Tags

, , , , , , , , , , ,

“Prayer without action is powerless”

 

 

 

Berdoa itu ada waktunya. Sudah kewajiban manusia untuk menyempatkan diri untuk berterima kasih kepada Sang Pencipta. Tuhan tidak akan pernah bosan sering-sering kita panggil. Tuhan justru senang jika kita sering mengingat-Nya, meminta kepada-Nya. Namun, berdoa setiap waktu hingga lupa untuk berusaha, sama saja dengan ngobrol ama foto kecengan di wallpaper laptopmu, tapi gak pernah berusaha ngajak jalan. Kalo gak diusahakan, ya selamanya keinginan itu gak bakal terwujud. Seperti suster-suster di biara terkutuk di film The Nun; mereka lupa bahwasanya berdoa dan berusaha itu kudu seimbang. Ada waktunya untuk bertindak, melakukan perjuangan terhadap suatu hal yang diminta, alih-alih berlutut sampai pagi.

Nun jauh bahkan sebelum boneka Annabelle dibuat, terdapat sebuah biara di pedalaman Romania. Biara yang dijauhi penduduk bahkan oleh kuda-kuda mereka, itu terkutuk untuk alasan yang jelas; gerbang neraka terbuka di bawahnya. Iblis bernama Valak enjoy aja keluar masuk dari sana, berpakaian ala biarawati, mengambil satu-persatu Wanita Suci Kekasih Tuhan yang berdoa meminta perlindungan darinya. Tidak ada yang actually bergerak untuk menghentikan Valak. Sampai ketika seorang Pastor dari Vatikan diutus untuk menyelidiki apa yang terjadi di biara tersebut, barulah Valak mendapat perlawanan yang berarti. Si Pastor datang bersama biarawati muda yang bahkan belum mengucapkan sumpahnya. Tindakan merekalah yang menyebabkan misteri biara tersebut perlahan terkuak. Irene, sang biarawati, pun akhirnya menunjukkan tindak pengorbanan yang sesungguhnya, yang merupakan pukulan telak kepada Valak. Dibantu oleh seorang pria lokal penyuplai makanan yang dipanggil Frenchie, mereka berusaha menemukan senjata pamungkas demi menutup kembali Gerbang Neraka, menahan Valak kekal di dalam sana.

semoga yang di belakangku cuma bayangan pohon natal

 

Doa kita gak bakal dikabulin kalo gak dibarengi dengan usaha. Siapa sih yang mau ngasih sesuatu ke orang yang kerjaannya ngeluh dan beratap nestapa sepanjang waktu. Ther Nun akan mengajarkan kita untuk bangkit dan mengambil tindakan, untuk diri kita sendiri serta untuk orang lain. Karena dari perjalanan Irene, kita pun akan belajar satu-dua hal tentang pengorbanan yang dengan ikhlas kita lakukan atas nama perubahan ke arah yang lebih baik.

 

 

The Nun seperti menantang untuk berdiri tegak tatap sombong ketakutan kita terhadap setan. Yea, film ini exist berkat kepopuleran Valak, hantu suster dari universe The Conjuring yang debut di seri keduanya. Siapa yang bisa lupa kemunculan Valak yang berjalan dari dinding ke pigura lukisan untuk kemudian nongol di mimpi-mimpi buruk kita. Film The Nun ini, akan membawa kita untuk benar-benar berhadapan dengan hantu pawang ular yang tampangnya mirip Marilyn Manson pake kerudung tersebut. Setting cerita memang dibuat se-creepy mungkin. Hal-hal ganjil kita temukan di awal-awal cerita, darah di tangga yang kian hari bertambah alih-alih mengering, pemandangan pekarangan yang penuh kuburan bernisan salib gede, suara krincing-krincing lonceng dari setiap kuburan, semua itu ditujukan untuk membangun kengerian kita – supaya kita menantikan kemunculan Valak dengan mengkeret di tempat duduk masing-masing. Hanya saja, kita malah jadi penasaran. Alih-alih mengekspansi mitologi Valak – yang mana semestinya itu yang disajikan film ini sebagai alasan untuk mengetahui origin si iblis – film malah memfokuskan ke misteri biara itu sendiri. Penjelasan mengenai Valak hanya disebutkan dalam satu adegan tokoh Pastor membaca informasi di sebuah kitab. Selebihnya, film adalah pencarian Darah Kristus untuk menyegel Gerbang, dengan Valak dan hantu-hantu lain muncul entah itu untuk mengganggu ataupun memberi petunjuk.

Tempat gelap, pintu-pintu yang menutup dan mengunci sendiri, ’teka-teki’ dari hantu penghuninya. Menonton film ini seperti sedang menyaksikan orang bermain wahana Escape Room, kalian tahu, kesan yang ada malah seru. Seramnya jadi nomor dua. Dengan hantu yang bisa kalah dengan ditembak senjata api, film juga seperti lebih ke aksi ala film-film zombie. Tidak ada ‘peraturan’ yang jelas soal setan dalam film ini. Kenapa mereka bisa terluka oleh peluru biasa, apakah mereka setan yang berdarah daging, like, apakah mereka dibangkitkan oleh suatu kekuatan jahat ataukah mereka berupa jejak yang ditinggalkan jiwa di dunia (Ya, aku mengutip Snape). Pada satu sekuen kita diperlihatkan mayat yang sudah mengeriput seperti mumi, lalu mayat tersebut bangkit menyerang Irene dan kita melihat wujud si setan tidak lagi keriput, ia seperti sosok yang bicara kepada Irene di adegan sebelumnya. Dan kemudian si setan kalah dengan dibakar. Tidak benar-benar jelas dalam film ini apa yang sebenarnya mereka hadapi. Pertempuran terakhir dengan Valak pun malah jatohnya lucu. Memang sih, gak jatoh sekonyol Scooby Doo, tapi lebih dekat ke arah sana ketimbang horor dramatis yang menyentak urat ketakutan kita.

“they don’t want Nun, they don’t want Nun”

 

Film ini mengikat dengan baik ke permulaan film The Conjuring (2013), dan sayangnya itulah hal terbaik yang berhasil diraih oleh The Nun. This is like a throw-away movie, yang ada hanya untuk mengisi ruang yang sebenarnya pun tak ada pengaruhnya jika dibiarkan kosong. Melihatnya kembali, sekilas, memang bisa tampak mengesankan gimana film ini ternyata adalah cerita lengkap dari satu adegan di film sebelumnya. Tapi dari kacamata pembuat, ya semua aspek sebenarnya bisa dipanjang-panjangin. Enggak benar-benar susah mengarang cerita dari satu aspek minor dari sebuah film panjang, dan menarik satu cerita baru dari sana. Cerita The Nun sendiri pun sebenarnya bukan cerita yang kompleks, sangat sederhana, malah. Jadi, hal terbaik yang dilakukan oleh film ini juga sebenarnya enggak berarti banyak. Mereka hanya menarik background baru, tokoh-tokoh baru, dan bahkan yang baru-baru itu enggak berhasil dikembangkan dengan maksimal.

Taissa Farmiga didaulat untuk memerankan Suster Irene yang ditunjuk oleh Vatikan sebagai orang yang harus dibawa Pastor Burke menyelidiki Biara Terkutuk. Kita memang dikasih tahu Irene ini punya Penglihatan; dia bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus – sama seperti Burke. Tapi kita tidak pernah tahu kenapa Vatikan secara khusus memilih dia, yang bahkan belum mengucap sumpah. I mean, dari sekian banyak suster, masa iya cuma dia yang bisa Melihat? Seharusnya ada alsan khusus, namun alasan Irene menjadi tokoh film tersebut masih merupakan misteri hingga akhir cerita. Aku suka Taissa, menurutku dia hebat di American Horror Story, dia sudah jago bermain horor – in fact, Taissa menang Unyu op the Year berkat penampilannya di serial ini. Di The Nun, dia juga enggak bermain jelek. Sayangnya, tokoh yang ia perankan di sini setengah-matang.

Taissa adalah adik dari Vera Farmiga, pemeran Lorraine di semesta Conjuring, mereka secara natural obviously mirip – jadi pasti ada sesuatu yang diniatkan dari castingnya kan? Membuat kita berasumsi jangan-jangan tokoh mereka sebenarnya adalah orang yang sama. Tapi toh hal tersebut juga tidak masuk akal, there’s no way Irene dan Lorraine adalah orang yang sama. Yang satunya suster, pengorbanan adalah arc tokohnya, jadi mustahil jika nanti setelah dewasa dia menikah, terlebih mengganti nama. Irene akan membuang arc-nya jika dia menikah. Tidak ada indikasi tokoh majornya punya hubungan dengan tokoh utama semesta cerita, membuat Irene semakin terasa random lagi untuk berada di sana.

 

 

 

 

Kurangnya latar belakang tokoh – si Pastor punya penyesalan sehubungan dengan pekerjaannya di masa lalu, selain itu kita tidak banyak tahu, membuat kita sulit untuk peduli ketika mereka berada di dalam bahaya. Terlebih, setiap keputusan yang dibuat oleh para tokoh benar-benar klise dan bego; Mereka akan berpencar di setiap kesempatan. Film ini memang bukan jawaban jika kita berdoa “Oh Tuhan, tunjukkanlah hamba film yang bagus”.  Ada banyak kekurangan yang mestinya enggak diulang lagi, kita hanya harus ambil tindakan untuk mengenalinya. Satu-satunya cara untuk kita bisa menikmati film ini adalah dengan menganggapnya sebagai petualangan misteri. Karena film ini lebih kepada seru, dan konyol, ketimbang seram. Bahkan jumpscarenya enggak bikin kaget.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for THE NUN.

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian apa kita perlu untuk mengenal siapa Valak – apakah kita benar-benar butuh untuk menonton film ini? Apa kira-kira hubungan Irene dengan Lorraine? 

Kalo ketemu hantu, kira-kira kalian akan berdoa atau langsung ambil langkah seribu?

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements