Tags

, , , , , , , , , , ,

“Confidence is not ‘they will like me’, confidence is ‘I’ll be fine if they don’t’.”

 

 

 

Seorang youtuber, yang kerjaannya nyerocos di depan kamera, ngasih nasihat ini itu kepada sejumlah viewer dan subscriber, memenangkan penghargaan berupa Anak Cewek Paling Pendiam di Kelas. Aneh, namun juga sekaligus tidak-aneh. Karena beginilah realita kita.

 

Seminggu lagi, Kayla yang anak kelas delapan bakal lulus dan siap memasuki masa SMA. Dan untuk menyintasi masa-masa yang mengerikan, itu Kayla harus bisa tampil konfiden. Hidupnya yang memalukan tidak boleh kelihatan sama orang. Kita semua – anak-anak maupun dewasa – yang pernah berusaha untuk jadi populer karena kita tahu tampang kita enggak keren, badan kita enggak tinggi dan enggak atletis, rambut kita lepek setiap waktu, sehingga kita merasa malu bahkan untuk ngomong keras-keras di antara teman-teman, tapi kita masih tetap mencoba untuk reaching out, pasti merasakan hubungan yang kuat terhadap Kayla. Karena kita tahu betapa sengsaranya hidup sebagai anak tiga belas tahun.

Sudah banyak film yang mengambil tema seperti begini. Namun Eighth Grade mengambil pendekatan yang berbeda. Tokoh utama kita tak lebih tua daripada tokoh di buku cerita Goosebumps, you know, yang masalahnya cuma diganggu setan. Kayla, however, sebagai seorang generasi kekinian menghadapi masalah yang jauh lebih kompleks dari anak-anak tahun ’90-2000an. Karena keberadaan internet dan sosial media. Jadi, Eighth Grade menggali dari sudut pandang yang baru, dan sangat relevan dengan keadaan masa sekarang. Mengetahui itu semua, film ini pun tak main-main dalam menuliskan ceritanya. Kejadian dalam Eighth Grade terasa sangat realistis, sungguh-sungguh otentik. Kita akan melihat apa yang dilakukan Kayla juga dilakukan mungkin oleh adek kita, keponakan kita, atau mungkin malah kita sendiri. Di satu adegan, Kayla dandan cakep, mencatok rambutnya hingga ikal, kemudian dengan amat berhati-hati dia kembali ke tempat tidur – merebahkan diri, untuk kemudian berpose centil selfie dengan kamera smartphone. “I woke up like this” captionnya di Instagram. Silahkan tanya kepada diri kita sendiri: Berapa kali kita melakukan hal yang serupa; mengarang apa yang mau kita perlihatkan, mencoba membuat kita tampak menarik di sosial media?

bahkan meracau pada review ini pun karena aku ingin terlihat pintar

 

 

Film ini tidak dibuat supaya kita bisa memecahkan persoalan anak kecil yang baru mau jadi ABG. Bo Burnham tidak mengarahkan Kayla untuk menjadi lebih baik dengan keluar dari zona introvert. Tidak ada solusi seperti demikian ia hadirkan. Film ini memperlihatkan kepada kita, mungkin juga mengingatkan, bagaimana rasanya menjadi sekecil Kayla. Aku seketika teringat masa-masa sekolahku, di mana semua anak literally lebih gede daripada diriku. Dan percayalah, dari tempat aku berada kala itu, kepercayaan diri sungguh jauh jaraknya. Aku harus senantiasa memporsir diri, I have to do better than others, nilaiku harus lebih bagus, dan pada tingkatan lebih lanjut aku merasa harus lebih lucu, harus lebih unik daripada yang lain. Yang pada akhirnya hanya akan membuat diriku menjadi semakin aneh di mata anak-anak yang lain. Dan exactly pelajaran itulah yang bisa kita tangkap dari cerita Kayla dalam Eight Grade.

Kita menyangka kita perlu untuk punya banyak teman dulu baru bisa konfiden menjadi diri sendiri. Kita mati-matian berusaha membuat orang lain percaya bahwa kita ini pede, kita ini orang yang menarik untuk dijadikan teman. Lihat aku, follower ku banyak. Lihat aku, hidupku asik. Best things happened to me, let’s be my friend. Tapi kita semua salah jika kita mengira konfiden itu pemberian dari orang lain. Sebelum kita bisa meyakinkan orang lain, kita sejatinya harus percaya dulu kepada diri sendiri. Diri kitalah yang mestinya kita yakinkan, bukan teman-teman. Apa yang dilakukan Kayla terhadap dirinya di akhir cerita, tak pelak begitu indah. Jika ada satu orang yang harus kita yakinkan, maka itu adalah diri kita sendiri.

 

 

Semua itu ditangkap dengan sangat menarik. Film ini tahu bagaimana memvisualisasikan ketakutan anak seusia Kayla terhadap lingkungan sosial. Shot yang sangat menarik ketika Kayla menatap keluar dari balik pintu kaca, kamera memperlihatkan teman-temannya lagi pesta, tertawa-tawa di kolam renang, tapi begitu sampai ke kita, perasaan yang ada seolah Kayla sedang menyaksikan zombie-zombie bangkit dari kubur. Eksperiens yang dirasakan Kayla benar-benar tersampaikan kepada kita. Sepanjang film, Kayla gak selalu ‘galau’. Ada momen ketika dia diundang ke pesta, ketika dia diajak hang-out ke mall sama teman-teman yang sedikit lebih tua. Pada momen-momen seperti ini kita turut dibuat merasakan kesenangan Kayla. And while at it, kita dapat merasakan kecemasan yang perlahan timbul. Karena Kayla juga sebenarnya masih insecure. Semua merupakan pengalaman baru baginya, ‘out there’ ia deskripsikan sebagai tempat yang masih belum ‘nyaman’, tapi dia tahu untuk harus berani pergi ke sana.

Sekuen di dalam mobil benar-benar dieksekusi dengan kuat, buatku susah aja untuk disaksikan. Arahannya begitu tepat. Semua yang dirasakan Kayla, semua tentang adegan-adegan tersebut membuatku menahan napas. Karena bukan saja film ini paham mengenai apa yang dirasakan oleh Kayla, film ini juga membiarkan Kayla menjadi Kayla. Menjadi anak menginjak remaja sebenar-benarnya. Kita melihat dia berusaha terlihat lebih dewasa, tapi aura anak kecil – sikap dan cara pandangnya yang masih bocah itu tetap saja menguar. Film ini bergantung kepada Kayla dan aktor muda Elsie Fisher bermain dengan sangat luar biasa. She’s completely real. Aku hanya bisa membayangkan seberapa berat baginya memainkan semua emosi tersebut; dengan usia yang dekat dengan permasalahan yang ia perankan.

Lewat perangai Kayla, film ini mengomentari soal perilaku orang di sosial media. Kayla bicara di channel youtubenya soal bagaimana untuk menjadi percaya diri, bagaimana membawa diri dalam bergaul, tapi di dunia nyata dia sendiri tidak benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. Semua yang ia jadikan tips itu benar, hanya saja melakukannya tidak segampang membicarakannya. Oleh film, kita akan mendengar narasi suara Kayla berbicara di youtube. Sementara visualnya dikontraskan dengan kita melihat Kayla really having a hard time mencoba melakukan apa yang ia ‘sedang’ katakan. Ini enggak serta merta membuat Kayla terlihat hipokrit, film ini tidak ngejudge kita, melainkan kita bisa melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang menyedihkan. Dan fakta bahwa film tidak pernah benar-benar menyinggung jumlah pemirsa yang menyaksikan youtube Kayla membuat semua terasa lebih miris lagi. Semua itu menambah teramat banyak, bekerja dengan sangat baik dalam lingkup konteks ceritanya.

Status: “Otw” / Reality: masih ngulet cantik di kasur

 

Kita melihat Kayla in her private self – yang ditulis dengan sangat nyata. Kita juga dikasih lihat hubungan Kayla dengan keluarga dan lingkungan sekolah. Di kedua elemen inilah letak batu sandungan buat Eighth Grade. Kayla tinggal bersama ayahnya, kita melihat gimana hubungan keluarga teramat penting bagi karakter Kayla. Ada adegan dengan dialog yang sangat menawan datang dari Kayla dengan ayahnya, yang buatku terasa sedikit berkurang kejlebannya karena si Ayah ini ditulis sedikit terlalu ‘baik’. Semua hal pada film ini ditulis dan terasa begitu real, kecuali sikap ayahnya. Practically he was the best dad ever. Aku mengerti mungkin film gak mau jadi mainstream dengan masukin orangtua yang pemarah, yang ikut-ikutan jadi palu yang ngegencet tokoh utama, sementara film ini membicarakan soal bagaimana semua itu adalah sudut pandang Kayla semata. Tapi ada yang gak klop dari sifat ayahnya yang membuat keotentikan cerita menjadi berkurang.

Dalam lapisan Kayla dengan teman-teman sekolahnya, film tidak bisa mengelak dari menggunakan formula yang sudah usang. Mereka mencoba untuk membuatnya sekocak dan semenyenangkan mungkin, dan aku menghargai usaha tersebut. Kayla tentu saja dibuat naksir sama cowok paling keren di kelas. Setiap kali Kayla melihat anak ini, kita akan mendapat close up mata dan dentuman musik techno, ya kekinian banget. Lucu sih. Kita melihat Kayla memikirkan apapun supaya bisa ngobrol dengan si cowok, sementara ada anak cowok lain yang berusaha temenan sama Kayla dan kita semua pasti udah tahu cowok mana yang mestinya dijadiin temen oleh Kayla.

 

 

 

Penulisan yang cerdas, dengan komedi dan komentar yang tajam soal kehidupan sosial media masa kini menjadi faktor utama kita terhibur menonton film ini. Hampir semua bagian terasa sangat real. Kita semua mengerti ama Kayla karena kita pernah berada di dalam sepatunya. Film ini membawa kita kembali ke masa mengerikan itu, dengan memperlihatkan tantangan baru yang dihadapi oleh anak-anak. Aku sangat menikmati film ini, karena dia tidak meremehkan anak-anak, pun tidak memberikan jalan keluar yang mudah.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for EIGHTH GRADE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana kehidupan kalian di usia 13 tahun? kira-kira masih ingat tidak hal apa yang menurut kalian paling penting di umur segitu? apa yang paling menakutkan buat kalian dulu?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

Advertisements