Tags

, , , , , , , , , ,

“Suicide is a permanent solution to a temporary problem.”

 

 

Sekalinya nekad nitip absen satu mata kuliah, pasti deh, yang dibolosin itu ngadain kuis mendadak. Atau enggak, kuliahnya mendadak asik kata teman-teman yang masuk. Dan besoknya, dibelain-belain masuk, mata kuliah tersebut kembali sukses bikin kita ketiduran di tempat duduk. Film horor Indonesia keadaannya persis begini. Begitu aku sengaja ngelewatin satu film, santer terdengar bahwa ternyata film itu bagus, menarik, dan sebagainya lah yang bikin aku nyesel gak nonton. Kemudian aku coba nonton horor Indonesia berikutnya; kembali aku mengutuk-ngutuk setengah mati.  Nonton film horor Indonesia di bioskop belakangan ini pretty much seperti kita penasaran takut ketinggalan sesuatu yang penting, sedangkan di saat bersamaan kita males menontonnya karena kita sudah tahu harus mengharapkan apa.

Singkatnya, kita butuh ‘sesajen’ supaya kita sudi untuk nonton film horor Indonesia.

 

Sejujurnya, satu-satunya alasan aku nonton ini adalah karena diajak oleh Forum Film Bandung. I have no interests whatsoever, aku gak tahu pemain-pemainnya yang berfollower banyak, buatku Sajen adalah ‘kelas’ yang dengan senang hati aku bolosin. Tapi ternyata, film ini memang beda. Film ini unik banget…….buat penonton yang belum pernah menyaksikan film Thailand Bad Genius (2017), yang belum pernah dengar serial di Netflix 13 Reasons Why (2017), yang gak tau siapa Sadako, yang belum pernah baca dan nonton Carrie nya Stephen King. Dengan kata lain, penonton yang selama ini tinggal di dalam goa – come on, semua itu adalah pop-culture populer! Kalolah ini kelas, aku bilang, aku gak akan tertidur, aku malah sangat terhibur karena yang aku saksikan di depan kelas itu adalah badut dengan lelucon plesetan yang amat teramat sangat konyol.

Sajen punya lingkungan cerita yang menarik. Sebuah sekolah menengah atas swasta yang mentereng, muridnya kece-kece, tajir pula, seisi sekolahan ini mengkilap, ruang komputernya lengkap, ada perpustakaan, wc nya kayak wc di bioskop, bangku siswanya kursi empuk di kantoran – bisa muter, menyediakan sudut pandang 360 derajat yang sempurna untuk nyontek. Namun di tengah-tengah itu semua, ditemukan sesajen-sesajen tradisional di beberapa tempat. Tidak ada yang boleh bertanya tentang sesajen tersebut, apalagi memindahkan. Karena ternyata sekolah ini punya rahasia. Banyak murid yang meninggal bunuh diri sehingga arwah mereka tidak tenang.  Demi menjaga nama baik sekolah, pihak guru dan authorities sekolah enggan menyelidiki bunuh diri tersebut. Sampai akhirnya ada satu siswi bernama Alanda yang merekam apa yang dilihatnya di sekolah, video yang berisi aktivitas murid-murid di sekolah ini yang sudah lama membuatnya geram. Jadi, beda dong, Alanda Baker menggunakan rekaman video, sementara Hannah Manopo pake kaset tape. Perundungan merajalela. Anak-anak populer ngegencet anak-anak lain. Bahkan Alanda sendiri menjadi korban. Dia dikasari, dia dicekoki minuman keras, direkam saat mabok dan videonya disebarin. Alanda juga diperkosa. Namun setelah semua tragedi itu, malah ia yang dipersalahkan. Alanda dituduh mencemarkan nama baik sekolah. Karena tidak tahan menghadapi semua rundungan tersebut, Alanda bunuh diri. Kemudian barulah dia kembali sebagai hantu, ia membully balik orang-orang tersebut, dan mencoba membuat sekolah mereka tempat yang lebih baik dari alam sana. And I’m not even kidding.

Aku gak tahu gimana kalian bisa membaca sinopsis tersebut tanpa tertawa, karena aku sendiri saat mengetiknya sempat berhenti tiga kali lantaran jari-jariku terlalu gak stabil saat aku mulai ngakak berat mengenang apa yang baru saja aku tonton.

satu hal yang bisa kusukuri dari film ini adalah Grace Salsabila yang mirip banget ama Britt Robertson

 

Film ini parah, tapi bukan berarti aku tak terhibur – kita bisa sangat terhibur dengan menonton ini. Dan lagi film ini parah bukan karena aku sedari awal sudah tak tertarik nonton, ataupun bukan karena aku kebanyakan referensi. I mean, jikapun kalian belum pernah nonton Thirteen Reasons Why dan segala yang kutulis di atas, film ini tetap gagal karena penggodokan elemen-elemen cerita yang begitu ngasal dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah penceritaan film yang baik dan benar. Oleh karena film ini begitu nafsu untuk ngikutin materi-materi lain; serius deh, film ini akan bekerja baik jika kita melihatnya sebagai parodi konyol dari film yang lebih sukses, maka aku pun akan nulis ulasannya dengan plesetan. Jadi, inilah, TIGA-BELAS ALASAN KENAPA SAJEN MEMBUNUH DIRINYA SENDIRI SEBAGAI SEBUAH FILM:

  1. Babak pengenalan yang tidak jelas. Karena niruin banyak, film ini punya banyak perspektif untuk digali. Namun malah bingung sendiri mengambil fokus yang mana. Maksudku, jika ternyata sebagian besar cerita nantinya akan mengisahkan dampak bunuh diri cewek yang dirundung terhadap orang-orang sekitarnya, maka kenapa cerita malah memulai dengan memperlihatkan si tukang bully yang bahkan gak sempat punya arc di penghujung hidupnya.

 

  1. Film ini memasukkan elemen persaingan dua murid paling pinter di angkatan seperti film Bad Genius, hanya saja Sajen gak punya follow up yang menarik yang datang dari persaingan ini, selain menambah deretan orang yang menyakiti hati Alanda. Juga, Sajen gak bisa punya fenomena paling menarik yang diangkat Bad Genius; bahwa orang pintar itu yang ngebully. Sedangkan Sajen terasa sangat tradisional dengan anak pintar dirundung oleh anak yang populer

 

  1. Elemen 13 Reasons Why nya juga begitu, film ini melewatkan bagian terpenting kenapa serial tersebut begitu menyentuh. Basically, Sajen merangkum tiga belas episode menjadi empat-puluh-lima menit kurang, sehingga tokoh-tokoh di sini tidak berhasil hadir dalam lapisan, mereka semuanya masih satu-dimensi. Ada twist di akhir yang totally membelokkan satu tokoh, tapi itupun build upnya nyaris gak ada dan hanya bertumpu pada elemen kejutan. Sajen juga berani menampilkan adegan bunuh diri dengan gamblang di layar, masalahnya adalah justru adegan bunuh dirilah yang membuat 13 Reasons Why kontroversial. Maka bayangkan, jika serial yang sudah mengupas begitu seksama soal kejiwaan dan sisi emosi aktual dari sisi pelaku rundung, orangtua korban, dan si korban itu sendiri masih dinilai terlalu mengglorify bunuh diri dan mengajak remaja target penontonnya ke tindakan yang salah; gimana jadinya cerita tiruan yang merupakan rangkuman dari cerita kompleks tadi dalam menampilkan adegan bunuh diri – tak lain tak bukan hanya untuk sedih-sedihan dengan makna sesungguhnya sama sekali tak tercapai. Berubah menjadi hal yang menggelikan, malah

 

  1. Serius deh, cita rasa lokal yang ditambahkan membuat semuanya menjadi dangkal. Elemen hantu selain bikin cerita jadi konyol, juga bikin penyelesaian jadi ngambang. It really takes us away dari problematika yang sebenarnya. Pelaku perundungan jadi gak belajar banyak, fokusnya menjadi mereka takut sama hantu alih-alih menyesali dan reflecting ke diri sendiri, menyadari apa yang mereka perbuat itu salah. Mereka tidak peduli sama Alanda ataupun mikirin supaya jangan terjadi korban lain, mereka hanya khawatir soal hantu. Di satu poin, ada tokoh yang mengusulkan jalan keluar dengan membangun musholla di sekolah, tapi itu bukan demi kebaikan para murid – biar mereka sadar dan sering ibadah – melainkan lebih ke biar para hantu takut untuk datang mengganggu

 

  1. Hantu yang tampil di sini pun sama sekali tidak seram. Film tidak mampu mengarahkan ke sebenarnya horor karena terlalu sibuk nyontek film lain. Akibatnya untuk nampilin horor, mereka pakai banyak sekali jumpscare, baik yang palsu (tepukan orang dari belakang punggung) hingga ke kemunculan hantu yang entah kenapa di sini hantunya seperti harimau ataupun T-Rex yang selalu mengaum sebelum beraksi

 

  1. Sepertinya fokus ngeriset nontonin film lain, Sajen lupa melakukan riset bahwa bully sudah ada padanan kata dalam bahasa Indonesia.

 

Kita tidak bisa dan tidak seharusnya membuat bunuh diri sebagai tindakan mencegah perundungan. Seharusnya yang diajarin adalah bagaimana supaya membuat orang-orang menjadi less-violent terhadap sesama. Dengan teman sekolah, kita dirundung. Sekolah juga kerap ngebully kita dengan tuntunan nilai. Dunia kerja juga ntar begitu. Malah ada juga orangtua yang merundung anaknya dengan segala kewajiban membuat mereka bahagia. Film ini juga menggambarkan hantu aja kena dibully sama bacaan doa. Seluruh dunia adalah tukang bully. Kita ini bagai pendulum yang berayun dari posisi pelaku ke korban dengan begitu gampang. Mestinya menyingkapi inilah yang dijadikan fokus. Adalah perbuatan yang salah melakukan perundungan dalam bentuk apapun. Namun juga bukanlah hal yang benar untuk bunuh diri dengan harapan orang-orang akan menyesal atas perbuatan mereka ke kita. Apalagi kalo niat bunuh dirinya biar bisa jadi hantu dan balas dendam. Yang perlu diingat adalah; berkebalikan dengan yang ditunjukan oleh film Sajen, bunuh diri bukanlah bentuk pengorbanan, bunuh diri bukanlah tindakan noble ataupun kesatria. Jangan gebah orang untuk melakukan hal itu. Encourage people to speak up.

dan film ini pun membully penontonnya dengan jumpscare-jumpscare bego.

 

  1. Tokoh Rachel Amanda yang mestinya bisa berperan banyak, bahkan bisa dijadiin tokoh utama, malah dibuat tidak melakukan apa-apa. Perannya adalah librarian yang diam-diam bikin artikel tentang perundungan yang terjadi di sekolah. Tapi actually waktu tampilnya sangat sedikit, artikelnya enggak berujung ke mana-mana. Dan satu-satunya hal yang ia lakukan malah bagi-bagi tisu ke tokoh yang nangis. Bahkan filmnya sendiri beneran menyebutkan hal ini, seolah mereka sadar mereka sudah membuat tokoh ini tampak begitu gak ada gunanya.

 

  1. Tokoh ibu si Alanda yang setengah gila juga dibuat bego banget. Dia memegang bukti kuat perihal perundungan dan kejadian yang menimpa putrinya. Tapi gak dikasih-kasih ke yang berwajib. Padahal enggak ada yang menghalangi dia untuk menggunakan bukti tersebut. Plus dari segi wajah dia lebih cocok sebagai ibu si cewek tukang bully. Plus keluarga si cewek tukang bully tidak pernah dibahas karena siapa yang peduli soal karakter antagonis, kan, film horor Indonesia?

 

  1. Lagu tradisional Sunda “Cing Ciripit” yang diputer berkali-kali, padahal selain adegan pertama kemunculannya, momen lagu ini tidak pernah terasa emosional

 

  1. Satu lagi karakter yang enggak jelas, dan sok dibikin misterius, adalah si janitor yang dandanannya lebih mirip dukun. Aku ngerti dia di sana dipekerjakan karena sepertinya cuma dia yang tahu cara bikin sesajen. Namun, alasan dirinya di menjelang akhir membuang sajen-sajen itu pada malam prom sungguh tidak terpikir buatku

 

  1. Adegan prom itu salah satu yang bikin aku ngakak sejadi-jadinya. Hantu Alanda mengurungkan niatnya memporakporandakan seisi aula lantaran dia melihat video kejadian sebenarnya yang diputar impromptu oleh seorang pelaku rundungnya yang mendadak bulat tekat untuk insaf, dan Alanda jadinya hanya mengejar satu orang. Dan yang lain hanya nonton manis ngelihat Alanda nyekek tuh pelaku utama

 

  1. Alanda tampak seperti anak baik dengan tujuan yang lurus. Dia ingin menyetop perundungan yang terjadi di sekolahnya, dengan merekam tindakan itu sebagai bukti. Untuk apa? untuk disebarkan? Tapi tidakkah itu membuatnya jadi bully juga? Ini sama heroiknya dengan kejadian orang-orang yang memvideokan penyimpangan padahal mereka ada di sana dan bisa menghentikan secara langsung. Namun, generasi sekarang lebih suka mempostingnya dan menghujat perbuatan itu ramai-ramai di social media. Alanda juga berkata kita harus bisa memanfaatkan kesempatan, yea, dia membuktikan kata-katanya dengan lebih memilih bunuh diri supaya bisa dapat kesempatan jadi hantu.

 

  1. Karena ini cerita hantu, jadi tidak ada konsekuensi nyata yang tersampaikan kepada kita buat pelaku perundungan itu sendiri. Dalam film ini mereka antara mati dibunuh hantu, ataupun menjadi gila. Bagaimana film ini bisa menyampaikan pesan biar orang berhenti ngebully di dunia nyata? Toh tidak ada hantu di dunia nyata yang bisa menghukum? …eh, atau ada?? Jengjeng!!

 

 

 

 

Film ini adalah film yang berani……mengadopsi serial dan film populer secara tak resmi dan menyesuaikannya dengan keadaan yang relevan dengan cita rasa lokal namun totally missing the point dari pesan yang mau disampaikan. Membahas perundungan, pencitraan, mental ngejudge, serta popularitas dan kompetisi, yang merupakan perjuangan yang harus dihadapi oleh remaja-remaja SMA di dunia di mana hantu bisa menegakkan kebenaran.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for SAJEN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements