Tags

, , , , , , , , , ,

“Sometimes being quiet is the best weapon you have.”

 

 

Komedian mulai mewabahi dunia penyutradaraan horor mainstream, tahun kemaren ada Jordan Peele yang sakses dengan Get Out (2017) – sekarang giliran John Krasinski, dan aku lebih daripada siap untuk terjangkiti demam horor buatan mereka-mereka!

Dalam A Quiet Place buatan Krasinski, yang jadi wabah dunia bukan penyakit, atau zombie, atau pembunuh psikopat, melainkan teror monster buta dengan pendengaran luar biasa tajam. Daerah tempat tinggal keluarga tokoh utama cerita, nyaris kosong akibat ulah monster-monster ini. Kita tidak tahu kenapa mereka ada di sana, makhluk apa itu sebenarnya, yang kita tahun hanyalah betapa suara sekecil apapun akan menarik perhatian mereka, dan memang itulah yang perlu kita tahu dari para monster. A Quiet Place adalah thriller yang bikin kita ikutan terdiam dengan tegang sedari awal. Kita ikutan merasa terjebak dan berusaha untuk tidak membuat suara. Karena tidak seperti thriller sejenis, di mana tokoh cerita tidak boleh melakukan sesuatu yang bisa memprovokasi monster, film A Quiet Place sejak sepuluh menit pertama sudah menetapkan bahwa stake yang harus keluarga itu hadapi, konsekuensi yang ada jika mereka melanggar – membuat suara gak-alami, adalah kematian yang nyaris secara spontan. Tidak akan ada perlawanan; begitu kau menarik perhatian monster, kau sama saja dengan sudah mati.

tidak seperti Vampire Cina yang bisa dikibulin kalo kita kelepasan napas, monster di film ini tidak akan kenal ampun

 

Krasinski, meski jam terbang sutradaranya belum banyak, sudah punya pemahaman layaknya director horor kawakan. Dia memaksimalkan suspens dengan memilih fokus penceritaan. Ketika dia mengungkapkan hal kepada penonton akan terasa berbeda dengan saat dia mengungapkan sesuatu kepada tokoh cerita. Ia dengan sukses menciptakan ketegangan berlapis, kita peduli terhadap keluarga tersebut sekaligus kita dapat merasakan tegangnya dikuntit oleh makhluk ganas. Film dibuat benar-benar sunyi. Para tokoh menggunakan bahasa isyarat dan banyak bercerita lewat ekspresi wajah sehingga kita bisa mengerti apa yang terjadi. Tentu, akan ada subtitle yang menjelaskan apa yang mereka bicarakan lewat bahasa isyarat, namun film masih tetap terasa subtil dan enggak terkesan seperti film yang mengajak kita membaca alih-alih bercerita sendiri.

Ini merupakan tantangan tersendiri, dialog yang minimalis seperti pada film ini akan menggebah pembuat film untuk mencari cara kreatif dalam bercerita. Mereka harus tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan penonton tanpa banyak membual kata. Krasinski dan para aktornya unggul di aspek ini. Kelihatan banget bedanya jika sutradara dan para pemain paham dan punya pandangan yang sejalan seperti pada film ini. Krasinski juga turut bermain sebagai Ayah, sehingga dia benar-benar paham apa yang tokoh dan dia sendiri perlu lakukan untuk menambah ketegangan dan kekuatan film. Di sini dia bermain dengan istrinya beneran, Emily Blunt, sehingga tentu saja chesmistry antara dua tokoh ini sangat kental terasa. Sebagai Ibu yang kehilangan anak, dan siap untuk meredeem dirinya dengan menyambut kelahiran anak berikutnya, Emily Blunt juga bermain dengan menakjubkan. In fact, across the board, seluruh pemain memberikan sumbangan besar penampilan kepada film ini. Bahkan aktor anak-anak. Noah Jupe yang sebagai anak yang charming di Wonder (2017) deliver ekspresi yang tampak genuine di film ini. Terutama Millicent Simmonds yang bermain sebagai anak sulung yang tuli, dalam kenyataannya Millicent juga penyandang tuna yang sama, sehingga penampilannya di film ini tampak sangat otentik lantaran dia mengerti apa yang harus diberikan kepada tokoh yang ia perankan. Berkat penampilan dan penulisan cerita, meskipun kadang kita enggak mengerti banget masalah emosional yang mereka hadapi sebagai keluarga, kita akan tetap dibuat melekat kepada keluarga ini demi melihat apa yang mereka lakukan selanjutnya, bagaimana mereka berjuang untuk tetap ‘membisu’ dan melanjutkan hidup di tengah teror tak terucap monster-monster yang siap membunuh itu.

Yang namanya film horor, apalagi yang berelemen monster pembunuhnya, tentu saja akan ada jumpscare. Tentu saja akan ada tokoh yang mengambil pilihan yang bikin kita meneriakkan kata “Begok kau!” at the top of our lungs, toh memang dari situlah faktor fun menonton film horor macam begini. Meskipun memang ada rakun yang bikin kita terlonjak, jumpscare dalam film ini kebanyakan enggak terasa murahan. Beberapa keputusan karakter memang idiot, kayak misalnya si Ayah yang mencampakkan kapak setelah memanggil monster, tapi keputusan-keputusan yang dibuat bergerak dalam konteks cerita; dalam kasus si Ayah barusan, adegannya ingin memperkuat elemen kematian instan saat monster mendengar suaramu.

untuk pembelaan, menurutku anak ini ngidupin pesawatnya bukan karena ingin dengar bunyi, tapi karena dia dengan polosnya berpikir pesawat mainan itu bisa terbang beneran

 

Actually banyak elemen yang bisa kita nitpick, banyak elemen cerita yang membuat kita mempertanyakan kelogisan. Bagaimana bisa mereka punya listrik setelah begitu lama daerahnya ‘mati’, bagaimana bisa mereka mikirin untuk punya bayi, bagaimana bisa tokoh si Noah Jupe begitu takjub bisa ngobrol di deket sungai karena arus dan air terjun meredam suara mereka – apakah selama ini mereka gak pernah ngobrol begitu hujan turun? Tidak pernahkah hujan di sana? Dan lagi, kalo ayahnya tahu soal suara sungai, kenapa gak pindah aja ke dekat sana – kenapa orang-orang di sekitar situ enggak ada yang punya rumah di sekitar sungai, enggak kayak orang kampung di sini yang rumahnya ngikutin kali? Kita mungkin bakal punya teori sendiri bagaimana cara mengalahkan monster dan kenapa cara tersebut enggak terpikirkan sama para tokoh film ini. Kita bisa saja terus-terusan menganalisa kekurangan dunia film ini, namun kita juga akan semakin jauh dari point sesungguhnya yang ingin dibicarakan oleh film.

Karena sebenarnya ini bukan soal monster. Adegan dengan para monster jarang sekali beneran tentang monsternya, adegan-adegan tersebut adalah soal para tokoh. Psst, diam-diam aja ya, A Quiet Place bukanlah semata film monster, ia adalah film tentang manusia dengan monster yang berkeliaran di lapisan terluarnya.

Diam itu emas. Survive dengan tidak membuat suara, surprisingly adalah hal yang susah. Apalagi untuk keadaan sekarang, semua orang berpikir mereka perlu untuk mengeluarkan suara, mengemukakan pendapat, meski sebenarnya mereka cuma nyinyir – tidak memberi solusi. Mungkin saja aku di sini juga begitu, that I might doing that right now, but you get the point. Penting untuk kita berani mengeluarkan suara, tidak menahan-nahan apa yang kita pikirkan, berpendapat dengan jujur. Tapi tidak kalah pentingnya untuk tahu kapan harus bersuara, bagaimana menyuarakan yang tersirat di hati dan kepala supaya tidak menimbulkan keributan yang enggak perlu.

 

Ada alasannya kenapa film langsung melempar kita ke hari ke 89 dari musibah monster tersebut. Cerita akan menjadi sangat berbeda jika kita melihatnya dari pertama, kita mungkin akan melihat hysteria penduduk – menjadikan film ini purely teror serangan monster. Tapi enggak, film ingin memperlihatkan kita karakter. Keluarga Emily Blunt sudah punya sistem sendiri untuk bertahan hidup, mereka sudah mempelajari sesuatu tentang monster, dan mereka saling menjaga satu sama lain. Inilah yang membuat kita mengapresiasi film ini, tokoh-tokohnya –untuk sebagian besar waktu- tampak pintar. Kita dibuat hanya mengetahui yang diketahui oleh keluarga tersebut. Mereka melihat api unggun menyala di kejauhan, di atas bukit-bukit sekitar. Kita mengerti manusia belum punah, bahwa bukan hanya keluarga mereka yang sedang berjuang hidup. Dan ini menciptakan misteri dan ketertarikan. Cara mereka bertahan hidup, berkomunikasi sebagai keluarga, menjadi inti utama cerita. Buatku sangat menakjubkan sekelompok orang bisa membuat sistem yang bekerja efektif tanpa membuat keributan yang berlebihan; dalam film ini mereka literally bercakap tanpa suara.

 

 

 

Cukup pintar untuk tidak menjadi sesuatu yang lain dari yang diniatkan, thriller ini sangat terarah, dengan penuh ketegangan dan penampilan sungguh-sungguh dari pemain dan pembuatnya. Beberapa aspek memang memancing kita untuk mempertanyakan hal-hal yang membingungkan dan film tidak repot untuk menjawabnya. Karena kita bisa menitpick kekurangan yang dipunya, tapi film ini tidak peduli. Mereka punya sesuatu untuk dikatakan di balik apa yang tampak seperti thriller survival yang sederhana, they did say it, dan terserah kepada kita untuk terus larut dalam noise di sekitarnya atau enggak. Di luar semua itu, yang bikin aku ngeri saat nonton ini adalah menyadari betapa keberhasilan film ini bergantung kepada reaksi penonton saat menyaksikannya. Segala horor dan atmosfer itu tentu akan runtuh jika ada penonton yang sok melawak; mengeluarkan suara-suara lucu saat ada tokoh yang menyuruh diam. Tapi aku senang saat nonton tadi enggak ada orang yang begitu, bahwasanya penonton sini sudah belajar untuk menonton dengan benar dan menghormati bioskop layaknya sebagai tempat yang sunyi.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for A QUIET PLACE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements