Tags

, , , , , , , , , , ,

 

Fastlane 2018 adalah show mandiri terakhir buat Smackdown, makanya, brand ini kudu gerak cepet untuk menunjukkan keunggulan dari brand merah yang semakin meriah. Karena, sejujurnya, tahun kemaren Smackdown mengalami keterpukuran yang luar biasa. Di luar divisi tag team yang begitu exciting, tidak banyak yang dihasilkan oleh Smackdown selain pertandingan-pertandingan yang berpotensi gede oleh kerja in-ring para superstar namun berakhir mengecewakan sebab booking yang gak jelas.

Masuk ke dalam partai-partai yang sudah dijadwalkan, Fastlane terasa seperti jalur lurus yang kita udah tahu ujungnya di mana. Perjalanan menempuhnya bisa dibilang lumayan mengasyikkan. Tapi hambatan-hambatan berupa keputusan dan arahan pertandingan yang bikin kita mempertanyaka kelogisan para penulis itu masih ada di kiri kanan. Inilah yang pada akhirnya membuat Fastlane 2018 sama seperti Fastlane sebelum-sebelumnya, sebuah pengisi kekosongan menjelang Wrestlemania. Yang membuat kita mengharapkan ada jalan pintas sehingga bisa langsung menuju Grandest Show of Them All.

 

Rusev Day sepertinya hari yang baik buat Shinsuke Nakamura. For some reasons, para penulis akhirnya berhenti memutuskan untuk mengarahkan penantang utama kejuaraan WWE di Wrestlemania ini sebagai petarung dengan tipe ‘bangkit-dari-kekalahan’.  Nakamura, sejak naik kelas ke main roster, sudah pernah berhadapan dengan superstar top macam Orton dan Cena, namun tidak pernah dia tampil sedahsyat pertarungannya dengan Sami Zayn di NXT. Dan itu dikarenakan karena tim penulis ingin membangun simpati kita terhadap Nakamura, jadi King of Strong Style ini hampir selalu diberikan alur “ngalah dulu lalu comeback dengan gede”. Dan cara seperti ini sudah terbukti enggak cocok dengan gaya bertarungnya. Saat melawan Rusev di Fastlane inilah, kita akhirnya kembali melihat yang terbaik dari Nakamura setelah begitu lama. Aku nyaris melompat-lompat sambil duduk (kayak kodok) demi melihat Nakamura dan Rusev begitu seimbang dalam menyerang, mereka saling berbalas counter. Rusev menyetop Kinshasa dengan tendangan super miliknya sendiri. Momen yang leading us ke Nakamura balas ngebalikin Accolade dengan Kinshasa keras ke belakang kepala. Jika saja kita enggak begitu pasti sama siapa yang menang, maka pastilah pertandingan ini akan lebih dramatis lagi.

On this Rusev Day, I see clearly everything has come to life~

 

 

Satu lagi yang delivered dalam acara ini adalah Ruby Riott. Dalam pertandingan kejuaraan pertamanya di Smackdown, Ruby melakukan hal-hal yang diperlukan dengan benar. Dia menjual peran dan ofensif Charlotter dengan meyakinkan, dia sendiri juga melakukan gerakan-gerakan serangan yang kompeten, dan sama sekali enggak ada ruginya juga Ruby Riott adalah penantang paling fresh dalam scenery Smackdown Women’s Championship terhitung sejak Alexa Bliss pindah ke Raw. Tapi kemudian booking aneh tersebut menemukan jalannya. It was great ngeliat psikologi dari Ruby ketika dia menyiksa Charlotte dengan submission di depan Becky Lynch dan Naomi yang datang membantu. Hanya saja, cuma itulah kepentingan para teman dari kedua kompetitor ini hadir. Build up yang sebenarnya enggak benar-benar diperlukan karena ujung-ujungnya mereka diusir kembali ke backstage. Kedatangan mereka membuat kita terlepas dari duel Charlotte dan Ruby yang meskipun basic, tetapi sangat tight. Match ini butuh bumbu lebih banyak, like, I don’t mind jika berakhir dengan banyak interferensi curang kayak.

Kadang sedikit chaos diperlukan. Tapi toh, harus tetap diperhatikan waktu penempatannya. Ketika kita punya dua kubu tag team yang sudah sepanjang tahun konsisten menyuguhkan laga luar biasa, ketika kita udah meluangkan waktu untuk bikin video yang promoin pertemuan teranyar dan paling bergengsi mereka – dengan stake tampil di Wrestlemania, sebagai juara, yang mana adalah mimpi basah setiap superstar – kita sebaiknya tidak menyelesaikan cerita pertandingan ini dengan kekacauan. The Usos dan New Day sepertinya memang sangat kreatif, mereka bisa menemukan hal baru dalam setiap pertemuan mereka.Setelah apa yang bisa kita sebut perang badar kedua tim ini di Oktober, sebenarnya agak anti klimaks mereka bertemu lagi dalam pertandingan normal tag, namun ternyata mereka menemukan cara untuk membuat kita tetap menggelinjang. Aku benar-benar girang melihat mereka memainkan angle curi-curian finisher pada match ini. Selalu adalah hal heboh jika seorang superstar menyerang lawan dengan menggunakan jurus andalan si lawan. Efektif sekali dalam berbagai lapisan! Aku sudah demikian on boardnya, match ini nyaris menjadi begitu hebat, sampai penulis dan tukang book match ini memberikan kita ‘kejutan’ berupa Bludgeon Brothers yang datang dan menghajar semua orang, resulting  into a no contest. Inilah yang tadi kusebut sebagai chaos yang miss-timing. Mereka sebenarnya bisa saja menunggu match superseru itu beres baru kemudian menyuruh Harper dan Rowan memporak porandakan semua; hasil yang diinginkan – build up ke Triple Threat, sepertinya – tetap akan bisa tercapai tanpa harus mengorbankan sebuah match yang build up dan hype nya udah gede.

“Sarah Logan dari belakang mirip Bray Wyatt”- komen of the night dari peserta nobar

 

Tapi memang, WWE selalu punya cara untuk bermain dengan ekspektasi kita. Aku sama sekali enggak mengharapkan bakal bisa enggak menguap saat nonton Orton melawan Roode. Kenyataannya, aku menyaksikan ini dengan cukup melotot. Julukan “out of nowhere” Orton tampaknya sudah melebar bukan hanya sebagai deskripsi dari jurut mautnya. Karena belakangan, Orton menumbuhkan kebiasaan menang di  momen-momen yang tak diharapkan. Jadi juara WWE di Wrestlemania kemaren contohnya, dan sekarang dia merebut sabuk United States dari Bobby Roode. Pertandingan mereka sendiri sebenarnya enggak payah, it was fairly a good match, namun seperti tersendat oleh kenyataan kedua superstar ini sama-sama face dan tidak terasa api urgensi itu dalam setiap serangan mereka. Menurutku, di lain kesempatan, dengan penokohan yang kuat, Orton dan Roode sanggup menghasilkan tontonan yang lebih seru. Pertandingan Triple Threat mereka (ditambah Jinder Mahal) cukup bikin penasaran – dengan alasan Roode segera turn heel – meski memang enggak semenarik Miz-Rollins-Balor di acara sebelah.

Bicara tentang role face atau heel, aku suka gimana penulis ngebook peran John Cena. Ya, selayang aku memang kesel ngeliat Cena yang nongol di mana-mana nimbrung di match orang, membuat peserta lain telrihat lemah seperti saat dia ngeAA empat superstar begitu bel main event berbunyi. Tapi melihat lagi match itu ke belakang, story yang berusaha mereka tampilkan adalah akankah keinginan semua orang akan terpenuhi, dengan AJ Styles maju ke Wrestlemania berhadapan dengan Nakamura. Walaupun dia masih face, di match ini John Cena adalah antagonis utama buat AJ Styles. Karena memang, dalam film pun, antagoni bukan selalu berarti tokoh yang jahat. Antagonis adalah orang yang menghalangi keinginan tokoh utama, dan di sini stake yang dipertaruhkan sebenarnya adalah apakah Cena bakal menghalangi Styles ketemu Nakamura. Pertandingan kejuaraan ini menjadi lebih penting karena hal-hal personal seperti begini. Bahkan Corbin dan Ziggler yang enggak really punya kepentingan, diberikan momen-momen tersendiri yang membuat mereka tampak pantas ikut bertanding. Kita juga melihat cerita lain yang involving Kevin Owens, Sami Zayn, dan Shane McMahon, yang menambah layer untuk build up Wrestlemania sekaligus menambah seru pertandingan ini. Kekurangannya cuma satu, yakni seharusnya mereka bisa membuat ‘alasan’ yang lebih meyakinkan atas kenapa Shane berada di sana. Karena, there’s no denying it, Shane duduk nonton di situ tampak konyol – dan semakin membuat karakternya gak jelas.

Sebagai sebuah acara pun, Fastlane tidak sepenuhnya terasa spesial. Mereka memutuskan untuk masukin promo Raw yang mengarah ke Wrestlemania, and it really takes us away from the recent moments. Kemunculan Asuka tentu saja banyak dibicarakan, kita akhirnya mendapat pertandingan cewek berprofil tinggi, namun tidak tanpa menuai pertanyaan, apakah selama ini Smackdown sudah demikian gagal membangun divisi wanitanya sehingga mereka tak bisa menemukan penantang yang Wrestlemani worthy untuk Charlotte? Dan ini membuat partai tag team cewek malam ini pun semakin kehilangan greget.. Oiya, satu lagi yang harus dihilangkan oleh WWE adalah keputusan untuk menggunakan video promo dengan tulisan gede berwarna-warni nutupin layar ala video youtuber! Serius deh, ini insulting seolah mereka menganggap penonton tidak bisa menangkap apa yang dikatakan oleh para superstar.

 

 

 

Sudah sejarahnya, Fastlane selalu adalah acara sampingan, bayangkan sebuah filler dalam serial anime – kita bisa skip menontonnya dan tidak ketinggalan apa-apa. Fastlane 2018, toh, tidak berhasil keluar, ataupun malah, tak tampak ingin keluar dari statusnya tersebut.
The Palace of Wisdom menobatkan SIX PACK CHALLENGE FOR WWE CHAMPIONSHIP sebagai MATCH OF THE NIGHT

 

 

 

Full Result:
1. SINGLE MATCH Shinsuke Nakamura mengalahkan Rusev
2. UNITED STATES CHAMPIONSHIP Randy Orton jadi juara baru ngalahin Bobby Roode
3. TAG TEAM MATCH Carmella dan Natalya ngalahin Becky Lynch dan Naomi
4. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Usos dan New Day babak belur dihajar The Bludgeon Brothers
5. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Charlotte retains atas Ruby Riott
6. WWE CHAMPIONSHIP SIX PACK CHALLENGE AJ Styles mengalahkan Dolph Ziggler, Baron Corbin, Sami Zayn, Kevin Owens, John Cena

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements