Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Some third person decides your fate: this is the whole essence of bureaucracy”

 

 

Pertanyaan pertama yang dilontarkan kepada Liam ketika dia menginjak ranah Minangkabau adalah “Apa agamamu?” Facebook boleh jadi sudah ketinggalan jaman, begitu pesatnya dunia bergerak. Namun adat istiadat tetap harus dipijak, dengan agama sebagai dasarnya. Bagi manusia seberadab Liam, pertanyaan tersebut bukanlah terdengar seperti kekangan. Melainkan garis yang musti ia kejar. Bukan pula sekedar syarat baginya untuk menikahi Laila. Tetapi merupakan tujuan hidup. Banyak pasangan seperti Liam dan Laila; yang mengusahakan perbedaan mereka tidak dijadikan penghalang. Saat aku menonton ini, pasangan yang duduk di barisan depanku juga pasangan bule dan wanita Indonesia. Mereka berbeda agama. “Film tadi membuka hati saya akan cinta yang sesungguhnya” kata si pria bule dengan mantap menggunakan bahasa Indonesia.

Bukan hanya agama, cinta juga sebenarnya enggak bisa main-main. Bukan karena Laila, maka Liam jadi pindah keyakinan.  Laila ‘hanyalah’ simbol cinta yang ditemukan oleh Liam dalam perjalanannya mencari cinta yang ia yakini sepenuh hati. Inilah yang membuatnya kontras dengan keluarga niniak mamak Laila. Mereka terlalu memandang tinggi adat, melampaui agama yang mestinya mereka lindungi dengan adat tersebut. Di akhir film, sesungguhnya bukan Liam yang banyak belajar agama dari mereka. Melainkan mereka yang secara tak sadar, diajarin cara meyakini oleh Liam.

 

Liam (Jonatan Cerrada cukup kocak, logat bule ama logat orang padang berbahasa Indonesia ternyata mirip haha) nekat datang untuk meminang Laila (Nirina Zubir, sebaliknya, tampak cukup mengesankan tampil serius dan emosional dengan berbahasa minang). Di depan kandang singa, Liam mengutarakan maksud hatinya. Dia ingin masuk Islam, dan memperistri Laila, cewek yang ia kenal di facebook, yang sudah mengajarinya banyak hal tentang agama penuh damai ini. Tapi tentu saja pindah agama bukan urusan yang sepele. Pun menerima orang asing, bule pula, ke dalam keluarga Gadang yang erat tradisi. So yea, cerita film ini bisa dibilang sanak dari cerita Crazy Rich Asians (2018)Di mana Liam harus membuktikan kesungguhannya memeluk Islam. Dia harus membuktikan dirinya dapat dipercaya. Karena dari sisi keluarga, selalu ada prasangka dan kecemasan. Apalagi di jaman sekarang. Kenalan lewat sosial media aja sudah dinilai sebagai cukup mencurigakan. Dengan visanya yang habis dalam tiga-puluh hari, waktu turut mengejar Liam. Dia harus segera mengikrarkan keyakinannya, sebelum didaulat pantas untuk mengucapkan ijab kabul.

Dan cowok pengusaha daging di Perancis ini menghabiskan 4 hari dari waktunya yang berharga dengan diam di kamar hotelnya (Hotel Mersi, pardon my french hihi) menunggu keputusan rapat keluarga Laila.

kirain bakal ada candaan klasik “Paris – Pariaman dan Sekitarnya” hihi

 

It’s really hard to pinpoint siapa yang dijadikan fokus utama cerita ini. Secara natural, aku pikir Liam akan jadi sudut pandang tubuh cerita; kita melihat tokoh ini muncul duluan di layar, dia diberikan batas waktu, dia yang punya misi untuk membuktikan diri. Tapi cerita tidak segera membuat tokoh ini menjadi tokoh utama. Dia gak ngapa-ngapain sebagian besar cerita. Dia hanya dibantu, ditempatkan dalam situasi, dan dia nurut aja karena memang dia tidak punya tempat untuk melawan adat. Liam akan melalui berbagai tata cara masuk Islam, dia membaca syahadat, kemudian disunat, tapi pilihan-pilihan yang tokoh ini ambil jarang sekali menambah atau bahkan punya kepentingan untuk bobot cerita. Untuk alasan kelucuan, dan menambah intensitas sekenanya kita akan melihat Liam yang masih bersarung abis sunatan dikejar-kejar satpam yang mengira dia mau kabur.

Mungkin karena dia cowok, jadinya harus less-drama apa gimana, tantangan yang diberikan film kepada Liam hanya berupa tantangan birokrasi. Dia dipersulit untuk masuk Islam. Dia harus bolak-balik Jakarta-Sumbar demi mengurus surat tanda belum menikah. Bahkan dia harus menunggu suratnya tersebut ditandatangan. Ada satu petugas KUA yang bakal bikin kita pengen mendalami ilmu palasik supaya bisa menyedot habis darahnya di tengahmalam, dan aspek ini pun enggak pernah terasa dua-sisi. It’s just.. birokrasi jelek, dan Liam dipersulit karena ketakutan tak wajar kepada penduduk asing. Semua hal tersebut tidak pernah tampak benar-benar menarik karena dari sisi keluarga besar Laila, kita tahu ada bentrokan pandangan yang sengit. Dan Liam bahkan tidak tahu soal itu. Dia tidak boleh – dan tidak pernah datang – setiap keluarga Laila mengadakan pertemuan di Rumah Gadang. Actually, ini tradisi Minangkabau, tradisi keluarga di sana memang ketat banget. Dan di keluarga Laila, semuanya diputuskan oleh Mak Tuo, sebagai anggota keluarga paling tua. Mak Tuo inilah yang paling ‘meragukan’ Liam – bayangkan ibu camer di Crazy Rich Asians, tetapi tanpa domino dan lebih banyak kata-kata kiasan – final words ada di dia, dan Liam bahkan enggak pernah ketemu dengan beliau hingga akhir film di mana semuanya, tentu saja, berakhir baik-baik saja.

siapa anak yang disenyumin Liam di Masjid? Kenapa kamera begitu on-point ngesyut mukanya?

 

Laila, dibangun sebagai karakter dengan sedikit lebih baik. Kita juga diperlihatkan pekerjaannya apa, gimana dia adalah cewek yang mandiri, berpikiran terbuka, dan lebih maju dari beberapa keluarganya yang lain. Orang-orang di sekitar rumahnya mulai bergosip soal masalah jodohnya yang membuat rumah mereka selalu ribut di malam hari. Namun, Laila sendiri juga tidak bisa berbuat banyak. Karena ya urusan adat istiadat tadi itu. Kita tidak akan melihat baik Liam maupun Laila melakukan sesuatu yang tergolong menarik. Mereka tidak pernah melanggar batas apapun. Hal terjauh yang dilakukan Laila adalah mengomel sambil menangis mengenai jodohnya yang selalu ditentang karena hal-hal tak-penting yang terus saja dibesar-besarkan dalam rapat keluarga.

Mungkin ambo salah, mungkin memang indak ado tokoh utama di siko. Atau mungkin judulnya hanya pengalihan sebab bisa jadi ini adalah cerita tentang paman Laila, Jamil (David Chalik juga menunjukkan lapisan akting saat dengan tepat menunjukkan ‘kekakuan’ orang minang berbahasa Indonesia) yang berusaha memperjuangkan, bukan hanya kelancaran birokrasi di negeri ini, melainkan juga kesempitan pandang mengenai adat istiadat. Karena Jamil lah yang eventually orang yang paling banyak berkorban dan bertindak dalam cerita. Begini, seperti yang dijelasin Laila, dalam tradisi mereka Paman adalah salah satu yang bertanggung jawab menyukseskan acara pernikahan kemenakan wanita. Jamil yang aparat negara, mempertaruhkan pekerjaannya dengan pergi kemana-mana membantu Liam, memastikan semuanya lancar, demi Laila.

 

 

Birokrasi nyusahin yang sudah menjadi tradisi, juga sebaliknya kadang tradisi udah kayak birokrasi – yang asal ditegakkan, walaupun kita tidak lagi melihat kemasukakalannya 

 

Filmnya sendiri sebenarnya lucu. Paling tidak, buat aku yang mengerti candaan dan bahasa orang Minang. Gimana orang di sana menyebut semua motor dengan “Onda” alias honda, misalnya. Berikut kukasih tahu, bahasa minang itu sendiri kata-kata dalam satu kalimatnya sebenarnya lebih lucu daripada keseluruhan arti kalimat tersebut. Juga bagaimana setiap orang minang punya cara tersendiri dalam mengucapkannya. Sajian yang menyegarkan, karena kita jarang sekali dibawa mengintip budaya dari Sumatera sana. Dan Minangkabau punya banyak untuk digali, selain kulinernya. Juga sempat ada candaan gimana abang Laila meledek Liam pelit, dan itu lucu karena stereotipe yang ada ialah orang minang yang terkenal pelit. Hanya saja, aku pikir, kita perlu melihat lebih dalam dari ceritanya sendiri, yang mana sangat relevan. Seharusnya lebih dari sekadara menyinggung birokrasi, tradisi, paling tidak porsi pembahasannya kedua sisinya dibuat lebih berimbang lagi.

 

 

 

 

Bukannya film tak boleh mengambil banyak perspektif. Justru sebenarnya bagus gimana film ini memperlihatkan semua tokoh ‘bertarung’ dalam ‘pertempuran’ mereka masing-masing. Bahkan si Mak Tuo tadi diberikan antagonis berupa datuk-datuk seniornya yang merasa dikucilkan. Para pemeran pun berhasil membawa warna tersendiri; dan di sinilah letak kekuatan film ini. Dia tampil sebagai warna yang baru dari cerita mengenai cinta yang terhalangi. Tapi film butuh sudut pandang utama sebagai tulang punggung cerita. Jika ini tentang Liam, maka seharusnya kita melihat origin si Liam – siapa dia sebelum masuk Islam, gimana hidupnya, seharusnya dieksplorasi supaya kita bisa merasakan perubahan terhadap si tokoh lebih dalam daripada sekedar dia sekarang sudah benar-benar memeluk Islam dan jadi suami orang Minang.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for LIAM DAN LAILA.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian merasa disusahkan oleh birokrasi, entah itu di lingkungan kampus atau dalam pekerjaan?

Seberapa penting sih, menurut kalian, menjaga tradisi? Jika sebuah kapal diganti seluruh bodinya, kecuali mesin, apakah itu kapalnya baru atau masih kapal yang lama – jika sebuah tradisi diperbaharui disesuaikan dengan keadaan jaman, apakah itu berarti tradisi yang lama tadi sudah hilang?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

Advertisements