunia fashion penuh dengan takhayul. Setidaknya begitu di tahun 1950. Gaun penganten aja, misalnya, banyak mitos yang dipercaya oleh orang-orang. Cewek-cewek muda takut menyentuhnya karena percaya mereka bakal susah nikah nanti. Para model ‘ngeri’ punya suami botak jika mereka memegang gaun penganten yang bukan milik sendiri. Yang bikin gaunnya, however, banyak yang mengaitkan superstitions sebagai bentuk dari kreativitas. Reynolds Woodcock, sebagai seorang yang eksentrik, mengakui dia lebih takut menikah ketimbang melihat orang-orang yang sudah mati menghantui dunia. Karena menikah membuatnya mendua; mendua dari kerjaannya merancang busana. Reynolds sudah membuat gaun sedari usia enam-belas tahun. Tepatnya semenjak dia membuatkan gaun untuk pernikahan kedua mendiang ibunya. Dan kini, dalam setiap hasil karyanya, Reynolds menyisipkan sedikit bagian personal dari si pemesan. Seperti dirinya yang menyulamkan rambut sang ibu ke antara benang-benang jas, sehingga dia bisa terus dekat dengan sosok yang sangat ia cintai itu.

Kedengaran sedikit creepy memang. Phantom Thread sesungguhnya adalah kisah cinta yang unik, dan yea, mengerikan. Latar belakang soal Reynolds dengan ibunya, soal ‘kepercayaan’ yang ia jadikan dasar kreativitas dalam berkarya, kita perlu untuk memahami semua itu supaya ketika film memperlihatkan actual romance yang jadi batang inti cerita, kita dapat mengerti apa yang dijadikan ‘taruhan’. Apa yang membuat hubungan antara kedua tokoh sentral, gejolak dan dinamika antara mereka, akan menjadi terang begitu kita dapat memilah di antara benang-benang siluman yang menyatukan cerita.

Nama belakang Reynolds yang dapat membuat Spongebob dan Patrick terbahak-bahak, benar-benar mencerminkan kepribadian sosialnya. Dia kaku. Dan dalam soal percintaan, dia lebih seperti mencari karyawan yang mengikuti perintahnya ketimbang mencari partner dalam berbagi kehidupan. Reynolds Woodcock (Daniel Day-Lewis sungguh fenomenal dalam peran terakhir dalam karir bintangfilmnya) boleh saja teliti dalam merajut benang, namun dia tampak enggak begitu banyak memperhatikan hubungan dengan pasangan. Reynolds bertemu dengan seorang wanita yang bernama Alma (pastilah kehormatan gede bagi Vickie Krieps beradu akting dengan Lewis, dan adalah kejutan bagi kita aktris ini bisa mengimbangi aktor kawakan tersebut). Pelayan kafe yang tampak canggung-canggung innocent itu pada awalnya tampak begitu menarik bagi Reynolds, malahan Alma boleh dikatakan menjadi muse, sumber inspirasi dari Reynold dalam membuat gaun. Eventually, mereka menjadi sepasang kekasih. Ketika mereka mulai hidup bersama, barulah kebiasaan serius Reynolds menjadi benturan kepada keinginan wanita seperti Alma. Alma ingin menyintai seutuhnya, taking care Reynolds, dan semacam menggenggam tangannya sepanjang waktu sementara Reynolds enggak memerlukan pasangan seintens demikian. Atau paling enggak, dia enggak pernah menampakkan kalo dia butuh perhatian dari Alma. Inilah yang menjadi konflik utama film Phantom Thread.

“Gaun bersulam sutera dia berikan dulu. Untuk apaaaahh, kalau, dia tak cintaa~~”

 

 

Untuk sebagian besar waktu dari durasi dua-jam, tidak benar-benar ada kejadian dalam film ini. Hanya ada sedikit sekuens yang terhimpun menjadi sesuatu yang gede. Itupun bergerak dalam ritme atau pace yang lambat. Jadi aku dapat mengerti jika beberapa orang akan merasa bosan menontonnya. Buatku, penulisan tokohnya yang membuat aku betah. Meskipun menggunakan gaya ‘satu tokoh diceritakan oleh tokoh yang lain’, film ini tetap mengolah para tokoh dengan bijak. Setiap tokoh sentral diberikan motivasi, mereka punya karakter yang bisa kita pegang – kita dukung karena kita dapat melihat apa yang menyebabkan mereka bertingkah laku demikian.

Reynolds lebih dari sekedar desainer fesyen, jelas dia sendiri memandang dirinya sebagai seorang seniman. Seorang seniman yang sangat serius, kalo boleh ditambahkan. Pagi-pagi dia akan duduk di meja makan mencatat ide-ide busana pada buku catatan kecil. Konsentrasinya penuh  tercurah di situ. Dan jika ada orang yang mengajaknya bicara, ataupun ada orang yang mengunyah dengan terlalu ‘berisik’, dia akan merasa terganggu dan lantas membentak orang tersebut. Bukan hanya soal seni, soal makanan pun Reynolds menuntut ketepatan yang sesuai dengan standar dirinya. Orang model begini yang dihadapi oleh Alma yang dengan tanpa dosa menawarkan kue buatannya kepada Reynolds. Pernah juga dia membawakan teh ke ruangan Reynolds, yang serta merta disambut dengan bentakan. “Tehmu memang udah keluar, interupsimu yang terus masuk di dalam mengganggu!” aku ngakak di adegan ini. Reynolds menyembunyikan kebutuhannya akan orang lain. Malahan dia lebih suka memperlakukan semua orang layaknya bidak catur, yang bisa ia gunakan kapan dia suka, dengan cara yang ia inginkan.

Entah itu perancang busana, ataupun pelukis, pematung, penulis, pembuat film, kita perlu untuk berhubungan dengan orang lain. Maksudku, setiap pekerja seni butuh untuk melakukan koneksi dengan teman, dengan pasangan, atau bahkan lebih baik lagi, dengan para fansnya. Untuk berbincang-bincang bertukar ide. Karena hanya dengan berinteraksilah ide dapat berkembang secara kreatif.

 

 

Ada satu sekuen yang aku harap kalian masih mampu membuka mata menonton, karena menurutku sekuen ini adalah salah satu bagian terbaik yang dipunya oleh film dalam rangka menunjukkan karakter para tokoh. Menjelang pertengahan, Reynolds diminta untuk membuatkan dress buat seorang wanita kaya yang hendak mengadakan jamuan pesta di rumahnya. Reynolds dan Alma diundang untuk hadir, dan di sana kita bisa melihat dari ekspresi Reynolds bahwa dia sesungguhnya enggak suka menyerahkan buah tangannya kepada wanita ini. Di depan mata, si wanita minum-minum dan teler sebelum akhirnya tepar masih berbalut busana buatan dirinya. Kita dapat melihat hal ini sangat mengganggu Reynolds, membuat ia geram. Tapi Reynolds tidak mau mengambil aksi karena dia lebih tidak suka lagi berinteraksi dengan orang. Alma lah yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu terhadap apa yang menurutnya bisa dibilang pelecehan terhadap karya seni tersebut.

Seperti melihat karya kita dijadikan bungkus gorengan

 

Ngomong-ngomong soal kreativitas, penulis sekaligus sutradara SEKALIGUS bertindak sebagai sinematografer Paul Thomas Anderson benar-benar mengambil resiko kreatif ketika dia mengikat cerita film ini. Babak terakhirnya dibuat sangat menusuk dengan seorang tokoh membuat sebuah keputusan terhadap suatu hal, dan sesungguhnya adegan itu merupaka pertaruhan yang gede. Aku gak mau spoiler berlebihan, aku hanya bisa bilang film ini literally menggunakan racun untuk menggambarkan relationship Alma dengan Reynolds yang beracun. In a way, hubungan tokoh film ini mirip sama tokoh The Shape of Water (2017), tapi Phantom Thread meninggalkan kesan yang sedikit lebih kelam, dengan konotasi hubungan yang lebih ke negatif. Kebayang gak gimana jika cerita cintamu lebih ‘ngeri’ daripada cinta manusia dengan makhluk monster haha

Film memang tidak pernah menjelaskan kenapa Alma bisa begitu cintanya kepada Reynolds, dan juga sebaliknya. Tidak ada yang menghalangi Alma untuk pergi dari rumah yang udah kayak kandang burung bagi dirinya secara mental tersebut. Tapi jika kita melihat kembali ke belakang, ke masa lalu Reynolds –seperti yang ia ceritakan kepada Alma, kita dapat melihat semuanya masuk akal. Semuanya terkonek. Kedua insan ini saling membutuhkan; mereka literally butuh yang lain untuk memenuhi kebutuhan inner mereka, tapi dihalangi oleh sikap Reynolds yang mendominasi. Pilihan ekstrimlah yang dijadikan jawaban.

Tidak jarang seorang yang sukses dan sangat precise dalam berkarya, punya hubungan cinta yang tidak benar-benar mulus. Malah sering berbanding terbalik. Karena cinta itu tidak bisa dipas-pasin. Cinta tidak bisa diprediksi awal dan akhirannya.

 

Hubungan pertama seorang pria adalah dengan ibunya. Dan eventually, hubungan masa kecil itu akan mempengaruhi hubungan asmaranya kelak dengan wanita lain. Beberapa pria akan mencari pasangan yang bersifat seperti ibunya. Namun terkadang ini malah ‘mengganggu’ lantaran agak sedikit enggak realistis mencari sosok yang serupa, kebanyakan hanya akan menjadi rintangan, membuat pria jadi banyak tuntutan. Beberapa lagi malah akan mencari yang berlawanan dengan ibunya. Karena mungkin ada trauma atau kejadian tragis. Bagi Reynolds, ibunya adalah personifikasi dari segala ketelitiannya dalam membuat busana. Busana pertama yang ia buat adalah untuk menyenangkan hati si ibu.  Dia harus memegang kendali, meskipun dia sadar dia juga butuh untuk ‘mengerem’ sedikit. Dia ingin diurusi. Untuk alasan itulah, Alma sangat penting baginya. Hanya Alma yang berani mengambil aksi yang actually berbuntut kepada terpenuhnya kebutuhan Reynolds untuk slow down. Hanya Alma yang tidak bisa ia kontrol. Aku enggak bilang hubungan seperti ini adalah hubungan yang sehat, tapi ini adalah satu-satunya yang bekerja buat mereka berdua. Dan ini efektif membuat cerita menjadi menarik.

 

 

 

 

Sebuah pandangan yang miris tentang bagaimana kepentingan memegang kendali membuat seorang seniman mengalami kesulitan dalam menerima orang lain, dalam memenuhi kebutuhan terdalamnya sendiri, serta dampaknya terhadap orang-orang yang mencintainya, yang benar-benar peduli dan mengasihinya. Penampilan di film ini luar biasa semua. Desain produksinya juga enggak maen-maen. Pacing yang lambat tentu dapat membuat panjangnya durasi benar-benar kerasa, tapi tidak akan mengurangi kualitas terbaiknya. Buatku, film ini seperti baju keren yang ukurannya kekecilan; aku akan berusaha diet supaya bisa memakainya.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for PHANTOM THREAD.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

Advertisements