Tags

, , , , , , , , , , , ,

“The worst thing that colonialism did was to cloud our view of our past.”

 

 

 

Koboi itu naik kuda. Karena kalian naik kerbau, kusebut Buffalo Boys. Van Trach yang jahat menertawakan dua jagoan kita yang datang menunggang kerbau dalam rangka membebaskan penduduk desa dari tiraninya. Walaupun dengan logika seperti demikian, mestinya Panglima Belanda itu menyebut koboi sebagai “horseboy”. Toh, Cow dari Cowboy kan artinya Sapi. Tapi kita bisa maklum karena bahasa Inggris bukanlah bahasa pribumi bagi Van Trach. Yang jelas, regardless tunggangannya, jagoan di Buffalo Boys ini memang sama seperti Cowboy-Cowboy yang di Amerika; mereka menggembala makhluk-makhluk helpless nan tak berdosa menuju keselamatan.

Jagoan kita, Arana dan dua keponakannya baru saja kembali menjejak di bumi pertiwi setelah bertahun-tahun hidup ‘keras’ di Amerika. Perjalanan pulang kampung menghantarkan mereka ke satu desa petani yang dikuasai oleh penjajah. Warga dilarang menanam padi karena opium dianggap jauh lebih menguntungkan. Yang nekat berontak, satu persatu dibantai di depan umum, supaya jadi pelajaran bagi yang lain. Film punya nyali menekankan kepada kekejaman yang dilakukan oleh penjajah dan antek-anteknya. Setting Indonesia di jaman penjajahan memang sangat tepat untuk membuat cerita semacam ini. Mencampurkan dongeng ke dalam sejarah penjajahan Indonesia, dan tak ketinggalan elemen western Django Unchained (2012), dan klasik seperti Seven Samurai (1954) –malahan ada tokoh nenek yang berlatar sama dengan nenek di karya Akira Kurosawa tersebut -, Buffalo Boys bermaksud menjadi sajian aksi yang kreatif dan bisa kita banggakan. Hasilnya?

Ternyata malah lebih pantas untuk kita tertawakan.

Cap dagang ‘film konyol’ sekarang bukan hanya milik horror lokal. Tonton deh, Buffalo Boys!

 

Punya potensi besar untuk menjadi film cult – film yang digemari secara sakral oleh banyak orang – karena kekonyolan logika; actually adalah pujian yang bisa aku berikan untuk Buffalo Boys. Sebab dia akan membuat kita tertawa-tawa menontonnya, paling enggak sampai kita ingat kita sudah membayar tiket untuk tontonan yang kita pikir bakal epik. Lima-belas menit pertama aku sudah ngakak gak berhenti-henti. Pertama; Saat para tokoh sampai di Indonesia, Arana memperingatkan mereka jangan sampai ada orang yang tahu asal mereka darimana. Dua jagoan kita musti berbaur dengan penduduk lokal. Lantas berjalanlah mereka pasang lagak seperti biasa-biasa saja, dengan topi koboi!

Keblo’onan yang teramat nyata, yang bikin aku harus minta maaf pada penonton di sebelahku lantaran ngakak ampe jongkok lompat-lompat di kursi, datang dalam sebuah adegan flashback – btw, aku gak ngerti kenapa mereka mesti pakai flashback sedini itu, padahal introduksi tokohnya bisa lebih baik dengan menyajikan cerita secara linear.

Jadi, di flashback tersebut, Arana dan Sultan Hamza terdesak dikejar Belanda. Arana kabur naik sampan, sementara Sultan tinggal untuk menahan pasukan Belanda. Kemudian kita menyaksikan Arana menyaksikan Sultan dibunuh; dia ditembak oleh empat orang, dalam jarak yang dekat. I mean, kenapa Belandanya bego sekali, tidakkah mereka melihat Arana masih di dekat sana; SEBERAPA CEPAT sih dia kabur dengan naik sampan di air yang tenang?! Kenapa musti empat-empatnya bunuhin orang yang udah terluka, kenapa yang berusaha kabur itu enggak ditembak. I was like, he’s a sitting duck right there!!!! Jawabannya ya karena kalo ditembak, filmnya tamat karena tokohnya sudah mati sebelum cerita dimulai hihihi..

 

Jumlah duit yang mereka keluarkan demi film ini jelas bukan sesuatu yang bisa kita tertawakan. Desain produksinya benar-benar total, dunia yang dibangun film ini jadi terlihat meyakinkan. Saking banyaknya duit, sekalian sampai ke darah-darahnya mereka mainkan dengan CGI. Film ini seharusnya menginvestasikan sama banyaknya kepada pengembangan cerita. Karena apa yang kita dapatkan pada Buffalo Boys benar-benar laughable. Aku ingin bicara tentang karakter dan penampilan para pemain, tapi aku gak bisa. Karena film ini tidak menawarkan banyak untuk diceritakan. Film aksi mestinya membangun tokoh utama, penonton harus peduli sama mereka. Namun hingga akhir film, kita masih tak kenal siapa kedua jagoan bersaudara tersebut selain bahwa mereka adalah anak dari Sultan yang dibunuh oleh si penguasa lalim, Van Trach. 

PENOKOHANNYA SANGAT TIPIS. Suwo yang diperankan oleh Yoshi Sudarso adalah si bungsu yang mengaku sering diremehkan oleh abang dan pamannya. Sedangkan abangnya, Jamar, yang diperankan oleh Ario Bayu adalah seorang yang tidak suka sama kalajengking. That’s it. Kevulnerablean mereka segitu doang, kita diharuskan peduli sama mereka berdasarkan dua hal tersebut. Dan oh iya, Si Suwo ini kerjaannya ngelaba ama cewek, dia naksir sama tokohnya si Pevita Pearce. At the sight of her, Suwo akan membuka penyamarannya dan melupakan dirinya masih berada di kota yang penuh Belanda. Menakjubkannya tokoh Suwo ini adalah, satu plot poin cerita ini bergulir dari dia yang disuruh beli obat, namun malah ‘pacaran’ ama Pevita, alhasil mereka kegrebek antek Belanda.

Menang kerbau! Menang kerbau! eh maaf, salah daerah..

 

Motivasi Arana ini sebenarnya juga tidak begitu jelas. Dia melarikan diri ke Amerika, membawa dua anak saudaranya yang dibunuh oleh Belanda. Kita melihat mereka pertama kali saat sedang ngadain adu tarung, demi uang, di dalam gerbong kereta api yang menuju California. Kejadian menjadi kacau, ia hampir mati ditembak orang sana. Jadi saat itu juga, Arana mutusin sudah saatnya kembali ke Indonesia. Ini udah ibarat keluar dari mulut singa, masuk lubang buaya, kemudian dia balik lagi ke mulut singa. Nyalahin buaya padahal mereka sendiri yang bisnis berbahaya di sana. I guess film cukup relevan dengan kondisi sekarang hahaha.. Serius nih, padahal ini elemen yang cukup menarik loh. Gimana mereka yang tadinya udah seperti penjajah kecil-kecilan di Amerika, kepukul mundur, untuk kemudian harus mengronfontasi penjajah di negeri sendiri. Tapi film tidak pernah memberi bobot lebih banyak ke elemen kenapa mereka mesti dibuat pindah begitu jauh ke Amerika, selain untuk membuat mereka mendapat gimmick topi koboi.

Film  akan seringkali membuatku berpikir bahwa mereka sebenarnya punya modal dan materi cerita yang cukup tapi tidak mampu untuk mengolahnya dengan kompeten. Film segrande ini mestinya dibuat dua jam lebih, untuk totalitas mengeksplorasi budaya dan gimmick ceritanya. Ada banyak perspektif yang bisa dijadikan faktor dalam penggalian cerita; ada orang desa, ada orang Belanda, jagoannya sendiri adalah orang asing di tanah itu, tapi film tidak mau meluangkan waktu untuk membahas ini. Mereka ingin cepat-cepat ke sekuen aksi saja. Hubungan kakak-adik Jamar dan Suwo juga tidak pernah digali secara mendalam. Mereka tidak ubahnya tampak sebagai sahabat, enggak kelihatan sebagai kakak adik. Bahkan mereka tak tampak tertarik dengan sejarah keluarganya sendiri. Jamar diwarisi keris, dan kita tidak pernah melihat keris tersebut beraksi. Menjelang pertarungan akhir selesai, aku terus bertanya-tanya “mana keris, mana kerisnyaa??” Oh ternyata, keris itu ditaroh di punggung untuk perlindungan kalo ditembak dari belakang -,-

Sesuai dengan judulnya, film ini didominasi oleh pria. Ada juga, sih, peran wanita. Tiga di antaranya jadi objek yang perlu diselamatkan. Ini kontras sekali dengan keluh kesah Kiona, tokoh yang diperankan oleh Pevita. Kiona adalah elemen yang paling disia-siakan oleh film. Ditambah dengan keahlian panahnya, dia bisa saja tumbuh menjadi hero cewek yang kuat, tapi naskahnya begitu clueless terhadap apa yang sedang ia ceritakan. Kiona ini benci sama fakta cewek selalu tak dianggap, bahwa laki-laki adalah nomor satu.  Kalo digali, sudut pandang tokoh ini bisa menjadi bahan pemikiran. Kemudian, exactly beberapa detik setelah itu, kita melihat dia akhirnya berhasil tepat memanah dengan dibantu oleh laki-laki. Kenapa banget. Padahal di adegan pengenalan tokoh ini, kita melihat Jamar dan Suwo terkagum-kagum oleh aksi panah yang ia lakukan selagi menunggang kerbau. Ke mana perginya semua keberdayaan dan kemandirian yang keren itu.

If anything, film ini membuktikan lagu Sabda Alam itu benar adanya; bahwa wanita memang sudah dijajah pria sejak dahulu. Sejarah penjajahan inilah yang diangkat oleh Buffalo Boys, supaya kita tidak melupakannya. Kehebatan dan kemudahan itu semuanya milik kaum pria. Tidak dengan wanita, mereka bahkan tidak dibiarkan mati begitu saja. Wanita di film ini, harus disiksa dahulu. Mereka harus pasrah menunggu diselamatkan. Bukan hanya Kiona, menjelang akhir kita juga akan melihat seorang istri yang memilih mati mengikuti suaminya. Melihat dari gimana wanita dan pria diperlakukan, sepertinya kita bisa menebak kelamin kerbau yang ditunggangi oleh dua koboi jagoan kita.

wanita-wanita minta tolongnya ke Buffalo Bill ajaaa

 

Dengan tokoh-tokoh protagonis semembosankan itu, wajar kalo perhatian kita beralih ke tokoh antagonis. Film ini punya banyak, penampilannya pun lebih ‘colorful’, ada berbagai keunikan dari masing-masing penjahat. Van Trach memiliki pemikiran yang menarik; the way dia menganggap Suwo dan Jamar lah yang sudah mengusik hukum di desa jajahannya. Bahwa dialah yang merasa terjajah oleh mereka. Aku suka adegan ketika di depan mayat kakek dan ayah, Van Trach nyuruh Kiona berterima kasih kepadanya karena telah dibiarkan hidup. Ini adalah satu-satunya momen di mana ada emosi yang kerasa. Karena film ini sedemikian terasa kosong, hanya rangkaian aksi-aksi tembak. Arahannya tidak berhasil membangun suspens. Tokohnya Mikha Tambayong abis mau diperkosa, ia disandra dengan sebilah pisau pada batang lehernya. Setelah itu, dia membicarakannya seolah tidak ada apa-apa, tidak ada jejak trauma atau apapun emosi sama sekali.

Hal terburuk yang diakibatkan oleh penjajahan adalah membuat kita melupakan masa lalu. Film ini mengatakan bahwa kita berhak untuk tahu. Jamar dan Suwo berhak untuk membalas dendam. Namun seburuknya terjajah, adalah terjajah oleh rasa dendam. Jika harus berjuang, berjuanglah demi keadilan. Demi berubahnya masa lalu menjadi masa depan yang lebih baik.

 

Tak lebih dari klise-klise film koboi yang berusaha dilokalkan, tapi tidak dengan kompetensi yang memadai. Keindahan visual, kostum-kostum yang epik, film ini cuma ‘tampang’. Mengatakannya style over substance juga susah lantaran enggak ada gaya dalam penceritaannya.  Sekuen aksinya punya koreografi yang seru, banyak hal menarik yang mereka lakukan saat bertarung maupun tembak-tembakan. Hanya saja, kamera tidak dapat menangkap semua dengan baik. Editingnya juga gak ngerti untuk menyuguhkan rangkaian yang asik untuk dilihat. Di big-finale, kita akan melihat dua adegan pertarungan yang diselangselingin. Tapi gak ada eye-trace yang menyelaraskan dua berantem tersebut. Kita seperti melihat adegan yang berpindah-pindah, sungguh membingungkan, tak lagi enak untuk diikuti.

 

 

 

 

Bahkan reviewku pun terlihat kayak naskah stand-up komedi; Setiap paragraf berakhir dengan punchline lelucon. Karena filmnya sendiri memang begitu, setiap adegan aja saja yang bikin kita tertawa. Ketinggian kalo mengharapkan laga yang kolosal dan penuh referensi sejarah di sini. It’s juts a mindless action berbalut desain produksi yang keren yang semestinya diniatkan untuk total bersenang-senang. Tapi film ini menganggap dirinya serius dan penting. Yang ada malah, mereka baru saja menghabiskan puluhan milyar untuk membuat salah satu film paling konyol yang bisa kita tonton setahun terakhir ini.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for BUFFALO BOYS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements